"Apa gunanya menjadi istri CEO kalau hatinya saja sedingin es kutub?"
Hidup Aratala Arasunya Grita tak pernah mudah. Sejak kecil di panti asuhan hingga berjuang demi biaya kuliah semester dua, Aratala sudah kenyang dengan kerasnya hidup. Namun, sebuah insiden sepeda listrik mempertemukannya dengan seorang wanita elegan—yang secara mengejutkan memintanya menjadi istri anaknya.
Elio Lerian Raymond, CEO muda yang dingin dan ceplas-ceplos, bukanlah pria yang mudah ditaklukkan. Awalnya Aratala menolak, namun angka fantastis yang ditawarkan mampu membungkam egonya.
Lagipula, ini cuma kontrak, pikir Aratala.
Namun, bagaimana jika pernikahan atas dasar kontrak dan kebutuhan biaya panti ini justru membawanya ke dalam pusaran perasaan yang tidak pernah ia rencanakan? Apalagi saat sang CEO mulai menunjukkan sisi posesifnya yang tak terduga.
Selamat datang di kehidupan penuh drama antara Cewe Cegil vs CEO dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
desis ngilu
Ia mengulurkan tangan mengambil sendok dari nampan yang dipegang suaminya. "Aku akan makan. Jangan khawatir, aku tidak akan membuatmu repot menyuapiku."
Elio menyipitkan mata, menatap curiga pada perubahan sikap yang begitu cepat dari istrinya. Namun, rasa curiga itu tertutupi oleh rasa percaya diri yang tinggi—pria itu mengira Aratala akhirnya menyerah pada takdir dan dominasinya
Suara dering ponsel yang tajam mendadak memecah keheningan kamar. Nada dering khusus yang menandakan panggilan dari sambungan kantor itu berulang kali bergetar di atas meja nakas.
Elio melirik sekilas ke arah layar ponselnya yang menyala terang, menampilkan nama salah satu rekan bisnis pentingnya. Pria itu mendengus pelan, lalu menoleh kembali kepada Aratala yang kini tengah menyuap buburnya dengan tenang.
"Habiskan," perintah Elio singkat sambil bangkit dari tepi ranjang dan menyambar ponselnya. Ia melangkah mendekati jendela besar yang menghadap ke halaman luar, lalu menggeser tombol hijau. "Ya. Ada apa?" tanyanya dengan nada dingin dan penuh wibawa.
Di tempatnya, Aratala memanfaatkan kelengahan Elio Sudut bibirnya terangkat sebelah, membentuk sebuah seringai tipis yang tersembunyi di balik kepulan uap mangkuk bubur. Punggung tangannya perlahan mengusap mangkuk itu, sementara matanya mengawasi setiap gerak-gerik Elio yang mulai membelakangi ranjang, sepenuhnya tersita oleh urusan pekerjaan di ujung sambungan telepon.
Manik mata Aratala terus mengunci punggung Elio yang berdiri agak jauh di dekat jendela, sementara tangan pria itu masih sibuk menempelkan ponsel ke telinganya.
Dengan gerakan secepat kilat namun tetap berhati-hati agar tidak menimbulkan suara gemerincing piring, Aratala meletakkan mangkuk buburnya kembali ke atas nampan. Kepalanya menoleh cepat ke arah nakas tempat ponsel miliknya sendiri diletakkan semalam sebelum baterainya habis atau disita—namun benda itu tidak ada di sana.
Pandangannya beralih meneliti seisi ruangan. Matanya menangkap pantulan layar kecil di laci meja yang tidak tertutup rapat. Sebuah ponsel cadangan milik Elio tergeletak di sana.
Jantung Aratala berdegup semakin kencang, kali ini bukan karena takut, melainkan karena aliran adrenalin yang mendesak untuk segera bertindak. Ia melirik sekali lagi ke arah suaminya; Elio masih memunggungi ranjang, suaranya terdengar tegas membentak seseorang di seberang sana, sama sekali tidak menyadari apa yang sedang direncanakan oleh istri patuh yang baru saja ia tinggalkan beberapa detik lalu.
"Ahh sakittt"
Pekikan tertahan itu meluncur begitu saja dari bibir Aratala saat ia mencoba memaksakan kakinya menapak ke lantai. Sensasi perih, ngilu, dan kebas yang bercampur menjadi satu di bagian intimnya langsung menghantam tubuhnya bagaikan sengatan listrik, membuat lututnya lemas seketika dan hampir membuatnya tersungkur ke lantai jika ia tidak segera berpegangan pada tepi ranjang.
