NovelToon NovelToon
Ibu Susuan Sang Mafia

Ibu Susuan Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Action
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Suhada Bintan

Di hari kematian putrinya, Arini justru dituduh lalai oleh Bagas dan keluarga mertuanya yang toxic. Sebagai "penebus dosa", ia dipaksa bekerja keras dan dijadikan mesin pencari uang oleh mereka.

Takdir berubah saat Arini bertemu Dikta, seorang mafia kejam yang rela membayar mahal demi mendapatkan ASI eksklusif untuk putra semata wayangnya. Arini pun masuk ke dalam kehidupan Dikta sebagai ibu susuan.

Akankah Arini mampu bertahan di bawah tekanan keluarga Bagas yang terus memanfaatkannya? Dan bagaimana reaksi Dikta—sang mafia berdarah dingin—saat mengetahui wanita yang merawat putranya ternyata sedang dihancurkan oleh suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suhada Bintan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

"Dasar menantu tak berguna! Gara-gara kau, putraku masuk penjara. Dan gara-gara kau juga, aku kehilangan cucu ku. Andai saja waktu itu, Bagas mendengar nasehat ku. Mungkin keluarga kami tidak hancur seperti ini!" maki Salma, Ibu mertuaku yang memang selama ini tidak menyukai kehadiranku.

"Kenapa Ibu selalu menyalahkan aku? Mas Bagas masuk penjara juga karena kesalahannya sendiri. Siapa suruh dia berutang sebanyak itu? Lagipula biaya operasiku tidak sampai sebesar itu," jawabku sambil merapikan tempat tidur. Aku merasa sudah tak sanggup lagi menjalani kehidupan seperti ini. Dua minggu lalu, aku kehilangan putri pertamaku. Tanpa merasa iba sedikit pun, ibu mertuaku justru menyalahkan ku karena lalai menjaganya.

Plak

"Berani kau menjawab perkataanku, hah?! Sepertinya kau ini memang sedang mencari masalah denganku. Sini kau!"

Salma menyeret tubuhku dari kamar menuju dapur. Dia menyirami tubuhku dengan air, lalu menamparku berkali-kali. Aku tidak memedulikan rasa sakit itu. Bagiku, pukulan itu sudah menjadi makanan sehari-hari yang diberikan olehnya. Sampai akhirnya, ia menghentikan gerakannya karena melihat tubuh ku sudah lemah tak berdaya.

"Sekali lagi kau menjawab ucapanku, maka aku takkan segan-segan mengembalikan kau ke neraka itu!"

Mendengar kata 'neraka', aku spontan mendongak. Ketakutanku kembali muncul. Aku tak ingin kembali ke dunia gelap itu—dunia yang telah menghancurkan masa mudaku. Aku langsung bersimpuh dan memegangi kakinya, berharap ada sedikit rasa belas kasihan darinya. "Tolong, jangan kembalikan aku ke sana," lirihku.

Salma tertawa renyah. Sepertinya ia merasa sangat puas melihatku tak berdaya. "Baiklah. Tapi dengan satu syarat!"

"Apa syaratnya?" Aku mengusap air mata, lalu mendongak menatap matanya.

"Kau harus bekerja untukku."

Aku sudah menebak keinginannya. Ia pasti menginginkan uang. Melihat gayanya yang selalu sok berkelas, sudah pasti pikirannya dipenuhi tentang uang. "Baiklah, aku akan menuruti Ibu."

Hari ini aku sudah berpakaian rapi, lengkap dengan hijab pudar yang sering aku gunakan sehari-hari. Salma memperhatikan penampilanku dari atas hingga ke bawah dengan raut puas. "Hah, gitu dong. Hari ini kita akan bertemu dengan seseorang. Beliau bilang ada pekerjaan yang cocok untukmu!"

"Tapi ini pekerjaan halal, kan, Bu?" ceplos ku. Aku takut Salma hanya ingin mengelabui demi keuntungan pribadinya.

"Halal kok, santai saja. Jika kau bekerja, aku pastikan Bagas tidak mendekap di penjara," tuturnya sambil melangkah ke arah pintu. Ternyata, sebuah mobil mewah sudah menunggu di depan rumah. Ada sosok pria berpakaian rapi berdiri di samping pintu mobil tersebut.

"Selamat pagi, Bu Salma."

"Pagi, Pak. Jadi, ini orangnya?"

Salma hanya mengangguk pelan sambil tersenyum. Ia menerobos masuk ke dalam mobil, diikuti olehku. Di sepanjang jalan, aku melihat Salma tak henti berbicara, meskipun Supir itu menjawabnya seolah-olah tidak tertarik membahas obrolannya itu. Hingga akhirnya, mobil berhenti tepat di sebuah penthouse mewah.

Kami bergegas turun dan menuju lift. Sesampainya di unit yang dituju, aku langsung mendengar suara tangisan bayi yang tak berhenti menangis. Di dalam ruangan lain, terlihat sosok pria berbadan tegap yang tampak kebingungan. Wajahnya pucat, seperti orang yang kurang istirahat.

"Pak Dikta, ini wanita yang saya ceritakan kemarin," ucap Billy, supir pribadinya.

Pria bernama Dikta itu menoleh tajam. "Tunggu apa lagi? Cepat lakukan tugasmu!"

Suara Dikta naik setengah oktaf, jelas membuatku ketakutan. Rahangnya mengeras memandangiku. "Kenapa kau malah diam? Ayo!"

