NovelToon NovelToon
Berniat Menceraikan Suami, Malah Hamil Anak Dosenku

Berniat Menceraikan Suami, Malah Hamil Anak Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Nikah Kontrak
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: isd

Niat mau bercerai setelah selesai Kkn, eh pas Kkn mereka malah buat dede bayi. Apakah mereka akan jadi bercerai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon isd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hilang

Keira berjalan menuju toilet umum dengan langkah hati-hati. Lorong yang dilewatinya cukup gelap, hanya diterangi beberapa lampu redup.

Setelah selesai, ia keluar dari toilet sambil menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada mahasiswa lain yang melihatnya.

Namun, baru beberapa langkah berjalan—

Tiba-tiba sebuah tangan melingkar kuat di tubuhnya dari belakang.

"Arsen!" Keira hampir berteriak ketika tubuhnya mendadak terangkat dari lantai.

Arsen dengan sigap menggendongnya.

"Malam ini kamu tidur bersamaku," ucapnya tegas, seolah tidak menerima penolakan.

"Hei! Turunkan aku!" Keira meronta, berusaha melepaskan diri. Namun, Arsen tetap menggendongnya dengan kuat.

"Jangan lupa, kamu itu istriku," balas Arsen dengan suara rendah.

Ia kemudian melangkah cepat menuju sebuah kamar.

Keira panik. Wajahnya memerah karena malu dan kesal. Ia bahkan hampir berteriak, tetapi buru-buru menutup mulutnya sendiri karena takut suara mereka terdengar oleh mahasiswa lain.

Arsen terus berjalan melewati koridor dengan langkah mantap, tetapi tetap berhati-hati agar tidak menarik perhatian.

Tujuannya adalah kamar kosong yang sebelumnya telah disiapkan oleh Pak Salim.

Jantung Keira berdetak semakin cepat. Ada rasa malu, gugup, kesal, dan sesuatu yang tidak mampu ia pahami bercampur menjadi satu.

Sementara Arsen tetap tenang, seolah tidak ada yang aneh dengan apa yang sedang dilakukannya.

Begitu sampai di kamar, Arsen segera masuk dan menutup pintu.

Klik!

Ia bahkan menguncinya.

Keira langsung menatapnya dengan mata penuh kemarahan.

Plaak!

Sebuah tamparan mendarat di pipi Arsen.

"Gila, ya, kamu?! Kalau sampai ada yang melihat kita tadi bagaimana? Mereka bisa berpikir macam-macam tentang aku dan kamu!" bentak Keira. Wajahnya memerah, antara malu dan marah.

Arsen hanya mengangkat alis. Ia sama sekali tidak terlihat terganggu.

"Aku nggak peduli," jawabnya santai. "Yang penting sekarang kamu ada di sini bersamaku."

Keira menatapnya tidak percaya. Arsen kemudian melanjutkan,

"Lagipula, Mama dari tadi menelepon. Kalau beliau tahu kita tidur terpisah, pasti dia bakal marah besar."

"Jadi itu alasannya?" Keira menyipitkan mata. "Kamu cuma takut dimarahi Mama?"

Arsen mengangkat bahu.

"Ya, terus kenapa? Di sini juga nyaman. Tidur saja di sini."

"Nggak mau!"

Keira membentak lalu membalikkan tubuhnya. Ia mengambil selimut dan duduk di atas kasur dengan wajah kesal.

Arsen memperhatikannya beberapa saat. Ekspresinya terlihat serius, tetapi ada sedikit geli di wajahnya.

"Nurutin aku, Keira."

Keira tidak menjawab. Ia masih kesal. Marah. Namun, di balik semua itu, ada rasa bingung yang semakin sulit ia abaikan.

Kamar tersebut kembali sunyi. Hanya suara napas keduanya dan detik jam dinding yang terdengar di tengah keheningan.

