NovelToon NovelToon
Suami Yang Kau Dan Keluarga Mu Hina Adalah Pewaris Kaya

Suami Yang Kau Dan Keluarga Mu Hina Adalah Pewaris Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Demi menguji ketulusan, Aldi Pratama menyamar sebagai pria biasa selama dua tahun pernikahan. Namun, Kirana beserta keluarganya yang gila gengsi terus menghina dan merendahkannya. Batas sabar Aldi habis; ia mengungkap identitas aslinya sebagai pewaris tunggal konglomerat raksasa Pratama Group, menceraikan Kirana, dan memiskinkan keluarganya.
Kejatuhan itu seketika menghancurkan hidup Kirana—ibunya meninggal karena syok, adiknya dipenjara, dan ia harus bertahan hidup sebagai pedagang sembako miskin. Di titik nadir inilah Kirana bertobat total dan belajar bersyukur. Takdir kemudian mempertemukan mereka kembali lewat program sosial. Meski dipisahkan jurang kasta yang permanen, Aldi diam-diam memberi perlindungan rahasia karena belum bisa melupakan Kirana sebagai cinta pertamanya, sementara Kirana menjalani takdirnya dengan keikhlasan dan penyesalan abadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 31: Pertemuan kembali selama dua tahun

Pagi itu, Balai Warga Kelurahan Sukamaju sudah dipenuhi oleh ratusan warga prasejahtera yang mengantre dengan tertib. Mereka membawa kupon merah bersimbol naga dan mahkota—lambang Pratama Care Foundation. Kursi-kursi plastik berwarna biru disusun rapi di bawah tenda besar, sementara di bagian depan, panggung sederhana telah didekorasi dengan spanduk besar mengenai pemberdayaan ekonomi mikro.

Kirana duduk di barisan kursi khusus undangan mitra UMKM, tepat di sisi kanan panggung. Dia mengenakan baju gamis kain sederhana berwarna abu-abu pudar dengan jilbab senada yang melilit rapi. Tidak ada perhiasan emas, tidak ada tas mewah. Kedua tangannya yang kini agak kasar karena sering mengangkat karung beras saling bertautan di atas pangkuannya, meremas pelan secarik kertas nomor undangan miliknya.

"Neng Kirana, tegang amat? Santai saja, kita kan di sini diundang karena kerja keras kita jujur menyediakan barang bagus," bisik Pak Joko, seorang pedagang minyak goreng curian yang juga terpilih menjadi mitra dari kampung sebelah.

Kirana menoleh dan memaksakan sebuah senyuman tipis. "Iya, Pak Joko. Saya cuma... agak kurang nyaman saja berada di keramaian seperti ini. Sudah lama tidak ikut acara formal."

"Wah, kalau saya mah bangga pisan, Neng! Apalagi denger-denger Tuan Muda Aldi Pratama sendiri yang mau turun. Itu lho, orang terkaya nomor satu di korporasi ini. Jarang-jarang orang besar mau injak tanah becek kampung kita," sahut

Pak Joko penuh semangat.

Kirana hanya mengangguk pelan, pandangannya kembali lurus ke depan. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa ngilu di dadanya.

Mas Aldi... apakah kamu akan membenciku jika melihatku di sini? Apakah kamu akan mengira aku sengaja menggunakan jalur yayasan mu untuk kembali mengemis perhatianmu? batin Kirana berkecamuk, dipenuhi rasa bersalah yang tak pernah usai.

Tepat pukul sembilan pagi, suara sirine mobil pengawal terdengar dari ujung jalan masuk balai warga. Suasana yang tadinya riuh mendadak hening seketika. Dua mobil SUV hitam besar berhenti, disusul oleh sedan mewah Rolls-Royce hitam yang sangat familier di mata Kirana.

Pintu belakang terbuka, dan melangkah keluar sosok Aldi Pratama. Pria itu tampak sangat gagah dengan setelan kemeja batik tulis premium berlengan panjang dengan motif parang dominan hitam dan emas, dipadukan dengan celana kain hitam yang sangat rapi. Wajahnya yang tampan memancarkan wibawa yang luar biasa besar, membuat para pejabat kelurahan dan kecamatan langsung membungkuk hormat menyambutnya.

Kirana menahan napasnya. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam, mencoba bersembunyi di balik tubuh Pak

Joko yang berbadan tambun di sebelahnya. Dia takut. Dia sangat takut jika kehadirannya di sini justru akan merusak suasana hati pria yang pernah dia sia-siakan itu.

