NovelToon NovelToon
Secrets Of A Broken Family

Secrets Of A Broken Family

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:530
Nilai: 5
Nama Author: SellaAf.

Bagi Aera, rumahnya telah berubah menjadi labirin yang dingin dan mematikan. Setelah kematian misterius ibu kandungnya, kehidupan Aera dijungkirbalikkan oleh kehadiran Belva, ibu tiri yang penuh pesona namun manipulatif. Hanya dalam waktu singkat, Reno-ayah Aera yang dulunya penyayang-berubah total. Pria itu menjadi kasar, dipenuhi kebencian tak mendasar, hingga puncaknya tega mengusir Aera dari rumah. Aera dibuang, diasingkan, dan sengaja dilupakan. Namun, di balik pengusiran itu, Aera menolak untuk tunduk. Bergerak dari kegelapan, ia mulai mengumpulkan kepingan teka-teki yang sengaja disembunyikan di dalam rumahnya. Penyelidikan rahasia itu menuntun Aera pada fakta yang mengerikan-kecelakaan maut ibunya bertahun-tahun lalu adalah sebuah pembunuhan berencana. Dan dalang di balik konspirasi berdarah itu adalah Belva. Ibu tirinya tidak hanya menginginkan posisi sebagai nyonya rumah, dia menginginkan seluruh harta warisan berlimpah milik Reno. Menyingkirkan ibu kandung Aera adalah langkah pertama, memanipulasi Reno dan mengusir Aera adalah langkah kedua. Kini, permainan psikologis yang berbahaya dimulai. Aera tidak lagi menangis karena dilupakan. Dia akan kembali menyusup ke rumah itu, bukan sebagai korban yang lemah, melainkan sebagai ancaman terbesar yang siap membongkar kedok berdarah sang ibu tiri-sebelum nyawa ayahnya menjadi korban berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alaxtar: Street lion with a comedian’s heart

Leo menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Ia memijat pangkal hidungnya, seolah sedang mengumpulkan kepingan ingatan yang sebenarnya ingin ia kubur dalam-dalam.

"Rumah ini," Leo memulai, tangannya bergerak menunjuk sekeliling ruangan yang sunyi dan rapi, namun terasa mati.

"Kelihatan tenang, kan? Kelihatan mewah, tercukupi, nggak kurang satu apa pun dari luar. Tapi buat gue, tempat ini nggak lebih dari sekadar hotel berbayar mahal yang kebetulan di dalamnya ada nama keluarga gue."

Aera mendengarkan dengan saksama, menahan napas agar tidak memotong sepatah kata pun.

"Orang tua gue... mereka nggak cerai kayak orang tua pada umumnya," lanjut Leo dengan senyum getir yang terukir di sudut bibirnya.

"Mereka masih tinggal di bawah atap yang sama. Masih sering datang ke acara korporat bareng, senyum di depan kamera, pura-pura jadi pasangan paling harmonis se-Indonesia demi saham dan nama baik perusahaan. Tapi begitu gerbang rumah ini tertutup? Mereka bahkan nggak sudi buat papasan di koridor."

Leo menjeda, matanya menatap kosong ke arah meja. "Mereka punya lantai masing-masing di rumah ini. Kamar masing-masing. Kehidupan masing-masing. Papa sibuk sama dunianya—dan beberapa wanita yang gue tahu bukan Mama—sementara Mama sibuk belanja, arisan, dan pura-pura bahagia buat nutupin fakta kalau suaminya nggak pernah menganggap dia ada lagi."

Aera merasakan dadanya mendadak sesak. Ia mengira masalah Leo mungkin berkaitan dengan tekanan belajar atau pertikaian remaja biasa, namun mendengarkan realita dingin dari keluarga cowok itu membuatnya sadar bahwa broken home memiliki banyak wajah. Ada yang berteriak dan melempar barang, dan ada yang membeku dalam keheningan yang mematikan seperti ini.

"Terus... lo di mana di antara mereka?" tanya Aera berbisik.

