Bagaimana jika hidupmu seperti di neraka hanya karena sebuah kesalahpahaman yang sulit untuk dibuktikan?
Sienna Breezie Sinclair seorang wanita malang yang dituduh membunuh seorang konglomerat terpandang, harus menerima perlakuan tak adil sepanjang hidupnya. Bak angin lalu suaranya tak pernah didengar, ia justru dituntut untuk mengakui perbuatan bejat yang tidak pernah ia lakukan.
Bisakah Sienna membuktikan bahwa bukanlah dia pelaku pembunuhan itu? atau Selamanya namanya akan tercatat dan dikenang sebagai seorang pembunuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
Pagi itu, langit terbungkus kabut tipis yang dingin. Pukul enam tepat, dua sedan hitam buatan Eropa meluncur membelah jalanan ibu kota yang mulai merambat padat.
Di dalam kabin belakang sedan utama, keheningan terasa begitu tebal dan menghimpit. Sienna duduk merapat ke sudut pintu kaca, memeluk erat mantel rajut cokelat pudar yang terasa sedikit longgar di tubuh kurusnya.
Matanya yang sayu menatap jalanan di luar, namun pikirannya melayang jauh ke masa lalu, ke malam tragedi berdarah yang merenggut seluruh masa mudanya sebelas tahun lalu.
Malam itu, saat usianya baru tiga belas tahun.
Sienna ingat betul bagaimana ia duduk di dalam mobil tua ayahnya, menunggu di luar pagar sebuah kediaman megah yang baru saja selesai menggelar pesta ulang tahun meriah.
Ayahnya, Hans Sinclair seorang kurir pengantar makanan dari restoran kecil, pamit masuk sebentar ke area halaman belakang untuk mengantarkan pesanan susulan. Namun, sepuluh menit berlalu dan ayahnya tak kunjung keluar.
Rasa cemas membuat Sienna kecil nekat menyusup masuk melalui gerbang samping menuju area halaman belakang. Dan di sanalah, di atas rumput hijau yang kusam di balik temaram lampu taman, mimpi buruknya dimulai.
Ayahnya tergeletak tak bernyawa dengan dada bersimbah darah. Tak jauh dari sana, tubuh Christina Vance ibu dari Nico juga terbaring kaku dalam kondisi yang sama. Di dekat tangan ayahnya, tergeletak sebuah pistol hitam yang masih menguapkan bau mesiu.
Sienna kecil yang polos dan ketakutan setengah mati berlutut, menggapai pistol itu hanya dengan satu niat sederhana, menjauhkan benda mengerikan itu dari tubuh ayahnya.
Namun nahas, tepat di detik jemari mungilnya memegang gagang senjata api tersebut, seorang anak laki-laki seusianya muncul dari balik pilar taman. Anak itu berteriak histeris, menunjuk Sienna sebagai seorang pembunuh.
Anak laki-laki itu adalah Nicolas Vance.
Sejak malam itu, hukum dan keadilan seolah mati bagi Sienna. Tanpa bukti yang membela dirinya, sidik jarinya di pistol membuat Sienna mendekam di tahanan remaja selama sebelas tahun. Baru pada usianya yang ke-24 ia bisa menghirup udara luar, hanya untuk langsung ditangkap kembali oleh cengkeraman dendam Nico yang tak pernah padam.
Sienna menarik napas panjang yang bergetar. Udara AC mobil terasa menusuk dadanya yang baru pulih dari sakit.
"Kenapa melamun?"
Suara berat dan dingin memotong jalan pikiran Sienna seketika.
Sienna tersentak kecil, menyatukan jemarinya yang mendadak dingin di atas pangkuan. Ia memalingkan wajahnya perlahan dari kaca jendela, menatap pria yang duduk di sampingnya.
Nico memakai kemeja hitam berlengan panjang yang tergulung rapi hingga separuh lengan, memamerkan jam tangan baja gelap dan urat-urat menonjol di punggung tangannya. Sepasang mata kelabunya menatap Sienna lurus, tajam, dan penuh selidik.
"S-saya... hanya teringat rumah lama, Tuan Vance," jawab Sienna pelan, suaranya nyaris berbisik.
Nico memiringkan kepalanya sedikit. "Rumah lama tempat ayahmu menyimpan sisa-sisa kehidupannya?"
Kata-kata itu menghantam dada Sienna bagaikan jarum halus. Sienna mengepalkan tangannya rapat-rapat di atas mantelnya, berusaha mengumpulkan sisa keberanian yang ia miliki.
"Ayah saya tidak bersalah, Tuan Vance," tutur Sienna dengan nada bergetar namun bertahan. "Ayah hanya seorang kurir... dan ayah tidak kenal siapa Nyonya Christina. Malam itu beliau hanya mengantar makanan..."
Pendar mata kelabu Nico seketika berubah meredup, menyipit berbahaya. Atmosfer di dalam kabin mobil merosot begitu cepat.
