Di tengah cemoohan keluarga dan stigma sebagai produk gagal bangsawan Pendragon, Wiliam Pendragon menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang jenius Level 12 pencipta Pernapasan Pedang Kegelapan sekaligus pemilik Domain Expansion yang ditakuti. Menjalani kehidupan ganda sebagai murid biasa demi menjaga kedamaian ibunya, Wiliam berubah menjadi "Hantu Topeng" saat malam tiba—sosok vigilante bertopeng bertanduk dan berjubah gelap yang membantai kejahatan tak tersentuh hukum secara dingin tanpa memedulikan pahlawan atau villain. Namun, aksinya yang menyisakan jejak sihir unik mulai mengguncang tatanan politik benua, memicu perburuan massal dan menarik perhatian empat entitas Level 20 terkuat di dunia yang mempertanyakan apakah Hantu Topeng adalah pelindung atau justru bom waktu yang siap membumihanguskan tatanan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucius Aurelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12
Bab 12: Jeritan Malam Kelabu, Kebangkitan Hati Iblis, dan Bencana Kaisar Darah
Aroma hangus, darah amis, dan racun pekat membubung tinggi memenuhi atmosfer di sekitar altar batu ritual. Duke Malphas melayang satu meter di atas tanah, memiringkan kepalanya dengan senyuman miring yang begitu dingin. Empat sayap kehitaman bertatahkan kristal darah di punggungnya mengepak lambat, memicu gelombang kejutan mana yang meruntuhkan sisa-sisa pilar batu di sekeliling mereka.
Wiliam menggenggam gagang Void Eclipse kencang-kencang. Sel-sel Tubuh Demigod di dalam fisiknya bergetar hebat, memompa lahar petir purba dan api hitam langsung dari Inti Cadangan Sekunder menuju ke seluruh otot tangannya.
"Langkah Petir Purba!"
CRACKLE-BOOOMMM!
Wiliam melesat bagaikan kilat menyambar, menghilang dari pandangan mata telanjang! Dalam sepersekian detik, ia telah muncul tepat di atas kepala Duke Malphas, mengayunkan Void Eclipse dengan seluruh kekuatan fisik dan siklus Pernapasan Pedang Kegelapan - Bentuk Ketujuh: Eksekusi Takdir Kehampaan!
SRET-BAMMM!
Namun, sebelum bilah pedang hitam keperakan itu sempat menyentuh mahkota tanduk Duke Malphas, sang Bangsawan Iblis hanya mengangkat jari telunjuk tangan kirinya. Sebuah pelindung berupa lingkaran rune sihir ungu tua terwujud secara instan, menahan tebasan penuh kekuatan Wiliam hanya dengan satu sentuhan jari!
"Kecepatan yang lumayan untuk ukuran cacing mortal," bisik Duke Malphas halus.
BANG!
Dengan satu kibasan jentikan jari manisnya, gelombang gravitasi bertekanan ribuan ton meledak dari ujung jari Malphas, menghantam dada Wiliam secara langsung!
"Kgh...!"
Tubuh Wiliam terlempar melintasi dua ratus meter udara, menghantam benteng batu hingga hancur berkeping-keping! Batu-batu raksasa menimbun tubuhnya dalam sekejap.
"ANAK MUDA!" jerit sang Ksatria Level 15 yang baru saja tiba di area altar bersama empat Ksatria Level 14 dan puluhan penjelajah dungeon veteran. Mereka tidak mengenali sosok di balik topeng itu sebagai Wiliam Pendragon, namun mereka tahu pemuda bertopeng itulah yang baru saja menyelamatkan ribuan warga di alun-alun.
BOOM!
Reruntuhan batu meledak. Wiliam melompat keluar dengan overcoat hitam yang mulai terkoyak di bagian bahu. Ia meludahkan gumpalan darah segar ke tanah. Ketahanan Tubuh Demigod-nya berhasil mencegah organ dalamnya hancur, namun rasa sakit luar biasa merayap di sepanjang tulang rusuknya.
