NovelToon NovelToon
Suci Tak Selalu Berdarah

Suci Tak Selalu Berdarah

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyesalan Suami / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Langit 2

Suci Tak Selalu Berdarah, karena tak semua bunga gugur saat mekar. Namun ketika harga diri Niken Ayuningrum diukur dari setetes merah, maka malam pertama yang katanya paling indah, kini berubah sunyi penuh prasangka.

Tatapan Danendra Pradipta seketika berubah, ketika ia mengetahui bahwa tidak ada tanda yang diyakini sebagai bukti kesucian sang istri.

"Jangan hukum aku dengan mitos lama, yang menjadikan perempuan tersangka. Jika cinta benar ada, maka pecayalah bahwa suci tak selalu berdarah."

Ia pendam tangis dalam doa, berharap waktu akan membuka mata suaminya, karena kesucian bukan tentang darah, melainkan menjaga hati hingga akhirnya. Dan biarkan dunia berkata apa, tapi Niken tetap suci meski tak berdarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harga Diri Seorang Istri

 Langit Wonosobo masih diselimuti kabut tipis, namun Niken sudah mengenakan pakaian berwarna biru muda dan jilbab senada. Tas kerjanya telah tergantung di bahu, ia telah siap berangkat mengajar seperti biasanya.

 Baru saja ia hendak melangkah menuju pintu, suara Ratih lebih dulu menghentikannya.

 "Mau ke mana?"

 Niken berbalik, "mau ke sekolah, Bu."

 "Bukankah semalam ibu sudah bilang? Hari ini kamu ikut ke dokter."

 "Maaf, Bu. Hari ini saya sedang menyiapkan bahan kerajinan untuk kegiatan besok. Kalau ditunda, nanti anak-anak yang kecewa, dan saya tidak bisa meninggalkan mereka." Jawab Niken dengan lembut namun tegas.

 Ratih menghembuskan napas kasar. "Anak TK bisa ditinggal sehari."

 "Mungkin bagi ibu bisa. Tapi bagi saya, mereka sedang menunggu gurunya."

 Ratih menatap Niken cukup lama, ia sedikit terkejut, mengapa menantunya berani menolak keinginannya. "Bukan berarti kamu tidak mau diperiksa, kan?"

 Niken menggeleng. "Saya tidak takut diperiksa. Saya hanya tidak ingin diperiksa karena dianggap sedang membuktikan diri."

 Ratih menyipitkan mata, "apa bedanya?"

 "Ada." Kata Niken sambil menatap ibu mertuanya dengan sopan, "kalau saya datang ke dokter karena sakit, itu berobat. Tapi kalau saya datang hanya untuk membuktikan bahwa saya bukan perempuan murahan, berarti sejak awal saya sudah dianggap bersalah."

 Ucapan itu membuat Ratih terdiam sesaat, namun wajahnya justru semakin keras. "Bicaramu pintar sekali."

 "Saya hanya ingin menjaga harga diri saya sebagai istri Mas Danendra."

 Tepat saat itu, Danendra menuruni tangga. Ia mendengar saat Niken mengucapkan kalimat terakhirnya.

 "Danen," panggil Ratih. "Kamu lihat sendiri bagaimana istrimu."

 Danendra menatap Niken. "Ayo."

 Niken mengernyit.

 "Kita ke dokter." Lanjut Danendra.

 Perempuan itu menggeleng pelan. "Maaf, Mas."

 "Aku tidak sedang meminta," kata Darendra yang langsung dijawab cepat oleh Niken.

 "Aku juga tidak sedang membangkang."

 Kalimat itu membuat suasana menjadi tegang.

 Niken menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata, "kalau Mas ingin tahu kondisi kesehatanku, aku akan ikut kapan pun. Tapi kalau tujuannya untuk mencari bukti bahwa aku perempuan baik-baik....." ia tersenyum pahit. "...maaf, aku tidak bisa."

 Danendra tidak langsung menjawab. Ia merasa, ada sesuatu dalam tatapan istrinya yang membuat hatinya terusik. Tatapan itu bukan tatapan orang yang sedang berbohong, melainkan tatapan seseorang yang terluka karena tidak dipercaya.

 Ratih menghembuskan napas panjang. "Danen, kenapa diam? Bukankah kamu juga ingin tahu kebenarannya?"