.

.

.

.

Acara berlangsung dengan sangat khidmat. Pidato demi pidato disampaikan, hingga tiba saatnya acara inti, yaitu penyerahan plakat penghargaan secara simbolis kepada tiga perwakilan pedagang mikro yang menjadi mitra penyedia sembako terbaik.

"Baik, hadirin sekalian, mari kita panggil ke atas panggung, perwakilan mitra UMKM kita yang telah menyediakan pasokan dengan kualitas terbaik dan kejujuran yang luar biasa. Yang pertama, Ibu Kirana dari Warung Barokah!" seru pembawa acara melalui pengeras suara.

Mendengar namanya disebut pertama kali, seluruh tubuh Kirana mendadak kaku. Dia tidak menyangka bahwa dia harus naik ke atas panggung dan berhadapan langsung dengan Aldi di depan ratusan pasang mata.

"Neng, ayo naik! Namanya disebut itu!" senggol Pak Joko, membuyarkan ketakutan Kirana.

Dengan langkah kaki yang bergetar hebat dan napas yang memburu, Kirana berjalan perlahan menaiki anak tangga panggung.

Di atas sana, Aldi Pratama sedang berdiri memegang plakat kayu berlapis kuningan, didampingi oleh Edi di sisi kirinya.

Saat Kirana berdiri tepat di hadapan Aldi, waktu seolah berhenti berputar.

Jarak di antara mereka kini hanya terpisah setengah meter. Kirana memberanikan diri mendongak, menatap mata hitam milik pria yang dulu menjadi suaminya selama dua tahun itu.

Aldi Pratama membeku sejenak. Guratan keterkejutan sempat melintas di wajah tenangnya selama satu detik sebelum dia berhasil menguasai ekspresi wajahnya kembali menjadi datar dan profesional. Dia melihat pakaian Kirana yang sangat sederhana, melihat jilbab kusamnya, dan terutama, melihat kedua telapak tangan Kirana yang kini tampak lecet dan kasar—tangan yang dulu selalu dia rawat dan dia belikan losion mahal agar tetap halus.

Ada kilat emosi yang sangat dalam, sebuah rasa sakit yang tersembunyi jauh di lubuk mata Aldi yang paling dalam. Plot twist yang tidak diketahui oleh siapa pun, bahkan oleh Edi sekalipun, adalah bahwa

Aldi Pratama belum pernah bisa melupakan Kirana. Bagaimanapun kejamnya pengkhianatan racun gengsi keluarga Sitorus dulu, Kirana adalah cinta pertamanya. Wanita pertama yang membuat seorang pewaris takhta Pratama Group bersedia menanggalkan seluruh kemewahannya demi hidup di sebuah rumah kontrakan kecil dan mencuci piring setiap malam dengan ketulusan murni.

Aldi menyerahkan plakat penghargaan itu kepada Kirana. Saat jemari mereka tidak sengaja bersentuhan, sebuah getaran emosi masa lalu yang begitu kuat menyengat hati mereka berdua.

"Terima kasih atas dedikasi dan kejujuran Anda dalam membantu program yayasan kami, Ibu Kirana. Pertahankan kualitas kerja Anda," ucap Aldi dengan suara baritonnya yang terdengar sangat stabil di mikrofon, namun jika didengar dari jarak sedekat ini, ada sedikit getaran emosional yang tertahan di tenggorokannya.

Kirana menerima plakat itu dengan kedua tangannya yang gemetar, air matanya menetes satu demi satu membasahi permukaan plakat kuningan tersebut. Dia tidak sanggup berkata-kata banyak.

"S-sama-sama... Tuan Muda Aldi. Terima kasih banyak atas kebaikan... dan berkah yang sudah diberikan yayasan kepada warung kecil saya," bisik Kirana dengan suara yang parau, penuh dengan ketulusan dan rida atas takdirnya saat ini.

Dia tidak lagi memanggilnya 'Mas', karena dia tahu tempatnya sekarang hanyalah seorang rakyat jelata di hadapan sang raja.

Aldi menatap air mata Kirana, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tatapan mata Aldi melembut. Ada rasa kasihan, rindu, namun juga benteng harga diri yang sangat besar yang membatasi mereka berdua. Setelah sesi foto bersama selesai, Kirana langsung membungkuk hormat sedalam-dalamnya lalu turun dari panggung dengan hati yang campur aduk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!