Saat Askar ada di rumah, Bu Surya selalu bersikap lembut dan memuji Miska.
Bu Surya: "Miska rajin sekali,ya. Penurut juga."
"Aku kan bilang Ibu pasti sayang dia. Miska, jangan banyak pikiran."
Tapi begitu Askar berangkat kerja, topeng itu langsung dilepas. Bu Surya memaki dan menghina Miska tanpa henti.
Bu Surya: "Dasar anak orang miskin beruntung! Cari makan di sini ya? Cepat kerja!"
Miska: "Bu, saya sudah selesaikan semua pekerjaan..."
Bu Surya: "Banyak alasan! Tak tahu diri!"
Miska akhirnya memberanikan diri mengadu, tapi yang ia dapat malah kemarahan suami.
Miska: "Mas, Ibu selalu memaki saya saat kau tak ada..."
Askar: "Berani kau menfitnah Ibu? Dia begitu baik padamu! Jangan cari masalah!"
Kesabaran Miska diuji tiap hari, sampai hadir Rara — cinta lama Askar yang kini jadi sekretarisnya. Kedekatan keduanya membuat Miska mulai curiga, tapi Bu Surya malah membela habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Langkah kaki Miska terasa berat ketika ia memasuki halaman rumah. Pagar besi yang tertutup rapat di belakangnya membuat rumah itu terasa asing. Tempat yang seharusnya menjadi tempatnya pulang, justru terasa seperti sangkar yang selama ini mengurungnya.
Dari kejauhan, Miska sudah melihat dua sosok berdiri di depan pintu utama.
Bu surya, ibu Askar, berdiri dengan kedua tangan bersedekap. Wajah wanita paruh baya itu merah padam, jelas menahan amarah yang sejak tadi membara. Di sampingnya, Askar berdiri tegak dengan tatapan tajam. Tidak ada sedikit pun kelembutan di matanya. Ia menatap Miska seolah-olah wanita itu adalah musuh, bukan istrinya sendiri.
Angin sore berembus pelan, menerbangkan beberapa helai rambut Miska ke wajahnya. Ia menarik napas panjang, membiarkan udara memenuhi paru-parunya, kemudian mengembuskannya perlahan.
Hari ini, ada sesuatu yang telah berubah di dalam dirinya.
Miska bukan lagi wanita yang selalu menunduk setiap kali dimarahi. Bukan lagi istri yang terbiasa meminta maaf atas kesalahan yang bahkan tidak pernah dilakukannya.
Ia sudah terlalu lama bersabar.
Dan hari ini, kesabarannya telah mencapai batas.
"Kau akhirnya berani kembali juga!"
Suara melengking Bu Siti langsung memecah keheningan begitu Miska melewati pagar. Wanita itu melangkah maju dengan wajah penuh kebencian.
"Wanita gatal yang tidak tahu diri! Sudah pergi ke mana kau? Mau menghilangkan bau busukmu itu, hah? Berani-beraninya kau membuat anakku malu di depan umum!"
Miska menghentikan langkahnya beberapa meter di depan mereka.
Biasanya, ia akan menundukkan kepala. Namun kali ini tidak.
Ia mengangkat wajah dan menatap langsung ke arah Bu Siti. Tatapannya tenang, tetapi ada ketegasan yang selama ini tidak pernah terlihat di sana.
"Ke mana pun aku pergi, itu bukan urusan Ibu."
Suara Miska terdengar pelan, tetapi jelas. Tidak gemetar. Tidak pula terdengar seperti suara seseorang yang sedang menahan tangis.
Bu Surya tertawa sinis. Ia kemudian berjalan mendekati Miska dengan langkah penuh kemarahan.
"Bukan urusanku?" ulangnya dengan nada mengejek. "Selama kau masih menjadi istri anakku, seluruh hidupmu adalah urusanku! Kau pikir kau siapa? Berani menampar orang-orang yang aku sayang? Berani sekali kau merendahkan keluarga kami!"