 Danendra mengusap tengkuknya pelan. "Aku berangkat dulu," pamitnya yang membuat ibunya mengernyit.

 "Berangkat? Lalu bagaimana urusan ini?"

 "Nanti kita bicara lagi," ujarnya.

 Tanpa menunggu jawaban, Danendra meraih kunci mobilnya dan melangkah keluar rumah.

 Ratih menggeleng sambil bergumam pelan. "Entah apa yang dia pikirkan."

 Sementara Niken hanya menghembuskan napas lega, bukan karena masalahnya selesai, tetapi karena untuk hari itu ia tidak dipaksa pergi ke dokter.

 Di dalam mobil, Danendra memukul pelan kemudi. Pikirannya benar-benar kacau, karena seumur hidup ia percaya bahwa setiap perempuan yang masih perawan pasti akan mengeluarkan darah pada malam pertamanya. Itu yang selalu ia dengar dari lingkungan keluarga, itu pula yang membuatnya begitu yakin ketika melihat seprai mereka tetap putih bersih. Namun ucapan Niken terus berputar di kepalanya.

 "Kalau aku datang hanya untuk membuktikan bahwa aku bukan perempuan murahan, berarti sejak awal aku sudah dianggap bersalah."

 Danendra menghela napas panjang, lalu bergumam pelan. "Kenapa aku jadi ragu sendiri?"

 * *

 Senyum Niken kembali mengembang ketika ia sampai di halaman sekolah, seolah semua beban yang ia pikul tertinggal di luar gerbang.

 "Selamat pagi, anak-anak...." sapa Niken setibanya di sana.

 "Selamat pagi, Bu Niken." Jawab semuanya.

 "Anak-anak, hari ini kita akan mengambar cita-cita, ya."

 "Yeay!"

 Suasana kelas terdengar riuh.

 Di tengah anak-anak yang sibuk mengambar, seorang murid perempuan menghampiri Niken sambil membawa selembar kertas.

 "Bu Guru." Panggil Nayla.

 "Iya, sayang."

 "Kalau Ibu sedih, cerita saja sama Mama."

 Niken tertegun mendengarnya. "Kok Nayla bilang begitu?"

 "Soalnya mata Bu Guru terlihat berair."

 Niken spontan menyentuh sudut matanya, ia lalu tersenyum sambil mengusap kepala murid kecil itu. "Ibu tidak apa-apa."

 Dengan polosnya Nayla menggeleng. "Kalau Mama sedih, Papa selalu bilang, jangan nangis sendirian."

 Kalimat dari seorang anak berusia lima tahun itu justru membuat dada Niken mendadak terasa sesak. Ia memeluk Nayla sejenak, "terima kasih, ya."

 Tanpa sadar, cairan bening yang semakin mengenang seolah hampir tumpah. Namun Niken menghapusnya cepat sebelum dilihat oleh anak-anak lainnya.

 * *

 Siang itu, Danendra duduk termenung di ruang kerjanya. Sejak pagi, pikirannya terus kembali pada ucapan Niken.

 "Kalau aku datang hanya untuk membuktikan bahwa aku bukan perempuan murahan, berarti sejak awal aku sudah dianggap bersalah."

 Kalimat itu terus terngiang, membuat Danendra memijat pelipisnya, hingga akhirnya suara ketukan pintu memecah suasana.

 Sekertarisnya masuk setelah mengetuk pintu sambil membawa berkas-berkas. "Siang, Pak. Ini jadwal Bapak minggu depan."

 Danendra hanya mengangguk.

 "Lalu, ada satu tamu yang ingin bertemu."

 "Siapa?"

 "Bu Alana Kirana."

 Danendra tidak langsung menjawab, ia merasa tidak ada pentingnya bertemu wanita itu lagi, ia menoleh ke jendela sebelum akhirnya menjawab. "Dia lagi?"

 "Iya, Pak. Katanya hanya sebentar."

 Ia melirik sekertarisnya kemudian menghembuskan napas. "Persilahkan masuk," katanya yang dijawab anggukan patuh oleh sekertarisnya.

 "Baik, Pak."

 Tak lama kemudian, Alana muncul dengan senyum yang sama seperti kemarin.

 "Aku tidak mengganggu, kan?"

 "Ada perlu apa?"

 "Aku ingin mengajukan kerja sama untuk acara gathering perusahaan klienku." Kata Alana sambil menyodorkan proposalnya.

