6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21. LORONG TANPA UJUNG
KRETEK KRETEK KRETEK.
Suara alat tenun itu semakin keras dari dalam cermin kecil di meja belajarku.
Lampu kos ku masih padam. Padahal di luar jam 4 sore, matahari masih terang. Tapi di dalam kos ku gelap seperti jam 2 malam. Satu-satunya cahaya hanya dari cermin itu. Cahaya putih yang menyilaukan dari dalam cermin.
Aku memegang kain kafan yang ada namaku sendiri. SELVI. Tertulis lengkap dengan benang merah yang masih basah dan meneteskan darah ke lantai kos ku.
"GILIRAN KAMU JADI PENENUN, VI." tulisan tangan Maya itu semakin jelas.
Tidak. Aku tidak mau jadi penenun. Aku tidak mau seperti Mbok Darmi yang selamanya mengurung diri di rumah panggung dan menenun kulit manusia.
Aku harus menghancurkan cermin ini.
Aku mengambil kursi kos dan dengan sekuat tenaga aku banting ke cermin kecil itu.
PRAAAK!
Cermin itu pecah berkeping-keping. Suara tenun itu berhenti sesaat.
Aku bernapas lega. Berhasil.
Tapi 2 detik kemudian, dari setiap pecahan cermin yang berserakan di lantai, suara KRETEK KRETEK itu muncul lagi. Lebih banyak. Lebih keras. Dari 10 pecahan, menjadi 20 suara tenun yang bersamaan.
Dan dari setiap pecahan cermin itu, aku melihat pantulan. Bukan pantulanku. Tapi pantulan sebuah lorong.
Lorong panjang yang gelap, dindingnya terbuat dari kain kafan putih yang bergerak-gerak seperti bernapas. Di ujung lorong itu, ada alat tenun raksasa yang menyala merah.
Aku mundur sampai punggungku menabrak pintu kos. Pintu kos ku terkunci sendiri. Tidak bisa dibuka.
Lantai kos ku tiba-tiba menjadi lembek seperti lumpur sumur di Desa Penenun. Kakiku masuk perlahan ke dalam lantai. Aku ditarik.
"TIDAK! TOLONG!" teriakku.
Tapi tidak ada yang mendengar. Kos ku yang di belakang kampus itu memang sepi.
Lumpur hitam itu menelan kakiku sampai lutut. Dan dari dalam lumpur itu, keluar tangan-tangan pucat. Tangan SINTA, tangan RIKO, tangan BIMA, tangan FARHAN, tangan MAYA. Mereka menarik kakiku semakin dalam.
Aku ditarik masuk ke dalam pecahan cermin.
Aku jatuh.
Aku tidak jatuh ke lantai. Aku jatuh ke dalam lorong itu. Lorong tanpa ujung yang tadi aku lihat di dalam pecahan cermin.
Aku berdiri. Badanku penuh lumpur hitam. Kain kafan yang ada namaku masih aku peluk.
Lorong ini panjang sekali. Tidak ada ujungnya. Kiri kanannya bukan dinding batu, tapi tumpukan kain kafan yang dijahit menjadi dinding. Setiap kain kafan itu ada namanya. Ada ratusan nama. Ada yang namanya SARI 1998, BUDI 2005, LESTARI 2010. Semua nama-nama mahasiswa KKN dari tahun-tahun sebelumnya.
Jadi Desa Penenun itu sudah ada lama. Sudah ratusan mahasiswa yang jadi tumbal dan ditenun jadi dinding lorong ini.
Aku berjalan. Aku harus mencari ujung lorong ini. Aku tidak mau terjebak selamanya.
"Selvi..."
Suara itu lagi. Suara Maya yang asli.
Aku menoleh. Di belakangku, Maya yang asli berdiri dengan tubuh transparan. Wajahnya sedih.
"Vi, jangan jalan ke depan. Depan itu jebakan. Ujung lorong ini tidak ada. Ini lorong kutukan Mbok Darmi. Semakin kamu jalan ke depan, kamu akan semakin jauh dari dunia nyata."
"Terus aku harus gimana, May? Aku mau pulang!" tangisku pecah. Aku sudah tidak kuat. Dari BAB 1 sampai BAB 20 aku terus lari dan sendirian.
"Kamu harus jadi penenun, Vi. Satu-satunya cara keluar dari lorong tanpa ujung ini adalah dengan menenun lorongnya sampai putus."
Maya yang asli itu menunjukkan ke tengah lorong. Di tengah lorong tanpa ujung itu, ada satu alat tenun kayu yang kosong. Belum ada yang pakai. Alat tenun itu terbuat dari tulang belulang.
