Ditolak di depan teman-temannya sendiri, harga diri Jaka hancur berkeping-keping. Satu penolakan yang seharusnya cuma luka kecil, kini menjelma dendam yang membutakan.
Demi mendapatkan Dea—perempuan yang menolaknya—Jaka rela menempuh jalan yang tak seharusnya dilalui siapa pun: mencuri, berbohong, dan akhirnya menyerahkan dirinya pada ilmu hitam seorang dukun tua di ujung hutan bambu.
Namun, cinta yang direbut paksa selalu punya harga. Dan harga itu tak pernah berhenti di satu nyawa saja.
PELET LAKNAT 2 — ketika obsesi menemukan jalannya lewat kegelapan, siapa yang benar-benar akan selamat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANGAN YANG MENGIKITI
# PELET LAKNAT 2
## Bab 15: Bayangan yang Mengikuti
Langkah Jaka terburu-buru meninggalkan area pohon bambu kuning yang mendadak terasa makin menghimpit. Hawa dingin yang mengusap tengkuknya bukan lagi sekadar angin malam biasa, melainkan menyerupai elusan jemari es dari sosok wanita bergaun merah kusam dengan kain samping terlilit di pinggangnya, yang kini diam-diam merayap dan mengekor tepat di dalam bayangan Jaka.
Semenjak beranjak dari bawah pohon bambu tadi, tiap pijakan kakinya terasa jauh lebih berat dari biasanya.
"Hah, kenapa dengan kakiku? Kok terasa berat begini... padahal tinggal satu syarat lagi dan semuanya akan beres," gerutu Jaka di dalam hati seraya terus berjuang melangkah cepat melintasi kegelapan.
Sementara itu, Kiki justru tertidur pulas di atas bale-bale kayu akibat kelelahan menunggu Jaka yang tak kunjung keluar. Ia seakan tak lagi peduli pada hawa dingin yang mengusap dan menusuk tubuhnya.
Sesampainya di dalam gubuk, Jaka melihat Mbah Usman sudah berdiri menunggu di dekat sebuah gentong tanah liat berukuran besar di sudut dapur yang kusam. Air di dalam gentong itu bertabur kelopak melati, mawar, dan kantil, menguapkan aroma wangi khas yang membawa hawa duka begitu pekat.
Namun kala itu, waktu diperkirakan baru menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Masih tersisa setengah jam lagi menuju ritual pamungkas.
Selama menunggu waktu menunjukkan pukul dua belas tepat, Mbah Usman mengutarakan pantangan yang harus ditaati Jaka.
"Nak, selagi menunggu jam dua belas tepat, Simbah mau mengatakan sesuatu padamu," seru Mbah Usman seraya menghentikan aktivitasnya yang kala itu tengah mengaduk air kembang di gentong.
"Sesuatu apa, Mbah?" tanya Jaka penasaran.
"Sesuatu yang sangat penting, di mana kamu tidak boleh melanggarnya sedikit pun! Dengar baik-baik, Nak!" ujar Simbah dengan nada tegas dan tatapan mata yang begitu tajam.
"Pertama, setiap pasaran Kliwon kamu harus meneteskan darahmu seperti yang tadi kamu lakukan. Kedua, kamu tidak boleh melihat pakaian dalam wanita selama tiga bulan. Ketiga, kamu jangan menemui Dea dulu... tunggu sampai dia sendiri yang datang mengemis cintamu! Jika sampai kamu melanggarnya, kamu tanggung sendiri akibatnya!" jelas Mbah Usman menatap lurus menembus mata Jaka.
Belum sempat Jaka bertanya, dukun tua itu sudah memotongnya kembali.
"Oh iya, satu lagi! Darah yang kamu keluarkan nanti harus dicampur dengan air, lalu kamu minum air itu. Ingat, setiap pasaran Kliwon tiba, kamu harus melakukan itu dan bacakan mantra yang tadi Simbah ajarkan, jangan sampai lupa!" lanjut Mbah Usman memotong tajam.
Mendengar itu, Jaka lagi-lagi hanya bisa menelan ludah dalam-dalam, menahan tumpukan pertanyaan yang bergolak di dalam batinnya. Tiga syarat yang baru saja didengarnya terasa berat mengendap di kepala, seolah setiap kata yang diucapkan Mbah Usman ikut terpatri di dalam benaknya.
Waktu terasa berlalu semakin cepat di dalam ruangan yang temaram itu, hingga tanpa disadari, jarum jam tepat menunjukkan tengah malam. Ritual pamungkas pun siap untuk dilaksanakan.
"Sekarang sudah jam dua belas malam, buka semua bajumu termasuk celana dalammu!" perintah Mbah Usman tegas.
Mendengar perintah itu dengan menahan rasa malu yang membakar seluruh wajahnya, Jaka terpaksa menuruti perintah sang dukun tua. Selapis demi selapis pakaian lepas dari tubuhnya, menyisakan kulitnya yang merinding diterpa hawa dingin malam. Dengan tubuh polos tanpa sehelai benang pun, ia lantas berjongkok di samping gentong tanah liat berukuran besar itu.
"Air suci ini akan menjadi titik balik kehidupanmu kelak. Apa yang kamu inginkan pasti akan terwujud... hehehehe," seru Mbah Usman seraya terkekeh pelan—sebuah kekehan parau yang bergema dingin di setiap sudut dapur kusam tersebut.
Air rendaman kembang itu perlahan membasahi seluruh tubuh Jaka, membawa hawa dingin mencekam yang terasa menusuk hingga ke tulang sumsum. Namun, Jaka sekuat tenaga menahan rasa dingin yang menyiksa itu demi sebuah obsesi yang kelak ia anggap sebagai prestasi terbesar dalam hidupnya.
Seketika, suasana di dalam ruangan dapur berubah drastis. Tak diketahui dari mana asalnya, hembusan angin kencang mendadak menerpa hingga membuat kobaran api obor meliuk-liuk liar, melemparkan bayangan-bayangan raksasa yang menari ganas di dinding kayu. Tanah yang dipijak Jaka pun terasa bergetar pelan, seolah ada kekuatan dahsyat yang baru saja terbangun dari dasar bumi. Kucuran demi kucuran air kembang terus diguyurkan ke tubuh Jaka hingga tak tersisa sedikit pun.
Namun, lain halnya dengan apa yang dialami Kiki di luar gubuk. Getaran hebat pada tanah itu mengejutkan dan memaksa Kiki terjaga dari tidur lelapnya.
"Gempa bumi...! Gempa bumi...! Ada gempa bumi!" teriak Kiki panik seraya meloncat turun dari bale-bale kayu. "Jaka! Mbah! Cepat keluar, ada gempa bumi!"
Namun, sekuat apa pun Kiki berteriak, suaranya seolah lenyap begitu saja. Seperti ada dinding tak kasat mata yang membentenginya, menghalangi rintihan panik itu menembus ke dalam rumah. Hal tersebut membuat Kiki kian dimakan kepanikan karena getaran tanah di bawah kakinya tak kunjung mereda.
Ia berlari kian kemari seraya menggedor pintu rumah Simbah Usman yang terkunci rapat dari dalam, tetapi tak ada satu pun sahutan. Peluh dingin membasahi punggungnya, bercampur dengan rasa takut yang kini sepenuhnya menguasai tubuhnya.
"Buset deh! Ini orang pada budek apa ya? Masa aku teriak-teriak heboh begini tidak ada yang mendengar?" gerutu Kiki ketakutan sekaligus jengkel. "Apa mereka sudah tidur di dalam? Tapi masa tega membiarkan aku sendiri di luar kedinginan begini!"