Hutang budi membuat Pria setengah baya itu lupa pada gadis belia yang dulu menolongnya saat pingsan dalam melaksanakan tugas. Bertahun-tahun ia mencari, hingga akhirnya ia menemukan gadis itu dan menjodohkannya dengan 'putranya', Letnan Julang Wengkar (Elang), perwira muda yang gagah, berani, dan namanya di kenal kemiliteran.
Namun takdir punya jalan yang tak terduga. Di balik kesediaan gadis itu menerima perjodohan, tersimpan rahasia yang selama ini ia pendam dalam diam.. Hatinya bukan untuk Elang. Ia justru mencintai Letnan Dante, sahabat Elang sendiri.. Juga 'putra' dari mendiang sahabat Pak Riegan semasa muda dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Membujuk dengan hati-hati.
Bian mendekati Bang Dante. Namun saat ia menatap wajah itu lebih dekat, matanya tiba-tiba menyipit. Cairan merah itu tidak berbau besi, tidak lengket seperti darah asli. Justru terasa licin dan berwarna agak pudar saat terkena sinar matahari. Dan lebam di wajahnya, warna itu terlalu rata, terlalu rapi, seakan dilukis dengan penuh perhitungan pasti.
Bian berhenti bergerak. Tangannya yang tadi gemetar ketakutan kini perlahan mengepal. Ia menyeka 'darah' di pipi Dante dengan ujung bajunya. Warna merah itu terhapus, meninggalkan noda di kain. Benar saja, ia menyentuh wajah pria tersebut dan ada banyak warna di telapak tangannya. Ekspresi wajah Bian pun berubah.
"Apa maksudnya???? Berdiri yang tegak..!!!!" Perintah Bian.
Ketiga pria menunduk tak ada yang berani menjawab. Mereka berdiri di hadapan Bian tanpa berani bergerak. Lebih parahnya jantung kedua ajudan serasa lepas dari raga. Nyatanya emosi calon ibu PaSie lebih menakutkan dari apapun.
Wajahnya merah padam menahan amarah yang meluap-luap. "Abang pikir ini lucu???? Abang tau betul aku takut melihat darah dan luka. Abang tau betul masa laluku membuatku trauma melihat orang terluka. Dan kau... kau sengaja berpura-pura terluka. Untuk apa, Bang????"
"Saya... saya hanya ingin bicara berdua saja denganmu..." Dante berdiri canggung, tangannya berusaha menghapus sisa cat di wajahnya, semakin memperjelas bahwa semuanya hanyalah sandiwara konyol.
"Bicara apa??? Nikah??? Aku nggak mau." Tolak Bian mentah-mentah.
"Itulah, karena kau nggak mau. Saya........" Bang Dante memutar otak lebih keras untuk bicara dengan gadis cantik itu. "Kita nikah kontrak saja." Ajak Bang Dante memberi ide.
Bian terdiam sejenak, ia pun mengingat masa lalunya bersama orang yang membuatnya sangat takut untuk melangkah.
"Ada yang mau aku bicarakan." Kata Bian kemudian.
~
"Abang bisa dapatkan wanita yang lebih baik. Abang.. Tidak tau siapa aku, namaku bisa merusak karir dan nama baikmu."
Sambil menghapus make up yang menghias wajah datarnya, Bang Dante tersenyum tipis. "Janda??"
"Apa?????" Bian sangat kaget mendengarnya.
"Kamu janda, saya tau." Ulang Bang Dante.
Seketika wajah Bian berubah memucat. Itu jelas menunjukan kebenaran yang tersimpan rapat.
"Darimana Abang tau???"
"Apa yang saya tidak tau." Jawab Bang Dante santai lalu membuang kapas kotor di tempat sampah.
Bang Dante tak ingin menekankan hal apapun lagi. Ia menatap kedua bola mata Bian dengan lekat.
"Kalau kamu mau lepas dari dia, menikahlah dengan saya..!!"
Bian menggeleng, rasa takut akan masa lalunya membuatnya sungguh enggan mengenal pria manapun. Keberaniannya untuk lepas dari mantan suaminya itu hanya untuk menutupi ketakutannya yang dalam.
"Nggak.. Nggak mau."
"Apa yang kamu takutkan? Bukankah menikah malah menyelamatkan kamu dari laki-laki itu??" Tanya Bang Dante.
"Abang jangan memaksa. Pangkatnya itu tinggi, dia Letnan Dua."
Bang Dante sampai ternganga mendengarnya. Ternyata Bian tak paham soal kepangkatan. Wajar saja kalau saat ini 'gadis' itu begitu ketakutan.
"Kalau begitu jawab saja, kamu mau atau tidak??" Bang Dante memastikan sekali lagi.
