Zevanna Lyana Oliver dikenal sebagai gadis bar-bar yang sering bolos, membuat onar, dan gemar balapan liar.
Namun, hidupnya berubah setelah kakaknya, Zoyya Fiorellia Oliver, dikabarkan meninggal dunia di sebuah perusahaan ternama.
Kematian Zoyya dianggap sebagai kecelakaan. Tapi Zevanna menemukan kejanggalan yang membuatnya yakin ada sesuatu yang disembunyikan.
Setelah lulus SMA, Zevanna masuk ke Verion Group, perusahaan tempat kakaknya dulu bekerja.
Tujuannya cuma satu: mencari tahu kebenaran di balik kematian Zoyya.
Tapi semakin jauh Zevanna mencari, semakin banyak rahasia yang terbongkar.
Siapa sebenarnya yang berada di balik kematian Zoyya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lannn_019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang Bersama
Setelah mobil polisi meninggalkan Verion Group, Zevanna masih berdiri di halaman bersama Ravenzo, Arvin, dan Vera.
Arvin dan Vera kemudian pamit karena urusan mereka sudah selesai. Kini tinggal Zevanna dan Ravenzo yang tersisa di sana.
Zevanna mengambil tasnya. "Saya pulang dulu, Pak."
Ravenzo langsung menatapnya. "Saya antar."
Zevanna tersentak. "Hah?"
"Saya antar kamu pulang, apa kamu nggak dengar?" Kata Ravenzo dingin.
Zevanna menggeleng cepat. "Nggak usah Pak, rumah saya nggak jauh. Saya bisa pulang sendiri."
"Iya saya antar." Ulang Ravenzo tegas.
"Tapi—"
"Masuk mobil."
Zevanna melongo dan mengerjap-ngerjap matanya. "Bapak kalau ngomong emang selalu kayak perintah, ya?"
"Iya." Jawabnya singkat.
Zevanna mendengus kecil. "Nyebelin."
Tanpa bisa membantah lagi, Zevanna akhirnya masuk ke dalam mobil Ravenzo.
Mobil pun mulai melaju meninggalkan area Verion Group. Suasana di dalam kabin mendadak hening. Zevanna memilih duduk sambil menatap jalanan di luar jendela, sementara Ravenzo fokus memegang kemudi.
Untuk beberapa saat, tidak ada percakapan di antara mereka. Karena merasa canggung, Zevanna menoleh ke arah Ravenzo.
"Pak."
"Hm?"
"Bapak kalau nyetir emang selalu diem, ya?" Tanya Zevanna.
Ravenzo meliriknya sekilas. "Memangnya saya harus nyanyi?"
"Ya nggak juga sih," kata Zevanna terkekeh kecil.
"Kalau begitu diam." Jawab Ravenzo kembali menatap jalan.
Zevanna langsung manyun. "Galak banget, Bapak." Katanya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Zevanna kembali memperhatikan wajah Ravenzo dari samping yang tampak begitu serius menyetir.
"Bapak nggak capek pasang muka dingin terus?" Celetuk Zevanna mengomentari ekspresi bosnya yang datar dari tadi.
"Muka saya memang begini." Jawabnya singkat.
"Oh... kirain lagi marah sama dunia, hahaha!" Ketawa Zevanna.
Ravenzo terdiam. Ia menoleh sekilas melihat tawa Zevanna lalu dengan cepat membuang muka. Pria itu mengusap hidungnya pelan, mendadak merasa gemas sendiri melihat tingkah gadis di sampingnya.
"Tuh kan diem lagi." Ucap Zevanna.
Ravenzo berdehem pelan. "Kamu sendiri nggak capek bicara terus?"
Zevanna langsung pura-pura tersinggung. "Lah, saya kan cuma menghidupkan suasana."
"Suasananya baik-baik saja," katanya.
"Itu menurut Bapak, menurut saya suasananya kayak angker gitu." Canda Zevanna.
"Angker? Kamu kira saya setan?" Tanya Ravenzo datar.
