Ning sopiah
Aku adalah santri Alumni Pesantren Darunajjah yang sudah lulus S1 Ilmu Tafsir Hadis.
Dulu aku adalah santai yang aktif dan cerdas di pesantren, Kiayi Kholil Pendiri dan Pemilik Pesantren sering menyebut ku ini calon mantu... tapi aku selalu tidak menghiraukan beliau, aku anggap itu candaan.
Empat tahun sudah berlalu setelah aku selesai S1, tiba-tiba aku diminta untuk kembali ke Pesantren.
Aku kaget Kiayi Kholil telah meninggal 3 tahun yang lalu dan di teruskan oleh Anak nya Gus Azam yang aku pun tak pernah bertemu, karena sewaktu aku mondok gus azam kuliah di Kairo Mesir....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisik Pendopo
Jam menunjukkan pukul 23.14 malam.
Darunnajah sudah sepi. Lampu-lampu asrama sudah dimatikan. Hanya suara jangkrik dan suara air kolam di belakang Ndalem yang terdengar. Angin Ciwidey malam ini dingin banget sampai menusuk tulang.
Ning Ummah sudah tidur di Ndalem kecilnya. Tadi sore setelah pulang dari rumah sakit, Ning Ummah tidak banyak bicara. Dia hanya duduk menatap kosong ke arah lemari kitabnya, sesekali mengusap perutnya yang sakit. Ning Latifah yang jagain, memijat kakinya sampai Ning Ummah tertidur karena kelelahan menangis.
Dan sekarang, aku dan Gus Azam duduk berdua di pendopo pesantren.
Pendopo yang biasanya dipakai ngaji kitab kuning, sekarang hanya diterangi satu lampu teplok kuning yang remang-remang. Gus Azam duduk bersandar di tiang kayu besar, pecinya sudah dilepas, rambutnya sedikit berantakan. Wajahnya capek sekali, Meyy. Se-capek-capeknya. Matanya masih merah.
Aku datang membawa nampan kecil, isinya teh jahe hangat dan singkong goreng kesukaan Gus Azam. Aku duduk di sampingnya, tidak terlalu dekat, menjaga adab.
"Gus... minum dulu ya, dari sore belum makan," bisikku.
Gus Azam menatapku, lalu tersenyum tipis. Senyum yang dipaksakan.
"Terima kasih ya Piah. Hari ini kamu kuat sekali. Gus bangga punya Piah."
Kalimat itu malah membuat dadaku sesak. Kuat? Aku tidak kuat sama sekali, Gus. Aku dari tadi menahan rahasia besar di dalam tas ku.
Aku meletakkan nampan itu, tanganku gemetar.
Gus Azam sadar. "Piah kenapa? Kamu gemetar. Kamu sakit juga? Mualmu tadi di rumah sakit Gus lihat, Piah lari ke toilet."
Jantungku berdegup kencang. Ini waktunya.
Aku tidak menjawab. Aku hanya membuka tas kecil yang sejak siang aku peluk terus. Aku keluarkan sebuah tisu yang terlipat rapi. Di dalam tisu itu, ada testpack yang tadi pagi aku pakai.
Aku sodorkan ke Gus Azam dengan tangan yang sangat gemetar, kepalaku tertunduk, tidak berani menatapnya.
Gus Azam mengernyit, mengambilnya dengan dahi berkerut.
"Ini apa Piah?"
Aku masih menunduk, air mataku sudah menetes duluan sebelum aku bicara.
"Gus... lihat..."
Gus Azam membawa testpack itu lebih dekat ke lampu teplok.
Dan...
Aku mendengar nafas Gus Azam tertahan.
Dua garis. Jelas.
Hening.
Hening yang sangat lama. Sampai aku hanya bisa mendengar detak jantungku sendiri dan suara jangkrik.
"Piah..." suara Gus Azam berbisik, pelan sekali, hampir tidak terdengar. "Ini... ini beneran Piah?"
Aku akhirnya mengangkat wajahku, dengan air mata yang sudah banjir.
"Ngih Gus... tadi... tadi pagi di rumah sakit... saat Ning Ummah di dalam... Piah mual... Piah baru sadar Piah telat 1 minggu... Piah cek dan... ada dua garis Gus..."
Gus Azam menatap testpack itu, lalu menatapku, lalu menatap testpack itu lagi.
Tiba-tiba, tubuh kekar Gus Azam yang tadi merunduk lemas karena vonis Ning Ummah, sekarang bergetar.
Bukan getar sedih, tapi getar bahagia yang ditahan.
"Piah hamil? Kamu hamil Piah?" Gus Azam bertanya lagi, memastikan, matanya mulai berkaca-kaca.
Aku mengangguk cepat sambil menangis. "Ngih Gus... Piah hamil... insyaAllah... penerus Darunnajah yang Gus impikan... ada di sini..."
