NovelToon NovelToon
Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Sistem
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Luxw

Evelyn Noire terbangun di dalam novel thriller psikologis yang pernah ia baca. Bukan sebagai tokoh utama.

Bukan juga pemeran penting. Melainkan anggota keluarga yang ditakdirkan dibantai dengan sadis oleh seorang psikopat tak tersentuh.

Altair Varellion.

Mahasiswa sempurna di mata dunia. Tampan, cerdas, tenang.

Namun di balik senyumnya, tersembunyi monster yang mengendalikan pembunuhan berantai, perdagangan manusia, dan dendam berdarah yang diwariskan turun-temurun.

Dalam novel asli, Evelyn mati mengenaskan. Dan lebih buruknya lagi, Altair tidak pernah gagal memburu targetnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luxw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Korban

Tak lama kemudian, makanan mereka akhirnya datang. Pelayan meletakkan satu per satu pesanan di meja mereka. Mulai dari pasta creamy milik Celine, sampai rice bowl super besar pesanan Evelyn yang porsinya cukup untuk memberi makan satu keluarga kecil.

Mata Celine langsung membulat. "...Ev."

"Hm?"

"Lo makan sebanyak itu?"

Evelyn membuka sumpit santai. "Trauma miskin."

"Hah?"

"Dulu kalau ada diskon buy one get one gue bisa nangis haru." Celine langsung ngakak kecil sambil menggeleng.

Mereka mulai makan sambil tetap mengobrol santai. Dan di tengah-tengah itu...

Celine baru sadar satu hal.

Sejak tadi Evelyn melepas maskernya untuk makan. Dan sekarang wajah gadis itu terlihat jelas. Kulit putih bersih. Mata cantik yang hidup. Bibir kecil yang natural. Ditambah ekspresinya yang random tiap ngomong. Lucu. Beneran lucu.

Celine tanpa sadar terus menatap Evelyn beberapa detik terlalu lama. Sedangkan Evelyn yang merasa diperhatikan langsung berhenti makan.

Keningnya mengernyit. "..

ngapain lihat-lihat?"

Celine masih bengong. "Lo tuh..."

"Hm?" Evelyn menaikkan satu alisnya sambil makan.

"...cantik juga ya ternyata."

Evelyn langsung menyipitkan mata curiga mendengar ucapan Celine.

"Naksir lo?" ucap Evelyn tiba-tiba.

Celine langsung hampir tersedak minum. “IDIH. Gue masih normal jir!"

Evelyn malah ketawa puas. "Panik banget."

"Soalnya muka lo serius banget tadi!" Celine memegang dada dramatis. "Jantung gue hampir copot."

Namun setelah itu, Celine kembali penasaran. "Tapi serius deh. Kenapa lo pake masker terus? Padahal muka lo bagus."

Evelyn langsung mengangkat bahu santai sambil menyuap makanan. "Mau cosplay jadi culun aja."

"...hah?" Celine.

"Males ribet urusan sama cowok." jawabannya masih sibuk makan.

Celine mengangguk pelan. "Oh..." Masuk akal sih. Karena bahkan dengan penampilan “culun maksimal" begitu saja, Evelyn tetap menarik perhatian orang.

Apalagi kalau tampil full. Namun obrolan mereka tiba-tiba terpotong saat pintu resto terbuka. Dan suasana di dalam ruangan langsung berubah. Beberapa mahasiswi mulai berbisik heboh. Ada yang langsung duduk tegak. Ada yang buru-buru merapikan rambut. Ada juga yang pura-pura main HP sambil ngelirik diam-diam. Celine langsung membelalak heboh.

"ЕН ЕН ЕН." Ia buru-buru menepuk lengan Evelyn.

"Apaan?"

"LIHAT." Celine menunjuk diam-diam ke arah pintu masuk.

Sekelompok cowok sekitar lima orang baru saja masuk ke dalam resto kampus. Dan aura mereka benar-benar... mencolok. Tinggi. Good looking. Pakaian santai tapi rapi. Vibes mahasiswa populer langsung terasa kuat.

"ITU BEM." Bisik Celine penuh semangat seperti fangirl menemukan konser dadakan.

"Yang mana?" evelyn celingak- clinguk.

"Itu." Celine mulai menunjuk satu per satu diam-diam.

