Dahulu sekali, saat dunia ini hanya sebuah dataran luas, para makhluk yang menghuninya bertarung demi sebuah kekuasaan. Satu di antaranya adalah manusia—kaum yang paling lemah.
Pernahkah kalian mendengar tentang para manusia pengendali elemen? Aetherist, begitulah mereka dipanggil.
Berabad-abad lalu sejak para Aetherist pertama berhasil menyelamatkan manusia dan membentengi wilayah mereka dengan Aetherwall. Kini, ancaman dari kegelapan mulai menyeruak keluar.
Para Aetherist muda kini dihadapkan pada tantangan dari sang Penguasa Kehampaan. Perang besar pertama dan terbesar yang pernah mereka hadapi.
Petualangan penuh keajaiban, tekad, semangat, luka, air mata, juga cinta menanti mereka. Kehadiran makhluk lain yang entah menjadi sekutu atau musuh—Elf, Mermaid, Vampire, hingga Werewolf.
Akankah para Aetherist muda ini mampu memimpin umat manusia lepas dari kehampaan, atau justru membawa kehancuran bagi peradaban?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seravya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Yang terkuat
Airyn bersama Flora merapikan kamar baru mereka. Keduanya menata barang-barang yang sudah dipindahkan oleh para pengawal dari kamar sebelumnya.
Di sinilah mereka sekarang, mendiami kamar asrama sederhana Akademi Asteria. Melalui jendela kaca di hadapan mereka, terlihat deretan bangunan seberang yang sepertinya merupakan blok asrama putra.
Setelah merapikan pakaian dan perlengkapan pribadi ke dalam lemari kayu, Flora berpamitan untuk mandi lebih dahulu.
Sementara menunggu, Airyn memutuskan untuk melangkah keluar dan berjalan-jalan sebentar mengamati blok asrama putri.
Kamar mereka berada di posisi paling depan. Airyn berjalan lurus menyusuri koridor hingga menemukan sebuah persimpangan empat yang membagi lorong ke arah kanan, kiri, dan lurus.
Setiap lorong berderet pintu-pintu kayu rapat yang menandakan kamar murid lainnya. Suasana terasa sangat lengang, sepertinya jam pelajaran masih berlangsung dan para murid biasa tengah berada di kelas masing-masing.
Saat Airyn kembali ke kamar, Flora sudah selesai mandi dan berganti pakaian santai. Gadis itu mengenakan gaun sederhana berwarna hijau daun, senada dengan iris matanya, dihiasi renda putih di bagian lengan dan kelim bawahnya.
"Aku mandi dulu, ya," pamit Airyn seraya mengambil perlengkapan mandinya. Tak butuh waktu lama bagi Airyn untuk membersihkan diri.
Begitu melangkah keluar dari kamar mandi, ia melihat Flora sedang bersusah payah mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan alat pengering rambut yang ia bawa.
"Boleh aku coba sesuatu?" tawar Airyn seraya mengamati kerepotan Flora.
Gadis bersurai merah muda itu tampak bingung, namun ia mematikan pengering rambutnya dan menuruti arahan Airyn.
Airyn membimbing Flora untuk duduk di depan meja rias kecil dengan cermin di depannya.
Airyn mengangkat kedua telapak tangannya menatap lekat-lekat ke arah rambut Flora. Mengerahkan kontrol Aether-nya, Airyn menarik kelembapan yang tersisa secara perlahan.
Tetesan air yang membasahi tiap helai rambut Flora terangkat melayang ke udara, bergabung membentuk aliran-aliran kecil sebelum menggumpal menjadi sebuah bola air berukuran sedang.
Dengan hati-hati, Airyn mengarahkan bola air melayang itu ke pot tanaman di sudut meja rias dan menjatuhkannya tepat di atas permukaan tanahnya.
Rambut Flora seketika kering sempurna, terasa lembut seolah tak pernah tersentuh air.
"Wah... ini praktis sekali! Dari mana kau belajar trik seperti itu?" puji Flora berbinar gembira.
"Tak sengaja kutemukan saat dulu bersusah payah mengeringkan rambutku sendiri," balas Airyn seraya menyeringai pelan. Ia lalu menerapkan metode yang sama untuk mengeringkan rambut birunya.
Airyn berganti pakaian mengenakan blus polos berwarna biru muda yang dipadukan dengan rok putih bersusun sebatas lutut. Selesai bersiap, keduanya melangkah keluar dari blok asrama putri untuk memenuhi janji mereka pada William.
Begitu melintasi lorong menuju tangga, sosok pemuda bersurai nila yang mengenakan kemeja putih dan celana navy panjang sudah berdiri tegap menunggu mereka.
"Sudah lama menunggu?" tanya Airyn memulai perbincangan.
William membetulkan posisi dan menyunggingkan senyum hangat.
"Kau terlihat sangat cantik. Aku juga baru saja sampai di sini," puji pemuda itu menatap Airyn.
"Oh... ayo berangkat," sahut Airyn santai, pura-pura tidak memedulikan pujian William meski pipinya sedikit memanas.