Zevanna terdiam sejenak dan mengulum bibirnya sebelum menggeleng. "Ya nggak gitu maksud saya Pak. Maksud saya suasananya bukan Bapaknya yang angker." Elaknya.
Ravenzo menghela napas panjang. "Kamu mau saya putar musik?"
Raut wajah Zevanna langsung merekah. "Mau, Pak!"
"Genre?"
"Terserah apa aja, Pak."
"Berarti nggak usah."
"LAH?!" Zevanna melongo mendengar ucapan Ravenzo. "Kok gitu sih, Pak? Kan Bapak tadi yang nawarin saya."
"Iya saya nawarin kamu mau dengerin musik apa, kalau terserah nggak usah." Jawab Ravenzo dingin.
"Dih, masa bisa gitu Pak?" Decak Zevanna.
Ravenzo menoleh. "Kenapa? Marah?"
Zevanna menggeleng cepat. "Nggak, saya nggak marah kok, Pak." Katanya. "Ya udah, nggak usah aja. Pak."
"Oke."
Di tengah perjalanan, Ravenzo kembali melirik Zevanna. Beberapa kali ia memperhatikan gadis itu memegang bahunya, tampak kelelahan setelah rentetan kejadian menegangkan yang baru saja menimpanya.
"Masih sakit?" Tanya Ravenzo singkat.
Zevanna mengerutkan kening. "Apanya?"
"Tadi."
Zevanna terdiam. Ia baru menyadari kalau Ravenzo ternyata diam-diam memperhatikan kondisinya.
"Nggak parah kok, Pak." Jawabnya sambil tersenyum kecil.
Ravenzo hanya mengangguk.
Zevanna berusaha mencairkan suasana lagi. "Kalau saya kenapa-napa, nanti Bapak yang repot."
"Makanya jangan bikin saya repot."
Zevanna mendelik. "Lah, yang ngajak saya masuk mobil siapa?"
Ravenzo bungkam, tidak bisa membalas.
Zevanna tersenyum puas karena berhasil membalikkan ucapan bosnya. "Bapak khawatir ya kalau saya kenapa-napa?"
Ravenzo mengangkat alisnya. "Nggak."
"Masa sih? Nggak percaya saya."
"Ya udah kalau nggak percaya." Jawab Ravenzo mutlak.
Zevanna mengerucutkan bibirnya. Ravenzo menatapnya sekilas sebelum fokus kembali ke jalan.
Tak lama kemudian, mobil akhirnya memasuki area perumahan tempat tinggal Zevanna.
Zevanna mulai merasa lega. "Nah, itu rumah saya."
"Saya tahu."
"Saya cuma ngomong, Pak."
Ravenzo memperlambat laju mobilnya dan berhenti tepat di depan pagar rumah Zevanna.
Zevanna membuka pintu mobil. Sebelum benar-benar turun, ia menoleh. "Makasih ya, Pak."
"Sama-sama."
Zevanna hendak berbalik pergi, namun langkahnya terhenti.
"Zevanna." Panggil Ravenzo.
Zevanna menoleh.
"Istirahat. Jangan keluar lagi malam ini." Ucap Ravenzo pelan.
Zevanna mengangkat alis. "Bapak kira saya mau balapan malam-malam?"
Ravenzo menatapnya datar tanpa ekspresi.
Zevanna yang salah tingkah langsung menggaruk kepalanya. "Oke, nggak jadi."
Ia berbalik badan dan berjalan cepat menuju rumahnya.
Begitu melihat sosok kedua orang tuanya di ambang pintu, raut tegang di wajah Zevanna berganti lega. Ia langsung berlari dan menghampiri Yovandra serta Liona.
"Mama, Papa."
Zevanna merengkuh tubuh mereka berdua erat-erat, membuat Yovandra dan Liona tersentak kaget.
"Ya ampun, Zevanna. Kamu kemana aja? Kenapa baru pulang?" tanya Liona dengan wajah yang terlihat sangat khawatir.
Zevanna melepaskan pelukannya dan menatap kedua orang tuanya. "Maafin aku ya, Ma."
