Satu keputusan membawa Elara masuk ke keluarga Halvar. Gadis yang ditemukan di sebuah desa mati itu tidak banyak bicara. Ia hanya tahu bahwa dirinya kini memiliki rumah, keluarga, dan kehidupan yang jauh berbeda dari sebelumnya.
Namun, sejak Elara datang, sesuatu mulai terasa tidak biasa. Gadis itu terkadang mengatakan sesuatu sebelum hal itu terjadi, menghilang tanpa jejak lalu muncul tiba-tiba. Dan seolah mengetahui rahasia yang bahkan belum pernah diceritakan.
Semakin keluarga Halvar mengenalnya, semakin mereka menyadari satu hal… gadis yang mereka bawa pulang mungkin bukanlah gadis biasa.
Lalu, siapa Elara sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eidolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Ruangan bernuansa gelap itu kembali sunyi setelah anak buah Adrian selesai menyampaikan laporan.
Map berisi hasil penyelidikan tentang Elara masih terbuka di atas meja. Beberapa foto gadis itu terlihat di antara lembaran laporan yang tersusun rapi.
Adrian tidak langsung berkata apa-apa.
Ia hanya menatap salah satu foto tersebut selama beberapa saat, sebelum akhirnya menutup map itu perlahan.
Jemarinya kemudian mengetuk permukaan meja. Pelan... Namun dapat membuat atmosfer sekitar terasa mencekam.
Beberapa detik berlalu tanpa seorang pun berani membuka suara.
“Tuan...” panggil pria berjas hitam yang berdiri tidak jauh dari meja kerja dengan hati-hati.
“Apa perlu kita menyelidiki gadis itu lebih jauh?”
Adrian mengangkat pandangannya. “Untuk apa?”
Pria itu terlihat ragu. “Karena... Sejak gadis itu datang, beberapa rencana kita selalu berakhir di luar dugaan.”
Adrian menggeleng pelan. “Itu bukan alasan.”
“Tapi, Tuan—”
“Kalau setiap kegagalan kita selalu menyalahkan seorang gadis,” potong Adrian dengan suara tenang, “berarti kemampuan kalian tidak lebih baik darinya.”
Pria itu langsung menundukkan kepala. “Maaf, Tuan.”
Suara kursi berderit pelan saat Adrian berdiri.
Ia berjalan mendekati jendela besar di belakang meja kerjanya. Dari sana, hamparan gedung-gedung terlihat memenuhi kota.
“Prioritas kita tidak pernah berubah.” Suara Adrian terdengar tenang, tetapi tegas.
“Halvar Group dan keluarga Halvar.”
Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
“Selama keduanya masih berdiri... tujuan kita belum selesai.”
Pria berjas hitam itu mengangguk mantap. “Lalu bagaimana dengan Elara, Tuan?”
Adrian kembali terdiam. Beberapa saat kemudian, ia menoleh.
“Biarkan saja.”
“Tapi—”
“Satu orang tidak akan mengubah apa pun.”
Adrian berjalan kembali menuju meja kerjanya, tenang namun langkahnya terlihat pasti.
“Yang membuat Halvar kuat bukan seorang gadis...” Ia berhenti sejenak. “Melainkan keluarga itu sendiri.”
Sorot matanya perlahan berubah dingin. “Dan keluarga selalu memiliki celah.”
Ruangan kembali dipenuhi keheningan.
Adrian membuka salah satu laci mejanya. Sebuah seringai tipis muncul di wajahnya saat ia mengambil sebuah map dari dalamnya.
“Siapkan rencana berikutnya.”
“Baik, Tuan.”
“Targetnya...”
Adrian meletakkan map tersebut di atas meja.
Di bagian depannya tertulis nama salah satu perusahaan yang merupakan anak perusahaan Halvar Group.
“Kalau mereka berhasil menutup satu lubang...” Adrian menatap nama perusahaan itu. “Maka kita buat lubang yang lain.”
Anak buahnya membungkukkan badan. “Baik, Tuan.”
Pria itu kemudian berbalik dan meninggalkan ruangan.
Setelah pintu tertutup, ruangan kembali sunyi.
Adrian tidak segera bergerak. Tatapannya masih tertuju pada map yang bertuliskan Halvar Group.
Beberapa saat kemudian, ia membuka laci paling bawah.
Di dalamnya tersimpan sebuah foto lama yang mulai dimakan usia.
Adrian mengambil foto itu perlahan.
Tatapannya berhenti cukup lama pada gambar tersebut. Jemarinya bahkan sempat mengusap salah satu sudut foto yang telah terlipat.
“Sudah terlalu lama...” gumamnya lirih.
Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya memasukkan kembali foto itu ke dalam laci.
Sorot mata Adrian yang semula tenang berubah dingin. Ia menatap lurus kedepan
“Danendra... Kali ini aku ingin melihat... berapa banyak lagi yang bisa kau lindungi.”
***
Pagi itu matahari bersinar hangat, menembus sela-sela dedaunan di taman belakang rumah Halvar.
