NovelToon NovelToon
Nana Si Pelindung Tuan Terbuang

Nana Si Pelindung Tuan Terbuang

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Nana bukan siapa-siapa — seorang gadis yatim piatu yang tumbuh besar di jalanan Surabaya, mencuri untuk bertahan hidup. Sampai suatu hari, hidupnya berubah ketika dia masuk ke dunia keluarga Sie, salah satu dinasti konglomerat paling berkuasa di Indonesia.

Di sana, dia bertemu Steven Sie — putra ketiga yang dibuang keluarganya sendiri, dingin dan penuh misteri. Semua orang bilang dia pengkhianat. Semua orang ingin dia hancur.

Tapi Nana tahu yang sebenarnya.

Ketika Steven dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar — dihancurkan di mata publik, dinyatakan bersalah atas kejahatan yang tidak pernah dia lakukan — hanya Nana yang berdiri melawannya. Sendirian. Tanpa bukti. Tanpa dukungan. Hanya dengan keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan sampai mati.

Perjalanannya membawanya dari ruang sidang Jakarta hingga ke lorong-lorong gelap Singapura, dari pengkhianatan keluarga hingga pengorbanan yang tak terbayangkan. Di sepanjang jalan, ada Daniel Tjang — pengusaha paling berbahaya dan paling mempesona di Jakarta — yang diam-diam mempertaruhkan segalanya untuknya.

*Satu wanita. Dua pria. Dan satu pertanyaan yang mengubah segalanya:*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12

Kartu nama Daniel Tjang tidak Nana buang.

Ia menyimpannya di balik kain jahitan kantong seragam, tempat yang sama dulu dipakai untuk menyembunyikan kertas peringatan tentang audit. Dua benda itu terasa berbeda. Kertas Steven dingin seperti perintah. Kartu Daniel hangat seperti undangan masuk ke ruangan yang pintunya belum pernah Nana sentuh.

Pagi setelah jamuan, Nana menemukan koran bisnis yang tertinggal di ruang makan kecil. Biasanya koran seperti itu langsung dikumpulkan kepala pelayan, tapi kali ini satu halaman terlepas dan jatuh di bawah kursi.

Judulnya membahas harga saham perusahaan pelayaran, jalur distribusi, dan dampak audit terhadap kepercayaan bank.

Nana membaca pelan-pelan.

Bukan karena ia mengerti.

Karena ia ingin mengerti.

"Kalau keningmu berkerut lebih dalam, koran itu akan mengaku dosa."

Nana mendongak.

Daniel berdiri di pintu ruang makan kecil, membawa cangkir kopi sendiri. Loki berdiri di belakangnya dengan map hitam di tangan.

"Tuan Daniel," Nana langsung berdiri.

"Santai. Aku sedang menunggu Pak William yang terlambat lima belas menit. Orang tua kaya selalu menyebut keterlambatan mereka sebagai jadwal padat."

Loki berkata datar, "Pak William sedang menelepon Jakarta, Tuan."

"Nah, itu versi sopannya."

Nana melipat koran cepat-cepat.

Daniel melihatnya. "Jangan disembunyikan. Kertas itu tidak menggigit."

"Saya hanya melihat."

"Semua orang mulai dari melihat. Masalahnya, kebanyakan berhenti di sana." Daniel masuk tanpa meminta izin, duduk di kursi seberang Nana, lalu menunjuk koran. "Bagian mana yang membuatmu pusing?"

"Semuanya."

"Jawaban jujur. Aku suka."

Nana tidak duduk kembali.

Daniel mengangkat alis. "Kau akan belajar berdiri?"

"Saya sedang bekerja."

"Belajar juga kerja. Bedanya, tidak semua majikan senang kalau pekerjanya mulai mengerti."

Kalimat itu membuat Nana akhirnya duduk, perlahan.

Daniel mengambil tiga cangkir kosong dari nampan. Ia menyusunnya berjajar.

"Bayangkan kau punya warung kecil di pasar. Cangkir pertama ini uang tunai. Cash. Uang yang benar-benar ada di tanganmu." Ia memasukkan dua koin ke cangkir pertama. "Cangkir kedua ini piutang. Orang berutang padamu karena sudah mengambil barang tapi belum bayar." Satu koin masuk ke cangkir kedua. "Cangkir ketiga ini utangmu ke pemasok."

"Kalau banyak yang berutang kepada saya, saya kaya?"

Daniel tersenyum. "Di atas kertas, mungkin. Di perut, belum tentu. Kalau mereka belum bayar, kau tetap tidak bisa membeli beras."

Nana menatap cangkir kedua.

Itu ia mengerti.

Di pasar, banyak orang tampak ramai pembeli tapi malamnya tetap meminjam uang untuk makan, karena semua pembeli mencatat utang.

"Jadi perusahaan bisa terlihat kaya, tapi sebenarnya tidak punya uang?"

"Bisa. Dan perusahaan bisa terlihat rugi, tapi sebenarnya sedang menyembunyikan uang." Daniel memindahkan satu koin dari cangkir pertama ke bawah telapak tangannya. "Angka bukan kebenaran. Angka adalah bahasa. Orang jujur memakainya untuk menjelaskan. Orang licik memakainya untuk menutup pintu."

