Kisah ini mengikuti perjalanan jiwa seorang wanita yang terjebak dalam siklus reinkarnasi lintas zaman demi mengejar satu cinta sejati yang selalu berujung tragis.
Pada kehidupan pertama (Era Romawi), ia adalah wanita dari kasta rendah yang mencintai seorang putra mahkota. Cinta mereka terhalang status sosial dan berakhir tragis dengan kematian.
Terlahir kembali di era kolonial (kehidupan kedua) sebagai putri gangster kaya raya, ia membawa ingatan masa lalunya dan berhasil menemukan kembali cinta pertamanya. Namun, takdir kembali merenggut kebahagiaan mereka akibat permusuhan darah antar keluarga besar.
Merasa lelah dengan takdir yang selalu menyakitkan, pada kehidupan ketiga (Era Modern) ia terlahir di keluarga biasa yang harmonis dan bertekad untuk menyerah serta menghindari cinta masa lalunya. Sialnya, semesta mempertemukannya kembali dengan pria tersebut yang kini menjadi CEO dingin di perusahaannya. Terikat kontrak kerja tiga tahun dengan penalti besar, ia mati-matian menghindar. Namun, tingkah lucunya justru meluluhkan hati sang CEO. Seiring berjalannya waktu, sang pria juga mulai mengingat kembali memori masa lalu mereka. Dan badai tidak di restu itu kembali menghatam cinta mereka, akan mereka kembali berpisah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 : Pertemuan Terakhir di Ruang Tanah
BAB 13: PERTEMUAN TERAKHIR DI RUANG BAWAH TANAH
Suasana di dalam kompleks bawah tanah Istana Kekaisaran Roma terasa jauh lebih pekat daripada malam tanpa bintang. Lorong-lorong sempit yang dibangun dari batu-batu besar itu dipenuhi dengan aroma kelembapan, bau tanah basah, dan sisa-sisa karat besi yang melekat di dinding. Di ujung lorong yang paling gelap, tersembunyi sebuah bilik tahanan isolasi dengan teralis besi tebal yang berkarat. Di dalam ruangan sempit itulah Callista dikurung seorang diri, menunggu detik-detik terakhir sebelum gerobak pengasingan membawanya pergi selamanya menuju tambang batu selatan.
Lampu pelita kecil yang diletakkan di dinding luar hanya mampu memancarkan secercah cahaya kekuningan yang redup, memperlihatkan debu-debu berterbangan di udara. Callista duduk bersimpuh di atas lantai batu yang dingin. Pakaian tunik usang yang ia kenakan terasa sangat tipis untuk menahan gigitan angin malam yang merayap masuk melalui celah-celah ventilasi batu. Meski demikian, ia tidak lagi merasakan dingin di tubuhnya. Yang ia rasakan hanyalah kehampaan yang teramat dalam di dalam rongga dadanya.
Keputusan Kaisar Tiberius yang disahkan pagi tadi telah menutup seluruh celah pengharapan. Tidak ada lagi jalan keluar. Tidak ada lagi keajaiban istana. Takdir telah menggariskan garis pembatas yang sangat tegas antara seorang budak rendahan dan pewaris takhta kekaisaran.
Tiba-tiba, suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa namun berusaha diredam terdengar menggema di sepanjang lorong bawah tanah yang sepi. Langkah itu terdengar sangat berbeda dari langkah seret para penjaga biasa yang malas-malasan. Itu adalah derap langkah seorang pria yang bergerak dalam keputusasaan yang membara, mengabaikan segala aturan dan protokol pengamanan istana.
Callista mengangkat kepalanya perlahan, mengerjap-ngerjapkan matanya yang sembab untuk menembus kegelapan lorong.
Di balik teralis besi yang berkarat, sesosok bayangan tinggi berbalut jubah gelap muncul dengan napas yang memburu. Tudung jubah itu tersingkap ke belakang, menampakkan wajah Putra Mahkota Marcus yang pucat pasi. Manik mata hazel sang pangeran memancarkan kobaran emosi yang begitu kompleks: amarah, kepedihan, kerinduan yang teramat sangat, dan ketulusan tanpa batas.
"Marcus..." lirih Callista, suaranya tercekat di tenggorokan, nyaris tak lebih dari desisan angin. Gadis itu segera bangkit dengan lutut yang gemetar, lalu melangkah mendekati teralis besi, merapatkan jemarinya pada jeruji dingin tersebut.