"Maksud Anda apa?" tanyaku ragu dan bingung.

Salma menyenggol lenganku dengan keras. "Maksud Pak Dikta, ambil bayi itu dan susui!" bisiknya ketus.

Aku langsung menatap Salma dengan tatapan tidak percaya. "Susui bayi itu? Apa Ibu tak memikirkan perasaanku? Aku baru saja kehilangan bayiku?" bisikku lirih.

"Hei! Aku menyuruh kalian ke sini bukan untuk melihat kalian bicara. Sekarang, susui putraku! Atau kau dan Ibu mertuamu itu membusuk di penjara!" gertak Dikta.

Dengan langkah ragu, aku mendekati boks d bayi mungil itu. Ada getaran hangat yang kurasakan saat menatap wajahnya. Mungkin karena aku sangat merindukan mendiang putriku, "Sayang, jangan menangis lagi, ya..."

Aku mendekap bayi mungil ini di dada, lalu menutupinya dengan hijab agar bagian dadaku tidak terlihat. Aku sangat terkejut karena bayi ini langsung menghisapnya dengan kuat. Seolah-olah ia merindukan cairan ini. Setelah melihatnya tertidur pulas, aku meletakkannya kembali ke boks bayinya. Saat itu juga, bayi ini menolak untuk dilepas. Bayi laki-laki ini bernama Arkan.

Raut wajah Dikta yang tadinya menegang, kini perlahan tenang. Sebuah senyuman tipis muncul saat melihat putranya tertidur pulas dalam dekapanku. Ia langsung memandangiku, lalu beralih menatap Billy. "Serahkan surat kontraknya!"

Billy menyerahkan selembar kertas. Salma yang tadinya sempat ketakutan, kini berubah sumringah. Ia langsung meraih surat itu, lalu menandatanganinya tanpa sedikit pun memberi celah untuk aku membacanya.

"Kenapa Anda terlalu buru-buru? Apa tidak ingin membaca kontrak itu dulu?" tanya Dikta dengan nada menyindir.

"Tak perlu, Pak. Saya sangat percaya dengan Anda," sahutnya tersenyum lebar.

Dikta mengambil kembali surat kontrak yang sudah ditandatangani itu, lalu tersenyum sinis. Sungguh luar biasa wanita di depannya ini. Tanpa tahu isinya, ia langsung menjual menantunya sendiri. Isi kontrak itu dengan jelas menyatakan bahwa wanita yang menyusui harus siap tinggal di sana sampai akhir tugasnya. Jika melanggar, konsekuensi yang harus diterima adalah membayar denda tiga kali lipat dari total pendapatan yang diterimanya.

"Apa Ibu tidak meminta persetujuannya dulu?" tanya Dikta lagi, melirikku sekilas yang menunduk.

"Tidak perlu, Pak. Dia pasti setuju, kok." Salma terus melempar senyum manis, seolah-olah yang dilakukannya saat ini sudah benar.

"Baiklah. Urusan kita sudah selesai. Ibu boleh pergi sekarang. Masalah pembayaran, Ibu tak perlu khawatir. Asistenku yang akan mengurusnya," ucap Dikta, lalu menyerahkan selembar cek senilai tiga puluh juta rupiah kepada Salma sebagai uang muka.

Tanpa memandangi ku lagi, Salma bergegas keluar. Ia benar-benar seperti menjual menantunya sendiri. Tepat kakinya ingin melangkah pergi, dengan cepat aku menahannya. "Ibu, aku mohon. Uang ini tolong digunakan untuk menembus Mas Bagas. Kasihan dia," lirihku.

"Itu urusan gampang." Salma meninggalkan aku yang terdiam melihat kepergiannya. Cairan yang kutahan, luruh saat itu juga.

"Jangan menangis di depan putraku," tegas Dikta. Ia menatap sekilas, lalu pergi melangkah meninggalkan ruangan yang bagiku menyeramkan. Di sini aku diperlakukan bukan bak manusia, melainkan sebuah mesin yang siap menjalankan tugas sesuai perintah pemilik barang.

Hari pertama bersama Arkan. Aku benar-benar dibuat kewalahan. Ia sama sekali tidak ingin melepas dari dekapan hangat dari tubuhku. Aku merasa sesak saat melihat Dikta berada satu ruangan hanya memastikan putranya bisa tertidur pulas. "Maaf, sebelumnya. Bisakah Pak Dikta mencarikan seorang wanita untuk menemani saya di sini. Rasanya tidak enak, jika kita berdua saja. Saya takutnya terjadi fitnah," pinta ku pelan, takut menyinggung perasaannya.

Mendengar permintaan ku barusan. Dikta langsung menoleh kearah ku yang sedang menggendong Arkan. "Kau tak perlu khawatir, aku sudah mempersiapkannya."

Dikta menatap pintu kamar, "Billy, panggil Bi Ina!" teriaknya dari dalam.

Tak menunggu lama, pintu terbuka. Sosok wanita paruh baya berjalan kearah kami, "Maaf, Bapak memanggil saya?"

"Iya. Mulai hari ini, Bibi saya tugaskan untuk menemani Arini di sini. Tolong urus kebutuhannya! Dan ingat, saya tidak mau dia sakit!" tegasnya.

Bi Ina mengangguk cepat. Dia menatapku cukup lama karena melihat penampilanku seperti orang yang sedang sakit parah. Wajahku memang terlihat pucat karena baru dua minggu menjalani masa nifas. "Mari Neng, ikut saya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!