Nana memperhatikan gerakan tangannya.

"Tuan menyembunyikan koin."

"Bagus. Kau melihat tangan, bukan cuma cangkir." Daniel membuka telapak tangan, memperlihatkan koin itu. "Di bisnis, yang penting sering kali tidak ada di laporan utama. Ada di catatan kaki, kontrak samping, vendor yang namanya terlihat tidak penting."

Vendor.

Kata itu membuat Nana teringat data Pasar Atom.

"Jadi Victoria Wan menyerang Sie Group lewat vendor karena itu seperti membuat warung tidak bisa membeli beras?"

Mata Daniel berubah.

Kali ini ia tidak langsung bercanda.

"Siapa yang mengajarimu kalimat itu?"

Nana sadar ia terlalu cepat bicara.

"Saya mendengar orang bicara."

"Di Rumah Besar Sie, mendengar orang bicara bisa lebih berbahaya daripada mencuri dompet."

"Saya sudah tahu."

Daniel tertawa pelan, tapi matanya masih menilai. "Kau belajar cepat."

"Karena kalau lambat, orang miskin kelaparan."

Senyum Daniel menipis.

Untuk sekejap, wajahnya kehilangan cahaya main-main. Nana melihat sesuatu yang lebih tua daripada usianya, lebih gelap daripada jas mahalnya.

"Benar," katanya. "Orang miskin tidak diberi hak untuk lambat."

Loki melirik Daniel. Hanya satu detik, tapi cukup untuk membuat Nana sadar kalimat itu menyentuh tempat yang tidak ingin disentuh.

Daniel kembali mengambil koin. Kali ini senyumnya sudah kembali.

"Pelajaran kedua. Kalau ada orang ingin membunuh warungmu tanpa memukulmu, apa yang dia lakukan?"

"Mencuri uang."

"Terlalu kasar."

"Membakar warung."

"Terlalu terlihat."

Nana berpikir. "Membuat pemasok tidak mau memberi barang?"

"Nah." Daniel menunjuknya dengan koin. "Atau membuat pembeli percaya barangmu beracun. Atau membuat bank percaya kau tidak bisa membayar. Atau membuat temanmu sendiri menjualmu karena mereka takut tenggelam bersamamu."

Ruangan terasa lebih dingin.

"Itu yang terjadi pada perusahaan besar?"

"Itu yang terjadi pada semua tempat di mana orang percaya kertas lebih cepat daripada manusia."

Nana menatapnya.

Daniel memutar koin di meja. Suaranya kecil, berulang, sampai berhenti di dekat kartu nama Tjang Group yang tanpa sadar Nana keluarkan dari kantong.

"Besok aku ada pertemuan di gudang pelayaran lama," katanya. "Bukan tempat mewah. Bau solar, kertas basah, dan orang-orang yang mengaku jujur."

"Kenapa memberi tahu saya?"

"Karena kalau kau ingin belajar membaca angka, kau harus melihat tempat angka itu lahir. Bukan hanya ruang makan keluarga Sie."

"Saya tidak bisa pergi begitu saja."

"Tentu. Minta izin pada Cici Tamara. Atau pada Stella. Jangan pada Steven, dia pasti membuat wajah seolah dunia akan runtuh."

Nana hampir tersenyum.

Daniel melihatnya dan tersenyum lebih dulu. "Nah. Kau bisa juga hampir tertawa."

Sebelum Nana menjawab, suara langkah terdengar dari pintu.

Steven berdiri di sana.

Entah sejak kapan.

Matanya turun ke tiga cangkir, koin, koran bisnis, lalu kartu nama di dekat tangan Nana.

"Pak William sudah menunggu," katanya kepada Daniel.

"Lihat? Kalau dia yang terlambat, aku menunggu. Kalau aku yang mengajar, dia muncul." Daniel berdiri, merapikan jasnya. "Dunia memang tidak adil."

Steven tidak menanggapi.

Daniel melangkah melewati Nana, lalu berhenti sebentar di sampingnya.

"Pikirkan tawaranku."

Setelah Daniel dan Loki keluar, Nana masih duduk di depan tiga cangkir dan beberapa koin.

Steven tidak langsung pergi.

"Kau suka pelajaran barumu?"

"Saya suka mengerti hal yang sebelumnya dipakai orang untuk membodohi saya."

Steven menatapnya cukup lama.

"Hati-hati. Daniel mengajarkan pintu, tapi dia tidak selalu bilang apa yang menunggu di baliknya."

Nana menyentuh kartu nama di meja.

"Setidaknya dia bilang jangan percaya dia terlalu cepat."

"Itu cara paling mudah membuat orang mulai percaya."

Nana mendongak.

Steven sudah berbalik pergi.

Nana melihat tiga cangkir yang ditinggalkan Daniel. Cash, piutang, utang. Tiga kata itu masih terasa asing, tapi kini punya bentuk. Uang yang ada. Uang yang dijanjikan. Uang yang mengejar dari belakang.

Di atas meja, koin terakhir Daniel masih berputar pelan, lalu jatuh diam dengan sisi angka menghadap atas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!