Marcus langsung menghambur ke depan teralis. Pria itu mencengkeram jeruji besi yang sama dengan kedua tangannya, seolah ia ingin merobek pembatas logam itu agar bisa meraih tubuh wanita di hadapannya. Napas Marcus memburu tidak beraturan, dan untuk pertama kalinya dalam hidup, benteng pertahanan emosional sang pangeran runtuh sepenuhnya di hadapan satu-satunya wanita yang menguasai jiwanya.
"Mereka mengurungmu di sini..." suara Marcus bergetar hebat, nyaris pecah. Air mata yang selama ini ia tahan mati-matian akhirnya lolos menetes membasahi pipinya. "Aku minta maaf, Callista. Aku mencoba segala cara di ruang sidang tadi pagi, tapi ayahku... Dewan Senat... mereka mengikatku dengan hukum besi kekaisaran."
Callista menggelengkan kepalanya pelan. Ia mengangkat tangan kanannya, mencoba menyelipkan jemarinya lewat celah teralis besi untuk menyentuh pipi sang pangeran. Sentuhan hangat kulit Callista berhasil menghentikan getaran di tubuh Marcus, membuat pria itu memejamkan mata sejenak, menikmati kehangatan yang teramat langka di tengah neraka istana.
"Jangan meminta maaf, Marcus," ucap Callista dengan senyuman paling tulus yang bisa ia berikan di sisa tenaganya. Air matanya kembali tumpah, namun tatapannya memancarkan ketenangan yang luar biasa. "Keputusan ini adalah yang terbaik. Jika kau terus melawanku dan menentang dewan, nyawamu yang akan menjadi taruhannya. Aku rela dibuang ke ujung dunia mana pun, asalkan kau tetap hidup di atas singgasana dan memimpin Roma dengan bijaksana."
"Untuk apa aku hidup di atas singgasana jika singgasana itu dibangun di atas air matamu?!" bentak Marcus tertahan, suaranya sarat akan kepedihan yang menyayat hati. Pria itu mendekatkan wajahnya ke celah jeruji, menempelkan keningnya pada jemari Callista yang menyentuh pipinya. "Aku tidak peduli dengan mahkota! Aku tidak peduli dengan gelar putra mahkota atau kemegahan kekaisaran ini! Semua itu tidak ada artinya jika aku harus kehilangan dirimu untuk selamanya!"
"Dengarkan aku, Marcus..." Callista menyela dengan suara lembut namun tegas, mencengkeram pipi sang pangeran lebih erat. "Cinta kita tidak salah. Yang salah adalah waktu dan era tempat kita dilahirkan. Tapi aku percaya... jiwa kita terikat oleh benang merah yang tidak akan pernah putus oleh batasan kasta maupun kematian."
Marcus mendongak, menatap mata legam Callista yang memantulkan cahaya pelita redup. Di dalam tatapan itu, terselip sebuah firasat aneh yang menusuk relung jiwa mereka berdua—sebuah pertanda kelam bahwa perpisahan malam ini bukan sekadar pengasingan fisik, melainkan awal dari kutukan waktu yang akan terus mengejar siklus reinkarnasi mereka di masa depan.
"Aku berjanji padamu, Callista," bisik Marcus dengan sumpah setia yang diucapkan dari lubuk hatinya yang paling dalam, suaranya menggema di dinding-dinding batu bawah tanah. "Di kehidupan ini, di era ini, mereka mungkin berhasil memisahkan raga kita. Tapi di mana pun kau terlahir kembali di masa depan, aku akan mencarimu. Aku akan menemukanmu, dan aku tidak akan pernah melepaskan tanganmu lagi."
Callista tersenyum haru, merasakan kehangatan cinta yang melampaui batas waktu meresap ke dalam jiwa raganya. "Aku akan menunggumu, Marcus. Di kehidupan mana pun itu... temukan aku."
Suara derap langkah sepatu bot besi para pengawal patroli tiba-tiba terdengar mulai mendekati ujung lorong bawah tanah. Waktu kunjungan rahasia itu telah habis. Pengawalan ketat untuk keberangkatan pagi hari akan segera dimulai.
Marcus menatap Callista dengan pandangan penuh penyesalan dan cinta yang membara. Sebelum para penjaga sempat memergoki keberadaannya, pangeran itu mencondongkan tubuhnya melewati celah teralis, memberikan ciuman terakhir yang penuh kepedihan di atas kening Callista—sebuah segel cinta abadi di ruang bawah tanah yang gelap, menutup pertemuan terakhir mereka di era Romawi dengan air mata dan luka yang tak tersembuhkan.
*•*
*•*
*•*
*•*
*•*