Keiko Hartono punya rahasia.
Di balik senyum lembutnya, di balik nilai sempurnanya, di balik kebaikannya yang tak pernah meminta balasan — ada hitungan mundur yang tak bisa dihentikan siapapun.
Kanker lambung. Stadium akhir. Paling lama tiga tahun.
Lalu dia pindah ke SMA Bina Bangsa, Bandung. Dan duduk di sebelah Kelvin Susanto — cowok paling ditakuti seantero sekolah. Pembuat onar. Tukang berantem. Nilai paling bawah.
Tapi Keiko melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.
Dan perlahan — lewat soal latihan yang ditandai satu per satu, lewat susu hangat yang diselipkan di saku jaket, lewat video call tengah malam yang harusnya cuma untuk belajar — mereka jatuh cinta.
Masalahnya: Keiko tahu dia akan mati.
Kelvin tidak.
"Kalau kamu bisa mengejar langkahku... aku akan mempertimbangkannya setelah lulus."
Dia memberi syarat yang mustahil. Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tahu — dia tidak akan ada di sana saat dia berhasil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8 - Orang Asing di Rumah Sendiri
Malam itu, Keiko membawa pulang setitik abu.
Abu dari kembang api kawat itu diselipkan di antara dua halaman buku catatan kimia, dibungkus dengan sobekan kertas yang Kelvin geser untuknya. Benda itu sebenarnya tidak punya nilai. Jika Bu Tuti tidak sengaja membersihkan meja dan membuangnya, mungkin tidak ada yang akan menyadari.
Namun sepanjang perjalanan pulang, Keiko beberapa kali menyentuh buku itu di dalam tas.
Seolah di dalam sana masih ada cahaya kecil yang belum padam.
"Senang sekali, Nduk?" tanya Bu Tuti dari kursi pengemudi.
Keiko menoleh. "Kelihatan?"
"Dari tadi senyum sendiri."
Keiko menyentuh sudut bibirnya. Dia bahkan tidak sadar.
"Tadi kelas mati lampu," katanya.
Bu Tuti langsung menegang. "Lho, terus? Kamu takut? Pusing? Sesak?"
"Tidak." Keiko buru-buru menggeleng. "Ada teman yang menyalakan kembang api kecil."
"Kembang api di kelas?" Bu Tuti terdengar antara kaget dan ingin tertawa. "Sekolah macam apa itu?"
Keiko ikut tertawa pelan. "Pak Arif juga hampir bilang begitu."
Mobil memasuki halaman rumah keluarga Hartono beberapa menit kemudian. Rumah itu besar, berpagar tinggi, dengan taman yang selalu rapi karena tukang kebun datang dua kali seminggu. Lampu teras menyala terang, memantul di lantai marmer yang dingin.
Dari luar, rumah itu terlihat seperti tempat yang aman.
Tetapi begitu Keiko turun dari mobil, dia melihat dua mobil lain sudah terparkir di garasi.
Senyum kecilnya perlahan hilang.
Bu Tuti juga melihatnya.
"Mama sama Papa pulang?" tanya Bu Tuti pelan, meski jawabannya sudah jelas.
Keiko mengangguk.
Tas di bahunya mendadak terasa lebih berat.
Lilian Hartono dan Hendry Hartono jarang berada di Bandung bersamaan. Papa lebih sering di Jakarta mengurus kantor. Mama berpindah antara acara sosial, rapat yayasan, dan rumah Oma Tan. Jika mereka pulang tanpa memberi tahu, biasanya ada sesuatu yang harus dibicarakan.
Dan sesuatu itu hampir selalu tentang penyakit Keiko.
Dari ruang tengah, suara Lilian terdengar lebih dulu.
"Aku sudah bilang dari awal, dokter di Jakarta lebih lengkap. Kamu yang membiarkan dia pindah ke Bandung."
Suara Hendry menjawab, berat dan tertahan. "Dia yang minta pindah. Dokter juga bilang suasana baru bisa membantu mentalnya."
"Mental? Yang dia butuhkan itu terapi yang konsisten, bukan kota baru."
"Jangan bicara seolah kamu yang setiap hari mengantar dia terapi."
Keiko berhenti di depan pintu ruang tengah.
Bu Tuti berdiri di belakangnya, wajahnya berubah keras.
Di sofa, Lilian duduk dengan tas branded di samping kaki, rambutnya masih tertata rapi seperti baru pulang dari acara. Hendry berdiri di dekat jendela, kemeja kerjanya digulung sampai siku. Di meja, ada amplop hasil pemeriksaan dan botol air mineral yang belum dibuka.
Mereka menoleh ketika melihat Keiko.
Untuk beberapa detik, ruangan itu hening.
Lilian berdiri lebih dulu. "Keiko. Kamu baru pulang?"
Pertanyaan itu terdengar seperti kalimat yang dipilih karena tidak ada kalimat lain yang siap.
"Iya, Mama. Ada kelas belajar malam."
"Belajar malam?" Hendry mengerutkan kening. "Kamu masih ikut kegiatan tambahan?"
"Cuma belajar di kelas, Pa."
"Kondisimu tidak untuk dipakai memaksakan diri."
Keiko menunduk. "Iya. Aku akan lebih hati-hati."
Lilian menatap wajahnya lebih lama. Bukan seperti ibu yang merindukan anak, tetapi seperti seseorang yang mencari tanda-tanda buruk pada laporan keuangan.
"Berat badanmu turun lagi."
Keiko tidak menjawab.
Karena apa pun jawabannya, tubuhnya tetap lebih ringan daripada minggu lalu.
Dari layar tablet di meja, suara Oma Tan tiba-tiba terdengar. Rupanya panggilan video belum dimatikan.
