Erlyn tidak pernah memilih untuk jatuh cinta pada kakak tirinya.
Saat ibunya menikah lagi dan membawanya pindah dari Pulau Belitung ke rumah kolonial tua di Surabaya, Erlyn bertemu Yu Chisen — pewaris keluarga Yu yang dingin, tampan, dan tidak banyak bicara. Dia pelukis. Dia lebih tua dua tahun. Dan mulai hari itu, mereka tinggal satu atap sebagai "kakak-adik."
Tapi Chisen bukan kakak yang biasa. Dia diam-diam melindunginya dari gosip sekolah, mengajarinya bahasa Inggris setiap malam, dan memasak untuknya saat tidak ada orang. Di balik pintu loteng yang selalu terkunci, dia menyimpan ratusan lukisan — semuanya adalah wajah Erlyn.
Saat ibunya meninggal, Chisen menjadi satu-satunya tempatnya bersandar. Saat ayahnya masuk penjara, Erlyn menjadi satu-satunya alasannya bertahan. Perasaan yang seharusnya tidak ada perlahan tumbuh di antara mereka — terlalu dalam untuk diabaikan, terlalu terlarang untuk diakui.
Pada malam badai itu, Erlyn memakai sepatu kristal pemberian Chisen dan mengetuk pintu kamarnya.
Dia yang duluan jatuh cinta. Dan dia yang duluan melangkah.
Empat tahun kemudian, badai datang lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10
Nilai
Keesokan malamnya, Chisen tidak menyinggung jaket.
Erlyn juga tidak menyinggungnya.
Jaket itu sudah ia lipat rapi dan letakkan di sandaran kursi ruang belajar sebelum Chisen datang. Saat Chisen masuk, ia hanya melirik sebentar, mengambil jaket itu, lalu menggantungkannya di kursi lain seolah tidak ada hal khusus yang pernah terjadi.
Sikapnya terlalu tenang.
Erlyn jadi ikut berpura-pura tenang.
Maka les privat mereka berjalan seperti perang kecil yang dijadwalkan. Jam delapan, Erlyn duduk di ruang belajar. Jam delapan lewat dua menit, Chisen datang membawa buku dan pensil. Jam delapan lewat lima, ia mulai menemukan kesalahan Erlyn. Jam sembilan, Erlyn mulai menyesal pernah lahir. Jam sepuluh, anehnya, ia mulai mengerti.
Selama dua minggu, ritme itu tidak banyak berubah.
Chisen tetap pelit pujian. Jika Erlyn benar, ia hanya berkata, "Lanjut." Jika Erlyn salah, ia mengetuk kertas dengan ujung pensil sampai ia menemukan sendiri bagian yang keliru. Kalau ia mulai mengantuk, Chisen menggeser gelas air dingin ke arahnya. Kalau ia mengeluh, Chisen menjawab dengan kalimat yang membuatnya ingin melempar bantal lagi.
"Koh, otakku panas."
"Bagus. Berarti dipakai."
"Koh pernah jadi manusia menyenangkan tidak?"
"Pernah."
"Kapan?"
"Sebelum kamu salah pakai rumus."
Erlyn selalu kalah karena tertawa duluan.
Di sekolah, gosip tentang mobil hitam tidak langsung hilang. Tetapi setelah hari Chisen berdiri di gerbang, orang-orang menjadi lebih hati-hati. Mereka masih menatap, masih berbisik, tetapi tidak lagi menaruh kertas di kursinya. Gadis yang pernah bertanya apakah Chisen kakak atau pacar memilih pindah tempat duduk saat Erlyn masuk kantin bersama Angie.
Angie menyebutnya efek kakak tirimu yang menakutkan.
"Dia tidak menakutkan," kata Erlyn suatu siang.
Angie mengaduk es tehnya, menatap Erlyn dengan wajah datar. "Er, dia turun dari mobil, berdiri tiga menit, dan satu gerbang sekolah mendadak punya tata krama. Itu bukan menakutkan?"
"Dia cuma diam."
"Nah. Diamnya itu."
Erlyn tidak punya jawaban.
Diam Chisen memang aneh. Kadang membuat orang takut. Kadang membuat Mama canggung. Kadang membuat Om Changli menghela napas panjang. Tetapi ada diam lain yang Erlyn mulai kenal, diam ketika ia memindahkan ikan ke piringnya, diam ketika ia menutup pintu pelan agar tidak membangunkannya, diam ketika ia membiarkan Erlyn menghitung ulang sampai menemukan jawaban sendiri.
Diam yang tidak kosong.
Tiga malam sebelum ulangan, Erlyn untuk pertama kalinya menyelesaikan satu paket soal tanpa Chisen menyela.
Ia menulis langkah terakhir, menahan napas, lalu mendorong kertas ke arah Chisen. "Cek."
Chisen membacanya dari awal sampai akhir. Biasanya, ujung pensilnya sudah mengetuk sebelum baris ketiga. Malam itu, pensilnya diam.
"Salah?" tanya Erlyn, tidak sabar.
"Tidak."
Ia menulis satu tanda centang kecil di pojok kertas.
Hanya centang.