:
Pak Riegan dan Mama Phia sungguh kaget dengan laporan yang mereka dengar pagi ini dari petugas piket jaga rumah dinas Pati. Letnan Dante berpura-pura sakit parah karena insiden kecelakaan sampai membuat Bian marah.
Kejadian ini akhirnya juga menimbulkan perdebatan kecil Pak Riegan dan Mama Phia. Di ruang tamu sebelum masuk ke dalam kamar, mereka masih beradu argumen.
Pak Riegan menggeleng kepala. Pikiran dan perasaannya kini campur aduk antara kesal dan tak percaya putranya bisa bertingkah seperti itu.
"Mama lihat itu, anak kita yang paling gagah, paling tegas, paling ditakuti di Batalyon... sekarang mulai bertingkah di depan perempuan, pura-pura luka dan membohongi Bian. Hilang sudah seluruh wibawanya."
Mama Phia justru tersenyum tipis, matanya lembut melihat itu semua. "Tapi lihatlah, Yah. Demi bisa bertemu dengan Bian, dia rela merendahkan diri, rela terlihat konyol, bodoh, dan tidak berwibawa. Bukan karena dia tidak mampu bersikap gagah, tapi karena di hadapan orang yang dicintainya, wibawa itu bukan yang paling penting. Yang penting adalah bisa bertemu, bisa bicara, bisa berada di dekat Bian."
Pak Riegan terdiam, lalu akhirnya ikut tersenyum. "Kau benar juga, Ma. Tapi nggak begitu juga donk. Seorang pria yang rela kehilangan wibawanya demi satu wanita, itu bukan pria yang lemah. Itu pria yang cintanya lebih besar dari egonya. Dan itu... itu yang paling berharga. Sekarang ayah benar-benar yakin kalau Dante sudah jatuh cinta lagi. Hanya gengsinya itu, yang Ayah nggak paham. Kuat marah, kuat kakunya, tapi nggak pernah mau ngaku kalau seusianya memang sudah sangat butuh wanita."
Anggukan Mama Phia membenarkan ucap dan logika suaminya itu. "Jadi gimana baiknya, Yah??"
"Nggak usah di dorong lagi, Ma. Sebagai pria dewasa, Dante sudah tau apa yang harus dia buat." Jawab Pak Riegan.
...
Di sebuah ruang tertutup, di cafe puncak gunung. Bang Dante dan Bian memegang lembar kertas masing-masing. Namun sudah jelas lembar kertas siapa yang paling banyak.
Dari banyaknya poin dalam lembar kertas itu, tidak ada satu pun dari mereka yang membacanya hingga selesai. Keduanya langsung menggoreskan pena di atas materai.
"Okee.. Beres. Saya minta berkas mu, besok pagi saya tangani dan menghadap komandan untuk pengajuan nikah awal, selanjutnya.. Kita kesana sama-sama. Mulai malam ini, kau tidak boleh masuk camp.. Paham???? Deal????"
Bian mengangguk mengerti. "Deal."
"Ini uang mukanya." Bang Dante mendorong amplop coklat tebal di hadapan Bian.
Gadis itu mengambilnya lalu melihat isinya. Seketika kelopak matanya melebar, memperlihatkan kedua bola mata bulat besar yang hampir lepas dari cangkangnya.
"Ini duit?? Maksudnya... Benar sebanyak ini???" Tanya Bian kaget sampai menelan ludah.
"Hmmm.. Mau kau belikan apa uang itu??"
"Mukena, mukena ku sobek." Jawab Bian.
"Simpan saja, nanti saya yang belikan." Ujar Bang Dante.
Bian kembali menatap pria itu. "Kita menikah hanya bohongan. Lalu kenapa usahamu harus seperti ini, Bang??"
"Yes, i know. Tapi ada kebenaran yang tidak bisa saya ingkari. Jadi, nikmati saja hidup kita..!!"
"Kebenaran apa??"
Bang Dante hanya tersenyum melihat wajah polos Bian. Membiarkan gadis lugu itu mencerna situasi sependek jalan pikirnya yang ringan.
"Sudahlah. Kalau begitu, sekarang kita ke penghulu..!!"
"Iya, Bang. Harus latihan dulu. Jangan sampai nanti Abang nggak bisa ijab qabul." Celetuk Bian.
Bang Dante melirik Bian dengan seringai senyum tipis.
.
.
.
.
maaf ya mba Naraa/Pray/...tetep tak baca koq meskipun nyesek banget🥹
lanjut mba Nara
Tokoh ceritanya mba Nara...pria² yg bertanggungjawab👍
lanjut mba nara👍
mba Nara, ngasih bawangnya banyak bgt🥹🥹
huaaa...ga rela klo pada pisah😭
lanjut mba Nara🥰
itu lg si vivian...melu² ngobong blarak....adeeehhh koq yo ora kapok... njaluk dijak gelud ae iki
lanjut mba nara