Liona menatap anaknya cemas. "Mama dapet kabar kalau kamu mengalami kejadian di kantor, kamu nggak apa-apa kan?"
Zevanna menggeleng cepat. "Aku nggak apa-apa kok, Ma."
Meski begitu, Yovandra dan Liona masih terlihat sangat cemas. Mata Yovandra kemudian tertuju pada mobil mewah yang terparkir di depan rumahnya.
"Itu siapa yang mengantar kamu pulang?" Tanya Yovandra dengan dahi berkerut.
"Pak Ravenzo." Jawab Zevanna santai.
Liona ikut menoleh dan melihat sosok Ravenzo yang tengah berjalan mendekat ke arah mereka.
"Malam, Pak Yovandra dan Bu Liona." Sapa Ravenzo ramah.
"Malam, Pak Ravenzo. Ini sebenarnya ada apa ya?" Kata Yovandra bingung.
"Zevanna tadi disekap di gudang, dan hendak dibunuh." Kata Ravenzo langsung pada intinya, membuat Yovandra dan Liona terkejut setengah mati.
"Hah? Dibunuh?"
“Iya. Bisma dan Hesa terlibat dalam penyalahgunaan narkoba dan pembunuhan Zoyya.”
Yovandra dan Liona melebarkan mata mereka begitu nama Zoyya terucap dari mulut Ravenzo.
"Jadi... mereka yang udah bunuh Zoyya?" Lirih Liona dengan suara bergetar. Ia langsung menarik Zevanna ke dalam pelukannya. "Maafin mama ya, Nak. Mama kira, kakak kamu meninggal karena jatuh di toilet ternyata dia dibunuh."
Zevanna mengelus lembut punggung ibunya. "Udah, Ma. Nggak papa, yang penting sekarang pelakunya udah ketangkep, dan kak Zoyya juga tenang disana."
Liona mengangguk pasrah di dalam dekapan anaknya. "Iya, Nak. Mama bersyukur kamu nggak kenapa-napa."
Melihat istrinya menangis, Yovandra mengusap bahu Liona pelan sebelum beralih menatap Ravenzo. "Terima kasih sudah membantu dan mengantar Zevanna pulang, Pak."
Ravenzo mengangguk sopan. "Sama-sama, Pak."
Liona menyapu air matanya dan menoleh ke arah bos anaknya itu. "Pak, terima kasih ya."
Ravenzo membalasnya dengan tenang dan kalem seperti biasa.
"Untung ada Pak Ravenzo." Kata Liona lega.
"Iya, orangnya nyebelin sih, tapi lumayan berguna." Kata Zevanna spontan tanpa disaring.
Seketika suasana menjadi hening. Ravenzo langsung menoleh tajam ke arah Zevanna.
Zevanna yang baru sadar atas celetukannya langsung memamerkan cengiran canggung. "Maksud saya... baik. Baik kok, Pak Ravenzo."
Ravenzo menahan napas dan ekspresinya mendengar ucapan polos gadis itu. Yovandra dan Liona yang memperhatikan hal tersebut hanya bisa saling pandang.
Oh, ternyata Pak Ravenzo kalau sama Zevanna beda.
Ravenzo berdehem dan menatap kedua orang tua Zevanna. "Saya pulang dulu," pamitnya.
Yovandra dan Liona tersenyum mengangguk. "Iya, Pak."
Zevanna ikut melangkah mengantar Ravenzo sampai ke dekat mobil. Saat orang tuanya sudah masuk duluan ke dalam rumah, kini tinggal mereka berdua saja.
"Sekali lagi, makasih ya, Pak." Kata Zevanna sambil tersenyum kecil.
"Kamu sudah bilang tadi." Ucap Ravenzo datar.
"Ya siapa tahu Bapak lupa, makanya saya ingetin lagi."
"Saya nggak pikun."
"Ya ampun, saya cuma bilang makasih doang, Pak," ucap Zevanna sambil memutar matanya.
Ravenzo menatapnya lekat. "Kalau ada sesuatu setelah malam ini, hubungi saya atau Arvin."
Zevanna mengangguk penurut. "Iya, Pak."