"Gue? Gue cuma piala, Ra," jawab Leo pendek, nadanya tanpa emosi, namun justru itu yang membuatnya terdengar luar biasa menyakitkan.

"Gue cuma ada kalau Papa butuh pamer ke kolega bisnisnya kalau dia punya penerus yang pintar dan bisa diandalkan. Gue cuma dipanggil kalau Mama butuh validasi dari teman-temannya kalau dia berhasil mendidik anak tunggalnya dengan baik. Di luar itu? Gue nggak lebih dari hiasan dinding di rumah ini."

Leo menegakkan tubuhnya, menatap Aera dengan sorot mata yang melelahkan. "Makanya gue nggak peduli sama omongan orang di kampus. Dosen-dosen yang bilang gue pemberontak, anak-anak yang bilang gue sombong atau nakal. Karena tekanan paling besar yang gue punya itu ada di sini, di dalam rumah yang harusnya jadi tempat gue pulang."

"Leo..." Aera mengulurkan tangannya di atas meja, berniat menyentuh punggung tangan Leo, namun ia beralih menariknya kembali, merasa belum berhak memberikan kenyamanan fisik sedekat itu. "Maaf. Gue nggak tahu kalau sedalam itu."

"Nggak perlu minta maaf. Lo yang minta gue cerita, kan?" Leo mencoba mencairkan suasana dengan senyum tipis, meski matanya tidak bisa berbohong.

"Itu alasan kenapa gue selalu bilang ke lo buat nggak terlalu masukin hati omongan orang. Dunia ini penuh sama orang-orang yang egois, Ra. Kalau lo nggak egois buat ngejaga diri lo sendiri, lo bakal habis dikonsumsi sama ekspektasi mereka."

Aera tertegun. Ia memandangi Leo dengan cara yang sepenuhnya baru. Cowok di depannya ini bukan sekadar cowok populer yang dingin dan acuh tak acuh. Dia adalah seorang anak yang dipaksa dewasa oleh keheningan rumahnya sendiri, seorang remaja yang harus belajar menyembuhkan lukanya sendiri karena tidak ada satu pun orang tua yang menoleh saat dia terjatuh.

"Gue paham sekarang," kata Aera pelan, matanya berbinar oleh ketulusan.

“Tapi setidaknya, Leo... mulai sekarang lo nggak perlu selalu simpan semuanya sendiri. Kalau panggung lo terlalu berat, lo bisa bagi sedikit bebannya ke gue. Gue mungkin nggak bisa benerin retakan di rumah lo, tapi gue bisa jadi orang yang dengerin lo tanpa perlu nuntut lo jadi piala."

Leo menatap Aera lama. Untuk pertama kalinya, tembok pertahanan di mata cowok itu runtuh sepenuhnya, menyisakan kekosongan yang perlahan-lahan mulai terisi oleh kehadiran gadis di depannya.

"Janji?" tanya Leo, suaranya nyaris tak terdengar.

Aera tersenyum, senyuman pertama yang benar-benar lepas sejak sore yang melelahkan itu. "Janji."

Leo terdiam selama beberapa detik, memandangi jemari Aera yang masih bertengger di tepi meja kaca, sebelum akhirnya mengalihkan pandangan. Sudut bibirnya terangkat tipis—bukan senyum getir seperti tadi, melainkan sebuah segaris senyuman tipis yang terasa jauh lebih nyata.

"Jangan gampang obral janji, Ra. Gue orangnya penagih," ucap Leo, nadanya kembali membaur dengan kepalan sarkasme khasnya yang biasa. Namun, ada nada santai yang belum pernah Aera dengar sebelumnya.

Aera mendengus pelan, bersandar pada kursinya sambil melipat tangan di dada. "Gue nggak pernah main-main sama omongan gue sendiri, Leo. Lagian, lo udah telanjur tahu semua kartu mati gue. Adil, kan, kalau sekarang gue juga pegang satu kartu lo?"