"Itu alat tenun untuk kamu, Vi. Kalau kamu tenun kain kafan yang ada namamu itu sampai selesai, lorong ini akan putus dan kamu bisa keluar. Tapi..."
"Tapi apa May?"
"Tapi kalau kamu selesai menenun, kamu akan resmi jadi pengganti Mbok Darmi. Kamu akan jadi penenun abadi selanjutnya. Kamu tidak akan bisa mati. Kamu akan nunggu 6 mahasiswa KKN baru 10 tahun lagi untuk gantiin kamu."
Aku terdiam. Jadi pilihannya hanya dua. Terjebak selamanya di lorong tanpa ujung ini, atau jadi penenun abadi seperti Mbok Darmi dan menunggu korban baru.
Pilihan yang sama-sama menyakitkan.
Aku melihat kain kafan di tanganku. Namaku SELVI sudah tertulis sempurna. Benang dan alat tenun sudah ada di depanku.
Tiba-tiba, dari arah depan lorong, terdengar suara langkah kaki yang diseret. Dan suara tawa Mbok Darmi.
"Maya... kamu kok kasih tau rahasianya to nduk? Harusnya biarin aja dia jalan terus sampai kakinya habis..."
Mbok Darmi muncul dari kegelapan lorong. Tapi kali ini bukan pakai tubuh Maya palsu. Ini Mbok Darmi yang asli. Nenek tua renta dengan punggung bungkuk, mata bolong, membawa gunting berkarat besar.
Maya yang asli langsung berdiri di depanku melindungi.
"Mbok, sudah cukup! Jangan ambil Selvi! Ambil aku aja! Aku anakmu!"
Mbok Darmi tertawa melengking. "Kamu kan sudah aku tenun jadi kain pertama, Maya. Sekarang giliran temanmu ini. Giliran Selvi jadi penenun. Lorong ini butuh penjaga baru. Aku sudah capek 50 tahun jaga lorong ini!"
Mbok Darmi mengangkat gunting besarnya dan hendak menggunting Maya yang asli.
Aku tidak bisa diam. Maya sudah lindungi aku dari BAB 19. Sekarang giliranku lindungi dia.
Aku lari dan mendorong Mbok Darmi sekuat tenaga. Guntingnya jatuh.
"MAYA, LARI!"
Maya yang asli menarik tanganku. Kami berdua lari ke arah alat tenun tulang itu. Bukan lari ke depan atau ke belakang lorong, tapi lari ke alat tenun itu.
Aku duduk di alat tenun itu. Aku tahu aku harus melakukannya. Aku harus menenun.
Aku pasang kain kafan yang ada nama SELVI itu ke alat tenun. Aku mulai menenun. KRETEK KRETEK KRETEK.
Setiap aku tarik benangnya, lorong tanpa ujung ini bergetar hebat. Dinding kain kafan yang ada ratusan nama itu robek satu per satu.
"APA YANG KAMU LAKUKAN! BERHENTI!" teriak Mbok Darmi. Tubuhnya mulai retak-retak seperti tembok retak.
Aku terus menenun. Air mataku jatuh ke kain itu. Darah dari jariku yang tertusuk jarum tenun menetes ke kain itu.
Aku menenun dengan cepat. Aku menenun namaku sendiri. Aku menenun takdirku sendiri.
KRETEK KRETEK KRETEK.
Lorong itu semakin hancur. Cahaya putih dari ujung yang tidak pernah ada, kini muncul. Cahaya itu semakin besar.
Maya yang asli tersenyum ke arahku. Tubuhnya perlahan hilang menjadi cahaya.
"Terima kasih Vi... akhirnya aku bebas..."
Mbok Darmi menjerit keras sekali dan tubuhnya hancur menjadi benang-benang putih yang beterbangan.
Lorong tanpa ujung itu runtuh. Dinding kain kafan yang isinya ratusan nama mahasiswa KKN itu robek semua dan terbang ke atas.
Aku masih menenun. Aku tidak berhenti. Karena aku tahu, kalau aku berhenti menenun sekarang, aku akan jatuh ke dalam kegelapan abadi.
Aku harus menyelesaikan kain ini.
Kain terakhir. Kain namaku sendiri.
Dan saat benang terakhir aku tarik...
Cahaya putih itu menelan semuanya.
Aku tidak ingat apa-apa lagi setelah itu.
Yang aku ingat, aku sendirian lagi. Tapi kali ini benar-benar sendirian. Tidak ada suara tenun lagi.
Hanya ada lorong yang sudah putus.
Jawabannya adalah...
Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...
🤭🤭🤭
jadi selvi itu bukan tokoh utama? si selpi siapa? kenapa tiba-tiba muncul?
terus, bukannya sinta sama bima udah meninggal di sumur ya?
terus selvi itu KKN 98??😐