NovelToon NovelToon
Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: theonlywaaannn_

Kiara cuma punya satu impian di sekolah barunya: lulus dengan tenang tanpa drama.

​Sayangnya, takdir malah melemparnya tepat ke lingkaran kehidupan Khafi Mahendra—cowok paling jahil, menyebalkan, dan susah ditebak di SMA Cahaya Permata.

​Dua kepala batu. Dua pendirian kuat. Satu hubungan tanpa komitmen yang dipenuhi provokasi. Ketika benci menjadi satu-satunya bahasa yang mereka pahami, seberapa jauh mereka bisa saling menghindar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon theonlywaaannn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 : Mode Serius di Pojok Perpus

    ​Suara bel pulang sekolah pukul tiga sore bergema ke seluruh penjuru area SMA. Koridor lantai dua yang tadinya padat merayap perlahan-lahan melengang seiring berhamburannya para siswa menuju gerbang depan atau ruangan eskul masing-masing. Namun, beda halnya dengan deretan meja kayu di pojok kanan perpustakaan sekolah yang super sepi, cuma berhiaskan uap pendingin udara yang berembun tipis dan deretan rak buku tebal.

​Kiara sudah duduk manis meluruskan kakinya di bawah meja. Layar laptopnya sudah menyala, menampilkan dokumen kosong Microsoft Word yang kursirnya berkedip-kedip menanti diketik. Di samping laptop, tumbler miliknya sudah miring—menandakan isinya sudah habis tak bersisa.

​Suara gesekan sepatu kets memecah keheningan. Khafi melangkah menghampiri meja dengan santai, tas ranselnya disangkutkan di sebelah bahu. Ia menarik kursi kayu di seberang Kiara tanpa bersuara, lalu menjatuhkan tubuhnya begitu saja.

​"Lama amat lo datangnya. Gue kira kabur duluan," cetus Kiara mendelik tipis, menyapa dengan nada ketusnya yang khas.

​Khafi melirik jam tangan hitam di pergelangan tangannya. "Gue dari loker, ngambil buku catatan Bahasa Indonesia. Baru lewat lima menit dari bel, Kuntil. Nggak usah lebay."

​"Gue kan males kalau nunggu lama-lama," gumam Kiara pelan, jemarinya mulai mengetikkan judul dokumen di laptop.

​Khafi tidak melayani omelan itu lebih jauh. Ia merogoh kantong plastik putih berlogo minimarket terdekat dari tasnya, lalu meletakkannya begitu saja di tengah meja, pas di dekat siku Kiara. Di dalamnya ada dua botol air mineral ukuran sedang—satu suhu ruangan, satu lagi dingin dari kulkas—plus satu kemasan tisu kering ukuran sedang.

​"Nih," gumam Khafi pendek, nadanya datar seolah cuma sedang menyingkirkan sampah dari tasnya.

​Kiara menghentikan ketikannya, menatap kantong plastik itu curiga. "Apaan nih?"

​"Batu es buat ngompres jidat lo," sahut Khafi asal. "Air lah." cetusnya melanjutkan.

​Kiara berdecak pelan, tapi matanya tidak bisa menutupi rasa terkejutnya. "Dih, mulut lo! Lagian ngapain beliin air dua segala?"

​"Yang dingin punya gue. Yang biasa punya lo, biar hidung lo nggak mampet lagi," balas Khafi santai sambil membuka botol air dinginnya sendiri dan meminumnya seteguk. "Air biasa doang, nggak usah bikin muka serasa gue kasih air zamzam."

​Kiara mendengus pelan, tapi tangannya terulur juga meraih botol air suhu ruangan itu. "Ya, makasih... walau ngomongnya tetep nggak enak didengar."

​"Sama-sama. Sekarang buruan milih mosi," potong Khafi mengalihkan pembicaraan, menyandarkan punggungnya ke kursi kayu sambil membentangkan lembaran kertas catatannya. "Bu Iis kan minta naskah debat utuh. Kita mau pakai tema apa? Jangan yang berat-berat kayak politik internasional, otak lo nggak bakal sampai."

​"Heh, Khafi! Muka gue kelihatan se-dungu itu apa di mata lo?" semprot Kiara setengah berbisik ingat tempat. "Gue juga tau kali! Anak SMA mah paling yang relevan aja. Kayak... dampak penggunaan HP di jam pelajaran? Atau efektivitas sistem kurikulum baru?"

​Khafi mengetuk-ngetuk pulpennya ke dagu, matanya menatap layar laptop Kiara. "Basi. Itu mah anak kelas sepuluh juga sering bikin. Yang rada beda dikit napa."

​"Ya terus apa dong?! Lo ada ide nggak? Jangan cuma bisanya mengkritik doang!" cetus Kiara gemas.