Suara desisan dan rintihan itu langsung memecah konsentrasi Elio. Sambungan telepon di telinganya diabaikan begitu saja; pria itu langsung memutus panggilan dengan gerakan kasar, lalu berbalik dalam satu detik. Netra hitam Elio membelalak tajam saat melihat Aratala meringis kesakitan sambil mencengkeram erat seprai tempat tidur.
Dalam hitungan detik, Elio sudah berada di hadapan istrinya. Pria itu sama sekali tidak memedulikan sisa-sisa amarah atau kecurigaannya tadi, melainkan langsung merengkuh tubuh Aratala ke dalam dekapannya sebelum gadis itu sempat merosot jatuh.
"Pelan-pelan, Tala..." bisik Elio dengan nada yang mendadak melunak, meski sorot matanya menyiratkan kepanikan yang tertutup rapat oleh rasa protektif.
Tanpa banyak bicara, Elio kembali mengangkat tubuh istrinya dan mendudukkannya dengan sangat hati-hati kembali ke atas kasur. Tangannya langsung memeriksa dengan cemas, sementara Aratala hanya bisa menggigit bibir bawahnya rapat-rapat, menahan rasa sakit sekaligus rasa benci yang kian membara di dalam dadanya karena menyadari betapa tubuhnya sendiri saat ini tengah mengkhianati rencana balas dendamnya.
"Sakit sekali?" tanya Elio, suaranya terdengar dipenuhi kecemasan yang nyata meski tetap terselip nada otoriter di dalamnya. Tanpa menunggu persetujuan Aratala, pria itu langsung meraih jubah tidur tambahan untuk membalut tubuh istrinya. "Kita ke dokter sekarang."
"Tidak! Aku tidak mau ke dokter!" sergah Aratala dengan napas tersenggal, panik membayangkan betapa malunya ia jika harus memeriksakan kondisi intimnya kepada orang lain akibat perbuatan pria di hadapannya ini.
Namun, Elio menggeleng tegas, tidak memberi ruang bagi bantahan. "Jangan membantah, Tala. Kamu robek parah semalam, dan aku tidak akan membiarkan ada infeksi hanya karena kamu keras kepala."
"Aku bilang aku tidak mau!" Aratala mendesis tajam, matanya memerah menahan amarah dan rasa perih yang luar biasa. Dengan sisa tenaga yang ada, ia menepis tangan Elio yang hendak merapikan jubah tidurnya. "Ini semua gara-gara siapa, hah? Kalau kamu tidak memperlakukan aku seperti binatang semalam, aku tidak akan kesakitan seperti ini!"
Napas Aratala memburu, dadanya naik turun seiring emosi yang akhirnya meledak setelah sedari tadi ia pendam rapat-rapat. Rasa sakit fisik di tubuhnya mendadak terasa kalah telak dibanding rasa terhina yang menggerogoti harga dirinya.
Gerakan Elio terhenti seketika. Seringai dominan yang biasa menghiasi wajahnya meluruh, digantikan oleh rahang yang mengeras dan sorot mata yang kembali menajam. Pria itu menatap lurus ke arah Aratala, tidak menyukai nada tinggi maupun perlawanan verbal yang baru saja dilontarkan istrinya.
Alih-alih marah atau membentak balik, Elio justru menarik napas panjang, mencoba meredam gejolak di dadanya sebelum kembali mendekat dengan gerakan yang jauh lebih terkontrol.
"Kamu pikir aku peduli dengan protesmu itu?" bisik Elio dingin, jemarinya kembali mencengkeram rahang Aratala, memaksa gadis itu untuk tetap menatapnya. "Kamu kesakitan karena kamu milikku, Aratala. Dan pilihan kita cuma dua: kamu menurut ikut aku ke dokter sekarang, atau aku panggil dokter pribadi ke kamar ini untuk memeriksa seluruh tubuhmu di hadapanku."
Tanpa memedulikan tatapan penuh kebencian maupun erangan protes yang kembali lolos dari bibir istrinya, Elio langsung menyambar selimut tebal baru dan membalutkannya ke tubuh Aratala. Dalam satu gerakan tegas, pria itu menyelipkan kedua lengannya dan mengangkat tubuh Aratala ke dalam gendongannya.
"Lepaskan aku, pa Elio! Sialan kamu!" Aratala meronta lemah, memukul-mukul dada bidang suaminya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Namun, perlawanan itu sama sekali tidak ada artinya bagi Elio. Pelukan pria itu justru semakin mengunci erat, memastikan istrinya tidak terjatuh atau semakin tersiksa oleh gerakan yang salah.
"Simpan tenaga dan sumpah serapahmu untuk nanti, Aratala," ujar Elio dingin, melangkah pasti meninggalkan kamar tidur menuju pintu utama dengan istrinya yang berada dalam dekapan mutlaknya.
