NovelToon NovelToon
Keliru Mengenal Sang Kapten

Keliru Mengenal Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:518
Nilai: 5
Nama Author: Madelyn_Sa

Amira tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Dirgantara akan mempertemukannya dengan Alfian—sang kapten basket arogan yang wajah dan suaranya sangat mirip dengan "Sky", teman masa kecil yang memberinya kalung bintang sebelum pergi meninggalkannya bertahun-tahun lalu.
Sayangnya, Alfian bersikap seolah tidak pernah mengenal Amira dan menganggapnya sebagai cewek aneh yang sengaja mencari perhatian, membuat hari-hari sekolah Amira penuh dengan perdebatan sengit dan emosi yang naik turun.
Di balik dingin dan marahnya sang kapten, tersimpan rahasia besar serta memori masa lalu yang terkunci rapat, memaksa Amira terjebak dalam dilema antara rasa rindu pada masa lalu atau membenci kenyataan pahit di hadapannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 : Gladi Bersih dan Panggung Dua Pangeran

H-1 menjelang malam puncak Pentas Seni (Pensi), aula utama SMA Dirgantara benar-benar sudah tidak terlihat seperti aula sekolah pada umumnya.

Gedung serbaguna berkapasitas ribuan orang itu telah disulap sepenuhnya menjadi arena konser profesional. Puluhan gulungan kabel hitam melintang tebal di lantai semen yang dilapisi karpet gelap. Di atas sana, rigging besi penyangga lighting sudah berdiri kokoh, menembakkan sinar lampu sorot berwarna-warni yang sedang diuji coba oleh tim tata cahaya. Bau karpet baru, asap dry ice (mesin kabut), dan dinginnya AC sentral berpadu menjadi satu, menciptakan atmosfer ketegangan yang mendebarkan.

Amira duduk bersandar di barisan kursi penonton paling depan—tepat di tengah alias VIP. Tugasnya dari divisi dekorasi sudah selesai sejak siang tadi, sehingga kini ia dan kedua sahabatnya, Rara dan Maya, bisa menikmati fasilitas menonton sesi soundcheck secara eksklusif.

"Cek... satu... dua..."

"check, low, mid, high."

Suara bariton yang renyah dan luar biasa meneduhkan mengalun dari pelantang suara raksasa gantung (line array speaker) di sisi kanan dan kiri panggung.

Perhatian seisi aula yang awalnya sibuk dengan urusan masing-masing seketika tersedot ke arah panggung utama.

Di tengah sorot lampu spotlight putih yang hangat, Fino duduk santai di atas kursi stool kayu berkaki tinggi. Cowok itu memangku sebuah gitar akustik kayu berwarna cokelat pudar.

Penampilannya sore itu sebenarnya sangat sederhana; hanya mengenakan kemeja flanel kotak-kotak perpaduan warna biru dan abu-abu yang lengannya digulung asal hingga siku, serta celana jeans hitam.

Namun, kesederhanaan itu justru memancarkan aura boyfriend material yang luar biasa mematikan.

"Gila, gila, gila, demi Tuhan! Kak Fino damage-nya nggak ngotak banget sih, sumpah!" jerit Rara tertahan, tangannya sibuk menepuk-nepuk paha Amira dengan brutal saking hebohnya.

"Mir, kalau aja dia bukan mantan crush masa kecil lo dan nggak pernah ada drama sad boy kemarin, udah gue pepet dari awal dia pindah ke sini!" timpal Maya tak kalah histeris, kedua tangannya ditangkupkan di depan dada sambil menatap panggung tanpa berkedip.

Amira hanya bisa meringis kesakitan akibat pukulan Rara, namun ia terkekeh pelan melihat tingkah kedua temannya. Gadis itu menatap sosok Fino di atas panggung dengan senyum simpul yang tulus. Ada rasa bangga membuncah di dadanya.

Anak laki-laki ringkih yang dulu selalu kesulitan bernapas di desa itu, kini tumbuh menjadi sosok bintang yang memukau banyak orang. Ia sangat bersyukur Fino akhirnya menemukan tempatnya untuk bersinar.

Fino mulai memetik senar gitarnya dengan lembut. Alunan melodi lagu pop-akustik bertempo lambat langsung menghipnotis seluruh panitia perempuan di aula.

Suara Fino begitu tenang, bening, dan menghanyutkan, membuat siapa pun yang mendengarnya seolah sedang dibawa terbang melintasi awan.

Amira memejamkan mata sesaat, menikmati alunan musik yang menenangkan itu, sampai tiba-tiba...

Sret.

Sebuah sepasang tangan besar dan kokoh mendarat di wajahnya, menutup kedua matanya rapat-rapat dari arah belakang sandaran kursi.

Pandangan Amira seketika berubah menjadi gelap gulita. Bersamaan dengan itu, aroma mint yang sangat tajam, dingin, dan khas, langsung mengambil alih seluruh indra penciumannya. Bulu kuduk di tengkuk Amira meremang seketika.