Ravenzo pun berbalik dan berjalan menuju mobilnya.
"Astaga, Pak!" Pekik Zevanna tiba-tiba.
Ravenzo menghentikan langkahnya dan menoleh. "Kenapa?"
"Pak, mobil saya masih di perusahaan." Ucap Zevanna baru teringat.
Ravenzo menatapnya tenang. "Saya tahu."
"Terus kenapa dari tadi Bapak diem aja?" Tanyanya kesal.
"Karena kamu baru ingat sekarang."
"..."
Zevanna bungkam, tidak tahu harus merespons apa.
"Besok ambil."
"Kalau mobil saya diculik gimana, Pak?" Kata Zevanna polos.
"Itu parkir di perusahaan saya." Jawab Ravenzo dingin.
"Oh iya."
"Jadi siapa yang kamu takutkan menculiknya?" Kata Ravenzo dengan dahi berkerut heran.
Zevanna terdiam sejenak lalu menggaruk pipinya. "Nggak sih, Pak."
Ravenzo menghela napas panjang. "Ya sudah, saya pulang dulu. Kamu jangan begadang terus."
Zevanna mengerjapkan matanya, berdiri mematung di depan pagar melihat mobil Ravenzo perlahan melaju menjauh.
Ia menyandarkan tubuhnya di pagar, bingung sendiri dengan sikap bosnya itu.
"Aneh. Pak Ravenzo kalau sama orang lain dingin banget. Tapi kenapa ke gue malah beda?" Gumamnya pelan.
Zevanna melangkah masuk ke dalam rumah. Baru saja melewati pintu, suara ibunya langsung menyapa.
"Kamu sama Pak Ravenzo dekat?" Celetuk Liona tiba-tiba.
"Nggak!" Jawab Zevanna cepat dan terlalu panik.
Liona tersenyum menggoda. "Mama cuma tanya aja. Kok kamu kayak salting gitu?"
Zevanna canggung dan menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. "Ya emang nggak dekat, Ma. Aku sama dia cuma karyawan dan bos aja."
Liona manggut-manggut dengan raut tidak percaya. "Yakin cuma bos dan karyawan aja? Nggak ada hal lain gitu?"
"Hal lain apa sih, Ma?" Elak Zevanna panik. "Udah, lah. Aku mau masuk kamar dulu, capek."
Liona memperhatikan punggung anaknya yang berjalan terburu-buru menuju kamar sambil menahan senyum.
Di dalam kamar, Zevanna merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Matanya menatap langit-langit kamar, namun pikirannya melayang mengingat setiap momen perjalanan pulang tadi.
Bagaimana Ravenzo secara implisit mengkhawatirkan kondisinya, mengantarnya sampai rumah, hingga menyuruhnya berhati-hati.
Zevanna menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Dia cuma baik karena gue karyawannya."
Namun hatinya menolak jawaban itu. Ia kembali berpikir.
"Tapi... kenapa cuma ke gue?" Gumamnya pelan, membiarkan pertanyaan itu menggantung di udara.
***
Sementara itu di tempat lain, mobil Ravenzo terus membelah jalanan malam menuju mansion pribadinya.
Ting!
Layar ponsel Ravenzo menyala. Setelah sampai di tempat yang aman, ia menepi sebentar untuk membaca pesan masuk dari Arvin.
Arvin: Rav, gimana Zevanna? Dia sudah sampai dengan aman kan?
Ravenzo mengetik balasan singkat.
Ravenzo: Sudah.
Ponsel dimatikan. Ravenzo kembali fokus menatap jalanan di depannya. Namun bayangan wajah Zevanna—mulai dari cengirannya, celotehannya yang absurd, hingga raut polosnya—tiba-tiba melintas di benaknya.
Ravenzo mengulum senyum tipis.
Entah kenapa, Zevanna selalu berhasil membuat Ravenzo bersikap sedikit berbeda dari biasanya.
Bersambung…
udah nanye kpn pulang bae sampean iku...hadeeeeehhhhh🤣🤣🤣🤣🤣