​Khafi memajukan posisi duduknya, bersedekap di atas meja kayu. "Gimana kalau mosinya: 'Penggunaan gengsi dalam komunikasi antar individu lebih banyak membawa dampak negatif ketimbang manfaat'?"

​Kiara yang sedang memegang botol air langsung membeku seketika. Matanya mengerjap beberapa kali menatap Khafi yang mukanya lempeng tanpa dosa.

​"Mosi apaan tuh?! Ngaco banget!" seru Kiara dengan muka agak merona. "Mana ada materi debat Bahasa Indonesia bahas gengsi-gengsian?!"

​"Lho, relevan kan?" sahut Khafi santai, sudut bibirnya terangkat tipis memancing emosi. "Siswa SMA kan rata-rata korban gengsi. Mau ngomong makasih aja nunggu ditagih, mau ngomong perhatian aja harus pakai alibi marah-marah. Sesuai fakta kan?"

​Kiara menatap Khafi tajam seraya menghembuskan napasnya kasar. "Lo... lagi nyindir diri sendiri?"

​"Gue bilang 'siswa SMA', kok jadi gue yang merasa?" balas Khafi cuek dengan gaya poker face paling menyebalkan. "Kenapa? Lo juga kesindir ya?"

​"Nggak! Siapa juga yang tersindir!" semprot Kiara. "Lagian mosi kayak gitu susah dicariin jurnal dukungnya! Pokoknya ganti. Kita pakai mosi yang normal aja: 'Penerapan Sistem Zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru'. Titik! Nggak ada bantahan!"

​Khafi tertawa pelan, suara tawa tipis yang cuma terdengar di meja mereka. "Ya udah, zonasi. Gitu aja emosi. Cepat ketik."

​Kiara memanyunkan bibirnya sambil menatap layar laptop, jemarinya bergerak lincah mengetik judul mosi. "Gue bagian Oposisi ya, yang kontra sama zonasi. Lo yang Afirmasi, yang setuju."

​​"Oke. Tapi poin-poin contoh kasusnya cari di buku referensi indonesia di rak belakang sana deh, biar datanya valid," ujar Khafi sambil menunjuk ke arah barisan rak tinggi di pojok kanan.

​Kiara mengangguk, berdiri dari kursinya diikuti oleh Khafi. Mereka berdua melangkah menyusuri lorong antar rak yang agak temaram dan sepi. Bau khas kertas tua dan hembusan udara dingin menyambut mereka di lorong rak itu.

​"Yang mana bukunya?" gumam Kiara memindai deretan jilid tebal di rak setinggi dadanya.

​"Sampul biru tua, terbitan Kemendikbud kalau nggak salah," jawab Khafi berdiri tepat di samping kiri Kiara

​Saat mata mereka sama-sama menyapu deretan jilid, perhatian mereka mendadak tertuju pada satu buku bersampul biru tua yang terselip di rak tingkat tiga.

​Refleks, tangan Kiara dan tangan Khafi terulur di saat yang bersamaan untuk meraih punggung buku itu.

​Deg.

​Jemari panjang dan hangat milik Khafi mendadak mendarat pas di atas punggung tangan Kiara yang dingin. Kulit mereka bersentuhan langsung di tengah keheningan lorong rak.

​Kiara mendadak menahan napasnya. Sensasi hangat dari sentuhan itu menjalar seperti aliran listrik kecil yang langsung bikin dadanya berdesir hebat. Refleks, Kiara menolehkan kepalanya ke kiri—dan di saat yang bersamaan, Khafi juga sedang menunduk menatapnya.

​Jarak wajah mereka cuma tersisa belasan senti.

​Di remang-remang lorong rak buku, Kiara bisa melihat pantulan dirinya di manik mata hitam milik Khafi yang tatapannya mendadak mengunci matanya. Tak ada raut ejekan, tak ada senyum tengil. Khafi cuma diam menatap lurus ke dalam iris mata Kiara selama beberapa detik yang terasa berjalan begitu lambat. Helaan napas teratur milik Khafi bahkan menyapu halus pelipis Kiara, membuat jantung cewek itu berdegup kencang secara brutal sampai rasanya mau melompat keluar.

​Tuhan... tolong, jangan sampai dia dengar suara detak jantung gue, batin Kiara nelangsa, tenggorokannya mendadak mengering total.

​Khafi tidak langsung menarik tangannya. Ibu jarinya justru sempat mengelus punggung tangan Kiara secara sangat pelan—sebuah gerakan refleks tanpa sadar yang sanggup meluluhlantakkan seluruh pertahanan yang dibangun Kiara seharian ini.

​"Ehem..." Khafi akhirnya berdeham pelan, memutus tatapan mereka lebih dulu sambil pelan-pelan menarik tangannya kembali ke dalam saku celana. "Lo... lo aja yang ambil bukunya."