Arsen akhirnya duduk di tepi kasur. Tatapannya masih tertuju kepada Keira dengan ekspresi yang sulit ditebak.

Beberapa saat kemudian, suaranya terdengar lebih lembut, meskipun tetap tegas.

"Setidaknya... sebelum kita benar-benar bercerai, kita bisa mencoba menjadi teman."

Keira perlahan menoleh. "Teman?"

"Iya."

Keira menatapnya dengan tatapan ragu sekaligus heran. Kemudian ia menggeleng pelan.

"Bukannya kamu sendiri yang pernah bilang kalau aku istri yang nggak berguna?" suaranya terdengar getir. "Kamu juga bilang aku nggak pantas bersamamu."

Ia menundukkan pandangan. "Sampai kapan pun, kamu nggak akan pernah menyukaiku."

Arsen terdiam. Wajahnya perlahan berubah serius.

Ia mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya bertanya,

"Keira... kenapa kamu masih terus mengingat perkataan itu?"

"Iya lah! Bahkan perkataan pedih kamu itu masih terekam di otakku!" balas Keira dengan suara yang sedikit meninggi.

Arsen terdiam sejenak, menatapnya dengan mata yang sulit diartikan. Perlahan, ia melangkah maju dan dengan lembut... tapi tegas, menarik tengkuk Keira ke arahnya.

Sebelum Keira sempat bereaksi, bibir Arsen menempel di bibirnya. Keira kaget. Refleksnya memberontak, mendorong dan mencoba lepas, tapi kekuatan Arsen jauh lebih besar.

"Arsen! Lepas!" teriaknya setengah panik, tapi suara itu tercekat karena kejut.

Arsen tetap menatapnya, matanya sedikit lembut di balik ciuman itu, seolah mencoba menyampaikan sesuatu tanpa kata.

Keira berjuang, napasnya tersengal, hati berdebar kencang antara marah, takut, dan bingung. Kamar yang sunyi semakin terasa hangat... dan canggung.

Ini bukan sekadar pertengkaran atau ciuman biasa. Ini sesuatu yang lebih dalam, yang mereka berdua belum siap untuk akui.

....

Rina yang mulai gelisah menoleh ke teman-temannya. "Keira, kenapa belum kembali juga?"

Teman-temannya saling pandang, raut wajah cemas mulai muncul. "Mungkin lama karena... ya, mungkin..." salah seorang mencoba menebak, tapi suaranya ragu.

Rina tak sabar. Ia langsung bangkit dari kasur.

"Aku pergi nyusul ke toilet umum!" katanya cepat.

Beberapa teman lain ikut, langkah mereka tergesa-gesa menuju lorong dan toilet.

Setibanya di sana, mereka menatap sekeliling dengan panik. Toilet kosong. Tidak ada jejak Keira.

Rina menelan ludah, napasnya tersengal.

"Keira... Keira gak ada!" teriaknya panik, suaranya membahana di lorong.

"Dia hilang?!" seru teman yang lain, wajah pucat.

Panik mulai merayap. Beberapa mahasiswa mulai mencari ke arah kamar dan lorong lain, suara langkah kaki bercampur teriakan kecil.

Hanya ada keheningan sesaat... dan rasa takut yang perlahan memenuhi udara. Keira... benar-benar tidak terlihat di mana pun.

"Keira!!! Keira kamu dimana!!"

Kevin yang mendengar itu langsung bergegas menghampiri Rina."Keira kemana?"

"Kami juga gak tau."

Sementara, Di dalam kamar Arsen masih sibuk melumat bibir tipis Keira.

"Hhmmppp...."

.....

Like

Komen

Vote

Love you all

1
Annisa
lanjut Thor!
isd: love you buanyak² buat yang udah dukung author ❤❤
total 1 replies
Chenyu Wang
critanya menggemaskan Thor jadi bapper hihi lanjut sampe tamat ya anda luar biasa
Chenyu Wang: 🙏😍 semangat author luar biasa
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!