Belum sempat Miska menjawab, tangan Bu Surya tiba-tiba melayang.
Prak!
Tamparan keras mendarat tepat di pipi kanan Miska.
Kepalanya terhuyung ke samping. Rasa perih langsung menjalar di kulit pipinya. Namun, Miska tidak mengeluh. Ia bahkan tidak mengangkat tangan untuk menyentuh pipinya.
Perlahan, ia kembali menegakkan kepala.
Tatapannya masih sama.
Tidak ada ketakutan.
Hanya ada kekecewaan yang begitu dalam.
"Lihat wajah tak tahu malumu itu!" bentak Bu Surya lagi. Jarinya menunjuk wajah Miska dengan kasar. "Ibu kandungmu pasti wanita murahan, matre, dan pengkhianat! Hanya wanita rendahan seperti dia yang bisa melahirkan anak perempuan tak tahu malu sepertimu!"
Miska terdiam.
Namun bukan karena takut.
Kata-kata itu terasa seperti belati yang dihunjamkan tepat ke ulu hatinya.
Selama ini, Miska masih mampu menerima ketika dirinya dihina. Ia mampu menahan ketika dimaki. Bahkan ketika harga dirinya diinjak-injak, ia masih berusaha bersabar.
Tetapi kali ini berbeda.
Bu Surya telah menyentuh satu-satunya hal yang tidak akan pernah ia biarkan dihina oleh siapa pun.
Ibunya.
Wanita yang selama ini membesarkannya seorang diri. Wanita yang bekerja keras dengan keringat dan air mata tanpa pernah mengeluh. Wanita yang selalu mengajarinya untuk menjadi baik meskipun dunia tidak selalu memperlakukannya dengan baik.
Miska mengepalkan kedua tangannya.
Dadanya naik turun. Amarah yang sejak tadi ia tahan perlahan memenuhi seluruh tubuhnya.
Ia menarik napas dalam-dalam.
Kemudian, ia mendongak.
Tatapan matanya kini benar-benar berubah.
"Ibu boleh menghina aku," ucap Miska perlahan. Suaranya bergetar, tetapi bukan karena ketakutan. Ia sedang berusaha menahan amarah. "Ibu boleh memaki aku. Ibu juga boleh membenciku sesuka hati."
Miska berhenti sejenak.
Matanya tidak lepas dari wajah Bu Siti.
"Tapi jangan pernah sekalipun Ibu menghina ibuku."
Bu Surya terdiam sesaat.
Miska melanjutkan perkataannya dengan suara yang semakin tegas.
"Ibu tidak mengenalnya. Ibu tidak tahu apa yang telah dia lalui. Ibu tidak tahu bagaimana dia membesarkanku seorang diri. Jadi, Ibu tidak berhak menilai siapa dia."
Wajah Bu Surya langsung berubah.
Seolah tidak percaya bahwa Miska, wanita yang selama ini selalu diam, kini berani membantahnya.
"Berani sekali kau—"
Prak!
Tamparan keras tiba-tiba mendarat di pipi kiri Bu Surya
Kali ini, tangan Miska yang melakukannya.
Suara tamparan itu menggema di halaman rumah yang semula sunyi.
Bu Surya terhuyung beberapa langkah ke belakang. Matanya membelalak lebar. Tangannya perlahan terangkat menyentuh pipinya sendiri.
Ia benar-benar tidak percaya.
Miska baru saja menamparnya.
Askar yang sejak tadi hanya berdiri menyaksikan semuanya akhirnya bergerak. Wajahnya berubah merah padam. Kemarahan terlihat jelas di matanya.
"Kau..." Suaranya bergetar menahan amarah. "Kau berani menampar ibuku?!"
Askar melangkah cepat ke arah Miska.
"Kau wanita tidak tahu terima kasih!" bentaknya. "Akan kuajari kau sopan santun!"
Tangan kanannya terangkat tinggi.