​"E-eh... iya," sahut Kiara gugup setengah mati, buru-buru menarik buku itu dengan jemari yang agak gemetar, berusaha keras menyembunyikan pipinya yang sudah merona merah padam.

​Mereka kembali ke meja dengan canggung yang luar biasa tebal. Kiara langsung memfokuskan matanya ke layar laptop tanpa berani melirik Khafi sama sekali.

​Suasana perpustakaan kembali hening selama beberapa menit. Cuma ada suara dentikan tombol laptop Kiara dan usakan kertas dari buku yang dibuka Khafi. Cahaya sore dari luar jendela kaca menimpa separuh meja mereka, menciptakan bayangan hangat di antara keduanya.

​Hatchiiim!

​Kiara mendadak bersin lumayan kencang, refleks menutupi mulutnya dengan siku. Hidungnya yang baru sembuh dari kemping kemarin mendadak gatal lagi terkena hembusan AC perpus yang langsung mengarah ke meja mereka.

​Khafi yang sedang membaca langsung menghentikan kegiatannya. Ia melirik Kiara yang sibuk menggosok-gosok hidungnya sampai kemerahan.

​"Tuh kan. Baru juga kena AC dikit udah bersin," celetuk Khafi, tangannya tanpa menyuruh langsung merobek dua lembar tisu kering dari bungkus yang dibelinya tadi, lalu menyodorkannya ke depan muka Kiara. "Nih. Lap dulu. Bikin kaget se-perpus aja lo."

​Kiara mengambil tisu itu dengan raut cemberut. "Gue refleks ya! Namanya juga hidung sensitif!"

​"Sensitif banget kayak perasaan lo," gumam Khafi pelan.

​"Khafi! Gue dengar ya!" omel Kiara sambil menyedot hidungnya dengan tisu.

​"Dengar ya bagus, berarti telinga lo nggak mampet," sahut Khafi tanpa rasa bersalah. Ia lalu berdiri dari kursinya, berjalan dua langkah ke arah tombol AC di dinding dekat rak buku, lalu mematikan perputarannya agar angin dingin tidak langsung menyembur ke arah meja mereka.

​Kiara memperhatikan punggung Khafi yang berjalan kembali ke meja. Ada desiran hangat yang perlahan merayap di dadanya, membakar benteng pertahanan yang setengah mati dibangunya seharian ini.

Gimana gue nggak oleng coba, kalau mulutnya kayak racun tapi kelakuannya kayak begini? batin Kiara nelangsa.

​Khafi duduk kembali, tidak membahas soal AC tadi sama sekali. Ia menyodorkan lembaran kertas catatannya ke dekat laptop Kiara. "Nih, poin Afirmasi punya gue. Poin pertamanya: Zonasi pemerataan kualitas sekolah. Poin keduanya: Menghemat biaya transportasi siswa. Lo ketik sesuai poin itu."

​Kiara menarik kertas itu, membaca tulisan tangan Khafi yang rapi meski agak tegak bersambung. "Oke... Terus poin Oposisi dari gue: Fasilitas sekolah belum merata, jadi zonasi merugikan siswa berprestasi yang rumahnya jauh dari sekolah favorit. Bener kan?"

​"Bisa. Tambahin poin keduanya: Membatasi hak siswa buat memilih sekolah sesuai minat," timpal Khafi menambahkan.

​"Nah, bener! Tumben otak lo encer," puji Kiara refleks, matanya masih menatap layar.

​"Otak gue emang encer dari lahir, lo aja yang baru sadar," sahut Khafi percaya diri.

​Kiara hanya mendengus, melanjutkan mengetik susunan paragraf pembuka. Di saat mereka berdua sedang fokus menatap layar laptop, langkah kaki tegap terdengar mendekat dari arah lorong rak buku olahraga.

Dua orang cowok tinggi berkaus tim basket sekolah melangkah masuk sambil menahan tawa. Raka dan Bagas—anggota eskul basket—melongokkan kepala dari balik dinding rak.

​"Anjir, beneran dong!" bisik Raka setengah teriak sambil menunjuk ke arah meja pojok. "Si Pandu sama Ferdi kagak bohong! Kapten kita beneran lagi ngerjain tugas di perpus!"

​Bagas menepuk jidatnya heboh. "Demi apa Kapten Khafi jadi anak ambis perpus?! Biasanya kalau diajak ke sini kayak disuruh masuk kandang macan!"

​Khafi menghela napas berat melihat kedua anggotanya mendekat, Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menatap dengan raut malas dan tatapan membunuh. "Ngapain lu berdua ke sini?"

​Raka tertawa pelan, menghampiri meja Khafi tanpa dosa. "Penasaran aja, Khaf. Tadi si Pandu ceplos-ceplos di grup katanya Kapten Basket kita lagi mode anak teladan. Ternyata... ngerjain tugas bareng Mbak Kiara."

