NovelToon NovelToon
SANCTUARY DI PERKARANG RUMAH

SANCTUARY DI PERKARANG RUMAH

Status: tamat
Genre:Fantasi Isekai / Reinkarnasi / Sistem / Tamat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: AME author

Terlahir kembali sebagai NPC ber-skill ampas [Fortify], Raka—yang kini bernama Kayy—hanya ingin hidup tenang dan memanjakan istrinya, Alya.
Siapa sangka, kebiasaannya merawat gubuk jutaan kali malah mengubah rumah dan pekarangannya menjadi [Sanctuary Domain]—zona perlindungan mutlak terkuat di dunia yang membalatkan semua sihir pemusnah, sementara sayur kebunnya sanggup menyembuhkan luka fatal secara instan.
Kini, di saat dunia terancam hancur oleh Raja Iblis, para Pahlawan malah mengantre dan berlutut di pagar rumahnya demi meminta bantuan. Namun bagi Kayy, tak ada urusan dunia yang lebih penting daripada menyeduh teh sore bersama Alya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TIGA BANGSAWAN MUDA DAN GURU ALYA

Pagi di Hutan Kelam diawali dengan kicauan burung-burung magis yang berterbangan di antara dahan Pohon Kehidupan Abadi. Suasana pekarangan rumah kayu Kayy begitu asri dan damai. Kayy sedang duduk di teras seraya menyesap kopi hangat, sementara Shiro dan Snow berbaring santai di bawah rindangnya pepohonan.

Namun, ketenangan pagi itu mendadak terusik oleh langkah kaki tergesa-gesa yang melintasi batas [Domain Pelindung Suci] di luar pekarangan.

Tiga remaja berbusana kemewahan khas bangsawan tinggi melangkah masuk. Di barisan paling depan, berdiri Pangeran Rupert—Pangeran Kedua Kerajaan (adik dari Pangeran Cedric) yang terkenal jenius dalam sihir elemen api, namun memiliki sifat yang sangat sombong dan congkak. Di belakangnya, mengikut Putri Rosalind (adik bungsu kerajaan yang pemalu dan menyukai sihir pelindung) serta Putri Fiona (putri dari Kerajaan Vasal yang sangat mengagumi sihir suci).

"Pangeran Rupert, apakah tidak apa-apa kita datang tanpa pengawal? Pangeran Cedric kan sudah pernah memperingatkan kita..." bisik Putri Rosalind cemas, matanya melirik ketakutan ke arah Shiro si Serigala Es raksasa yang sedang menguap.

"Tch! Kakakku Cedric itu terlalu penakut!" jawab Pangeran Rupert seraya membusungkan dadanya dengan angkuh. Tangannya memegang tongkat sihir bertatahkan permata merah murni. "Dia cuma terpesona oleh gertakan! Aku ke sini bukan untuk menemui pria bercelemek itu, tapi demi melamar menjadi murid dari Lady Alya! Rumor di istana mengatakan sihir suci Lady Alya mampu menandingi para penyihir agung purba. Sebagai penyihir nomor satu di Akademi, aku harus menguasai rahasia sihir itu!"

"Tapi Rupert, tidak sopan jika kamu bersikap congkak di sini..." tegur Putri Fiona pelan.

Pangeran Rupert mengibaskan jubah merahnya. "Tenang saja! Di mana pun aku berada, orang-orang harus menghormati bakat tingkat tinggiku!"

Belum sempat Rupert menyelesaikan kalimat sombongnya, pintu rumah kayu terbuka.

Alya melangkah keluar membawa ember kayu berisi air dan sebuah gayung sederhana. Gaun putihnya melambai lembut, rambut indahnya terurai rapi, dan aura kesucian murni yang memancar dari tubuhnya seketika membuat ketiga bangsawan muda itu terpaku.

"Selamat pagi," sapa Alya dengan senyum manis nan lembut. "Kalian... tamu dari kerajaan, ya? Ada perlu apa berkunjung ke rumah kami pagi-pagi begini?"

Putri Rosalind dan Putri Fiona langsung membungkuk hormat dengan sangat anggun. "S-Selamat pagi, Lady Alya! Kami datang dari istana untuk memohon bimbingan sihir suci dari Anda!" seru Fiona penuh binar kagum di matanya.

