Suaminya gugur di medan tugas. Belum genap setahun jadi janda, Laras sudah harus menelan pahit: ibu dan adiknya sendiri menguras habis santunan, sementara bayi perempuannya, Nala, cuma bisa disambung hidup dengan air tajin di kampung.
Satu-satunya yang ia punya hanyalah air susu—dan tangan yang bisa menyulap beras seadanya jadi masakan sewangi surga.
Maka ketika seorang Letnan Kolonel berwajah dingin membutuhkan **ibu susuan** untuk bayi yatim yang hanya mau menyusu padanya, Laras menelan semua gunjingan tetangga dan masuk ke rumah dinas Danyon Bima Prakoso.
Kata orang, Sang Danyon itu keras, irit bicara, tak tersentuh.
Hanya Laras yang tahu: setiap fitnah yang dilempar padanya, diam-diam sudah ditahan lelaki itu di belakang punggungnya.
Dari dapur umum yang bikin satu batalyon terpana, sampai piring-piring yang menaklukkan para jenderal—Laras membalikkan keadaan, satu masakan demi satu masakan, menampar semua mulut yang pernah memandangnya rendah.
Tapi bayi yang ia besarkan dengan air susunya sendiri… menyimpan sebuah rahasia yang dijaga negara selama bertahun-tahun.
Dan hati Sang Danyon yang dingin itu, ternyata sudah lama hangat—hanya untuknya.
*"Kamu boleh jaga nama baikmu. Tapi malam ini, biar aku yang jaga kamu."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33
Mengantar ke Liang
Mereka bukan keluarga yang boleh dibiarkan sendiri.
Kalimat Bima menyebar lebih cepat daripada kabar bahwa seorang Danyon datang ke Girisari dengan jip dinas.
Menjelang Subuh, para perempuan desa memandikan jenazah Mbah Inah di balik kain penutup. Laras ikut menuangkan air terakhir. Tangannya gemetar ketika menyisir rambut putih yang selama ini selalu digulung sederhana.
“Mbah paling tidak suka rambutnya berantakan,” katanya.
Bu Karti mengusap bahunya. “Sekarang rapikan untuk terakhir kali.”
Jenazah dikafani dan dibawa ke ruang depan. Modin memimpin salat jenazah setelah matahari naik. Warga berdiri memenuhi rumah sampai halaman. Bima berada di saf laki-laki paling belakang, tidak mengambil tempat di depan hanya karena pangkatnya.
Nala digendong tetangga selama Laras berdoa. Bayi itu tenang, seolah kehabisan air mata sejak kemarin.
Sesudah salat, keranda diangkat bergantian. Jalan menuju pemakaman sempit dan licin. Bima ikut memikul pada bagian terakhir ketika salah seorang pemuda terpeleset.
“Komandan tidak perlu,” kata Pak RT.
“Saya juga mengantar.”
Di pemakaman, liang telah dibuka di samping makam suami Mbah Inah. Laras berdiri sambil memeluk Nala ketika tubuh yang dibungkus kain putih diturunkan perlahan.
Modin mengingatkan warga agar pijakan tidak merusak tepi liang yang basah. Dua laki-laki turun menerima jenazah, menghadapkannya ke kiblat, lalu melepas tali kafan sesuai tata cara. Semua berlangsung cepat dan tertib, tetapi bagi Laras setiap gerakan terasa terlalu akhir.
Ia teringat tangan Mbah Inah menumbuk bumbu, menampi beras, dan mengusap dahi Nala. Tangan itu kini tersembunyi di balik kain dan tanah. Tidak akan ada lagi suara yang memanggilnya Nduk dari pintu dapur.
Nala bergerak dalam pelukannya. Laras menunduk dan menempelkan pipi ke kepala putrinya.
“Lihat untuk terakhir kali,” bisiknya. “Itu orang yang menjaga kamu ketika Ibu tidak bisa.”
Nala tentu tidak mengerti. Namun Laras ingin kata-kata itu tersimpan setidaknya di dalam dirinya sendiri.
Tanah pertama jatuh dengan bunyi pelan.
Laras menutup mulut agar tangisnya tidak pecah lagi. Bima berdiri satu langkah di belakangnya. Setelah doa selesai dan warga mulai menimbun liang, ia maju ke sisi makam.
Seragamnya kotor oleh tanah sejak kemarin. Ia tetap berdiri tegak dan memberi penghormatan militer singkat.
Mbah Inah bukan prajurit. Namun ia telah menjaga janda dan anak seorang prajurit gugur ketika banyak orang lain memilih menjauh.
Warga yang melihat ikut terdiam.
Pak Lurah menyentuh lengan Laras. “Rumah Mbah akan kami catat sementara atas nama ahli waris keluarga. Karena Nala cucu dari jalur Wahyu, dokumennya harus diperiksa.”
“Saya tidak akan menjual rumahnya,” kata Laras. “Biarkan tetap ada.”
Bima menyerahkan salinan kartu keluarga, akta lahir Nala, surat kematian Wahyu, dan surat keterangan tinggal Laras kepada Pak Lurah.
“Tolong buat berita acara. Siapa pun yang mengajukan klaim harus melalui desa, bukan mendatangi Laras sendiri.”
“Baik, Pak.”