Duke Malphas memicingkan mata emasnya, menatap garis-garis retakan keemasan yang berpendip halus di balik lapisan kulit Wiliam yang terkoyak.
"Oho...?" Duke Malphas menyunggingkan senyuman terperanjat yang sangat lebar, memberikan tepuk tangan pelan yang menggema mengejek. "Luar biasa! Sungguh amat luar biasa! Kau telah memadatkan saluran manamu, merekayasa ulang sel organ dalammu, dan melangkah masuk ke dalam Jalur Penempaan Tubuh Demigod?! Bagaimana bisa sesosok manusia mortal berusia belia memiliki fondasi Setengah Dewa di era kemunduran sihir ini?!"
Duke Malphas menggeleng-gelengkan kepalanya penuh apresiasi yang mengerikan. "Apresiasi tertinggi dariku, Nak. Jika kau dibiarkan hidup sepuluh tahun lagi, kau mungkin akan menjadi ancaman nyata bagi Rajaku. Tapi sayang sekali... hari ini kau harus mati di sini."
WUSH!
Tanpa ada tanda-tanda pergerakan, Duke Malphas mendadak berada tepat di depan wajah Wiliam!
"Sangat lambat," bisik Malphas.
PAK! PAK! PAK!
Pukulan bertubi-tubi berkecepatan suara menghantam perut, dada, dan rahang Wiliam! Setiap pukulan Malphas disusupi oleh sihir pembusuk jiwa yang menggerogoti sel-sel fisik Wiliam dari dalam. Wiliam mencoba membalas dengan tebasan Void Inferno, namun Malphas bergerak dengan kelincahan yang benar-benar mustahil—menghindar, memukul, dan mencengkeram leher Wiliam lalu menghempaskannya kencang-kencang ke tanah granit!
BOOOOOOMMMM!
Lantai batu hancur membentuk kawah selebar lima puluh meter. Wiliam terbaring di tengah kawah, tersengal-sengal hebat seraya menyemburkan darah segar. Kemampuan regenerasi cepat dari Tubuh Demigod-nya bekerja keras menautkan kembali serat otot yang robek, namun kecepatan pembusukan sihir Malphas jauh lebih dominan!
"Bantu dia! Serang Bangsawan Iblis itu!" teriak sang Ksatria Level 15 memimpin puluhan penjelajah.
EMPAT PULUH penjelajah dan ksatria melompat menyerbu Duke Malphas dari segala penjuru, melepaskan badai sihir api, tebasan angin, dan tombak batu.
Namun, kehadiran mereka justru menjadi pembantaian massal yang mengerikan.
"Serangga yang tidak tahu diri," kata Malphas dingin.
Dengan satu putaran empat sayapnya, ribuan jarum kristal darah meluncur secepat kilat!
STAB! STAB! STAB! STAB!
"AAAKKKKH!"
"Tolong! Mataku!"
"Tangan kuku—GHARRGH!"
Hanya dalam kurun waktu lima detik, tiga puluh penjelajah dan empat Ksatria Level 14 tewas seketika dengan tubuh berlubang bagaikan sarang lebah! Darah mereka menyembur deras, terserap langsung ke dalam retakan dimensi altar untuk memperkuat aura Duke Malphas. Niat mereka untuk membantu justru berujung menambah pakan energi bagi sang iblis.
Wiliam mengepalkan tangannya di tengah kawah, menggertakkan giginya hingga berdarah. Melihat korban jiwa yang berjatuhan dan kelemahan fisiknya saat ini, ia menyadari tidak ada pilihan lain.
"Sihir Domain Absolut: Kehampaan Malam Tanpa Bintang (Domain Expansion: Eternal Void)!" raung Wiliam dari balik topengnya!