Mereka bertiga menuruni tangga menuju lantai dua. Saat menyusuri koridor lantai tersebut, mereka menemukan sepasang pintu ganda raksasa yang mengarah ke sebuah perpustakaan yang sangat luas—tampaknya seluruh area lantai dua difokuskan sebagai pusat literatur akademi.
Mereka melangkah masuk, mengamati deretan rak-rak tinggi yang menjulang. Airyn yang masih dihantui teka-teki sejarah mendadak menghentikan langkahnya.
"Bisa bantu aku mencarikan bahan bacaan yang berkaitan dengan silsilah Aetherist?"
Flora dan William mengangguk mengerti. Ketiganya menyebar ke beberapa lorong rak untuk mencari bagian yang menyimpan arsip sejarah penguasa elemen.
"Di sini!" seru William dengan suara setengah berbisik agar tidak mengganggu murid-murid lain yang tengah membaca.
Airyn dan Flora bergegas menghampiri William yang berdiri di depan sebuah rak berdesain unik. Rak tersebut memiliki gradasi warna-warni layaknya pelangi, dengan ukiran bertuliskan 'Arsip Aetherist' di bagian atasnya.
"Sebenarnya apa yang ingin kau cari tahu, Airyn?" Tanya William penasaran.
"Kebenaran tentang Nenekku," sahut Airyn seraya mulai menyapu pandangan pada jajaran buku tua dan gulungan berkas di rak tersebut. Pikirannya masih dipenuhi bayang ucapan Flora sebelumnya. Ia ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi saat Nenek Lylian memimpin Tidebay di masa lalu.
"Airyn... aku jadi merasa bersalah karena sudah memberitahumu," bisik Flora menundukkan kepala.
"Tidak perlu merasa begitu, Flora. Bantu aku saja mencari jawabannya di sini," pangkas Airyn tanpa mengalihkan pandangannya dari buku di tangannya. Flora dan William saling bertukar pandang; mereka sadar Airyn amat serius dan tidak akan berhenti sebelum menemukan fakta itu sampai tuntas.
Mereka bertiga mulai membedah buku demi buku, membalik setiap lembar catatan bersejarah dengan teliti untuk melacak jejak dua generasi Aetherist sebelum mereka.
Beberapa jam berlalu tanpa terasa. William mulai tampak lelah dan jenuh; waktu makan siang sudah terlewati sejak tadi. Flora pun sudah tidak fokus, bahkan tanpa sadar membaca bukunya dengan posisi terbalik. Sementara Airyn masih saja gigih memeriksa tumpukan naskah kuno.
"Airyn, kita rehat dulu. Ayo ke kantin untuk makan siang," bujuk William akhirnya.
"Kalian pergi saja dulu. Tinggal beberapa buku dan gulungan lagi yang belum diperiksa," sahut Airyn tanpa mengalihkan matanya.
William menghela napas pasrah. Ia melangkah mendekat dan dengan lembut menarik buku dari genggaman Airyn, memaksa gadis itu menatap ke arahnya.
"Ayo makan dulu, kau pasti lapar. Lihat, Flora juga sudah sangat lelah," tutur William, sabar.
Airyn melirik ke arah Flora yang kini sudah menumpu dagunya di atas meja perpustakaan dengan mata memerah menahan kantuk. Airyn mengembuskan napas panjang, mengalah pada keadaan, lalu berdiri. "Ayo Flora, sudah waktunya makan siang."
Flora tersenyum lega. Ketiganya menuruni tangga menuju kantin utama. Suasana kantin sudah cukup lengang karena jam makan siang resmi telah usai. Beruntung, Paman Barnaby masih menyisakan beberapa porsi hidangan hangat untuk mereka.
Mereka bertiga duduk di salah satu meja panjang, menikmati santap siang yang terlambat itu dengan tenang.
"Kalian berdua sekamar, kan?" Tanya William memulai obrolan.
"Tentu saja," sahut Flora sambil mengunyah potongan kentangnya.
"Wah, beruntungnya kalian. Lihat aku, sungguh menyedihkan," keluh William seraya memasang raut wajah meratapi nasib.
Airyn meneguk air di gelasnya sebelum menimpali, "Memangnya kau kenapa?"
"Seperti yang kalian tahu, tidak ada satu pun dari tiga Aetherist laki-laki lainnya yang bersikap bersahabat," sahut William. Karakter Snow, Andrew, dan Teira memang bertolak belakang dengan kepribadian William yang santai.
"Oh... aku bisa membayangkan betapa canggungnya suasana di sana," ujar Airyn manggut-manggut.
"Lalu kau sekamar dengan siapa, William?" Tanya Flora.
"Andrew," jawab William pasrah.
Airyn dan Flora kompak saling berpandangan sebelum menatap William dengan raut prihatin.
"Ah... pasti terasa sangat berat," ujar Airyn berusaha menyunggingkan senyum canggung.
"Tapi itu sudah pilihan paling aman. Teira itu, saat bicara bisa membuat orang sakit hati setengah mati. Kalau dia sekamar dengan Andrew, itu pasti jadi malapetaka," terang William panjang lebar.