Pak Lurah memeriksa satu per satu. Nama Mbah Inah tercatat sebagai pemegang tanah, sementara Wahyu adalah keturunan langsung yang sudah meninggal. Karena status waris juga harus mengikuti ketentuan keluarga dan agama, desa akan meminta keterangan modin serta kecamatan sebelum mengeluarkan surat apa pun.
“Sampai selesai, rumah disegel?” tanya Laras.
“Tidak disegel. Saya buat daftar isi dan titip kunci kedua pada Pak RT. Kamu memegang kunci utama.”
Bima mengangguk. “Tuliskan juga bahwa Laras tidak menyerahkan penguasaan kepada pihak mana pun.”
Kehati-hatian itu terdengar berlebihan sampai tamu dari keluarga jauh datang beberapa jam kemudian.
Setelah pemakaman, warga kembali ke rumah untuk tahlilan singkat dan makan sederhana. Beras dari kotak bantuan dimasak menjadi nasi, sedangkan tetangga membawa sayur serta teh. Laras ingin membantu dapur, tetapi Bu Karti memaksanya duduk.
“Sekali ini biarkan orang lain memasak untukmu.”
Bima berbicara dengan Pak Lurah di teras. Ia menyerahkan uang tambahan untuk ongkos administrasi, lalu meminta kuitansi. Nama Wahyu dicatat sebagai prajurit gugur agar hak Nala tidak hilang dari arsip desa.
Menjelang siang, dua sepeda motor berhenti di halaman.
Pakde Rusdi turun bersama dua putranya. Ia adalah sepupu jauh mendiang suami Mbah Inah yang jarang datang, bahkan ketika Wahyu gugur.
“Kenapa pemakaman dilakukan sebelum keluarga datang?” tuntutnya.
Pak Lurah menjawab, “Jenazah tidak ditunda tanpa alasan. Kabar sudah dikirim sejak kemarin.”
Pakde Rusdi masuk tanpa melepas sandal. Tatapannya menyapu rumah, lemari, dipan, lalu berhenti pada bungkusan tabungan di dekat Laras.
“Rumah ini nanti siapa yang pegang?”
“Sedang didata desa,” kata Laras.
“Tidak perlu didata. Tidak ada anak laki-laki Mbah Inah yang hidup. Tanah keluarga kembali ke garis laki-laki.”
“Nala keturunan Wahyu.”
“Bayi perempuan. Ibunya juga orang luar.”
Laras berdiri sambil menggendong Nala. “Saya istri sah Wahyu dan ibu kandung anaknya.”
Putra kedua Pakde Rusdi, Joko, memandang Laras dari kepala sampai kaki. “Kalau tidak mau rumah jatuh ke orang lain, mudah. Nikah saja dengan saya. Nala tetap di keluarga.”
Ruangan seketika sunyi.
Laras merasa darah naik ke wajah. Mbah Inah belum sehari berada di tanah, tetapi orang-orang ini sudah menghitung rumah dan tubuhnya dalam satu tarikan napas.
“Saya tidak mau,” katanya.
“Jangan cepat menolak,” kata Joko. “Kau punya kerja di kota, aku bisa menjaga rumah. Sesekali kau pulang. Urusan suami istri juga bisa diatur.”
Kalimat terakhir diucapkan dengan senyum yang membuat Laras ingin menamparnya.
“Rumah bukan mas kawin. Saya juga bukan bagian tanah yang bisa dipindahkan.”
Pakde Rusdi menepuk paha. “Perempuan keras kepala begini karena tidak punya laki-laki yang mengatur.”
Bu Karti berdiri dari dekat dapur. Beberapa perempuan desa ikut merapat ke belakang Laras. Mereka mungkin tidak tahu seluruh aturan waris, tetapi mereka tahu percakapan itu tidak pantas dilakukan di rumah duka.
“Mbah Inah baru dikubur,” kata Bu Karti. “Kalau datang hanya untuk mengambil, lebih baik pulang.”
Pakde Rusdi menatap para perempuan itu. “Kalian bukan keluarga.”
“Kami yang memandikan jenazahnya,” jawab Bu Karti. “Kalian bahkan tidak datang saat dia sakit.”
Joko mendekat lagi, kini dengan nada rendah. “Pikir baik-baik. Janda dengan dua anak tidak punya banyak pilihan.”
Laras memindahkan Nala ke sisi lain dan berdiri tegak. “Saya punya pilihan untuk mengatakan tidak.”
Pakde Rusdi mendengus. “Janda tidak bisa mengurus tanah sendirian. Kau juga tinggal di rumah laki-laki kota. Daripada jadi omongan, lebih baik ikut keluarga yang jelas.”
Joko melangkah mendekat. “Saya tidak keberatan punya anak bawaan.”
Nala mulai merengek. Laras mundur satu langkah.
Pak Lurah berdiri di antara mereka. “Ini rumah duka. Bicara waris nanti di kantor desa.”
“Pak Lurah jangan ikut campur urusan keluarga.” Pakde Rusdi menunjuk Laras. “Besok dia pergi ke kota, rumah kosong. Kami yang paling berhak menjaga.”
“Menjaga atau mengambil?” tanya Laras.
Wajah laki-laki itu mengeras. “Mulutmu sekarang besar karena membawa perwira. Setelah dia pulang, kau tetap sendirian.”
Sebuah suara terdengar dari ambang pintu.
“Dia mau atau tidak, itu bukan urusanmu.”