NovelToon NovelToon
Meraih Bintang

Meraih Bintang

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Bunga Lestari bukan siapa-siapa.

Yatim piatu dari desa kecil di Jawa Timur, dia datang ke Jakarta dengan satu tujuan: membalas dendam kepada orang yang menghancurkan keluarganya. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa pendidikan — yang dia punya hanya tinju dan tekad.

Tapi malam itu, di sebuah gala dinner yang dia coba susup, seorang pria asing menabraknya. Dan tiba-tiba, suara pria itu ada di dalam kepalanya.

Rangga Wicaksana — pewaris keluarga konglomerat, jenius hukum, tampan dingin — jiwanya terjebak di tubuh Bunga. Dia bisa merasakan apa yang Bunga rasakan. Mendengar apa yang Bunga pikirkan. Dan yang paling parah: dia tidak bisa keluar.

"Bantu aku menjatuhkan musuhku," kata Rangga.
"Bantu aku naik ke puncak," kata Bunga.

Perjanjian dimulai. Tapi bagaimana caranya menjaga rahasia, ketika dia bisa merasakan detak jantungmu setiap kali kamu berbohong?

🔥 Ikatan jiwa. Dendam. Cinta yang tak seharusnya. Dan satu gadis kampung yang bertekad meraih bintang — dengan caranya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 026

Nama yang Tidak Ditemukan

"Aku juga."

Jawaban Rangga semalam masih menempel di kepala Bunga ketika pagi datang dengan suara penjual bubur di gang kos dan luka tipis yang mulai perih di punggung tangannya.

Ia duduk di tepi ranjang, menatap plester murahan yang dibelinya dari warung. Garis merah itu kecil, tidak sebanding dengan apa pun yang pernah terjadi di Desa Kemuning. Namun setiap kali ia melihatnya, ia kembali mendengar suara Hartono.

Gadis ini, ada sesuatu.

"Jangan digaruk," kata Rangga.

"Aku belum garuk."

"Kamu sedang berpikir untuk menggaruk."

Bunga menatap langit-langit kamar. "Kalau kamu bisa baca niat kecil begitu, kenapa kamu dulu tidak bisa baca niat orang yang mau membunuhmu di gala?"

Hening setengah detik.

"Karena niat membunuh biasanya dibungkus jas mahal dan undangan resmi," jawab Rangga.

Bunga tidak punya balasan.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Melati masuk bersama foto anak kecil semalam yang sedang memegang mobil-mobilan merah.

Melati: Dia baik-baik aja. Mamanya bilang terima kasih. Kamu gimana?

Bunga memotret plester di tangannya.

Bunga: Masih hidup. Plester warung lebih murah daripada dokter.

Melati: Aku serius.

Bunga: Aku juga. Sakit sedikit, tapi aman.

Tiga titik muncul, hilang, muncul lagi.

Melati: Ratih semalam aneh banget setelah Paman Hartono ngomong begitu.

Bunga berhenti mengetik.

Rangga berkata, "Itu yang saya khawatirkan."

"Dia cemburu karena Hartono tertarik?"

"Lebih dari itu. Ratih hidup dari informasi. Kalau ada orang membuatnya kalah di depan meja keluarga, dia akan mencari titik retaknya."

Bunga melihat pesan Melati lagi. Tiba-tiba kamar kosnya yang sempit terasa terlalu terbuka, seperti ada mata dari luar gang menembus seng atap.

Ia mengetik: Aneh gimana?

Jawaban Melati datang cepat.

Melati: Dia nanya ke orang rumah soal kamu. Katanya cuma penasaran, keluarga kamu siapa di Jawa Tengah.

Perut Bunga turun.

Rangga berkata, "Mulai."

Sementara itu, di rumah Permata, Ratih Permata belum menyentuh sarapan.

Di hadapannya ada secangkir teh yang sudah dingin, iPad, ponsel, dan buku catatan kecil bersampul krem. Ibunya selalu berkata perempuan baik tidak boleh terlihat terlalu ingin tahu. Ratih tumbuh dengan kemampuan terlihat manis sambil membuka satu per satu laci rahasia orang lain.

Nama Bunga Lestari ia tulis di halaman tengah.

Di bawahnya: Jawa Tengah. Keluarga militer. Dekat Melati. Dekat Baskara. Menarik bagi Pak Hartono.

Poin terakhir membuat ujung pulpennya menekan kertas lebih keras.

"Mbak Ratih," kata asisten rumah tangga dari pintu, "Pak Suryo sudah di ruang makan."

"Bilang saya sebentar lagi."

Ratih membuka WhatsApp. Ia masuk ke satu grup lama berisi anak-anak keluarga pejabat, pengusaha, dan purnawirawan yang sering saling tahu lebih banyak daripada undangan resmi. Ia tidak bertanya langsung. Pertanyaan langsung membuat orang waspada.

Ratih: Ada yang kenal keluarga Lestari dari Jawa Tengah? Katanya ada anak perempuan muda, Bunga Lestari. Background militer, mungkin purnawirawan.