"Tutup mulutmu Sienna," desis Nico kaku, suaranya begitu rendah hingga terasa bagaikan ancaman murni. "Kau tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi malam itu. Kau memegang senjata api itu tepat di atas tubuh ibuku. Jangan pernah mencoba membersihkan nama seorang pembunuh di hadapanku."
"Tapi ayah saya juga ditembak malam itu, Tuan!" tumpah Sienna, air mata tiba-tiba menumpuk di pelupuk matanya yang memerah. "Kalau ayah yang menembak Ibu Anda, kenapa ayah juga harus tertembak dan mati di tempat yang sama? Kenapa tidak ada yang mau mencari tahu siapa yang sebenarnya menembak mereka berdua?"
Nico membeku sejenak. Pertanyaan dari bibir Sienna seakan menusuk celah tak terlihat di dalam hatinya. Namun, bertahun-tahun rasa benci yang dikristalkan oleh kehilangan telah menguasai benak Nico. Pria itu mencondongkan tubuhnya secara mendadak, mencengkeram pergelangan tangan Sienna dengan kuat.
"Sebab bukti di lapangan merujuk padamu dan ayahmu," bisik Nico kaku di depan wajah Sienna. "Dan jika ada orang lain yang terlibat malam itu, aku sendiri yang akan memburu mereka. Tapi sampai hari itu tiba, kau adalah tempatku menumpahkan seluruh dendam ini."
Sienna menatap mata kelabu itu dari jarak yang sangat dekat. Ia melihat penderitaan dan kemarahan yang saling berbenturan di balik dinding dingin Nico Vance. Sienna tidak lagi melawan, hanya menatap pria itu dengan kepasrahan yang mendalam.
Nico perlahan melepaskan cengkeramannya, menarik kembali tubuhnya seraya membuang pandangan ke luar jendela.
Tiga puluh menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah rumah berlantai dua bertembok putih kusam di kawasan perumahan lama pinggiran kota. Papan penyitaan bank terpasang miring di pagar besi berkarat.
Matteo memotong rantai pagar, membuka jalan bagi Nico dan Sienna untuk melangkah masuk.
Pintu kayu utama berderit nyaring saat terdorong terbuka, mengembuskan aroma debu tebal dan kelembapan yang terkunci selama bertahun-tahun. Nico melangkah masuk lebih dulu, disusul oleh Sienna yang menatap sekeliling dengan mata berkaca-kaca.
Di rumah inilah ia menghabiskan masa kecilnya bersama ayahnya sebelum masa remajanya direnggut secara paksa dan dikurung di balik sel besi tahanan anak.
"Cari di seluruh sudut ruangan ini," perintah Nico dingin. "Aku ingin memeriksa apakah ada berkas atau barang peninggalan yang tersisa dari ayahmu."
Sienna mengangguk lemah. Ia berjalan perlahan menuju sebuah ruangan kecil di sudut bawah tangga, ruang yang dulu digunakan ayahnya untuk menyimpan nota-nota kerja pengantaran makanan.
Dengan tangan gemetar, Sienna berlutut di atas lantai kayu yang berdebu. Ia mulai memungut bundel-bundel nota kusam milik ayahnya dari dalam kotak karton tua.
Setiap lembar nota sederhana yang ditulis dengan tulisan tangan ayahnya membuat dada Sienna sesak oleh rasa rindu. Di kertas-kertas ini, terekam jejak keringat seorang ayah yang hanya ingin memberi makan anak perempuannya. Tidak ada tanda-tanda kekayaan, tidak ada simpanan uang gelap, hanya tanda terima pesanan makanan berbiaya murah.
Suara langkah kaki tegap Nico mendekati ruangan bawah tangga. Pria bertubuh tinggi besar itu berdiri di ambang pintu sempit, memperhatikan Sienna yang mengelus kertas-kertas lusuh itu dengan air mata meluncur pelan di pipinya.
Nico melangkah masuk, lalu berlutut perlahan di dekat Sienna. Ia mengambil sebuah buku catatan kecil berdebu dari tumpukan karton.
Nico membuka buku catatan harian Hans secara acak. Di sana, terukir tulisan sederhana sang kurir, pengeluaran hari ini: Beli sepatu sekolah Sienna, beli obat flu.
Nico membeku sejenak menatap tulisan tangan itu. Tatapannya bergeser pada Sienna yang menunduk pasrah di sampingnya. Bayangan seorang pembunuh sadis berdarah dingin yang selama belasan tahun ia bangun di benaknya mendadak berbenturan keras dengan kenyataan dari catatan harian kusam ini.
Nico menutup buku catatan itu perlahan. Untuk pertama kalinya, cengkeraman dendam di dalam dadanya terasa sedikit goyah, menyisakan ruang hampa yang dipenuhi oleh tanda tanya besar yang belum terkejar.
"Sudah cukup," kata Nico kaku, suaranya terdengar tidak secadas biasanya. "Kita kembali ke penthouse."
Nico berdiri lebih dulu, menanti Sienna yang bangkit perlahan dengan tubuhnya yang masih lemah.
...Bersambung......