NovelToon NovelToon
Aku Pembawa Sial, Tapi Waktu Tunduk Padaku

Aku Pembawa Sial, Tapi Waktu Tunduk Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: lizzy Bae

Sepanjang hidupnya, Bayu Rahaja selalu dijuluki si pembawa sial hingga puncaknya kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah tragedi yang memaksanya pulang ke rumah tua keluarganya. Di tengah keputusasaan saat ditagih hutang dan membereskan barang-barang usang peninggalan kakeknya, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah batu hitam kehijauan yang diam-diam mengaktifkan sebuah pusaka kuno. Waktu di sekitarnya mendadak berhenti, dan Bayu menyadari bahwa kesialannya selama ini adalah harga yang harus dibayar untuk membangkitkan Batu Waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Ting.

Pintu lift berlapis emas itu terbuka perlahan tanpa menimbulkan suara sedikit pun.

Bayu melangkah keluar menapakkan kakinya ke atas karpet tebal berwarna merah darah yang sangat empuk.

Di hadapannya membentang sebuah ruangan kantor yang sangat luas dengan dinding kaca raksasa di bagian belakang.

Pemandangan gemerlap lampu kota dari ketinggian lantai empat puluh lima terlihat sangat jelas dari balik kaca tersebut.

"Wah wah, lihat siapa yang akhirnya datang berkunjung ke ruanganku," ucap seorang pria berambut uban yang duduk santai di balik meja kayu jati.

Pria tua bernama Hendra itu menyesap cerutunya perlahan lalu menghembuskan asap putih ke udara.

Empat orang pengawal berbadan kekar dengan setelan jas hitam langsung pasang posisi berdiri membentengi meja sang direktur.

"Kamu terlihat sangat kelelahan dan kehabisan napas, cowok udik," ejek Hendra sambil tersenyum sinis.

"Aku kagum kamu bisa naik sampai ke sini hidup hidup, tapi perjalananmu berakhir di ruangan ini."

Bayu berdiri tegang sambil mengatur napasnya yang masih memburu setelah berlari marathon di lantai bawah.

"Di mana dokumen asli tentang kematian orang tuaku delapan tahun yang lalu?" tuntut Bayu langsung pada pokok permasalahan.

Hendra tertawa terbahak bahak mendengar pertanyaan polos yang keluar dari mulut pemuda di depannya.

"Dokumen sampah itu sudah lama kubakar bersama dengan impian kedua orang tuamu yang tidak mau bekerja sama," jawab Hendra tanpa rasa salah sedikit pun.

"Kamu datang ke sini cuma untuk menyerahkan nyawa dan relik waktumu padaku."

Krasak.

"Bayu, tetap tenang dan jangan terpancing emosi," bisik suara Anya memperingatkan melalui alat penyadap di telinganya.

"Kamera ruangan menunjukkan empat pengawal itu bukan tentara bayaran biasa, mereka adalah mantan atlet beladiri campuran."

Clara ikut menimpali dari saluran komunikasi yang sama dengan nada bicaranya yang santai.

"Satu di antara mereka yang berkepala botak punya relik penguat otot di lengan kanannya cowok udik," tambah Clara memberi petunjuk penting.

"Jangan coba coba menahan pukulan langsung dari orang botak itu kalau tidak mau lenganmu patah."

Bayu menyapu pandangannya ke arah empat pengawal yang mulai melangkah maju mendekatinya.

"Terima kasih informasinya Clara, itu sangat membantu," batin Bayu sambil memasang kuda kuda bertahan.

"Habisi dia dan jangan tinggalkan bekas," perintah Hendra mengibaskan tangannya malas.

Wush.

Pengawal pertama yang bertubuh jangkung melesat maju sambil melayangkan tendangan lurus ke arah dada Bayu.

Brak.

Bayu menyilangkan kedua tangannya di depan dada untuk menahan benturan tendangan yang sangat keras itu.

Tubuh Bayu terdorong mundur tiga langkah ke belakang hingga tumit kakinya menabrak pinggiran pot tanaman hias.

"Kekuatan fisiknya benar benar tidak main main," rutuk Bayu merasakan kedua tangannya mulai kebas.

"Langkah kiri Bayu! Pengawal kedua menyergap dari samping!" teriak Anya memberi instruksi taktis dari layar monitornya.

Bayu refleks menjatuhkan tubuhnya ke lantai merayap rendah ke arah kiri.

Bugh.

Pukulan angin dari pengawal kedua menghantam tiang marmer di dekat lift hingga retak bercabang.

"Sial, aku tidak bisa cuma mengandalkan refleks murni," batin Bayu mencari celah pertarungan.

Pengawal ketiga yang berkepala botak tiba tiba maju dan mengangkat meja kopi kaca tebal di dekatnya.

Praang.

Meja kaca itu dilemparkan ke arah Bayu dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Bayu berguling cepat ke kanan menghindari pecahan kaca yang berhamburan ke seluruh penjuru lantai.

"Dia tidak memakai kekuatan waktunya sama sekali, apakah energinya sudah benar benar habis?" tanya Hendra memperhatikan pertarungan dari mejanya.

Salah satu pengawal tersenyum mengejek melihat Bayu yang merangkak bangun dengan pakaian kotor dan penuh debu.

"Bocah ini cuma mengandalkan keberuntungan sejak tadi," cibir pengawal jangkung sambil mengepalkan tinjunya.

"Bayu, gunakan vas bunga perunggu di sebelah kananmu!" seru Clara memberikan saran liar.

Bayu melirik ke kanan dan melihat sebuah vas bunga antik seberat lima kilogram berdiri di atas pilar kayu.

Tanpa berpikir panjang Bayu menyambar vas perunggu itu dan memutarkan tubuhnya sekuat tenaga.

Brak.

Vas perunggu tebal itu menghantam telak pipi pengawal jangkung yang sedang melangkah maju.

Pria tinggi itu langsung terhuyung jatuh ke samping dengan hidung berdarah dan mata berkunang kunang.

"Satu tumbang," bisik Bayu tersenyum tipis.

Pengawal berkepala botak menjadi murka melihat temannya dijatuhkan oleh benda pajangan rumah tangga.

Sring.

Urat urat di lengan kanan si botak mendadak menyala warna merah keemasan memancarkan energi yang sangat kuat.

"Mati kau bocah sialan!" teriak pria botak itu melayangkan pukulan terkuatnya ke arah kepala Bayu.

Pukulan itu bergerak sangat cepat membawa angin bertekanan tinggi yang memekakkan telinga.

[Energi Waktu: 1/25]

"Ini satu satunya kesempatanku," batin Bayu menggertakkan giginya rapat rapat.

"Batu Waktu, hentikan waktu sekarang!"

1
lizzy Bae
Bagus banget ceritanya lanjutkan!!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!