 Danendra menerimanya. "Baik, akan aku pelajari."

 Alana tidak langsung pergi, matanya justru mengamati foto pernikahan Danendra dan Niken yang berdiri di atas meja kerja. "Kalian terlihat serasi," katanya.

 "Terima kasih."

 "Tapi..." Alana tersenyum tipis sebelum akhirnya melanjutkan. "Aku dengar, rumah tanggamu tidak seindah foto itu."

 Tangan Danendra yang sedang memegang proposal langsung berhenti. Ia menatap Alana tajam. "Dari mana kamu mendengar itu?"

 Alana mengangkat kedua bahunya. "Wonosobo ini kota kecil, Danen. Cerita satu orang akan mudah sampai ke telinga banyak orang."

 Tatapan Danendra berubah dingin. "Rumah tanggaku bukan urusanmu."

 Alana tersenyum, lalu berdiri. "Tentu saja. Aku hanya ikut prihatin."

 Setelah Alana pergi, Danendra mengepalkan tangannya. Ia tidak menyangka, masalah yang bahkan masih sangat baru, ternyata langsung menjadi bahan pembicaraan di luar rumah. Kali ini Danendra merasa bukan hanya Niken yang dipermalukan, tetapi juga rumah tangga yang baru saja mereka bangun.

 Setelahnya, Darendra sama sekali tidak bisa fokus. Setelah menghubungi seseorang, ia mengambil kunci mobil lalu keluar dari kantor. Alih-alih pulang, ia justru mengarahkan mobilnya ke sebuah kedai kopi kecil yang sudah menjadi tempat berkumpulnya sejak masih kuliah.

 Tak lama kemudian, seorang pria datang sambil tersenyum lebar. "Astaga, ini Danendra Pradipta? Pengantin baru yang masih sempat ngajak ngopi?"

 Rizky adalah salah satu sahabatnya sejak duduk di bangku SMA. Berbeda dengan Danendra yang mengelola perusahaan keluarga, Rizky memiliki usaha percetakan dan rumah produksi kecil di Wonosobo.

 Mereka sudah berteman lebih dari sepuluh tahun. Hubungan mereka begitu dekat hingga hampir tak ada rahasia di antara keduanya.

 Danendra hanya tersenyum tipis. "Tenang saja, hari ini aku yang traktir," katanya.

 Rizky memicingkan matanya, lalu bertanya dengan nada serius. "Kelihatanya ada masalah?"

 Danendra menatap Rizky cukup lama, ia tampak ragu. Bahkan beberapa kali membuka mulut, namun kembali mengurungkannya. Ia merasa pertanyaanya mungkin akan terdengar memalukan.

 "Serius ada masalah?" Ulang Rizky setelah menunggu lama.

 Danendra menghembuskan napas panjang, "aku mau tanya sesuatu." Katanya akhirnya.

 "Tanya saja. Biasanya juga langsung tanya." Jawab Rizky santai.

 Danendra masih merasa ragu, namun ia tetap memberanikan diri untuk bertanya. "Tapi ini mungkin kedengarannya memalukan."

 "Sememalukan apa memangnya?"

 Danendra tidak langsung menjawab. Sepuluh tahun bersahabat, baru kali ini ia terlihat segugup itu.

 Rizky menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Danen," ia menghela napas kemudian melanjutkan. "Kalau kamu sampai bingung begini, berarti masalahnya bukan soal bisnis."

 Danendra akhirnya mengangguk pelan. "Iya."

 "Lalu?"

 Dengan suara pelan hampir tak terdengar, Danendra akhirnya bertanya. "Menurutmu...."

 "Iya?"

 "Perempuan yang masih menjaga dirinya, pasti berdarah saat malam pertama?"

 Rizky sampai berkedip beberapa kali setelah mendengarnya. "Hah?"

 Sementara Danendra langsung merasa menyesal telah bertanya. "Sudahlah. Anggap saja aku nggak pernah nanya."

 "Eh, tunggu dulu." Jawab Rizky cepat, lalu menatapnya serius. "Kenapa tiba-tiba nanya begitu?"

 "Jawab saja."

 Rizky menggaruk punggung lehernya, lalu menjawab. "Jujur, aku juga dulu berpikir begitu."

 Danendra langsung mengangkat kepalanya. "Tapi?"