Aura kegelapan pekat merebak dari tubuh Wiliam, mencoba menelan area sejauh dua ratus meter untuk mengurung Malphas di dalam ruang isolasi buatannya di mana seluruh hukum fisika dan sihir berada di bawah kendalinya.
Sang Ksatria Level 15 yang melihat merebaknya kubah kegelapan itu membelalak kaget. "I-Ini... Sihir Domain?! Pemuda bertopeng ini sanggup membuka Domain?!"
Namun, sebelum kubah kegelapan itu sempat terbentuk sempurna—
Duke Malphas hanya menginjakkan kaki kanannya ke tanah.
KRRRACK-THUD!
"Ganggual Gelombang Jiwa: Hancur!"
GLASS-CRASH!
Kubah domain milik Wiliam seketika retak dan hancur berkeping-keping bagaikan cermin kaca yang dilempar batu sebelum sempat mengisolasi area! Reaksi balik (backlash) dari kegagalan domain menghantam jantung Wiliam, membuatnya memuntahkan lahar darah dari mulutnya!
Sang Ksatria Level 15 terpana kaku dengan mata melotot horor. "B-Bagaimana mungkin... Domain Expansion digagalkan dan dihancurkan hanya dengan satu hentakan kaki?!"
Wiliam terkapar di tanah. Regenerasi fisiknya telah berhenti total akibat habisnya pasokan mana di Inti Cadangan Sekunder. Sensasi rasa sakit yang membakar menyelimuti seluruh persendiannya. Wiliam tidak diberikan kesempatan sedikit pun untuk melancarkan counter-attack; Malphas mengontrol penuh ritme pertempuran dengan dominasi absolut.
"Sekarang... mari kita akhiri pertunjukan ini," ucap Ksatria Level 15 seraya memicu seluruh sisa mana Level 15 di dalam intinya. Pedang besarnya membara oleh pendar cahaya keemasan puncak. "Aku akan menahannya! Pemuda bertopeng, lari dari sini!"
Sang Ksatria Level 15 melompat menanjak, mengumpulkan seluruh kekuatan hidupnya untuk melancarkan serangan pamungkas penghancur iblis!
Namun, di tengah jalurnya melayang di udara—gerakannya mendadak terhenti kaku.
Mata sang Ksatria Level 15 melotot lebar. Cahaya keemasan di pedangnya meredup seketika. Ia perlahan-lahan menunduk, menatap dadanya sendiri.
Sesosok lengan pucat bertanduk—lengan milik Duke Malphas—telah menancap dan menembus dadanya dari belakang, menggenggam jantungnya yang masih berdenyut!
Entah kapan dan bagaimana caranya, Malphas telah berpindah posisi berdiri tepat di belakang sang Ksatria tanpa memicu fluktuasi angin sedikit pun!
"Kau terlalu bising, Ksatria tua," bisik Malphas tepat di telinga Ksatria itu.
CRUSH!
Malphas meremukkan jantung sang Ksatria di dalam genggamannya, lalu menarik lengannya keluar secara kasar. Tubuh Ksatria Level 15 itu jatuh terhempas ke tanah bagaikan boneka kain yang putus talinya, tewas seketika.
"TIDAKKKKKK!" raung Wiliam dari tengah kawah!
Meskipun Wiliam tidak mengenal Ksatria itu, melihat seorang pejuang gugur secara mengenaskan di depan matanya memicu kemarahan liar di dalam jiwanya. Dengan sisa-sisa tenaganya, Wiliam melompat menyerang Malphas menggunakan tebasan tangan kosong bercampur petir purba—meski ia tahu secara pasti bahwa serangan itu tidak akan memberi pengaruh apa pun pada sang Bangsawan Iblis!
BANG!
Malphas menangkap pergelangan tangan Wiliam dengan mudah, lalu mulai menyiksa Wiliam secara habis-habisan. Malphas mematahkan kedua tulang lengan Wiliam, mencakar dadanya, dan menghantamkan wajah Wiliam ke dinding batu secara berulang-ulang!