Aku memegang perutku yang masih rata.
Detik itu juga, Gus Azam melakukan sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan.
Gus Azam yang selalu jaim, yang selalu menjaga wibawa di depan santri, langsung menarikku ke dalam pelukannya. Erat sekali.
Aku bisa merasakan tubuh Gus Azam bergetar hebat di pelukanku. Bahunya naik turun.
Gus Azam menangis.
Ya Allah, Gus Azam menangis. Untuk pertama kalinya setelah 2 tahun aku menjadi istrinya, aku melihat Gus Azam menangis terisak seperti anak kecil di pundakku.
"Alhamdulillah... Alhamdulillah ya Allah... terima kasih Piah... terima kasih..." bisik Gus Azam di telingaku, suaranya pecah.
Aku ikut menangis di dalam pelukannya.
"Gus maaf... Piah baru kasih tau sekarang... Piah takut... Piah takut Ning Ummah sedih kalau tau sekarang... di saat Ning Ummah divonis begitu... Piah takut dibilang gak peka..."
Gus Azam melepaskan pelukannya, mengusap air mataku dengan kedua tangannya yang kasar tapi hangat.
"Jangan bilang begitu, Piah. Kamu peka sekali. Justru karena kamu peka, kamu simpan ini seharian. Kamu luar biasa, Piah."
Gus Azam lalu turun dari pendopo, berlutut di depanku yang masih duduk di atas pendopo. Gus Azam meletakkan kepalanya di pangkuanku, di atas perutku yang masih rata itu.
"Piah... boleh Gus dengar?" tanya Gus Azam seperti anak kecil minta izin.
Aku mengangguk sambil mengusap rambut Gus Azam.
Gus Azam menempelkan telinganya di perutku. Lama.
"Assalamualaikum nak... ini Aba... Aba di sini nak... kamu kuat ya di dalam... Aba tunggu kamu..."
Air mataku tumpah lagi. Lebih deras dari tadi.
Di tengah pendopo yang sepi, di tengah malam yang dingin, di tengah badai vonis kanker untuk Ning Ummah, ada sepasang suami istri yang sedang menyambut kehidupan baru dengan air mata bahagia.
Setelah lama berlutut, Gus Azam duduk kembali di sampingku, menggenggam tanganku erat.
"Piah, kamu tau gak... tadi siang Gus merasa dunia Gus runtuh. Saat dokter bilang Ning Ummah stadium 2, Gus merasa jadi suami paling gagal di dunia. Gus gak bisa jaga istri Gus."
Gus Azam menatap langit-langit pendopo, air matanya mengalir.
"Tapi malam ini... Allah kasih Gus jawaban. Allah bilang, 'Zam, kamu jangan menyerah. Aku titipkan satu nyawa baru di rahim istri ketigamu, agar kamu punya kekuatan lagi untuk merawat istri pertamamu.'"
Aku terisak mendengar kalimat itu.
"Jadi hamilnya Piah ini bukan saingan buat Ning Ummah, Piah. Ini adalah kekuatan buat kita semua. Ini adalah hadiah agar Darunnajah tetap punya harapan."
Aku memeluk tangan Gus Azam.
"Gus, kita jangan bilang Ning Ummah dulu ya, sampai operasi Ning Ummah selesai? Piah takut Ning Ummah kepikiran, takut Ning Ummah merasa bersalah..."
Gus Azam mengangguk, mengerti sekali.
"Ngih, kita simpan berdua dulu. Biar ini jadi rahasia kecil kita dan Allah dulu. Nanti kalau Ning Ummah sudah selesai operasi dan sudah lebih kuat, kita kasih tau bareng. Kita bilang, 'Ummah, ada calon santri baru di perut Piah yang butuh doa dari Ummah.'"
Aku tersenyum di tengah tangis. "Iya Gus, calon santri baru..."
Malam itu kami tidak tidur di kamar masing-masing. Kami tidur berdua di pendopo, aku bersandar di tiang, Gus Azam bersandar di sampingku, tangannya tidak lepas dari perutku. Teh jahe sudah dingin, singkong goreng sudah tidak disentuh.
Di Ndalem utama, Ning Ummah sedang berjuang melawan sel kankernya dalam tidur.
Di pendopo, aku dan Gus Azam sedang menjaga nyawa kecil yang baru Allah titipkan.
Dua perjuangan dalam satu atap Darunnajah yang sama.
Dan aku berdoa dalam hati, "Ya Allah, kuatkan Ning Ummah, dan kuatkan juga janin kecil hamba ini. Biar kami bisa saling menguatkan nanti."
Malam itu, Darunnajah tidak hanya berduka. Malam itu Darunnajah juga sedang menumbuhkan harapan baru.
---Bersambung---