​Kiara yang mendadak disapa langsung menegakkan tubuhnya, tersenyum canggung setengah mati.

​"Berisik lo, Ka," potong Khafi datar, suaranya mengandung nada peringatan terselubung. "Anak-anak lain udah pada di lapangan?"

​"Udah tuh, lagi pada pemanasan buat sparing antarkelas ntar sore," jawab Bagas menahan tawa. "Lo mau nyusul nggak, Khaf?"

​"Nanti, kalau tugas gue udah beres," balas Khafi singkat. ​"Sana lu berdua keluar sebelum gue gantung di tiang ring," lanjutnya dengan nada mengancam tapi datar.

Raka tertawa pelan sambil mengangkat kedua tangannya menyerah. "Iya, iya, ampun Si Paling Rajin."

"Ya udah deh, kagak berani ganggu Kapten yang lagi 'fokus'. Mbak Kiara, titip kapten galak kita ya!"

​"I-iya..." sahut Kiara pelan cuma bisa tersenyum canggung, tangannya meremas ujung rok seragamnya di bawah meja.

​Raka dan Bagas langsung ngacir keluar perpus sambil tertawa-tawa. Suasana di meja pojok itu kembali hening total.

​Begitu dua anak basket itu berjalan menjauh menuju pintu keluar perpus sambil tertawa-tawa pelan, suasana di meja pojok itu mendadak hening total. Rasa canggung yang tadi sempat mencair mendadak mengental kembali.

​Kiara berdeham pelan, mencoba memecahkan kecanggungan. "Emm... Khaf."

​"Apa?" sahut Khafi tanpa melihat Kiara, tangannya sibuk memutar-mutar pulpen di meja.

​"Kalau lo mau nyusul mereka main basket, pergi aja nggak apa-apa kok," ujar Kiara pelan, memasang raut muka sesantai mungkin. "Poin-poinnya kan udah ada semua. Sisa ketikannya bisa gue lanjutin di rumah nanti."

​Khafi menghentikan putaran pulpennya. Ia mendongak, menatap mata Kiara lurus-lurus. Tatapan matanya yang tajam dan dalam selalu berhasil bikin jantung Kiara maraton tanpa alasan.

​"Gue udah dibilang Bu Iis kerjanya berdua, ya berdua," kata Khafi tegas namun pelan. "Ngapain gue ninggalin lo sendirian ngetik di perpus yang mau tutup? Biar lo bisa ngomel-ngomel lagi di kelas besok?"

​"Gue nggak bakal ngomel!" tangkis Kiara gengsi.

​"Gue gak percaya," sahut Khafi cuek, menarik kembali posisi laptop ke tengah-tengah mereka. "Udah, cepat ketik bagian kesimpulannya. Habis ini gue anterin turun ke bawah, mobil jemputan lo udah ada belum?"

​Kiara tertegun sejenak. "Mang Ujang katanya udah nunggu di depan gerbang dari sepuluh menit yang lalu..."

​"Ya udah, beresin. Biar nggak kelamaan," cetus Khafi mulai menutup buku paketnya.

​Kiara buru-buru menekan tombol save di Word, melipat layar laptopnya, dan memasukkan alat tulisnya ke dalam tas. Seluruh gerakan tangannya dilakukan dengan agak gemetar gara-gara perhatian-perhatian kecil yang dilemparkan Khafi tanpa beban sama sekali.

​Saat mereka berdua berjalan beriringan menyusuri koridor sekolah yang makin sepi menuju lantai dasar, jarak di antara mereka cuma tersisa beberapa senti. Khafi berjalan di sisi luar—posisi refleks seorang cowok saat berjalan di koridor—sementara Kiara memeluk laptopnya di dada.

​"Khafi," panggil Kiara pelan saat mereka mendekati gerbang sekolah.

​"Apa lagi, Ara?"

​"Air minum sama tisunya... makasih ya," gumam Kiara pelan, pandangannya lurus ke depan menatap mobil hitam keluarganya yang terparkir di pinggir jalan.

​Khafi tidak menoleh, tapi tangan kanannya masuk ke saku celana abu-abunya dengan santai.

​"Sama-sama. Jangan lupa diminum obatnya kalau masih serak," sahut Khafi pelan, senyum tipis yang sangat tipis terukir di bibirnya saat melihat Kiara berjalan masuk ke dalam mobil.

​Di dalam mobil yang mulai melaju, Kiara menyenderkan kepalanya ke kaca jendela, memegangi dadanya yang masih berdebar kencang. Hari itu, di pojok perpustakaan yang dingin, pertahanan gengsi Kiara resmi dinyatakan jebol sepenuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!