"Kenapa tidak Andrew dan Snow saja? Pemuda kutub itu kan jarang bicara," cetus Airyn seraya mengunyah potongan apel pemberian Paman Bar.
"Astaga, itu justru jauh lebih buruk! Es dan api disatukan? Snow itu lebih suka langsung bertindak ketimbang banyak bicara, Airyn. Mereka bisa-bisa saling menghantamkan elemen dan meruntuhkan asrama," pangkas William menggelengkan kepala.
Airyn meringis membayangkan potensi kehancuran jika kedua elemen berseberangan itu sampai meledak.
Selesai menyantap makanan, mereka kembali ke perpustakaan untuk menuntaskan tumpukan berkas yang tersisa. Pendar langit cerah di luar jendela perlahan mulai membiaskan warna jingga keemasan saat waktu bergerak menuju sore.
"Lihat ini!" Flora mendadak mengangkat sebuah buku kayu tua berukuran tebal ke tengah meja.
Airyn dan William segera condong mendekat.
'Peradaban Resmi Berubah: Saat Astergald Terpecah Belah'—judul di halaman buku yang mereka baca itu terpampang jelas. Ketiganya mulai membaca kalimat demi kalimat dengan cermat.
"Pada masa itu, delapan wilayah dan para Aetherist baru, berkumpul untuk melangsungkan Sidang Agung guna memilih Pemimpin Astergald yang baru. Namun perdebatan sengit tak terelakkan hingga memicu bentrokan fisik antar-penguasa elemen..."
Bibir Airyn mendadak kelu untuk melanjutkan baris naskah berikutnya. Melihat hal itu, William mengambil alih dan membacakannya pelan.
"...Ratu Lylian dari Tidebay, seorang diri menumbangkan tujuh Aetherist wilayah lainnya secara beruntun. Peristiwa tersebut membubarkan konfederasi Astergald dan memaksa Kota Asteria dideklarasikan sebagai daerah netral tanpa tuan. Sang Ratu mengisolasi Tidebay, menyebabkan delapan wilayah yang dulunya bersatu kini berdiri sendiri-sendiri, dan aliansi Aetherist tidak pernah lagi terwujud sejak malam itu."
Airyn terpaku, memaku tatapannya pada lembaran buku kayu tua di hadapannya. Namun saat jemarinya membalik halaman berikutnya, ia menyadari sebuah kejanggalan.
"Halamannya ada yang dirobek secara sengaja," ujar Airyn menunjuk sisa robekan kertas di lipatan tengah buku.
Flora dan William bertukar pandangan, mengamati sisa robekan kasar tersebut.
"Benar, ada bagian dari buku ini yang hilang," timpal William menyetujui.
"Pasti ada fakta yang terlewatkan atau sengaja disembunyikan," bisik Airyn yakin.
William mendadak menaikkan alisnya dan tersenyum tipis. "Tapi kalau dipikir-pikir... bukankah nenekmu sangat hebat, Airyn?"
"Apa maksudmu?" Airyn mengerutkan dahi bingung.
"Menumbangkan tujuh Aetherist lainnya sendirian? Itu artinya Ratu Lylian adalah penguasa elemen paling kuat yang pernah ada di benua ini," puji William tulus.
Airyn tidak tahu apakah ucapan itu harus dikategorikan sebagai pujian atau sindiran. Neneknya memang dicap sebagai penyebab utama perpecahan benua dalam buku sejarah, namun di sisi lain, catatan itu membuktikan betapa dahsyatnya dominasi kekuatan penguasa Tidebay itu dimasa lampau.
"Bahkan mengalahkan kakeknya Stella yang banyak gaya itu, kan?" tambah William terkekeh pelan.
"Benar! nenek Airyn pasti sangat kuat dan luar biasa hebat!" timpal Flora menyetujui dengan penuh semangat.
Mendengar celetukan kedua sahabatnya, Airyn tidak sanggup lagi menahan tawa. Tawa renyahnya pecah di tengah keheningan perpustakaan—sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan sejak dibebani ketegangan politik aliansi.
Buru-buru Flora dan William mengatupkan jemari mereka di depan bibir Airyn agar tawa nyaring gadis itu tidak memancing teguran dari pengawas perpustakaan.
Sesi pencarian di perpustakaan akhirnya disudahi. Mumpung masih tersisa waktu sebelum makan malam, mereka menyusuri lorong penghubung berdinding kaca transparan yang mengoneksikan empat gedung utama akademi di lantai dua. Mereka mengitari koridor tersebut seraya mengamati deretan ruang kelas yang berjejer dengan rapi yang kelak akan mereka gunakan untuk belajar.
Begitu sang surya resmi tenggelam di ufuk barat, ketiganya menuruni tangga menuju kantin utama untuk menyantap makan malam. Para Aetherist lainnya sudah lebih dahulu menempati meja panjang di sudut kantin. Airyn, Flora, dan William melangkah mendekat, bergabung dengan rekan-rekan mereka untuk menikmati hidangan di malam pertama kehidupan asrama Asteria.