Namun, Pangeran Rupert malah mengacungkan tongkat sihirnya ke udara seraya tersenyum miring penuh percaya diri. "Lady Alya! Aku, Pangeran Rupert, penyihir elemen api terhebat di Akademi Kerajaan, datang ke sini untuk menguji dan mempelajari sihir tingkat tinggi milikmu! Aku yakin bakat luar biasaku akan membuatmu bangga menjadikanku murid utama!"

Kayy yang menyaksikan dari teras hanya menyesap kopinya pelan seraya tersenyum menggelengkan kepala. "Adiknya Cedric ini percaya dirinya tinggi sekali..." batin Kayy santai.

Ignis, sang Naga Kuno yang sedang hinggap di pundak Kayy, mendesis kecil seraya menggertakkan gigi kecilnya. "Manusia kerdil itu berani bersikap congkak di depan Lady Alya? Mau kubakar jadi abu?" bisik Ignis gaib di kepala Kayy.

"Jangan, Ignis. Biarkan Alya yang mengatasi," balas Kayy santai.

Alya tidak marah sedikit pun melihat sikap angkuh Pangeran Rupert. Sebaliknya, Alya justru menyunggingkan senyum hangat yang membuat Pangeran Rupert mendadak merinding entah kenapa.

"Bakat tingkat tinggi, ya?" gumam Alya lembut seraya mengangguk-angguk. "Baiklah. Kalau begitu, kita mulai latihan dasarnya sekarang. Tolong bantu saya merawat kebun bunga di samping pekarangan."

Pangeran Rupert terperanjat. "A-APA?! Merawat kebun?! Aku ini Pangeran Kerajaan dan ahli sihir elemen api! Mana sudi aku melakukan pekerjaan kasar seperti—"

Sebelum Rupert menyelesaikan protesnya, Alya mengangkat tangan kanannya perlahan.

SHINNNNG!

Tanpa mengucapkan satu kata mantra pun (No-Cast Magic), energi mana berkilau keemasan meluap dari jemari lentik Alya. Alya mengarahkan gayung kayu ke udara. Air di dalam ember mendadak terangkat, terpecah menjadi ribuan butiran embun suci yang melayang anggun di udara.

Dengan kontrol sihir yang sangat presisi (Absolute Mana Control), Alya menggerakkan ribuan butiran embun itu untuk menyiram setiap helai daun dan bunga di kebun secara bersamaan. Tidak hanya menyiram, aura cahaya suci di dalam air itu seketika membuat bunga-bunga yang tadinya layu mendadak mekar sempurna dan memancarkan wangi yang begitu harum dalam hitungan detik!

Mata Pangeran Rupert melotot hingga serasa ingin melompat keluar. Tongkat sihir permata merahnya hampir terlepas dari genggamannya.

"T-Tanpa mantra?! Kontrol molekul air dan gabungan sihir pemulihan tanaman tingkat dewa secara bersamaan?!" jerit Pangeran Rupert histeris di dalam hatinya. Rahang bawah sang Pangeran jatuh drastis. Bahkan Rektor Akademi Sihir Kerajaan yang paling senior pun butuh waktu meditasi satu jam dan ritual mantra rumit hanya untuk memanggil sedikit embun suci!

"Nah," kata Alya ramah seraya menyerahkan dua ember kayu kosong dan dua buah pengki kepada mereka. "Pangeran Rupert, karena kamu ahli sihir api, tolong gunakan sihir apimu untuk membakar tumpukan kayu kering di pojok sana. Tapi ingat, suhunya harus pas agar abunya bisa dijadikan pupuk, dan jangan sampai memercikkan api ke rumput pekarangan."

"L-Lalu kami, Lady Alya?" tanya Putri Fiona dan Rosalind penuh semangat.

"Kalian berdua bantu saya mengalirkan sihir pelindung tipis di sekitar kebun sayur agar serangga tidak merusak tanaman," jawab Alya lembut.

Putri Fiona dan Rosalind dengan riang langsung mengerjakan tugas mereka, merasa sangat terhormat bisa belajar kontrol sihir langsung dari Alya.

Sementara itu, Pangeran Rupert berdiri mematu di depan tumpukan kayu kering. Keringat dingin menetes deras di pelipisnya.

