TOXIC AND CONTROL
Karya: Parkha
Bagi Kinara Jose, hidup sebagai siswi penerima beasiswa berpenampilan polos dengan kacamata tebal adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dengan tenang di SMA Elite. Namun, seluruh dunianya runtuh saat ia tidak sengaja menarik perhatian Rian Pradifta.Rian—sang Tiran berwajah malaikat namun berhati iblis, cowok terkaya, terdingin, dan paling ditakuti satu sekolah. Sekali Rian mengunci pandangannya pada Kinara, tidak ada jalan keluar. Cowok itu terobsesi mengontrol setiap jengkal hidup Kinara, memutuskan dengan siapa ia bicara, ke mana ia pergi, hingga apa yang harus ia pakai.Kehidupan Kinara yang tenang kini berubah menjadi labirin yang mencekik. Rian adalah racun, namun juga satu-satunya oksigen yang tersisa untuknya. Di tengah kepungan obsesi gila itu, sebuah rahasia besar perlahan terkuak: di balik kacamata tebal dan sikap penurutnya, Kinara menyimpan pesona tersembunyi yang siap menjungkirbalikkan kuasa Rian sang Tiran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TOXIC AND CONTROL* *BAB 35: SANGKAR EMAS DAN RANTAI HITAM*
*TOXIC AND CONTROL*
*BAB 35: SANGKAR EMAS DAN RANTAI HITAM*
Denting lift lantai dasar bergema sunyi, mengantar Kinara Jose keluar menuju area parkir bawah tanah yang pengap dan temaram. Langkah kakinya yang semula setengah berlari kini menghentak konstan, menimbulkan gema yang memantul di dinding beton blok VIP.
Di ujung koridor parkir yang sepi, siluet mobil sport Porsche hitam milik Rian Pradifta masih terparkir angkuh di bawah sorotan lampu neon yang berkedip pelan.
Kinara mencengkeram tali tas bakulnya hingga jemarinya memutih. Amarah karena harga dirinya yang diinjak-injak dengan uang, bercampur rasa jengah akibat isi kepalanya sendiri, melebur menjadi bahan bakar yang mendorongnya melangkah maju tanpa rasa takut.
Tepat saat jarak mereka tersisa beberapa meter, kaca mobil yang gelap perlahan turun. Di balik kemudi, Rian duduk dengan melipat kedua tangan di depan dada. Pemuda itu sudah menanggalkan kemeja seragamnya, menyisakan kaus hitam polos yang melekat ketat pada tubuh atletisnya. Sepasang mata elangnya yang dingin langsung mengunci sosok Kinara.
Kinara membuka mulutnya, bersiap menumpahkan seluruh amarah yang sudah membakar dadanya sejak keluar dari kamar rawat sang ibu. Namun, begitu pandangan mereka beradu, fokus Kinara mendadak terlempar paksa ke arah lain. Tatapan gadis itu terjatuh, terkunci mati tepat pada permukaan bibir tipis Rian yang terkatup rapat.
DEG.
Bersamaan dengan itu, sensasi kebas yang asing dan denyut halus di bibir bawah Kinara mendadak menyengat kuat, memicu kembali memori sensual beberapa puluh menit lalu saat dia baru saja terbangun. Kinara refleks menggigit bagian dalam pipinya, merutuki dirinya sendiri habis-habisan dalam hati.
`Apa aku sudah benar-benar tidak waras? Kenapa di saat seperti ini aku malah fokus pada bibirnya?` batin Kinara menjerit frustrasi. Dia merasa sangat bodoh dan jengah karena mengira otaknya telah kehilangan kewarasan murni.
`Apa ini efek karena aku belum pernah berpacaran, hingga stres menghadapi kontrak ini membuatku memimpikan hal seliar itu dengan pria tiran ini?` Namun, rasa basah yang sempat tertinggal dan sengatan yang mengacaukan riak emosinya terasa terlalu nyata untuk sekadar disebut sebagai bunga tidur.
Kinara sama sekali tidak tahu bahwa "mimpi" mesum yang membuatnya mengutuk diri sendiri itu adalah seratus persen perbuatan nyata dari monster gila kontrol di hadapannya.
Di sisi lain, tatapan Kinara yang mendadak terkunci pada bibirnya tidak luput dari perhatian Rian. Seketika itu juga, ulu hati sang penguasa sekolah berdesir hebat.
`Sial, apa dia menyadarinya? Apa aku ketahuan?` batin Rian mengumpat panik di balik topeng wajahnya yang terlampau datar.
Jantung Rian yang semula sudah berdegup kencang kini bertalu dua kali lipat lebih gila. Kilas balik kepanikannya saat buru-buru menarik diri di kabin mobil tadi kembali membayangi otaknya.
Rian Pradifta yang biasanya selalu memegang kendali atas segala situasi, kini mendadak merasa seperti seorang kriminal yang tertangkap basah. Dia mati-matian menekan gejolak panik dan salah tingkah yang nyaris meruntuhkan wibawa tirannya. Jika sampai gadis polos ini tahu bahwa dia telah memanfaatkan posisinya yang tertidur untuk melancarkan ciuman brutal yang egois, tamat sudah harga dirinya sebagai seorang Pradifta.
"Dua puluh delapan menit," ucap Rian datar, memutus lamunan kacau Kinara sekaligus menutupi kepanikan batinnya sendiri sembari melirik arloji mewah di pergelangan tangannya. "Kamu tepat waktu, Pelayan."