"Aku sudah bilang, anak sakit jangan dimanja terus. Dari kecil terlalu dituruti, akhirnya tubuhnya lemah."
Bu Tuti langsung maju setengah langkah. "Oma, Keiko bukan sakit karena dimanja."
Lilian menoleh tajam. "Tuti."
Bu Tuti menutup mulut, tetapi matanya tidak turun.
Oma Tan mendengus dari layar. "Pembantu sekarang berani sekali ikut bicara urusan keluarga."
Keiko merasakan jari-jarinya mendingin.
"Oma," katanya pelan. "Bu Tuti hanya khawatir."
"Kalau semua orang di rumah ini tidak terlalu membela kamu, mungkin kamu lebih kuat."
Hendry mematikan panggilan video itu tanpa banyak bicara.
Ruangan kembali sunyi.
Tetapi kata-kata Oma Tan sudah terlanjur tinggal di udara, menempel di dinding, di sofa, di dada Keiko.
Lilian memijit pelipis. "Mama juga stres, Keiko. Kamu jangan masukkan hati."
Jangan masukkan hati.
Kalimat itu selalu mudah diucapkan oleh orang yang tidak perlu menelannya.
Hendry mengambil amplop hasil pemeriksaan dari meja. "Dokter bilang jadwal kemoterapi berikutnya jangan ditunda. Aku sudah minta sekretaris mengatur."
"Aku bisa antar," kata Lilian cepat.
Hendry menatapnya. "Bisa? Minggu lalu kamu membatalkan karena luncheon."
"Aku tidak tahu jadwalnya berubah."
"Karena kamu tidak membaca pesan dari rumah sakit."
"Hendry, jangan mulai."
"Aku hanya bilang fakta."
"Fakta? Fakta adalah anak kita sakit dan kamu lebih sibuk menyalahkan aku."
"Kamu yang menyalahkan aku sejak tadi."
Keiko berdiri di antara mereka seperti kursi kosong.
Tidak ada yang bertanya apakah dia takut.
Tidak ada yang bertanya apakah obatnya membuat mual.
Tidak ada yang bertanya apakah hari ini di sekolah ada sesuatu yang membuatnya tersenyum.
Mereka membicarakan jadwal, biaya, dokter, salah siapa, keputusan siapa. Mereka tidak membicarakan Keiko seolah Keiko berada di ruangan yang sama.
"Mama, Papa," panggil Keiko akhirnya.
Dua orang itu berhenti.
Keiko mengangkat wajah, tersenyum kecil seperti yang selalu dia lakukan ketika ingin membuat keadaan cepat selesai. "Aku capek. Boleh ke kamar dulu?"
Lilian tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya hanya mengangguk. "Istirahat. Jangan lupa obat."
"Iya, Ma."
Hendry menambahkan, "Besok kita bicara lagi."
"Iya, Pa."
Keiko naik ke kamar tanpa menoleh.
Di belakangnya, suara debat mereka kembali terdengar sebelum dia mencapai anak tangga terakhir.
Bu Tuti menyusul beberapa menit kemudian dengan nampan berisi bubur halus, air hangat, dan obat malam. Wajah perempuan itu sudah lebih tenang, tetapi matanya merah.
"Nduk, makan sedikit."
Keiko duduk bersandar di kepala ranjang. "Bu Tuti dimarahi karena aku."
"Biar saja. Bu Tuti sudah tua, kebal dimarahin."
"Bu Tuti belum tua."
"Kalau begitu masih kuat dimarahin."
Keiko ingin tertawa, tetapi tenggorokannya sakit.
Bu Tuti duduk di tepi ranjang, menyuapkan bubur sedikit demi sedikit. Tidak banyak yang masuk. Setelah lima suap, perut Keiko mulai menolak. Bu Tuti tidak memaksa. Beliau hanya mengusap punggung Keiko pelan, menunggu sampai napasnya kembali teratur.
"Tadi senang karena kembang api kecil itu?" tanya Bu Tuti.
Keiko mengangguk.
"Teman yang menyalakan baik?"
Keiko memikirkan Kelvin yang berdiri di kegelapan, memegang cahaya kecil, lalu menyobek kertas agar abu itu tidak mengotori catatannya.
"Dia... tidak seperti yang orang bilang."
Bu Tuti tersenyum lembut. "Kalau begitu pelan-pelan kenal. Tapi tetap hati-hati, ya."
"Iya."
Setelah obat diminum, Bu Tuti tidak langsung pergi. Beliau merapikan selimut Keiko, mematikan lampu utama, lalu duduk di kursi kecil dekat ranjang. Dari mulutnya, keluar nyanyian pelan yang sejak kecil selalu Keiko dengar saat demam.
"Nina bobo, oh nina bobo..."
Suaranya tidak sempurna. Kadang sumbang, kadang berhenti karena Bu Tuti harus menahan napas. Tapi justru suara itu yang membuat mata Keiko panas.
Di bawah bantalnya, buku catatan kimia menyimpan setitik abu dari kembang api.
Di samping ranjangnya, Bu Tuti menyanyikan lagu seperti seorang ibu yang tidak pernah pergi.
Keiko menatap wajah perempuan itu dalam cahaya lampu tidur yang redup.
"Bu Tuti," bisiknya.
"Hmm, Nduk?"
"Bu Tuti lebih seperti ibu daripada ibu kandungku sendiri."
Nyanyian itu berhenti.
Bu Tuti menunduk cepat, pura-pura membenahi selimut yang sebenarnya sudah rapi.
"Tidur, Nduk," katanya dengan suara bergetar. "Besok sekolah lagi."