NovelToon NovelToon
Kuli Bangunan Terpaksa Kaya

Kuli Bangunan Terpaksa Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Komedi / Romansa Fantasi
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Riyan Sadewa, seorang kuli bangunan di Bandung, hidup pas-pasan hingga sebuah kecelakaan di lokasi kerja mengubah segalanya. Sebuah sistem misterius muncul, memaksanya menghabiskan uang dengan syarat tidak boleh mendapatkan keuntungan sedikit pun. Jika ia untung, nominal uang yang harus dibuang justru berlipat ganda. Riyan terjebak dalam permainan ekonomi yang absurd, membeli aset besar hanya untuk merusak harganya demi memuaskan sistem. Di tengah tekanan ini, ia harus belajar bahwa membuang uang ternyata jauh lebih sulit daripada mencari nafkah, dan ia harus menemukan cara untuk menghentikan siklus ini sebelum hidupnya hancur.

"Sistem gila. Bukannya berkurang, duit gua sekarang malah bertambah."

"Gua cuma mau miskin, Ya Tuhan! Kenapa susah banget buat bangkrut di dunia ini?!"

Bagaimana kelanjutannya..?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Pukul 23.00 WIB.

Riyan Sadewa duduk bersila di atas ranjang king-size kamar suite Grand Hotel Universal. Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi seluruh tubuhnya.

Di depannya, layar transparan Sistem berkedip-kedip merah. Hitung mundur menunjukkan sisa waktu 10 jam menuju penalti.

"Mati gua... 8,7 Triliun. Gimana cara habisin duit sebanyak ini sebelum subuh?!" gumam Riyan panik, siap mengacak-acak rambutnya sendiri.

Namun, alih-alih denting peringatan hukuman mati lemas atau pembusukan otot yang biasanya membuat bulu kuduknya berdiri, suara Sistem mendadak berubah.

Sound effect guntur yang biasanya menakutkan berganti menjadi nada harfiah harmoni yang anggun dan berwibawa.

[Denting Sistem! Mengunduh Pembaruan Protokol Utama...]

[Modul Penderitaan Finansial: DIHAPUS.]

[Sistem Denda & Penalti Fisik Kematian: DIBATALKAN SEPENUHNYA!]

Riyan tertegun. Bola matanya membelalak kaku. "H-Hah?! Batal?! Gak jadi mati gua?!"

[Pesan Khusus Sistem: Selamat, Inang Riyan Sadewa. Anda telah berhasil melewati "Fase Pengujian Kompatibilitas Keuangan" (Level 1-30) tanpa sedikit pun rasa serakah.]

[Deteksi Ancaman Global: Kekuatan Musuh Sesungguhnya — "Konsorsium Tiga Cincin" (Aliansi Elit Global & Keluarga Vandersen Utama) — Telah Resmi Bergerak untuk Menghancurkan Ekosistem Bisnis Anda!]

[Misi Utama Baru Diaktifkan: "Membangun Imperium Pendekar Keuangan"!]

Riyan mengedipkan matanya berkali-kali. "Tunggu, tunggu... jadi gua gak bakal mati kalau duit ini gak habis?!"

[Jawaban Sistem: Tidak. Seluruh Saldo 8,72 Triliun Rupiah kini Resmi Menjadi Modal Dasar Pembangunan Imperium. Mulai detik ini, Sistem tidak lagi memaksa Anda merugi, melainkan akan AKTIF MENGARAHKAN Anda membangun konglomerasi terkuat untuk melibas musuh!]

Riyan bernapas lega sampai rasanya paru-parunya mau melompat keluar. Ia merosot terlentang di atas kasur empuk, menatap langit-langit kamar dengan air mata kebahagiaan.

"Tuhan... akhirnya gua gak perlu mikir cara melarat lagi!"

Namun, suara Sistem kembali terdengar, kali ini dengan intonasi yang tegas dan tidak bisa dibantah.

[Perintah Misi Pertama (Level Imperium): "Restrukturisasi Citra Pasukan Lapangan"!]

[Persyaratan: Ubah 12 Kuli Bangunan Proyekan Anda Menjadi Miliarder Sesungguhnya! Karisma, Penampilan, dan Kapabilitas Bisnis Mereka Harus Setara Eksekutif Kelas Dunia!]

[Alokasi Anggaran Misi: 500 Miliar Rupiah!]

Keesokan harinya, Pukul 08.00 WIB.

Lantai dasar gedung pencakar langit Zevan Tower ditutup rapat. Di dalam aula ballroom utama, 12 kuli proyek kepercayaan Riyan—Agus, Ujang, Karso, dan sembilan kuli lainnya—berdiri berjejer kaku. Masing-masing masih memakai celana kargo kumal, kaus oblong bernoda semen, dan sandal jepit.

Kezia Zevan dan Valerie Vandersen berdiri di pinggir aula, menatap Riyan dengan kebingungan.

"Riyan, kamu mengumpulkan mereka semua pagi-pagi begini untuk apa?" tanya Kezia penasaran.

Riyan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah maju dengan ekspresi yang sangat berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi raut panik atau ketakutan akan denda. Tatapan mata Riyan kini tajam, tenang, dan memancarkan wibawa seorang pimpinan imperium.

"Agus. Ujang," panggil Riyan tegas.

"Siap, Pak Dirut!" sahut Agus dan Ujang serempak, menggaruk kepala mereka yang tak gatal.

"Hari ini, masa-masa kalian megang cangkul dan ngaduk semen... resmi selesai," kata Riyan.