CRACK!
Topeng intimidasi baru milik Wiliam retak hancur berkeping-keping, jatuh terlepas ke tanah. Overcoat hitam barunya robek total menjadi kain tiram, terlepas dari tubuhnya dan menyisakan Wiliam yang kini bertelanjang dada dengan tubuh dipenuhi oleh memar hitam, luka tebasan dalam, dan guyuran darah segar.
Malphas mengangkat tubuh Wiliam yang bersimbah darah dengan mencengkeram rambut hitamnya. Namun saat mata Malphas tertuju pada wajah Wiliam yang tak lagi tertutup topeng, sang Bangsawan Iblis tertegun sejenak.
"Oho..." puji Malphas seraya memandangi struktur tulang wajah, garis hidung tegas, dan ketampanan luar biasa milik Wiliam yang terungkap di bawah guyuran darah. "Ketahanan fisik Demigod yang mengagumkan... dan paras yang sangat rupawan. Sungguh keturunan mortal yang sangat indah. Sangat disayangkan bahwa wajah tampan ini harus hancur malam ini."
Para ksatria bertahan yang tersisa di kejauhan serta warga yang mengintip dari balik reruntuhan membelalak kaget saat melihat wajah asli dari sang Hantu Topeng.
"I-Itu... itu bukannya Wiliam Pendragon?!"
"Anak bungsu keluarga Pendragon yang dianggap tidak berbakat?!"
"Dewa Agung... Hantu Topeng yang membantai iblis selama ini adalah Wiliam?!"
Malphas mengangkat pedang kristal darahnya tinggi-tinggi di udara, membidikan ujung bilahnya tepat ke leher Wiliam yang terkulai lelah.
"Selamat tinggal, Demigod muda," ucap Malphas dingin, menyabetkan pedangnya ke bawah dalam tebasan pemenggal kepala!
SRET!
Wiliam memejamkan matanya pasrah. Namun... rasa sakit tebasan yang ia tunggu-tunggu tidak pernah menimpa lehernya.
Sebagai gantinya, cipratan darah hangat yang sangat tebal menyembur deras, membasahi seluruh wajah dan dada telanjang Wiliam.
THUD.
Sebuah tubuh hangat terhempas memeluk dada Wiliam, menahan tebasan pedang kristal darah Malphas menggunakan punggung dan dadanya sendiri!
Wiliam membuka matanya lebar-lebar. Manik mata merahnya bergetar hebat saat melihat rambut kelabu tua yang sangat dihafalkannya terurai di atas dadanya.
"I... Ibu...?" bisik Wiliam dengan suara gemetaran yang tak berdaya.
Eleanor Pendragon berdiri gemetaran seraya memeluk leher putra bungsunya. Bilah pedang kristal darah milik Malphas telah menembus dada bagian belakang Eleanor hingga tembus ke depan, meneteskan darah merah segar yang membasahi gaun tidurnya.
"Ibu...! Kenapa... KENAPA IBU DI SINI?!" raung Wiliam histeris! Ia merangkul tubuh ibunya yang perlahan-lahan kehilangan bobotnya, menangis sejadi-jadinya seraya mencoba menutupi lubang tebasan di dada ibunya dengan tangan telanjangnya yang gemetaran! "Ibu! Buka matamu! Jangan bercanda, Bu! Sihir pemulih... mana sihir pemulihku?!"
Wiliam memompa sisa-sisa mana yang kosong, namun tidak ada satu pun percikan sihir yang keluar dari tangannya.
Eleanor bersandar lemah di dada Wiliam. Jemari tangannya yang makin dingin mengusap lembut pipi Wiliam yang bersimbah darah dan air mata. Sebuah senyuman paling hangat dan penuh kasih sayang terukir di wajah cantik ibunya yang kian pucat.