"Yang depan itu Adrian Vale." Cowok tinggi dengan wajah tampan tajam dan aura dingin berjalan santai di depan rombongan.

Ekspresinya datar. Dan dari cara orang-orang meliriknya saja, jelas dia memang populer. "Yang sebelahnya Kael Reneth." Tatapan Evelyn langsung berpindah.

Cowok yang satu ini berbeda. Wajahnya lebih hangat. Senyumnya tipis. Dan auranya terlihat jauh lebih ramah dibanding Adrian. Tipe cowok green flag kampus. Namun entah kenapa...

begitu melihat Kael- alis 66 Evelyn sedikit mengernyit. “... kok. Aneh ya."

"Hm?" tanya Celine.

"Enggak..." Evelyn kembali memperhatikan Kael diam-diam. Entah kenapa auranya terasa familiar. Bukan familiar seperti pernah kenal.

Melainkan... seperti sesuatu yang pernah ia lihat. Namun sebelum sempat berpikir lebih jauh-

Celine kembali menunjuk. "Eh itu juga ada kak Devan.”

Dan benar saja. Senior yang tadi mengantar Evelyn ke kelas terlihat berjalan santai sambil mengobrol dengan anggota lain.

Evelyn langsung mengangguk kecil. "Ohh..."

Sedangkan di seluruh resto

para mahasiswi sudah hampir meleleh massal.

"Ya ampun Adrian masuk sini..."

"Kael ganteng banget sumpah..."

"Gue rela jadi proposal BEM."

"Apaan sih?"

Suasana langsung ramai oleh bisik-bisik fangirl.

Sementara Evelyn masih sibuk menilai mereka satu per satu.

Adrian memang dingin.

Tapi masih terlihat normal.

Kael...

nah ini yang bikin Evelyn agak waspada. Karena senyumnya terlalu rapi.

Tatapannya terlalu tenang. Dan entah kenapa instingnya sedikit tidak nyaman. Saat Evelyn sedang memperhatikan diam-diam-tiba-tiba Kael menoleh.

Dan pandangan mereka langsung bertemu.

Deg.

Tubuh Evelyn langsung refleks menegang. Sedangkan Kael terlihat sedikit terdiam beberapa detik sebelum tersenyum kecil sopan. Evelyn langsung panik sendiri dan buru-buru memalingkan wajah.

"ANJIR." Celine langsung menyeringai jahil. "Hemmm..." tampak berpikir.

"Apa.?" ucap Evelyn.

"Kayaknya lo sama si Kael cocok deh." ucap Celine tiba-tiba.

Evelyn langsung menatapnya tidak percaya. "Cocok pala kau."

"Serius!" Celine.

"Enggak lucu." Evelyn.

"Dia tadi lihat lo." celine.

"Karena gue ngelihatin dia duluan!" evelyn.

"Ya berarti ada chemistry." celine.

"Itu mah namanya kontak mata biasa!" evelyn.

Celine tertawa puas melihat Evelyn mulai sewot sendiri.

Sedangkan Evelyn buru-buru minum sambil mencoba mengabaikan rasa aneh di dadanya. Namun tanpa ia sadari... di meja seberang sana-Kael sempat kembali melirik ke arahnya sekali lagi.

*

*

Setelah selesai makan, Evelyn hampir langsung berdiri dari kursinya. "Ayo pulang.”

Celine yang masih menikmati minumannya langsung mengangkat alis.

"Cepet banget?"

"Iya."

"Kenapa?"

Evelyn melirik sekilas ke arah meja para anggota BEM yang masih ramai jadi pusat perhatian satu resto. Entah kenapa... semakin lama berada di sana, dadanya makin tidak nyaman. Bukan karena suasananya. Bukan karena banyak orang. Tapi karena instingnya terasa berisik sejak tadi. Dan di dunia novel psikopat seperti ini, insting aneh adalah sesuatu yang harus didengar.

"Pokoknya pengen cabut aja." ucap evelyn menatap Celine yang masih duduk.

Celine tertawa kecil. "Lo kayak habis lihat mantan."

"Lebih serem." Evelyn.

"Debt collector?" celine

"...psikopat." Evelyn

"Hah?" celine.

"Eh enggak." Evelyn.

Akhirnya mereka keluar dari resto kampus itu. Begitu angin luar menyentuh wajahnya, Evelyn langsung mengembuskan napas lega. "... nah gini kek."

