Setelah kehilangan sang ibu tercinta, Aldo yang kelelahan mencari kerja nekat mendaftar audisi kompetisi memasak bergengsi berbekal resep masakan Nusantara. Perjuangan kerasnya di galeri kompetisi yang kejam akhirnya membawanya menjadi juara, sekaligus mewujudkan impiannya membangun restoran dari nol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Dia berlari mengelilingi rak rak lain untuk mencari bahan alternatif pengganti daging sapi dengan sisa waktu yang menipis.
Rak daging ayam sudah kosong melompong diserbu peserta lain sejak menit pertama.
Rak makanan laut juga hanya menyisakan beberapa ekor ikan kecil yang kondisinya sudah tidak terlalu segar.
"Tiga puluh detik!"
Aldo terus memaksakan diri berlari menyusuri lorong paling belakang yang dijauhi peserta lain karena berisi bahan makanan kering.
Matanya tertuju pada sebuah keranjang anyaman bambu yang berisi tumpukan ikan asin jambal roti berukuran besar.
Di sebelahnya juga terdapat rak kayu yang memajang puluhan papan tempe kedelai bungkus daun pisang yang sangat tradisional.
Bahan bahan itu terlihat sangat sederhana dan tidak memiliki nilai estetika mewah sama sekali untuk kompetisi tingkat nasional.
"Sepuluh."
"Sembilan."
"Hanya ini bahan protein yang tersisa dan aku tidak punya pilihan lain untuk mundur," batin Aldo mengambil keputusan nekat.
Dia langsung menyambar dua potong besar ikan asin jambal roti dan memasukkan tiga papan tempe ke dalam keranjangnya.
"Lima."
"Empat."
Aldo berlari sekuat tenaga menuju pintu keluar pantry bersama beberapa peserta lain yang wajahnya sudah pucat pasi.
"Tiga."
"Dua."
"Satu."
Brak.
Pintu ganda ruang pantry ditutup dengan sangat keras dari luar oleh panitia keamanan.
Semua peserta yang berhasil selamat kini berdiri di depan meja masak mereka masing masing dengan napas yang putus putus.
Ada beberapa peserta wanita yang terlihat menangis tersedu sedu karena lupa mengambil garam atau minyak goreng.
Aldo meletakkan keranjangnya di atas meja masak nomor dua belas dan menatap nanar sisa bahan bahannya.
Ikan asin berbau tajam dan tempe kedelai murah kini tergeletak pasrah menanti nasib di atas meja bajanya.
Dari meja barisan depan, Kevin menoleh ke belakang dan tertawa meremehkan tanpa suara saat melihat ikan asin milik Aldo.
Kevin merasa rencananya untuk membuat Aldo terlihat bodoh di tantangan eliminasi pertama ini sudah berhasil seratus persen.
Chef Arya melipat tangannya dan menatap keranjang belanjaan para peserta dari atas podium dengan tatapan bak algojo.
"Waktu belanja kalian sudah habis total dan tidak ada alasan apapun untuk mengemis kembali ke pantry," ucap Chef Arya lantang.
"Kalian harus menciptakan hidangan mahakarya dengan bahan apapun yang ada di keranjang kalian saat ini."
Chef Bram menyela dan menambahkan instruksi yang membuat bulu kuduk semua orang berdiri.
"Hari ini adalah tantangan eliminasi pertama, yang berarti pasti akan ada yang pulang melepas celemeknya malam ini juga."
"Buktikan kepada kami bahwa kalian bukan sekadar koki amatir yang hanya tahu cara memasak bahan mahal."
"Waktu kalian enam puluh menit dimulai dari sekarang!" teriak Chef Renata sambil menekan sirine tanda dimulainya waktu memasak.
Teeet.
Suara letupan kompor gas yang dinyalakan serentak menggema memenuhi galeri layaknya suara mesin pesawat jet.
Blar blar blar.
Aldo memejamkan matanya selama tiga detik untuk menenangkan pikirannya yang sempat kalut akibat sabotase tadi.
Dia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dan memanggil kembali memori tentang resep resep rahasia ibunya.
"Ikan asin jambal roti dan tempe bungkus daun," gumam Aldo pelan memandangi bahannya.
"Aku tidak bisa membuat masakan yang elegan ala barat dengan bahan kampung ini."
"Jadi aku harus menonjolkan kekuatan rasa aslinya menjadi ledakan bumbu di lidah mereka."