Tiba-tiba, pintu aula terbuka lebar. Puluhan haute couture designer ternama dari Paris, penata gaya (stylist) internasional, serta tim pelatih kepribadian dan protokol elit melangkah masuk membawa puluhan rak pakaian mewah berlabel Bespoke Savile Row, jam tangan Audemars Piguet, hingga sepatu kulit buatan tangan dari Italia.

[Mengaktifkan Fitur Sistem: "Aura Refinement Protocol"!]

[Mentransfer Keterampilan Manajemen & Karisma Eksekutif ke dalam Kesadaran 12 Anggota Pasukan Kuli!]

Cahaya biru tipis yang tak terlihat oleh orang biasa terpancar dari tangan Riyan dan menyelimuti tubuh Agus dan kawan-kawan.

Selama empat jam penuh, transformasi ekstrem terjadi di dalam aula tersebut. Potongan rambut acak-acakan diubah menjadi gaya slicked-back yang rapi.

Kulit legam akibat terik matahari ditangani dengan perawatan kelas atas. Postur tubuh yang tadinya membungkuk akibat memikul semen kini berdiri tegak dengan busungan dada yang gagah.

Saat tirai pembatas dibuka kembali...

SSSRRRTTT...

Valerie Vandersen tersedak kopi yang sedang diminumnya hingga terbatuk-batuk, sementara Kezia membelalakkan matanya tak percaya.

Agus melangkah keluar pertama kali. Ia mengenakan setelan jas double-breasted warna abu-abu charcoal dari bahan wol kasmir termahal di dunia.

Di pergelangan tangannya melingkar jam tangan Richard Mille edisi terbatas. Tatapan matanya yang dulu polos kini memancarkan ketenangan dingin seorang Chief Executive Officer (CEO) konglomerasi papan atas.

Di belakangnya, Ujang dan 10 kuli lainnya menyusul dengan pakaian jas yang dipotong sempurna mengikut bentuk tubuh tegap mereka. Mereka tidak lagi terlihat seperti kuli proyekan yang suka minum kopi saset di warung, melainkan jajaran direksi elit dari institusi keuangan global!

"P-Pak Dirut Riyan..." Agus angkat bicara. Suaranya kini terdengar berat, karismatik, dan penuh wibawa.

"Seluruh laporan analisis risiko portofolio saham anak perusahaan kita sudah selesai saya tinjau. Kami siap menjalankan instruksi Anda."

Valerie memegangi kepalanya yang mendadak pening. "I-Ini beneran si Agus yang kemarin ngangkut semen pake Bugatti?! Kok bisa karismanya berubah kayak lord minyak dari Timur Tengah?!"

Riyan menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan dominasi. Sistem telah mengubah pion-pion terpercayanya menjadi benteng pertahanan yang tak tertembus.

"Bagus," ucap Riyan dingin. "Mulai hari ini, kalian bukan lagi kuli bangunan. Kalian adalah 12 Direktur Utama Sadewa Group."

Tiba-tiba, Kezia memegang ponselnya dengan wajah memucat. Ia berjalan cepat menghampiri Riyan.

"Riyan! Ada berita darurat!" Kezia menyodorkan layar tabletnya.

Di layar tersebut, terpampang berita utama jaringan televisi finansial dunia:

[BERITA UTAMA: KONSORSIUM TIGA CINCIN DAN VANDERSEN UTAMA MEMBEKUKAN SELURUH JALUR IMPOR BAHAN BAKU SADEWA GROUP DARI EROPA! MEREKA MENDEKLARASIKAN WARFARE FINANSIAL UNTUK MENGHANCURKAN RIYAN SADEWA DALAM 72 JAM!]

Valerie mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Itu Tetua Utama Keluarga Vandersen... mereka sudah bergabung dengan Aliansi Cincin Internasional. Mereka mau memotong rantai pasok dan membangkrutkan seluruh proyekmu, Riyan!"

Riyan Sadewa menatap berita itu tanpa sedikit pun rasa gentar. Kalau dulu ia akan panik karena takut kehabisan uang untuk merugi, kini ia justru menyambut peperangan ini dengan senyuman sinis.

"Pemasok Eropa memblokir kita?" Riyan menoleh ke arah Agus. "Agus, berapa sisa dana kas bersih Sadewa Group saat ini?"

Agus menjawab tanpa ragu, matanya tajam. "8,22 Triliun Rupiah tunai, Pak Dirut."

"Bagus," Riyan mengancingkan jas hitamnya.

"Kita tidak akan memohon bahan baku dari mereka. Agus, Ujang... persiapkan seluruh jajaran direktur. Hari ini juga, kita akuisisi seluruh pabrik bahan baku milik Konsorsium Tiga Cincin di Asia Tenggara!"

Sistem di mata Riyan berkedip terang dengan teks keemasan:

[Misi Utama Imperium Dimulai: Perang Akuisisi Melawan Konsorsium Tiga Cincin!]

1
Fajar Fathur rizky
cepat bikin tiga kekuatan besar itu bangkrut
Fajar Fathur rizky
bikin wanita itu jatuh cinta kepada mcnya thor
BaekTae Byun: jatuh cinta mending mikirin nyawa yang tinggal belasan jam
total 1 replies
adib
oke. alur awal terlalu cepat.. jadi nggak berasa .. tp udah cukup unik jalur ceritanya
Bang Haji
Kalo bikin cerita pake otak dong ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!