"Lebay banget sih lo," gumam Celine sambil tertawa.

Di perjalanan menuju parkiran, Evelyn baru teringat sesuatu. "Eh, lo pulang gimana?" tanya evelyn.

"Biasanya dijemput."

"Rumah lo daerah mana?"

"Komplek Aurelian Heights."

Evelyn langsung menoleh. "Oh? Itu searah rumah gue."

"Serius?"

"Iya."

Evelyn mengangkat dagunya santai. "Bareng gue aja."

Celine sempat ragu sebentar. "Gapapa?"

"Ya gapapa lah."

"Daripada lo nunggu lama."

Akhirnya Celine mengangguk. "Yaudah deh.”

Namun sesampainya di parkiran-langkah Celine langsung melambat. Matanya berkedip beberapa kali melihat mobil hitam mewah milik Evelyn. Mobil sport elegan yang bahkan auranya saja sudah mahal.

"...Εν."

"Hm?"

"Lo ternyata anak orang kaya juga ya." ucap celine berkedip beberapa kali.

Evelyn santai membuka pintu mobil. ""Juga' apaan?"

"Ya... keluarga gue lumayan berada juga sih." Celine.

"Wih sultan." evelyn.

"Yang lebih sultan mah lo." celine.

Evelyn malah tertawa.

Padahal dirinya sendiri juga belum terbiasa dengan fakta bahwa sekarang ia kaya raya. Bahkan kadang masih refleks lihat harga sebelum beli sesuatu.

Mobil mulai meninggalkan area kampus perlahan. Perjalanan menuju rumah Celine sekitar tiga puluh menit. Dan kalau lanjut ke mansion Danesha, masih tambah lima belas menit lagi. Sepanjang perjalanan, mereka mengobrol santai.

Kadang ngomongin dosen. Kadang ngomongin mahasiswa aneh yang tadi salah masuk kelas. Kadang bahas cowok-cowok ganteng kampus.

"Menurut gue Kael tuh tipe green flag," kata Celine sambil main HP.

Evelyn langsung mendecak. "Belom tentu."

"Hah?" celine.

"Cowok ganteng tuh biasanya problematik.” evelyn.

"Trauma lo keliatan banget." celine.

"Pengalaman hidup." evelyn.

Celine tertawa kecil. Namun beberapa detik kemudian-tawanya perlahan hilang. Matanya membesar menatap layar ponsel. Ekspresinya langsung berubah serius. Evelyn melirik sekilas sambil tetap fokus menyetir. "Kenapa?"

Celine tidak langsung menjawab. Ia membaca teks berita di layar dengan pelan.

"Hari ini ditemukan seorang gadis 18 tahun tewas "Cowok ganteng tuh biasanya problematik.” evelyn.

"Trauma lo keliatan banget." celine.

"Pengalaman hidup." evelyn.

Celine tertawa kecil. Namun beberapa detik kemudian-tawanya perlahan hilang. Matanya membesar menatap layar ponsel. Ekspresinya langsung berubah serius. Evelyn melirik sekilas sambil tetap fokus menyetir. "Kenapa?"

Celine tidak langsung menjawab. Ia membaca teks berita di layar dengan pelan.

"Hari ini ditemukan seorang gadis 18 tahun tewas "Cowok ganteng tuh biasanya problematik.” evelyn.

"Trauma lo keliatan banget." celine.

"Pengalaman hidup." evelyn.

Celine tertawa kecil. Namun beberapa detik kemudian-tawanya perlahan hilang. Matanya membesar menatap layar ponsel. Ekspresinya langsung berubah serius. Evelyn melirik sekilas sambil tetap fokus menyetir. "Kenapa?"

Celine tidak langsung menjawab. Ia membaca teks berita di layar dengan pelan.

"Hari ini ditemukan seorang gadis 18 tahun tewas

"Cowok ganteng tuh biasanya problematik.” evelyn.

"Trauma lo keliatan banget." celine.

"Pengalaman hidup." evelyn.

Celine tertawa kecil. Namun beberapa detik kemudian-tawanya perlahan hilang. Matanya membesar menatap layar ponsel. Ekspresinya langsung berubah serius. Evelyn melirik sekilas sambil tetap fokus menyetir. "Kenapa?"

Celine tidak langsung menjawab. Ia membaca teks berita di layar dengan pelan.