"K-Kau bercanda?!" bisik Rupert gemetaran. Membakar kayu dengan sihir api tanpa merusak rumput di sekitarnya membutuhkan tingkat kontrol densitas api yang luar biasa rumit!

Rupert mencoba mengarahkan tongkat sihirnya dengan sangat hati-hati. FWOOSH! Api kecil keluar, tapi alih-alih membuat abu yang sempurna, percikan apinya malah hampir menyambar ujung rumput pekarangan!

ROAAARRR!

Shiro si Serigala Es mendadak menggeram pelan dari bawah pohon, menatap Rupert dengan mata biru berkilat dingin. Di atas bahu Kayy, Ignis melepaskan sedikit aura naga purba yang menekan pundak Rupert hingga sang Pangeran berlutut lemas di tanah.

"Jika rumput majikanku terbakar sedikit saja, aku akan membakarmu dengan Api Purba," ancam Ignis gaib di dalam kepala Rupert.

"Hiiiyaaa! Maafkan aku! Aku akan mengontrolnya!" jerit Rupert ketakutan setengah mati seraya memeras otak dan staminanya habis-habisan untuk menahan hawa panas apinya.

Di tengah ketegangan Rupert yang sedang berlutut gemetaran menahan api sihirnya di bawah tatapan tajam Shiro dan Ignis, mendadak pintu belakang rumah terbuka lebar.

"Ignis! Shiro! Ayo main!" seru Elena dengan suara cemprengnya yang riang.

Bocah kecil berambut pirang itu berlari mendekat membawa sebuah pita kain merah dan sisir kayu kecil.

Mata Pangeran Rupert, Putri Rosalind, dan Putri Fiona melotot hebat saat melihat apa yang terjadi berikutnya.

Shiro—Serigala Es raksasa yang tatapannya sanggup membuat prajurit veteran jantungan—seketika menundukkan kepalanya yang raksasa dengan sangat pasrah ke tanah. Elena dengan santai menduduki leher Shiro, lalu mulai menyisir bulu es serigala raksasa itu seraya mengikatkan pita merah di telinganya.

"Shiro hari ini cantik sekali!" puji Elena riang seraya menepuk-nepuk hidung raksasa Shiro. Shiro hanya mendengkur pelan bagaikan anak anjing penurut.

Tak berhenti di situ, Ignis—sang Naga Kuno Merah yang aura purbanya baru saja membuat Pangeran Rupert mandi keringat dingin—terbang hinggap di pangkuan Elena. Naga purba pemusnah benua itu malah melingkarkan tubuhnya manis, membiarkan Elena mengelus dagunya sampai Ignis memejamkan mata kegelian!

KRAK!

Tongkat sihir permata merah di tangan Pangeran Rupert mendadak hampir terlepas konyol dari genggamannya.

"D-D-Naga Kuno dan Serigala Es... dijadikan boneka mainan anak kecil?!" bisik Rupert histeris di dalam hati, matanya serasa ingin keluar dari rongganya.

Putri Rosalind dan Putri Fiona sampai memegangi pipi mereka, menutup mulut tak percaya.

"E-Elena..." panggil Putri Rosalind gemetaran. "K-Kamu tidak takut dipatok atau dimakan oleh naga itu...?"

Elena mendongak, menatap ketiga bangsawan muda itu dengan mata bulatnya yang polos. "Takut? Kenapa harus takut? Ignis kan cuma naga kecil yang suka makan biskuit apel, terus Shiro suka diusap perutnya! Lihat nih!"

Elena lalu menggulingkan tubuh Shiro dan mengusap perutnya. Serigala Es raksasa legendaris itu malah menjulurkan lidahnya dan mengibaskan ekornya kegirangan konyol.

Tiba-tiba, Putri Rosalind teringat sesuatu. Dari dalam tas sihirnya, ia mengeluarkan sebuah instrumen pengukur energi magis berbentuk kristal tembus pandang buatan Kerajaan—alat paling presisi di benua untuk mengukur kapasitas mana seseorang.

"E-Elena... boleh aku mengukur energi sihirmu sebentar?" tanya Rosalind ragu-ragu.

"Boleh!" seru Elena polos seraya menyentuh bola kristal itu dengan satu jari mungilnya.

