NovelToon NovelToon
Terlalu Tinggi Untuk Kamu Gapai

Terlalu Tinggi Untuk Kamu Gapai

Status: tamat
Genre:CEO / Balas Dendam / Cintapertama / Tamat
Popularitas:963
Nilai: 5
Nama Author: Kacang atoom

Seorang pelayan yang dihina dan dikhianati bangkit sebagai CEO konglomerat misterius demi membalas dendam, namun takdir penyesalan dan pengorbanan mengubah rasa benci tersebut menjadi perjuangan cinta sejati yang mendewasakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang atoom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Penyesalan yang Terlambat

​Jarum jam dinding digital di sudut lantai 50 Menara Adhitama telah melewati angka delapan malam. Suasana kantor eksekutif yang tadinya sibuk kini perlahan sunyi. Sebagian besar staf dan sekretaris senior telah merapikan meja mereka dan pulang ke rumah masing-masing, menyisakan keheningan yang pekat dan dingin. Hanya deru halus sistem pendingin udara yang terdengar mengalun, menemani keremangan cahaya lampu yang mulai diredupkan secara otomatis.

​Siska masih duduk mematung di balik meja kerja khususnya. Posisinya sengaja ditempatkan beberapa meter di luar ruangan utama CEO—sebuah tempat yang memberi jarak tegas antara seorang atasan dan asistennya. Jemari tangannya yang masih terbalut perban tipis bertengger di atas keyboard komputer, namun layar monitor di depannya hanya menampilkan dokumen laporan keuangan bulanan yang belum selesai dibaca.

​Matanya menatap kosong ke arah pintu kaca tebal ruang kerja Rendy yang tertutup rapat. Ruangan di dalam sana sudah gelap sejak satu jam yang lalu; Rendy telah pergi meninggalkan gedung bersama Clara untuk menghadiri jamuan makan malam bisnis VIP, tanpa mengucapkan sepatah kata pun padanya sebelum berangkat.

​Siska menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, memejamkan mata rapat-rapat saat rasa lelah yang luar biasa menghantam fisik dan batinnya. Dalam kegelapan dan kesunyian itu, ingatan masa lalu yang paling ingin ia lupakan namun sekaligus paling ia rindukan, mendadak membanjiri pikirannya bagaikan air bah.

​Ingatannya melayang jauh ke sepuluh tahun lalu, saat mereka masih mengenakan seragam

putih-abu-abu di bangku SMA.

​Kala itu, Siska terserang demam tinggi di tengah badai hujan deras yang mengguyur kota. Rumahnya yang jauh dan fasilitas transportasi yang terbatas membuat teman-temannya enggan membantu.

Namun Rendy—pria polos yang saat itu tidak memiliki harta, mobil mewah, atau pakaian bermerek—langsung panik saat mendengar kabar Siska sakit. Rendy tidak ragu berlari menembus derasnya hujan, menerjang banjir setinggi lutut, dan berjalan kaki sejauh tiga kilometer hanya untuk mendatangi apotek yang masih buka.

​Siska masih ingat betul bagaimana Rendy berdiri di depan teras rumahnya malam itu. Tubuhnya basah kuyup, menggigil hebat dengan bibir kebiruan akibat terpaan angin malam yang dingin. Namun di balik wajahnya yang pucat, Rendy tersenyum lega sambil menyerahkan sebuah kantong plastik kecil berisi obat demam dan bubur hangat yang ia lindungi dengan jaketnya sendiri agar tidak terpercik air hujan.

​"Yang penting kamu cepat sembuh, Sis. Jangan khawatirkan aku," ucap Rendy kala itu, suaranya tulus tanpa sedikit pun kepura-puraan.

​Dulu, ketulusan dan pengorbanan Rendy yang begitu besar terasa sangat biasa bagi Siska. Ia bahkan menganggapnya sebagai sesuatu yang sudah seharusnya ia dapatkan. Kesombongan, gengsi, dan silau akan harta Danang telah membutakan hatinya, hingga dengan kejam ia menginjak-injak perasaan tulus Rendy, meninggalkannya begitu saja saat pria itu berada di titik terendah dalam hidupnya.

​Siska membuka matanya kembali. Air mata penyesalan yang membakar pelupuk matanya akhirnya meluncur deras, membasahi pipinya yang pucat. Ia menatap telapak tangannya yang lecet dan perban di pergelangan tangannya. Pria yang dulu rela mengorbankan segalanya demi dirinya, kini telah berubah menjadi sosok yang begitu dingin, berjarak, dan tak terjangkau. Dan yang paling menyakitkan dari semua itu adalah kenyataan bahwa dialah sendiri yang telah menciptakan monster es dalam diri Rendy.

​"Aku yang menghancurkan hatinya... Aku yang membuat Rendy yang hangat itu mati," bisik Siska dengan suara yang sangat serak dan pecah di dalam ruangan yang hampa.

​Namun, di tengah keputusasaan dan rasa bersalah yang amat dalam, sebuah titik terang perlahan membakar sanubarinya. Siska menyapu air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan. Ia berdiri dari kursinya, menegakkan bahunya, dan menatap lurus ke arah meja kerja Rendy.

​Ia sadar bahwa meminta maaf seribu kali tidak akan pernah cukup untuk menyembuhkan luka tiga tahun lalu. Ia juga tahu bahwa Rendy mungkin tidak akan pernah mencintainya lagi seperti dulu. Namun, Siska menolak untuk terus menjadi wanita lemah, sombong, dan tak berguna yang pernah dihina oleh semua orang.

​Dengan jemari yang kini mengepal erat, Siska merapikan berkas-berkas di mejanya dan bertekad di dalam hati. Ia akan bertahan di Menara Adhitama. Ia akan membuktikan melalui tindakan nyata, pengorbanan, dan kerja kerasnya bahwa Siska yang dulu serakah dan jahat telah benar-benar mati—meskipun ia harus menanggung dinginnya tatapan Rendy setiap hari sebagai harga yang harus ia bayar atas penyesalannya. obat saat sakit.

​Transisi/Cliffhanger: Siska bertekad untuk menunjukkan pada Rendy bahwa ia telah benar-benar berubah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!