"Hari ini ditemukan seorang gadis 18 tahun tewas mengenaskan...”

Baru kalimat pertama-dada Evelyn langsung terasa sesak. Tangannya refleks mencengkeram setir lebih kuat.

"...terus..."

Suaranya lebih pelan dari sebelumnya. Celine menelan ludah kecil sebelum membaca lagi. "Korban ditemukan di kawasan perumahan Silvera Crown...diduga terjebak di lift rumah pribadi selama semalaman setelah sistem listrik mati mendadak....korban kehabisan oksigen sebelum ditemukan pagi tadi."

Deg.

Wajah Evelyn perlahan memucat.

Silvera Crown.

Itu... tidak jauh dari kawasan mansion Danesha.

"Beneran?" tanyanya cepat.

Celine langsung menunjukkan layar ponselnya.

"Ini masih breaking news. Tapi udah banyak yang repost."

Evelyn membaca berita itu cepat. Dan semakin ia membaca semakin dingin tubuhnya. Lift mati mendadak. Rumah mewah. Korban perempuan. Meninggal perlahan. Otak Evelyn langsung teringat satu hal. Malam kemarin. Kurir makanan. Tatapan dingin itu. Dan fakta bahwa pria itu muncul tepat sebelum berita kematian baru muncul.

Celine masih berbicara tanpa sadar kalau teman di sampingnya mulai panik. "Gue heran deh akhir-akhir ini banyak banget kejadian orang meninggal aneh."

"Iya..." jawab evelyn pelan.

"Padahal Silvera Crown itu komplek elite." Celine berpikir sejenak. "Masa iya lupa bayar listrik sampai lift mati? Rumah orang kaya biasanya ada genset juga kan?"

Evelyn tidak menjawab. Karena ia tahu. Ini bukan kecelakaan. Tidak mungkin. Dalam novel Target of The Hidden Butcher... Altair sering membunuh dengan cara seperti ini.

Tidak selalu menusuk. Tidak selalu brutal. Kadang justru dibuat seperti musibah biasa. Tapi semuanya dirancang. Rapi. Dan membuat itu mengerikan.

"Ev?" Suara Celine membuatnya tersadar, nenatap evelyn yang tampak sedikit melamun.

"Hm?" jawabannya menoleh sebentar ke arah celine kemudian fokus lagi ke depan.

"Lo pucet banget."

"...enggak kok."

"Serius, muka lo kayak habis lihat nilai ujian."

Evelyn tertawa kecil kaku. "Hehe... Cuma kepikiran aja."

Namun sebenarnya-kepalanya mulai dipenuhi kemungkinan buruk. Kalau berita itu benar ulah Altair... berarti alur novel mulai bergerak lagi. Dan semakin banyak korban muncul...

semakin dekat pula keluarga Danesha menuju kehancuran.

Mobil terus melaju membelah jalan kota sore itu. Lampu-lampu mulai menyala satu per satu. Langit perlahan menggelap. Dan entah kenapa-untuk pertama kalinya sejak datang ke dunia ini, Evelyn benar-benar merasa takut.

1
Shela Pereira
😍😍😭😍😭😭👍💪
Luxw: trimakasih kabsudah menyempatkan waktu untuk mendukung karya kami🙏😄
total 1 replies
Shela Pereira
selalu ada bagian yang terulan teruuuus kadang sampai tiga kali sama 2 kakiiii
Luxw: Terima kasih banyak sudah membaca novel ini. Kami minta maaf karena cerita dalam novel ini banyak pengulangan cerita, Hal itu terjadi karena ada masalah teknis pada perangkat atau laptop yang kami pakai saat menulis.
total 1 replies
Shela Pereira
kaaak tolong cerita nya jangan di ulangggg terrrrus


curang tauuu😒😒
Luxw: Hai ka! Terima kasih banyak atas masukannya yang luar biasa. Komentar kamu tentang cerita yang berulang sangat membantu kami melihat kekurangan yang ada untuk segera diperbaiki. Kami sangat berterima kasih atas pembaca seperti kamu yang peduli pada perkembangan cerita kami."
total 1 replies
Shela Pereira
kenapa kata² nya ulang²😒
Luxw: maaf ka, kami akan segera memperbaiki kesalahan kami agar kaka bisa lanjut menikmati karya kami dengan nyaman🙏
total 1 replies
Nana Nana
cerita baru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!