Suara bariton Rian seketika menarik kembali kesadaran Kinara. Dia mengerjapkan mata, buru-buru mengusir bayangan memalukan itu dari kepalanya dan menguatkan hati demi menuntut keadilan atas harga dirinya.
"Kenapa Kakak melakukannya?!" Suara Kinara meninggi, memotong ucapan Rian tanpa memedulikan hierarki kekuasaan mereka di sekolah. Dia berdiri tepat di samping pintu kemudi, menatap Rian dengan mata yang berkaca-kaca akibat luapan emosi.
Rian hanya menaikkan satu alisnya, ekspresinya tetap sedatar papan tulis demi menyembunyikan kelegaan karena Kinara tampaknya tidak membahas soal bibir. "Melakukan apa?"
"Jangan pura-pura bodoh, Kak! Administrasi Ibu!" Kinara menggebrak pinggiran pintu mobil dengan telapak tangan mungilnya yang gemetar. "Satu jam yang lalu, saat aku tidur di mobil ini, Kakak menggunakan Black Card untuk melunasi semuanya sampai satu bulan ke depan! Tanpa bicara, tanpa izin dariku!"
Rian mengembuskan napas pendek, lalu mendorong pintu mobilnya terbuka. Postur tubuhnya yang tinggi tegap seketika mengintimidasi ruang gerak Kinara, memaksa gadis itu mundur satu langkah demi mempertahankan jarak aman.
Aroma parfum maskulin yang pekat dari tubuh Rian kembali mengepung indra penciuman Kinara, lagi-lagi mengaktifkan alarm bahaya di otaknya karena aroma ini sama persis dengan aroma dalam "mimpi" pagutan brutal di kabin tadi.
"Izin?" Rian terkekeh rendah, suara baritonnya terdengar begitu sinis di keheningan basement. "Sejak kapan seorang majikan butuh izin dari pelayannya untuk membuang uang?"
"Ini bukan soal membuang uang! Ini soal harga diriku!" Kinara membalas dengan napas memburu, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh membasahi pipi. "Kontrak kita adalah tiga ratus juta untuk tiga bulan! Tapi dengan Kakak membayar semua biaya obat impor dan ruangan VIP itu tanpa batas waktu, Kakak sedang menambah rantai di kakiku! Kakak ingin mengikatku selamanya, kan?!"
Melihat air mata Kinara, kilat kemarahan yang pekat sempat melintas di manik mata Rian, namun dengan cepat digantikan oleh tatapan obsesif yang dingin. Rian maju satu langkah besar, mengikis jarak di antara mereka hingga dada bidangnya hampir menyentuh ujung hidung Kinara.
Jemari kekar Rian bergerak cepat, mencengkeram dagu Kinara dengan tekanan yang tegas namun tidak sampai menyakiti. Dia memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam netra hitamnya yang kelam.
"Dengar, Kinara Jose," bisik Rian, suaranya begitu rendah dan penuh penekanan mutlak. "Aku tidak suka melihat barang milikku memasang wajah menyedihkan hanya karena memikirkan angka-angka sialan di selembar kertas. Tugasmu hanya mematuhi perintahku, belajar dengan benar, dan merawat ibumu. Urusan uang adalah urusanku."
"Aku bukan barang milikmu!" Kinara berontak, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Rian, namun tiran itu sama sekali tidak bergeser satu milimeter pun.
"Kamu milikku sejak jemarimu menandatangani kertas kontrak itu," potong Rian dingin. Ibu jarinya bergerak perlahan, mengusap permukaan bibir bawah Kinara yang masih sedikit bengkak dan memerah alami akibat ulahnya sendiri beberapa saat lalu.
Sentuhan langsung pada bibir itu seketika mengirimkan sengatan listrik yang familier ke seluruh tubuh Kinara. Jantungnya bertalu gila-gilaan, membuat batinnya kian bergejolak hebat antara rasa benci atas hilangnya kebebasan dan kepasrahan yang aneh karena perlindungan mutlak cowok ini.
Rian mendekatkan wajahnya ke telinga Kinara, membiarkan embusan napas hangatnya menyapu leher gadis itu. "Menangislah sesukamu, marahlah sesukamu. Tapi jangan pernah berpikir untuk lari dari sangkar yang sudah kubuat. Karena semakin kamu berontak, aku akan memastikan rantai di kakimu menjadi semakin berat."
Rian melepaskan cengkeramannya secara perlahan, lalu membukakan pintu penumpang depan untuk Kinara.
"Masuk. Aku tidak suka mengulang perintah. Malam ini, kamu pulang bersamaku," titah Rian mutlak, kembali ke mode tiran gila kontrol yang tidak bisa diintervensi oleh siapa pun.
Kinara berdiri terpaku di bawah temaram lampu basement. Dia melirik pintu mobil yang terbuka, lalu melirik jaket abu-abu yang membungkus tubuhnya.
Di dalam hatinya, Kinara tahu dia telah kalah telak. Rian Pradifta telah menutup seluruh jalannya untuk mundur, menguncinya rapat-rapat di dalam sebuah sangkar emas yang begitu mewah, namun teramat menyesakkan.
---
semoga Kinara terselamatkan dr jebakan Randy
kalian yang awal bab maki2 Rian ..tetap maki2 ya soalnya Rian tobatnya masih lama wkkwkwk