Miska tahu apa yang akan terjadi.
Namun sebelum tangan Askar sempat menyentuh wajahnya, Miska bergerak cepat menangkap pergelangan tangan suaminya.
Genggamannya kuat.
Tatapan Miska menancap tajam ke mata Askar.
"Jangan."
Satu kata itu keluar dengan suara rendah, tetapi cukup untuk membuat Askar terdiam.
"Jangan sentuh aku," lanjut Miska. "Sekali lagi kau berani menyentuhku dengan niat jahat, kau tidak akan hanya melihat sisi lain dari diriku."
Askar tertegun.
Ia mencoba menarik tangannya, tetapi cengkeraman Miska ternyata cukup kuat. Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap.
Namun bukan kekuatan tangan Miska yang membuat Askar terdiam.
Melainkan tatapan matanya.
Tidak ada lagi air mata.
Tidak ada permohonan.
Tidak ada rasa takut.
Wanita yang berdiri di hadapannya bukan lagi Miska yang selama ini ia kenal.
Miska yang selalu menunduk ketika dimarahi. Miska yang selalu meminta maaf meskipun tidak bersalah. Miska yang selalu berusaha menyenangkan dirinya dan ibunya.
Wanita itu seolah telah menghilang.
"Kau gila..." gumam Askar akhirnya.
Miska melepaskan pergelangan tangannya.
Askar segera menarik tangannya dan memandang istrinya dengan tatapan asing.
"Kau benar-benar sudah berubah, Miska."
Miska tersenyum tipis.
Senyum yang justru membuat Askar merasa tidak nyaman.
"Aku tidak berubah, Askar."
Miska menatapnya beberapa saat sebelum melanjutkan.
"Aku hanya akhirnya sadar."
Askar tidak menjawab.
"Aku sadar bahwa kesabaran juga punya batas. Aku juga sadar bahwa kebaikan yang terus diberikan kepada orang yang tidak pernah menghargainya bukan lagi kelembutan."
Miska menarik napas.
"Kadang, itu hanya dianggap sebagai kelemahan."
Angin sore kembali berembus. Rambut Miska bergerak perlahan mengikuti arah angin.
Ia memalingkan wajah sejenak, menatap rumah yang selama ini ia tinggali.
Rumah tempat ia memberikan seluruh kasih sayangnya.
Rumah tempat ia memasak, membersihkan, menunggu kepulangan suaminya, dan berusaha menjadi menantu yang baik.
Namun yang ia dapatkan hanyalah luka demi luka.
"Selama ini aku berpikir, kalau aku sabar, kalau aku mengerti, kalau aku terus berusaha menjadi istri dan menantu yang baik, suatu hari Ibu akan menerimaku."
Miska kembali menatap Askar.
"Aku juga berpikir suatu hari kau akan melihat semua usahaku."
Suaranya mulai bergetar.
"Ternyata aku salah."
Askar terdiam.
"Semakin aku sabar, semakin kalian melangkah lebih jauh. Sampai akhirnya kau..." Miska menelan ludah, berusaha menahan air matanya. "Kau menduakan aku, Askar."
Wajah Askar berubah.
"Kau melakukannya di depan mataku sendiri. Kau pergi bersama wanita lain ke hotel."
Miska tertawa kecil, tetapi tawa itu terdengar begitu pahit.
"Dan kau masih berpikir aku akan tetap diam? Kau masih berpikir aku akan menerima semuanya seperti dulu?"
Askar membuka mulut, tetapi tidak segera menemukan jawaban.
Karena semua yang dikatakan Miska adalah kenyataan.
Ia memang pergi bersama Rara.
Ia memang berselingkuh.
Dan Miska telah mengetahuinya.
"Kau tidak mengerti..." ucap Askar akhirnya. Suaranya lebih rendah dibanding sebelumnya, seolah-olah ia sedang berusaha mencari pembenaran. "Kau tidak mengerti bagaimana rasanya berada di antara kalian berdua."