Jawaban pertama datang dari seorang teman di Semarang.

Nggak familiar. Lestari yang mana?

Ratih tersenyum tipis.

Ia mengirim pesan pribadi ke dua orang lain. Satu punya tante aktif di kegiatan Persit lama, satu lagi anak pensiunan pejabat di Magelang. Ia menulis dengan nada santai, seolah sedang membantu panitia menyusun daftar tamu.

Lalu ia turun ke ruang makan.

Suryo Permata membaca berita bisnis di tablet. Wajahnya tenang, selalu tampak seperti orang yang punya jawaban sebelum pertanyaan selesai diajukan.

"Pagi, Pa."

"Kamu tidak makan?"

"Nanti. Pa, kenal keluarga Lestari dari Jawa Tengah? Militer. Mungkin bukan nama besar, tapi cukup masuk lingkaran Prawira."

Suryo menurunkan tablet sedikit. "Untuk apa?"

"Ada gadis baru dekat dengan Melati dan Baskara. Semalam Paman Hartono memperhatikannya."

Nama Hartono membuat perhatian Suryo berubah. Tidak banyak, hanya garis kecil di keningnya.

"Jangan bermain-main dengan orang yang diperhatikan Pak Hartono."

"Justru karena itu aku tanya."

Suryo menatap putrinya lama. "Nama?"

"Bunga Lestari."

Suryo mengetuk meja sekali dengan jari. "Saya tidak ingat. Tapi keluarga militer Jawa Tengah yang masih relevan tidak sebanyak itu. Kalau dia benar-benar dari sana, pasti ada yang tahu."

"Boleh aku minta tolong salah satu teman purnawirawan Papa?"

Orang itu adalah purnawirawan yang sering bermain golf dengan Suryo, orang yang hafal garis keluarga seperti menghafal nomor lubang lapangan.

Suryo menghela napas. "Tanya dengan halus. Jangan bawa nama saya terlalu jelas."

Ratih tersenyum. "Aku selalu halus, Pa."

"Itu yang kadang membuat saya khawatir."

Ia tertawa kecil, manis, lalu kembali ke kamar.

Balasan sudah menumpuk.

Dari Semarang: Aku tanya Mama. Tidak ada yang familiar.

Dari Magelang: Kalau keluarga militer tua, biasanya masuk acara yayasan. Nama Bunga Lestari nggak pernah dengar.

Dari teman ketiga: Lestari banyak, tapi bukan keluarga militer. Ada yang pedagang, ada dosen, ada pemilik hotel kecil. Bunga? Nggak ada.

Ratih memandangi layar. Belum cukup. Tidak ada bukan berarti tidak ada. Bisa jadi keluarga kecil, bisa jadi memakai nama ibu, bisa jadi sengaja rendah hati. Tetapi gadis seperti Bunga tidak bergerak seperti anak keluarga yang benar-benar lahir di ruang makan perak. Ia terlalu cepat menilai pintu keluar, terlalu tahu cara jatuh, terlalu lapar ketika melihat makanan enak.

Dan semalam, Pak Hartono melihatnya.

Ratih membuka galeri. Ia punya foto dari makan malam, diambil sepupunya tanpa niat apa pun. Di belakang tawa anak-anak, Bunga terlihat sedang berdiri di depan Hartono. Punggungnya lurus, tangan kirinya diplester tisu, matanya tidak tunduk.

Ratih memperbesar foto itu.

"Kamu siapa sebenarnya?" bisiknya.

Menjelang siang, jawaban dari purnawirawan itu datang melalui Suryo, diteruskan singkat.

Suryo: Teman Papa bilang tidak ada keluarga militer Jawa Tengah yang cocok dengan nama itu. Kalau dia mengaku anak atau cucu purnawirawan, minta kesatuan atau nama orang tua. Dari situ kelihatan.

Ratih membaca pesan itu tiga kali.

Tidak ada keluarga yang cocok.

Ia merasakan sesuatu yang hangat dan tajam di dada. Bukan hanya puas. Ini lebih dekat pada rasa menemukan kunci di bawah pot bunga.

Di kos, Bunga sedang menyetrika blouse hijau tuanya ketika pesan baru masuk dari nomor Ratih.

Ratih: Bunga, maaf mendadak. Besok ada tea gathering kecil di rumah salah satu tanteku. Kamu datang, ya? Aku juga penasaran mau dengar cerita soal keluarga kamu di Jawa Tengah. Sepertinya menarik sekali.

Setrika berhenti di atas kain.

"Angkat," kata Rangga cepat.

Bunga mengangkat setrika sebelum kain gosong. Panasnya tetap meninggalkan bekas samar, garis pucat di hijau tua.

Ia menatap pesan itu.

Rangga berkata pelan, "Dia menemukan lubang."

Bunga menelan ludah.

Untuk pertama kalinya sejak memakai nama palsu itu, kebohongannya tidak terasa seperti tangga.

Ia terasa seperti lantai rapuh yang mulai retak di bawah kaki.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!