"Kartu mati, ya?" Leo bergumam, meraih botol air mineral di dekatnya dan meminumnya sedikit. "Gue rasa hidup kita berdua emang agak cacat produksi dari awal."

"Sialan. Bahasa lo kasar banget," sahut Aera, meski ia tidak bisa menahan tawa kecilnya. Rasa perih di lengan dan kakinya benar-benar sudah hilang, digantikan oleh kenyamanan aneh yang merayap di antara mereka. Keheningan yang tadinya terasa mencekam dan menekan di dalam rumah besar ini, perlahan-lahan mencair menjadi atmosfer yang lebih bersahabat.

...----------------...

Raungan mesin motor sport bermesin 250cc membelah sunyinya malam, sebelum akhirnya mereda menjadi geraman halus di depan sebuah bangunan semi-permanen. Leo, sang ketua geng motor Alaxtar, menurunkan standar samping motornya dengan satu sentakan kaki yang presisi. Di bawah remang lampu jalan, jaket kulit hitam dengan logo kepala serigala—yang entah kenapa kalau dilihat dari jauh malah mirip pudel—melekat gagah di tubuhnya.

Tempat yang ia datangi saat ini adalah markas besar mereka, basecamp Alaxtar. Berdasarkan catatan sejarah internal mereka yang tidak resmi, tempat ini dulunya adalah gudang rongsokan milik ayah Leo yang ukurannya pas-pasan. Karena bosan melihat gudang itu hanya jadi sarang laba-laba dan tikus yang hobi senam lantai, Leo memohon pada ayahnya dengan modal muka memelas selama tiga hari tiga malam agar tempat itu dihibahkan kepadanya.

Setelah melalui negosiasi alot yang melibatkan janji Leo untuk mencuci mobil sang ayah selama setahun penuh, gudang itu resmi pindah tangan. Leo kemudian mengerahkan seluruh anggota Alaxtar untuk menyulapnya. Dengan modal cat kiloan dan selera estetika yang pas-pasan, mereka mengecat dindingnya dengan konsep monokrom hitam dan putih. Rapi? Lumayan. Estetik? Tergantung dari sudut mana Anda melihatnya.

Baru saja Leo melepas helm full-face miliknya, pintu triplek tebal basecamp digebrak dari dalam.

"Singa kita sudah datang, guys!" seru Zayyan dengan suara menggelegar, lengkap dengan pose mengangkat satu tangan ke udara seolah-olah dia sedang menyambut kedatangan gladiator di colosseum.

Davin, yang sedang asyik mengunyah kuaci di sudut ruangan, langsung menoleh dengan dahi berkerut dalam.

"Lah, singa siapa? Di daerah kita mana ada kebun binatang, Yan?"

Zayyan mendengus sebal, menatap Davin seolah-olah cowok itu baru saja gagal paham matematika dasar. "Si Leo lah, siapa lagi! Pemimpin kita, penguasa jalanan, sang predator malam!"

"Anjir... lagian nama orang kok ganti-ganti sih lo! Kemarin lo panggil dia Serigala Terakhir, subuh tadi lo panggil Elang Hitam. Sekarang Singa. Besok apa? King Kong?!" sahut Davin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya heran, lanjut melepeh kulit kuaci sembarangan.

Leo melangkah masuk, mengabaikan perdebatan tak bermutu dua anggotanya. Bau khas kopi sasetan dan minyak rantai langsung menyapa indra penciumannya.

"Udah lama kalian di sini?" tanya Leo datar, melemparkan kunci motornya ke atas meja kayu yang salah satu kakinya diganjal kardus.

Dari atas kasur busa tanpa sprei di pojok ruangan, terdengar gumaman malas. Wain, yang sejak tadi posisinya sudah menyerupai cicak telentang, mengangkat kepalanya sedikit.