Ia menunduk sesaat sebelum kembali menatap Miska.
"Rara mengerti aku. Dia selalu ada untukku. Tidak seperti kau yang hanya diam di rumah sepanjang hari."
Miska menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Lalu salahku di mana?"
Askar terdiam.
"Salahku karena menunggumu pulang setiap hari?"
Miska melangkah sedikit lebih dekat.
"Salahku karena menjaga rumahmu?"
Suaranya semakin bergetar.
"Salahku karena tidak pernah menuntut apa pun darimu selain sedikit perhatian?"
Air mata akhirnya jatuh dari sudut matanya.
"Atau salahku karena aku terlalu mencintaimu sampai aku lupa mencintai diriku sendiri?"
Kalimat terakhir itu membuat suasana kembali hening.
Air mata Miska terus mengalir.
Namun kali ini, air mata itu bukan tanda kelemahan.
Itu adalah air mata perpisahan dengan dirinya yang lama.
Bu Surya yang sejak tadi terdiam akhirnya kembali bersuara.
"Sudah cukup!"
Nada suaranya terdengar lebih rendah dari sebelumnya. Bahkan ada sedikit keraguan di balik kemarahannya.
"Kau yang salah di sini, Miska! Kau yang tidak bisa menjaga suamimu! Jangan menuduh anakku!"
Miska perlahan menoleh.
"Cukup, Bu."
Dua kata sederhana itu membuat Bu Siti terdiam.
"Saya sudah cukup mendengar semua itu."
Miska mengusap air matanya dengan punggung tangan.
"Hari ini, saya tidak akan lagi membiarkan Ibu menghina saya. Saya juga tidak akan membiarkan Ibu menghina ibu saya."
Tatapannya tetap tenang.
"Kalau Ibu tidak bisa menghargai saya, setidaknya hargai diri Ibu sendiri sebagai seorang wanita yang juga pernah melahirkan."
Bu Surya tidak langsung menjawab.
Untuk pertama kalinya, wanita itu kehabisan kata-kata.
Miska menarik napas panjang. Beban yang selama bertahun-tahun menekan dadanya terasa sedikit lebih ringan.
"Aku tidak akan pergi begitu saja," katanya tegas. "Tapi aku juga tidak akan tinggal diam seperti dulu."
Ia menatap Askar, kemudian Bu Siti secara bergantian.
"Kalian akan melihat bahwa wanita yang selama ini kalian anggap lemah ternyata jauh lebih kuat dari yang kalian bayangkan."
Miska melangkah maju.
"Mulai detik ini, aku bukan lagi istri yang lemah dan penurut seperti dulu."
Ia berhenti tepat di hadapan mereka.
"Aku adalah Miska."
Tatapannya penuh keyakinan.
"Dan aku punya harga diri yang tidak akan lagi kuserahkan begitu saja kepada siapa pun."
Setelah mengatakan itu, Miska berbalik.
Ia tidak menunggu jawaban.
Tidak pula menunggu mereka memanggil namanya.
Dengan langkah tegap, ia melewati Askar dan Bu Surya, kemudian masuk ke dalam rumah menuju kamarnya.
Setiap langkahnya terasa berbeda.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak berjalan dengan kepala tertunduk.
Tidak ada keraguan.
Tidak ada rasa takut.
Di belakangnya, Askar dan Bu Siti hanya berdiri mematung.
Keduanya saling berpandangan.
Ada sesuatu yang berbeda di antara mereka sekarang.
Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah mereka rasakan terhadap Miska.
Ketakutan.
Mereka mulai menyadari bahwa wanita yang selama ini mereka injak-injak harga dirinya telah bangkit.
Dan kali ini, Miska tidak akan kembali menjadi wanita yang sama.
Tidak peduli seberapa keras mereka mencoba menghentikannya
buktikan dengan keberhasilan mu sendiri 💪💪💪
terus sehat dan semangat Thor 😍💪