Tidak ada bagus. Tidak ada pintar. Tidak ada akhirnya otakmu dipakai. Tetapi Erlyn menatap tanda kecil itu hampir sepuluh detik, lalu cepat-cepat memasukkan kertas tersebut ke buku catatan, seolah itu bukti penting yang harus disimpan.
Chisen melihatnya, tetapi tidak berkomentar.
"Besok ulang lagi," katanya.
"Koh tidak bisa membiarkan orang bahagia lima menit?"
"Bisa. Setelah ulangan."
Ulangan matematika berikutnya dibagikan pada hari Jumat.
Sejak pagi, perut Erlyn terasa tidak nyaman. Ia sudah belajar. Sudah mengulang soal. Sudah mendengar Chisen berkata, "Kalau kamu baca soalnya baik-baik, bisa," sebanyak tiga kali. Tetap saja, saat guru masuk membawa tumpukan kertas, telapak tangannya langsung berkeringat.
Angie menyenggol sikunya. "Taruhan kamu naik."
"Jangan bikin sial."
"Aku punya intuisi."
"Intuisimu waktu itu bilang kantin punya bakso enak. Ternyata pedasnya seperti dendam."
"Tapi enak, kan?"
Erlyn tidak sempat menjawab karena namanya dipanggil.
"Tan Erlyn."
Ia berdiri.
Guru matematika tidak langsung menyerahkan kertas. Perempuan itu menatapnya dengan senyum yang membuat jantung Erlyn makin tidak teratur.
"Kemajuanmu bagus sekali. Dari enam puluh dua ke delapan puluh tujuh."
Kelas langsung ramai.
Erlyn berkedip. "Berapa, Bu?"
"Delapan puluh tujuh." Guru itu menunjukkan angka merah di pojok kertas, kali ini bukan seperti luka, melainkan seperti lampu kecil yang menyala. "Pertahankan. Cara penyelesaianmu juga jauh lebih rapi."
Angie bertepuk tangan paling keras, meski hanya tiga kali sebelum guru menatapnya.
Erlyn menerima kertas itu dengan kedua tangan. Angka 87 tampak sangat nyata. Begitu nyata sampai ia membaca ulang beberapa kali saat kembali ke kursi. Di tepi soal nomor empat, gurunya menulis: Langkah sudah jelas. Bagus.
Bagus.
Satu kata itu membuat dadanya ringan.
Sepulang sekolah, ia tidak menunggu sopir di gerbang. Hari itu Chisen tidak datang, dan Erlyn tidak ingin ia datang. Bukan karena malu. Bukan karena takut gosip. Ia hanya ingin membawa kertas itu pulang sendiri, seperti membawa sesuatu yang bisa ia tunjukkan dengan bangga tanpa merasa ditolong terlalu banyak.
Tetapi ketika mobil keluarga berhenti di depan Jalan Kenanga dan Erlyn turun, langkahnya justru berubah cepat.
Ia hampir berlari masuk.
"Mama?" panggilnya.
Jing sedang di dapur, mencicipi kuah sop ayam jahe. "Kenapa? Ada apa?"
Erlyn mengangkat kertas. "Delapan puluh tujuh!"
Wajah Jing langsung cerah. "Benarkah?"
"Iya!"
Mama memeluknya meski tangannya masih berbau jahe. "Mama tahu kamu bisa."
Erlyn tertawa, lalu teringat orang lain yang seharusnya melihat angka itu. Ia menoleh ke arah tangga.
"Koh Chisen di mana?"
"Sepertinya di loteng."
Erlyn bahkan tidak melepas sepatu.
Ia naik tangga dua-dua, berhenti di depan pintu loteng, lalu mengetuk sekali. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi.
"Koh?"
Dari dalam terdengar suara kursi bergeser. Pintu terbuka. Chisen berdiri dengan kaus putih bernoda cat abu-abu, satu kuas masih di tangannya. Bau cat langsung menyentuh hidung Erlyn.
"Apa?"
Erlyn mengangkat kertas tepat di depan wajahnya. "Lihat."
Chisen mengambil kertas itu, membaca angka di pojok, lalu memeriksa beberapa nomor seolah ia guru kedua yang lebih menyebalkan. Erlyn menunggu. Jantungnya berdebar lebih keras daripada saat guru memanggil namanya.
"Jadi?" desaknya.
Chisen mengangkat mata. "Masih bisa lebih tinggi."
Wajah Erlyn langsung jatuh. "Koh!"
Tetapi saat ia merebut kembali kertasnya, ia melihatnya.
Sangat kecil.
Di sudut bibir Chisen, ada senyum yang cepat sekali muncul, lalu hampir langsung hilang.
Namun Erlyn sudah melihatnya.
Ia memeluk kertas itu di dada, marahnya tiba-tiba berubah bentuk menjadi sesuatu yang hangat.
"Koh tadi senyum."
"Tidak."
"Senyum."
"Kamu salah lihat."
"Nilai matematikaku naik. Mataku baik-baik saja."
"Kalau begitu pakai matamu untuk baca soal lebih teliti."
"Pelit."
"Efisien."
Erlyn memutar mata pelan.
Chisen menatapnya dua detik, lalu berbalik masuk ke loteng. Sebelum pintu tertutup, suaranya terdengar dari dalam, datar seperti biasa.
"Besok target sembilan puluh."