"Enggak, cuman Davin yang lama di sini. Gue sama Zayyan baru datang barusan," sahut Wain sambil kembali merebahkan dirinya, memeluk guling yang kapuknya sudah mulai keluar menembus kain. "Lagian Davin di sini dari sore cuma numpang Wifi sama ngabisin stok kerupuk kaleng."

"Heh! Menjaga markas itu tugas mulia, ya!" bela Davin tidak terima. "Kalau ada geng musuh menyerang gimana? Siapa yang mau maju paling depan kalau bukan gue?"

"Halah, paling depan buat minta ampun maksud lo?" sindir Zayyan, yang langsung dihadiahi lemparan kulit kuaci oleh Davin.

Leo duduk di satu-satunya kursi plastik yang masih utuh di ruangan itu. Sebagai ketua, dia punya aura yang karismatik, tapi sayangnya, kewibawaannya sering kali luntur dalam hitungan detik akibat kelakuan anggota-anggotanya yang lebih cocok kerja di sirkus daripada jadi gangster jalanan.

"Gimana info soal anak-anak Geng Black Tigger?" tanya Leo serius, melipat tangannya di dada. suasana mendadak agak tegang. Geng Black Tigger adalah rival abadi mereka yang belakangan ini sering membuat ulah di batas kota.

Zayyan langsung mengambil posisi tegap, mukanya mendadak sangar. "Gue udah memata-matai mereka tadi sore, Bos. Mereka lagi ngumpul di warung kopi depan pasar. Jumlahnya sekitar lima belas orang. Mereka kelihatan lagi ngerencanain sesuatu yang besar dan licik."

"Oh ya? Apa yang mereka omongin?" Leo mencondongkan badannya, merasa ada ancaman taktik perang dari musuh.

Zayyan berdeham, menirukan suara berat. "Mereka bilang... Eh, ntar malam kita mabar Slot apa Mobile Legends ya? Terus yang kalah bayar gorengan. Begitu, Bos."

Hening.

Davin menghentikan kunyahan kuacinya. Wain yang tadi hampir terlelap langsung membuka matanya lebar-lebar. Leo memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri.

"Zayyan... maksud gue, rencana mereka soal wilayah kita! Bukan agenda mabar mereka!"

"Oh, kalau soal wilayah, mereka katanya mau nantang kita balapan di sirkuit lingkar luar nanti malam jam sebelas," lanjut Zayyan tanpa dosa sambil menyengir kuda.

"Kenapa gak bilang dari tadi, Bambang!" seru Davin gemas.

Jam menunjukkan pukul 22.45 WIB. Empat motor dari geng Alaxtar sudah berbaris rapi di depan basecamp. Meskipun kelakuan mereka seperti pelawak lepas panggung, begitu mereka sudah memakai helm dan menaiki kuda besi masing-masing, aura anak motor mereka langsung memancar.

Leo memimpin di depan. Di belakangnya ada Davin yang motornya sengaja dipasang knalpot brong (meskipun suaranya lebih mirip bersin orang pilek), Zayyan dengan motor bebek modifikasi yang rantainya bunyi krik-krik, dan Wain yang membawa motor matic milik ibunya karena motor sport-nya sedang disita akibat lupa ganti oli sampai mesinnya mogok.

Mereka tiba di jalan lingkar luar yang sepi. Di sana, anak-anak Geng Black Tigger sudah menunggu dengan tampang sok sangar, bersandar di motor-motor besar mereka. Ketua Black Tigger, sebut saja namanya Alfino, maju beberapa langkah sambil meludahi aspal dengan gaya sok keren di film-film aksi.

"Akhirnya datang juga lo, Leo. Gue kira lo takut dan milih ngumpet di ketiak bapak lo," cibir Alfino, memicingkan mata.

Leo turun dari motor, membuka kaca helmnya dengan perlahan. "Alaxtar gak pernah mundur, Fin. Lo mau apa?"

Alfino tersenyum licik. "Simpel. Kita balapan satu lawan satu. Yang menang boleh menguasai area tongkrongan di jalan lingkar ini. Yang kalah... harus dandan pakai daster emak-emak dan joget dangdut di lampu merah besok pagi!"