🌴🌴🌴
Langkah kaki Elio terhenti di ambang pintu depan saat mendapati Bi Yani tengah membawa keranjang cucian di dekat area foyer. Mendengar suara derap langkah berat berpadu dengan erangan tertahan dari sang nyonya muda, asisten rumah tangga paruh baya itu sontak mendongak dengan wajah terkejut.
"Bii, tolong bersihkan kamar, saya mau membawa Aratala ke dokter," ucap Elio dengan nada datar namun menyiratkan urgensi tinggi yang tidak bisa ditawar.
Bi Yani lekas menganggukkan kepalanya patuh, matanya sekilas menangkap sosok Aratala yang terbungkus selimut tebal dalam gendongan majikannya dengan wajah pucat pasi dan mata memerah. "Baik, Tuan," jawab Bi Yani sigap, langsung melangkah mundur untuk memberikan jalan.
Sementara itu, di dalam dekapan Elio, Aratala hanya bisa menggigit bibir bawahnya hingga nyaris berdarah. Harga dirinya seolah dihancurkan berkeping-keping; dibawa keluar kamar dalam keadaan tak berdaya seperti ini di hadapan pelayan rumah adalah bentuk ketidakberdayaan paling telak yang pernah ia rasakan.
Mobil sedan hitam mewah milik Elio melaju mulus membelah jalanan pagi yang mulai padat. Di dalam kabin yang ber-AC dingin, suasana terasa begitu mencekam. Aratala berbaring di kursi belakang, tubuhnya dibalut selimut tebal dengan kepala yang disandarkan di atas pangkuan Elio. Pria itu terus mengusap rambut istrinya dengan satu tangan, sementara tangan yang lain memegang ponsel, bersiap menelepon dokter pribadi keluarga untuk bersiap di klinik privat.
Selama perjalanan, Aratala memanfaatkan posisi lemahnya. Matanya terpejam rapat, napasnya diatur sedemikian rupa agar terdengar seperti orang yang hampir kehilangan kesadaran akibat rasa sakit yang teramat sangat. Di balik kelopak matanya yang tertutup, jemari Aratala perlahan merayap turun, meraba saku jas Elio yang diletakkan di sebelah pinggang pria itu.
Jantungnya berdegup liar saat ujung jarinya berhasil menyentuh permukaan benda dingin—ponsel cadangan Elio. sebelum ia sempat menariknya keluar, Elio tiba-tiba mengubah posisi duduknya, membuat tangan Aratala terpaksa menarik diri dan pura-pura mendesis kesakitan.
"Sebentar lagi kita sampai, Tala. Tahan sebentar," bisik Elio lembut namun mutlak, sama sekali tidak menyadari detik-detik menegangkan yang baru saja terjadi.
Setibanya di klinik privat milik keluarga Elio, situasi berubah menjadi mimpi buruk bagi harga diri Aratala. Dokter paruh baya langganan keluarga itu menyambut mereka dengan profesional, namun keberadaan Elio yang menolak keluar ruang periksa membuat sekujur tubuh Aratala kaku. Pria itu berdiri tepat di samping brankar, mengawasi setiap gerak-gerik sang dokter dengan tatapan mengintimidasi, memastikan tidak ada detail luka yang terlewat.
Saat dokter hendak memberikan salep medis dan suntikan pereda nyeri yang harus disuntikkan langsung di area intimnya, Aratala langsung meronta panik.
"Tidak! Jangan sentuh aku! Keluar kamu, pa Elio!" jerit Aratala histeris, air matanya tumpah bukan lagi karena rasa perih.
Elio dengan sigap menahan kedua tangan istrinya yang berusaha memberontak, memeluk tubuh gemetar itu erat-erat ke dalam dadanya untuk meredam amukan Aratala. Dengan suara rendah yang penuh penekanan, Elio berbisik di telinga gadis itu, "Tenang, Tala. Dokter hanya mengobati lukamu. Jangan buat aku harus mengikatmu."
Mendengar ancaman itu, kesadaran kelam menghantam benak Aratala. Perlawanan fisik tidak akan pernah bisa memenangkannya dari pria tiran ini.
Secara perlahan, isakan tertahan itu berhenti. Aratala berhenti meronta. Ia menegakkan dagunya, membiarkan air mata sisa kemarahannya mengering di pipi, ia tak bisa bohong rasanya sakitt, perih jadi satu.
"Baiklah... aku akan diam," ucap Aratala dengan suara parau yang terdengar sangat rapuh dan patuh.
🌴🌴🌴
Jangan lupa like yaa🤌🏻😉