"Asyik banget nontonnya sampai senyum-senyum nggak jelas gitu, hm?"

Sebuah bisikan dengan suara berat, parau, dan sangat dekat menyapu telinga kanan Amira. Hembusan napas hangat cowok itu menerpa anak rambut di sekitar lehernya, mengirimkan sengatan listrik imajiner ke seluruh tulang belakang gadis itu.

"Alfian! Ih, lepasin! Gelap, aku lagi nonton gladi bersih tahu!" protes Amira dengan jantung yang sudah berdetak tak karuan, meraba-raba tangan besar yang menutupi matanya.

Alfian menarik tangannya dengan enggan. Sedetik kemudian, sosok jangkung itu dengan santai melompati sandaran kursi dari barisan belakang dan mendarat tepat di sebelah Amira.

"Geser," usir Alfian mutlak, menatap Maya yang duduk di sebelah Amira dengan tatapan elang andalannya.

Maya yang nyalinya sekecil biji kacang hijau jika berhadapan dengan aura membunuh sang kapten, buru-buru menyambar tasnya.

"E-eh, iya Kak! Silakan, silakan!" Maya langsung berpindah ke kursi yang berjarak tiga meter dari mereka, menarik Rara agar ikut menjauh demi keselamatan nyawa.

Alfian menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi, menyilangkan kedua kaki panjangnya dengan santai. Cowok itu mengenakan kaos oblong hitam polos yang melekat pas di tubuh atletisnya.

"Nonton gladi bersih atau niat banget nonton vokalisnya?" sindir Alfian tajam, kepalanya menoleh sedikit ke arah Amira, sementara rahangnya terlihat mengeras.

Amira memutar bola matanya malas, meski pipinya sudah bersemu merah.

"Ya kan yang lagi di panggung emang dia, Alfian! Lagian namanya juga panitia, harus ngecek penampilan pengisi acara dong! Cemburu kok nggak kenal tempat," bela Amira tak mau kalah, melipat kedua tangannya di depan dada.

"Alasan," dengus Alfian pendek, mengalihkan pandangannya ke arah panggung dengan sorot permusuhan yang tak ditutup-tutupi.

Di atas panggung, Fino baru saja menyelesaikan lagu pertamanya. Riuh tepuk tangan dari panitia yang ada di aula langsung menggema.

Fino tersenyum ramah, lalu matanya menyapu barisan penonton dan langsung menangkap kehadiran Alfian di sebelah Amira. Bukannya terintimidasi, cowok soft boy itu justru mengangkat tangannya, memberikan lambaian jahil khusus untuk kembarannya.

Namun, momen manis itu mendadak hancur berantakan.

Rio, yang memegang posisi sebagai drummer untuk lagu full band mereka, tiba-tiba berlari dari arah belakang amplifier menuju ke pinggir panggung. Cowok itu berjalan membungkuk sambil memegangi perutnya dengan wajah sepucat kapas.

"Aduh, aduh, aduh! Sumpah, Yan! Fin! Perut gue melilit banget!" keluh Rio, suaranya tak sengaja tertangkap mic yang masih menyala sehingga seisi aula bisa mendengarnya.

"Lo kenapa, Yo?" tanya Fino bingung, melepaskan strap gitarnya.

"Sambel geprek depan sekolah kayaknya ada dendam pribadi sama usus gue! Gue ke toilet dulu ya! Sumpah, nggak nahan! Sejam jangan cari gue!" teriak Rio panik, lalu tanpa menunggu jawaban, cowok itu melesat lari turun dari panggung seperti dikejar setan.

Kepanikan seketika melanda barisan panitia.

"Yah, Rio! Terus ini yang ngiringin Fino check sound buat lagu kedua siapa dong?! Waktu check sound system-nya mepet banget ini!" keluh Kak Citra, sang stage manager, sambil mengusap wajahnya frustrasi.

"Anak band lain ada yang bisa main drum nggak?!"

Amira menoleh ke arah Alfian dengan raut khawatir.

"Terus gimana dong, Al? Rio kan emang perutnya sensi banget kalau kena pedas."

Melihat kepanikan panitia dan kekosongan di atas panggung, Alfian mendecak kesal. Cowok itu menarik napas panjang, lalu memutar lehernya ke kiri dan kanan hingga terdengar bunyi gemeretak tulang yang samar namun mengerikan.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Alfian berdiri dari kursinya. Ia melepaskan ID card panitia dari lehernya, lalu dengan gerakan tiba-tiba, ia mengalungkan tali lanyard itu ke leher Amira.

"Pegangin. Sekalian pamerin nama gue di dada lo," titah Alfian singkat, menepuk pelan kepala Amira sebelum gadis itu sempat merespons kalimat sarat makna itu.

Alfian berjalan cepat membelah jarak menuju panggung. Dengan satu lompatan ringan bertumpu pada pinggiran speaker, ia naik ke atas panggung. Kehadirannya yang penuh dominasi membuat seisi aula mendadak hening.