Aldo membuka tas ransel bututnya dan kembali mengeluarkan ulekan batu andalannya serta wajan aluminium tuanya.
Dia langsung mengupas bawang merah, bawang putih, dan cabai rawit merah dalam jumlah yang sangat banyak dan berani.
"Aku akan membuat sayur lodeh tempe pedas dengan tumisan ikan asin jambal roti bumbu kecombrang," putus Aldo dalam hati.
Pisau di tangan kanan Aldo langsung menari nari dengan sangat agresif namun presisi di atas talenan kayunya.
Trak trak trak.
Kecepatan memotongnya terlihat sangat mencolok dan rapi dibandingkan dengan beberapa peserta amatir di sekitarnya.
Dia memotong tempe menjadi bentuk dadu kecil berukuran sama agar bumbunya cepat meresap ke bagian dalam.
Sementara itu ikan asin jambal rotinya dia rendam menggunakan mangkok berisi air panas untuk mengurangi rasa asin pekatnya.
Di meja seberang, Kevin sedang sibuk membumbui daging dombanya menggunakan rempah rempah impor dari botol kaca yang cantik.
Pemuda itu melirik sinis ke arah meja Aldo dan mencibir pelan.
"Masakan warteg apaan itu, baunya saja sudah merusak hidungku," gumam Kevin saat mencium aroma ikan asin yang menyengat.
Namun Aldo sama sekali mengabaikan semua gangguan eksternal di luar meja masaknya.
Dia memasukkan bumbu lodeh halus ke dalam panci kecil dan menuangkan perasan santan segar yang berhasil diselamatkannya tadi.
Blub blub blub.
Santan itu mendidih dan meletup letup mengeluarkan aroma gurih khas masakan Nusantara yang sangat pekat.
Aldo kemudian mengangkat wajan tuanya dan memanaskan minyak kelapa murni di atas api yang cukup besar.
Dia menumis irisan bawang, cabai, dan irisan bunga kecombrang yang memiliki aroma citrus yang sangat harum.
Srenggg.
Wangi kecombrang itu langsung mengudara dan secara perlahan menelan habis aroma daging domba milik Kevin.
Bunga kecombrang ini adalah kunci rahasia dari ibunya untuk menetralkan bau amis dan tengik dari ikan asin.
Setelah bumbunya terlihat layu dan mengeluarkan minyak, Aldo memasukkan potongan ikan asin tersebut.
Srenggg srenggg.
Kepulan asap tebal membubung tinggi dari meja masak Aldo hingga menarik perhatian para juri di podium.
Chef Arya menatap ke arah kepulan asap beraroma ikan asin itu dengan dahi yang berkerut dalam.
"Anak itu memasak ikan asin dengan tempe di tantangan pertama galeri utama kita," ucap Chef Arya pelan kepada dua rekannya.
"Itu adalah langkah yang sangat berani atau justru langkah paling bodoh untuk bunuh diri," sahut Chef Bram menyetujui.
Aldo tidak peduli dengan pandangan meragukan para juri karena fokusnya kini tertuju pada tekstur tempe di dalam kuah lodehnya.
Dia menyendok sedikit kuah kuning tersebut lalu mencicipinya dengan perlahan.
"Rasanya sedikit kurang nendang dan gurih karena aku tidak memakai kaldu daging sapi sama sekali," batin Aldo mengevaluasi.
Dia memutar otaknya dengan sangat cepat untuk mencari cara instan menaikkan rasa umami pada kuah santan nabati tersebut.
Mata cerdas Aldo tertuju pada sisa kepala dan tulang ikan asin jambal roti yang sengaja belum dia buang ke tempat sampah.
Tanpa ragu dia menjepit tulang ikan asin itu menggunakan capitan besi dan membakarnya di atas api kompor secara langsung.
Desis kecil terdengar berisik saat sisa lemak di tulang ikan asin itu menetes dan terbakar api.
Setelah kondisinya agak gosong dan berasap, Aldo memasukkan tulang ikan bakar itu langsung ke dalam panci lodehnya yang mendidih.
"Ini trik kuno penjual sayur untuk mendapatkan kaldu umami asap sebagai pengganti daging," gumam Aldo sambil tersenyum puas.
Kuah lodehnya kini mulai berubah warna menjadi sedikit kecoklatan dengan titik titik minyak kemerahan dari cabai rawit yang sangat menggugah selera.
Waktu memasak tersisa dua puluh menit lagi dan pertarungan sesungguhnya kini perlahan mendekati titik puncaknya.