Seketika, bola kristal itu memancarkan pendar cahaya pelangi yang amat silau. Energi sihir suci murni (Divine Celestial Mana) meluap dari tubuh Elena tanpa henti. Angka pengukur kapasitas sihir di dalam kristal langsung melonjak naik melewati batas tertinggi Akademi, melewati skala Penyihir Agung, hingga akhirnya...

KRRRKKK... BOOM!

Bola kristal kelas tinggi buatan Kerajaan itu mendadak retak dan meledak konyol di tangan Rosalind, menjadi serpihan debu kristal yang tak berbekas!

"Aduuh! Maaf ya Paman dan Bibi, kristalnya pecah..." bisik Elena polos sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Melihat hal itu, Pangeran Rupert, Putri Rosalind, dan Putri Fiona membeku kaku bagaikan patung batu.

Kapasitas sihir anak kecil ini... bukan lagi melebihi mereka bertiga jika digabungkan, melainkan berada di tingkat tak terhingga yang sanggup meratakan seluruh Akademi Kerajaan hanya dengan satu tawa riang!

"A-Anak kecil ini... dia juga monster sihir..." gumam Rupert kaku, berlutut makin pasrah di tanah. Mentalnya sebagai "penyihir jenius kerajaan" resmi runtuh total sampai ke dasar bumi.

Kayy yang memperhatikan dari teras menyunggingkan senyum ramah seraya menyesap kopinya. "Elena, jangan bikin tamu-tamu kita pusing. Biarkan Pangeran Rupert menyelesaikan latihan kayu bakarnya dulu."

"Siap, Ayah!" jawab Elena riang seraya membawa Ignis dan Shiro bermain kejar-kejaran di samping rumah.

Saat matahari mulai meninggi, tugas merawat kebun pun selesai.

Alya keluar dari dapur membawa sebuah nampan berisi tiga cangkir jus buah segar dan piring berisi kue pai apel hangat.

"Kerja bagus semuanya," puji Alya hangat seraya menyodorkan minuman kepada ketiga bangsawan muda yang sudah terkulai lemas di atas teras kayu. "Terutama kamu, Pangeran Rupert. Kontrol apimu di akhir tadi sudah jauh lebih tenang dan stabil."

Pangeran Rupert yang bajunya sudah penuh noda debu dan keringat mendongak kaku. Ia menyesap jus buah pemberian Alya. Seketika energi sihirnya yang terkuras habis pulih total, memberikan sensasi hangat nan nyaman di dadanya.

Rupert menatap tangannya yang gemetaran, lalu menatap Alya dengan pandangan yang kini berubah total: tidak ada lagi rasa sombong atau congkak, yang tersisa hanyalah kekaguman dan rasa hormat yang amat dalam.

Pangeran Kerajaan itu berdiri perlahan, lalu membungkuk dalam-dalam 90 derajat di hadapan Alya!

"M-Maafkan kesombonganku tadi pagi, Guru Alya!" seru Rupert dengan suara bergetar tulus. "Aku baru menyadari betapa dangkalnya ilmu sihir yang kubanggakan selama ini... Tolong izinkan aku tetap belajar kontrol sihir dari Guru Alya!"

Putri Fiona dan Rosalind tersenyum kening melihat perubahan sikap saudara mereka.

Alya tertawa kecil yang terdengar begitu merdu. "Tentu saja. Pintu rumah kami selalu terbuka untuk siapa saja yang ingin belajar dengan sungguh-sungguh."

Kayy melangkah mendekati teras seraya mengelus kepala Elena. "Tapi ingat ya Pangeran, kalau mau belajar ke sini lagi, jangan lupa bawa kayu bakar tambahan. Kayu bakar di dapur mulai menipis."

"S-Siap, Tuan Kayy! Saya akan membawa satu kereta kayu bakar terbaik besok!" sahut Pangeran Rupert dengan semangat membara seraya memberi hormat tegak.

Arthur yang baru saja tiba di pekarangan untuk kunjungan rutinnya hanya bisa menepuk jidatnya sendiri melihat Pangeran Kedua Kerajaan kini telah resmi menjadi "murid pencari kayu bakar" di rumah Kayy.

Sang Pahlawan Utama Kerajaan menghela napas pasrah seraya tersenyum tipis. Kedamaian dan kekonyolan di Hutan Kelam ini memang tidak akan pernah ada tandingannya di seluruh benua.

1
Eka P
v
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!