Mendengar taruhan itu, Davin langsung berbisik panik ke arah Zayyan. "Yan, gawat Yan. Kalau kita kalah, daster emak gue lagi dicuci semua. Gue harus pinjam ke siapa?"

"Pikirin menangnya, bego! Bukan dasternya!" bisik Zayyan gemas sambil menyikut rusuk Davin.

Leo menatap Alfino dengan tajam. "Oke. Siapa jagoan lo?"

Alfino menunjuk salah satu anggotanya yang berbadan besar dan bermuka sangar. "Gue bakal turunin si Goliath. Penguasa trek lurus!"

Leo menoleh ke belakang, menatap tiga anggotanya. Wain pura-pura pingsan di atas motor matic-nya. Zayyan mendadak sibuk memperhatikan tali sepatunya yang sebenarnya tidak lepas. Tersisa Davin yang tidak sempat menghindar.

"Davin, lo maju," perintah Leo tegas.

"Hah?! Gue, Bos?! Tapi motor gue kalau dibawa di atas 80 km/jam stangnya langsung getar kayak kursi pijat, Bos!" protes Davin panik.

"Gak ada bantahan. Ini demi kehormatan Alaxtar!" kata Leo mantap, padahal sebenarnya Leo malas maju sendiri karena rantai motornya agak longgar.

Davin dan Goliath sudah berada di garis start. Suasana mencekam. Seorang gadis dengan pakaian minim berdiri di tengah jalan, membawa sapu tangan merah siap untuk dijatuhkan sebagai tanda mulai.

"Satu... Dua... Tiga... GO!"

VROOOOOOOM!

Motor Goliath melesat bak anak panah lepas dari busurnya. Sementara itu, motor Davin... malah mogok di garis start.

"Eh? Eh? Kok gak mau nyala?!" pekik Davin panik sambil menendang-nendang kick starter-nya seperti orang kesurupan.

Anak-anak Geng Black Tigger sudah tertawa terpingkal-pingkal melihat pemandangan itu. Alfino bahkan sampai memegangi perutnya. "Hahaha! Itu geng motor apa tukang rongsokan keliling?!"

Zayyan dan Wain langsung berlari menghampiri Davin. "Bego! Bensin lo abis ya?!" teriak Zayyan.

"Enggak, anjir! Ini kontaknya belum gue posisiin ke 'ON'!" seru Davin polos. Begitu kunci diputar ke posisi ON, dia langsung menggenjot starter, mesin menyala, dan Davin langsung tancap gas mengejar Goliath yang sudah berada sekitar 200 meter di depan.

Keajaiban malam itu terjadi. Entah karena kekuatan kepepet takut memakai daster, atau karena angin malam yang mendukung, motor Davin melaju dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Stangnya bergetar hebat sampai-sampai gigi Davin bergemeletuk menahan getaran.

Di tikungan terakhir sebelum garis finish, Goliath terlalu percaya diri dan mengambil sudut terlalu lebar. Motornya agak oleng. Davin, dengan kenekatan luar biasa dan fakta bahwa rem depannya sebenarnya blong, langsung menusuk dari jalur dalam sambil berteriak histeris, "MISIIIIII MAU LEWAAAAT!!"

Goliath yang kaget mendengar teriakan mirip kuntilanak terjepit itu langsung mengerem mendadak. Davin melesat melewati garis finish hanya selisih satu ban di depan Goliath!

1
Amora
bagus
Amora
selalu aku pantau terus ceritanya
Amora
yaampun Thor pantesan aku tungguin gak up terus pdhal ganti kesini xixixi🤭
Aisyah Suyuti
good
Its_sellaaf
Hallo, ini sebenarnya kelanjutan ulang cerita sebelumnya, di judul pertama aku yaa aku ubah di awal karena cerita yang sebelumnya susah buat aku delete. Jadi aku bikin ulang lagi aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!