 "Tapi setelah menikah, istriku pernah cerita."

 "Apa?" tanya Danendra seolah tak sabar.

 "Katanya, dulu dia sama teman-temannya ikut kelas pranikah di rumah sakit. Di sana dijelaskan kalau tidak semua perempuan mengalami perdarahan saat pertama kali—"

 Danendra diam mendengarkan.

 "Istriku bahkan sempat bilang, ada perempuan yang akhirnya dituduh macam-macam hanya karena suaminya percaya mitos."

 "Jadi...?"

 Rizky mengangguk mantap. "Kalau kamu tanya aku sekarang, jawabnya ya belum tentu."

 Danendra meneguk salivanya dalam-dalam.

 "Aku juga pernah baca artikel tentang itu beberapa tahun lalu. Memang banyak orang salah paham." Lanjut Rizky, kemudian memperhatikan wajah Danendra yang semakin muram, "Danen."

 "Iya."

 "Apa pertanyaan ini ada hubungannya sama Niken?"

 Danendra tidak menjawab, dan diamnya sudah cukup menjadi jawaban.

 Rizky menghembuskan napas pelan. "Aku memang nggak paham soal medis. Tapi aku paham satu hal."

 "Apa?"

 "Selama bertahun-tahun aku kenal kamu, kamu selalu mengambil keputusan setelah melihat bukti." Kata Rizky yang dijawab anggukan oleh Danendra.

 "Lalu kenapa untuk urusan istrimu, kamu justru lebih percaya omongan orang dari pada mengenal perempuan yang kamu nikahi?"

 Kalimat itu membuat Danendra membeku, ia teringat pada wajah Niken yang seolah menyimpan luka. Ia juga teringat akan kalimat yang sempat Niken ucapakan pagi tadi.

 "Kalau aku datang ke dokter hanya untuk membuktikan bahwa aku bukan perempuan murahan, berarti sejak awal aku sudah dianggap bersalah."

 Rizky menepuk bahu sahabatnya. "Kalau Niken memang perempuan baik, jangan sampai dia kehilangan kepercayaan kepada suaminya hanya karena kamu terlambat percaya."

 Danendra menatap kosong ke arah jalan yang terlihat ramai. Entah mengapa, ia merasa bahwa mungkin bukan Niken yang harus membuktikan kesuciannya. Tetapi dirinya lah yang harus belajar mempercayai perempuan yang telah ia pilih menjadi pendamping hidupnya.

...****************...

1
Anam
Semangat update thor
Nina Melliana
laki2 pengecut pake ngadu ke ibunya, weuleuh mending pisah rmh sm mertua , niken.
Nina Melliana
betul gk kesucian diukur dg darah, itu cm mitos, yg penting " kepercayaan" , jaman sdh canggih, soal darah bisa dibuat ( dioprasi) bisa ber " kali" perawan 🤣
Kale
lanjut terus thor
Kale
kak Thor jngn sampai ada pelakor dlm pernikahan Danendra dn Niken,,hempaskn Alana jauh" thor
Kale
kisah ini sprti kisahku,,mlm pertama istriku tk meneteskn darah,,tp aku lihat dia sangat kesakitan,,bedanya aku tk perna menanyakn pda istriku tentang hal itu,,dn aku coba tanya ke temanku yg berprofesi dokter kandungan,,mmng sejatinya ada wanita yg tk mengeluarkan darah saat mlm pertama,,karena bentuk selaput dara yg menyerupai cincin,,
Kale
semoga pernikahanmu kekal tanpa ada orang ketiga
Kale
seharusnya nih ya Daren,,kau tak perlu cerita ke ibu mu,masalah mlm pertama mu ,,kau sekolah tinggi percuma,jika ilmu cetek,,baca buku,,tanya dokter,jngn langsung menuduh niken yg bukan",,dasar kau Daren
Kale
berarti si Danen sdh cerita ke orang tuanya soal mlm pertamanya,,,laki"mulut lemes
Kale
mulai para penggibah dn profokator menunjukkan muka
Kale
hanya laki"picik dn tidak berpikir rasional,jika mlm pertama harus ada tetes darah perawan, ,,
Kale
memang laki" picik jika malam pertama harus identik dengan adanya tetesan darah perawan, gk pernah sklh atau baca buku kan suaminya,,,kayaknya seru nih novelnya,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!