Hari libur membuat suasana rumah jauh lebih tenang dari biasanya.
Di bawah pohon yang rindang, Elara duduk sendirian di bangku kayu tatapan matanya lurus mengarah ke hamparan bunga yang bergoyang pelan karena terpaan angin.
Sesekali beberapa kupu-kupu hinggap di atas kelopak bunga, lalu kembali terbang tanpa tujuan.
Elara mengamatinya, terdiam tanpa berkedip.
“Ternyata kamu di sini.”
Suara berat itu membuat Elara menoleh.
Lucas berjalan santai menghampirinya dengan membawa dua gelas minuman dingin.
Hari ini dokter tampan itu tidak mengenakan jas putih ataupun kemeja kerja. Ia hanya memakai kaos putih polos dengan celana hitam sederhana. Rambut hitam yang sedikit berantakan diterpa angin justru membuat wajahnya terlihat semakin lembut.
Kalau Lionel adalah tipe anak laki-laki berisik, Leonard memiliki pesona yang mudah membuat orang merasa nyaman, dan Faresta yang memiliki wajah tegas hingga membuat orang merasa segan, maka Lucas adalah tipe pria yang hanya berdiri diam saja sudah menarik perhatian banyak orang.
Wajahnya tampan dan teduh, matanya lembut dengan sorot yang selalu tenang. Hidungnya tegas, rahangnya tidak terlalu keras, membuat wajahnya terlihat lebih muda dari usianya.
Tidak heran jika banyak orang yang baru pertama kali bertemu sering mengira Lucas adalah pria yang sulit marah. Padahal Lucas tetap memiliki ketegasan yang tidak kalah dari Faresta, terutama ketika berada di rumah sakit.
“Ini buatmu.” Lucas menyodorkan salah satu gelas yang ada di tangannya.
“Apa ini?”
“Jus jeruk.”
Elara memperhatikan isi gelas itu, keningnya perlahan mengernyit. “Jeruk dibuat minuman?”
Seketika tawa Lucas terdengar pelan. “Tentu saja.”
“Kenapa?”
“Karena rasanya jauh lebih enak.”
Elara mengangguk kecil, sebelum akhirnya meminum jus itu. “Manusia memang suka merubah bentuk makanan.”
Lucas melirik buku yang ada di pangkuan Elara. Buku tentang anatomi manusia, ia sudah beberapa kali melihat Elara membaca buku itu. Dan sekarang sepertinya sudah hampir selesai melihat halaman yang terbuka mendekati akhir.
“Apa kamu mau ikut denganku?”
“Kemana?”
“Ke Rumah sakit.”
Elara seketika menoleh. “Bukannya kakak sedang libur.”
“Memang. Tapi aku harus mengambil beberapa berkas yang tertinggal di ruanganku.”
Elara terdiam sejenak untuk memikirkan jawabannya sebelum akhirnya ia mengangguk setuju. “Baiklah, aku ikut.”
Melihat ekspresi Elara yang terlihat sedikit antusias Lucas justru memicingkan mata. “Kamu… tidak sedang memikirkan hal aneh kan?”
“Tidak ada.”
Jawaban singkat yang terdengar tidak meyakinkan itu masih membuat Lucas tidak tenang. Hanya saja selama ini Elara selalu bisa mengatasi masalah yang datang, setidaknya hal itu bisa membuatnya sedikit tenang jika saja nanti ada masalah yang menghampiri mereka saat tiba di rumah sakit.
“Ya sudah. Ayo berangkat sekarang!”
Keduanya lantas beranjak dari taman belakang. Saat melewati ruang keluarga, mereka bertemu dengan Leonard dan Lionel yang terlihat duduk santai bermain hp di sana.
“Kalian mau kemana?” tanya Leonard.
“Rumah sakit,” jawab Lucas tanpa menoleh.
“Elara juga?”
Lucas mengangguk singkat dan kembali melangkah.
“Aku ikut, kak!” Lionel tiba-tiba berdiri dengan mata berbinar.
“Tidak.”
“Oh ayolah, Kak. Aku bosan di rumah,” keluh Lionel dengan ekspresi yang dibuat menyedihkan.
“Pergi saja bermain dengan teman-temanmu. Lagi pula ada Leon.”
Lionel mencebikkan bibirnya dan berdecak kesal. Pemuda itu hanya merasa jenuh dirumah, dan ingin menghabiskan waktu liburnya bersama Elara.
“Ayo Elara!”
Lucas segera menarik pelan pergelangan tangan Elara agar mereka cepat pergi dari sana.
Elara sendiri hanya menurut dan tidak memperdulikan perdebatan yang menurutnya tidak begitu penting. Pikirannya saat ini hanya tertuju pada satu hal. Rumah sakit.
Gadis itu sudah tidak sabar untuk melihat secara langsung apa yang sejak tadi membuatnya penasaran.
terbiasa hidup sendiri dia...jadi belum dieksplor emosinya🤔