Cowok itu berjalan melewati Fino tanpa menoleh, melangkah pasti menuju drum set akustik berwarna merah marun yang ditinggalkan Rio.

Alfian duduk di kursi drummer, menarik posisi snare drum, lalu mengambil sepasang stik drum dari atas floor tom.

Dengan sangat lihai, jari-jari panjang Alfian memutar stik drum itu berulang kali seperti seorang profesional. Ia menatap Fino di depan sana dengan sebelah alis terangkat menantang.

"Ganti gitar elektrik lo. Mainin lagu rock-alternative yang nge-beat tinggi. Gue yang ngiringin," ucap Alfian mutlak, suaranya terdengar jernih dari mic drum yang terpasang di dekatnya.

Mata Fino sedikit melebar mendengar tantangan itu, sebelum akhirnya senyum antusias terbit di wajah tampannya.

"Oke. Siapa takut, Kapten."

Fino meletakkan gitar akustiknya dan menyambar gitar elektrik Fender hitam miliknya. Ia memberikan kode hitungan dengan anggukan kepala.

Detik berikutnya, atmosfer aula yang tadinya mendayu-dayu dan manis, berubah drastis bagai diterjang badai adrenalin.

Bum! Ck-tsh! Bum! Bum! Ck-tsh!

Alfian menghantam drum dengan tenaga yang sangat buas. Ketukannya begitu cepat, rapat, dan menghentak, menciptakan gelombang getaran yang langsung terasa hingga ke rongga dada Amira di kursi penonton.

Keringat mulai menetes dari pelipis Alfian, membasahi ujung rambut hitamnya. Kaos oblongnya perlahan mencetak jelas pergerakan otot lengannya setiap kali ia mengayunkan stik untuk menghajar cymbal dan tom-tom.

Ekspresinya yang selalu datar kini digantikan oleh fokus tingkat dewa yang tajam dan sedikit arogan, memancarkan karisma seratus kali lipat lebih mematikan dari biasanya.

Di garis depan, Fino mengimbangi ketukan beringas Alfian dengan petikan riff gitar elektrik yang melolong liar.

Dua pangeran Dirgantara yang berwajah persis bagai pinang dibelah dua itu sepenuhnya menguasai panggung.

Mereka menyajikan harmoni dari dua kutub yang saling bertabrakan: si hangat yang mempesona di baris depan, dan si dingin yang mendominasi secara mutlak dari baris belakang.

Amira duduk terpaku di kursinya, meremas ujung rok seragamnya kuat-kuat. Jantungnya berdebar sangat kencang, menggila seirama dengan dentuman bass drum. Dan ia tahu pasti, debaran ini bukan untuk sang gitaris yang sedang tersenyum menawan.

Mata Amira tak bisa terlepas sedetik pun dari sosok drummer beringas yang berkeringat di belakang sana.

Sejak kapan kulkas gengsian itu jago banget main drum?! Kenapa dia malah kelihatan seribu kali lebih ganteng kalau lagi mode buas begini?! jerit batin Amira histeris.

Lagu itu mencapai puncaknya. Alfian memberikan tatapan lurus menembus kerumunan, mengunci pandangannya tepat ke arah Amira. Sambil menatap mata gadis itu lekat-lekat, Alfian melakukan drum fill yang sangat cepat dan rumit.

Brak-bum! Cish!

Lagu diakhiri dengan satu pukulan crash cymbal serentak yang memekakkan telinga.

Keheningan melanda aula selama dua detik penuh... sebelum akhirnya jeritan histeris dan tepuk tangan gemuruh dari seluruh panitia meledak nyaris meruntuhkan atap gedung.

Alfian membuang stik drumnya ke atas snare, berdiri dari kursinya dengan napas memburu. Ia mengusap kasar keringat di dahinya dengan punggung tangan, lalu tanpa mempedulikan pujian dan sorakan para panitia cewek, cowok itu melompat turun dari panggung.

Langkahnya tegap dan terarah lurus kembali ke kursi Amira di barisan terdepan.

Begitu sampai, Alfian tidak duduk kembali. Cowok itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan kedua tangannya di sandaran lengan kursi yang diduduki Amira, mengurung gadis itu sepenuhnya dari dua sisi.

Jarak wajah mereka kini tak lebih dari sepuluh sentimeter.

Aroma keringat maskulin yang bercampur mint langsung merangsek masuk, membuat wajah Amira memanas seketika. Mata elang Alfian yang tajam menatap lurus ke dalam manik mata kecokelatan Amira, sementara napas panas cowok itu menerpa wajah gadis yang kini menelan ludah susah payah.

"Gimana?" bisik Alfian dengan suara seraknya yang sengaja dipelankan, hanya untuk didengar oleh Amira. Sebuah senyum miring, sangat arogan namun luar biasa memikat, terbit di sudut bibirnya.

"Masih mau ngeliatin yang main gitar di depan... atau lo udah sadar kalau cowok lo ini jauh lebih keren, hm?" sarkas Alfian jumawa

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!