"Wiliam... putra kecil Ibu yang kuat..." bisik Eleanor sangat pelan, suaranya terputus-putus oleh gumpalan darah di tenggorokannya. "Jangan... jangan menangis, Nak... Ibu... Ibu selalu bangga padamu... kau bukan produk gagal..."
"Ibu! Kuartikan seluruh hidupku untukmu! Buka matamu, Ibu! MOHON!" jerit Wiliam meratapi ibunya dengan raungan kesakitan jiwa yang memecah malam.
Eleanor memejamkan matanya perlahan, jemarinya yang meraba pipi Wiliam jatuh terkulai lemah ke tanah. "Hiduplah... dengan baik... Wiliam-ku..."
Napas Eleanor Pendragon terhenti sepenuhnya di dalam pelukan anak bungsunya.
"ELEANORRRRRRRRR!"
Dari kejauhan, Julius Pendragon yang baru saja tiba bersama Julius Jr. dan Hector melihat istrinya tewas di tempat. Julius Pendragon meraung histeris bagaikan orang gila. Dengan mata merah berdarah, Julius memicu seluruh aura pedang apinya hingga membakar jalur darahnya sendiri, melompat menyerang Duke Malphas secara membabi buta!
"IBLIS KEPARAT! KUBUNUH KAU! KUBUNUH KAUUU!" raung Julius mengayunkan pedang besarnya bertubi-tubi!
Namun Malphas bahkan tidak memandang ke arahnya. Dengan satu kibasan sayap, gelombang angin hitam menghempaskan Julius Pendragon, Julius Jr., dan Hector hingga tulang-tulang mereka patah dan terkapar bersimbah darah di tanah, tak berdaya.
Sementara itu... di tengah kawah altar yang hening.
Wiliam berlutut membisu seraya memangku tubuh kaku ibunya. Air mata darah mengalir pelan dari sepasang matanya.
Di dalam kedalaman jiwa Wiliam, sebuah ledakan emosi hitam yang tak terukur besarnya meletus. Rasa bersalah, rasa kehilangan, kehampaan, dan Kebencian Absolut terhadap seluruh ras iblis merayap masuk, menggerogoti dan menghancurkan seluruh dinding moralitas di dalam fisiknya.
Sebuah ironi paling takdir dan mengerikan terjadi pada detik itu: Pemuda yang paling membenci iblis dan bertarung mati-matian membantai mereka... kini membiarkan jiwanya tenggelam dan membangkitkan Hati Iblis (Demon Heart) di dalam intinya sendiri.
Di dalam Alam Bawah Sadar Wiliam...
Wiliam berjalan dengan langkah limbung di atas samudra darah yang tak bertepi. Tubuhnya penuh luka, pandangannya hampa, dan jiwanya telah mati bersamaan dengan terhentinya detak jantung ibunya.
Saat ia hampir tenggelam ke dalam samudra darah, sesosok lengan tegap menangkap dan menahan bahu Wiliam.
Wiliam mendongak lambat. Berdiri di hadapannya adalah entitas yang memiliki wajah, tubuh, dan bentuk yang 100% identik dengannya—namun entitas ini memiliki sepasang mata merah menyala absolut tanpa emosi sedikit pun, dipenuhi oleh kehendak pembantaian primordial.
Entitas yang mirip dengannya itu menatap Wiliam yang hancur dengan raut wajah datar yang sangat dingin.
"Kau terlalu lemah untuk menanggung rasa sakit ini, Wiliam," ucap entitas itu dengan suara bergelombang yang menggetarkan dimensi bawah sadar. "Istirahatlah. Serahkan seluruh tubuh, jiwa, dan kebencian ini padaku... Aku yang akan membalaskan dendam Ibu. Aku yang akan membantai Bangsawan Iblis itu hingga ke esensi jiwanya yang paling dalam."
Wiliam menatap entitas dirinya sendiri itu dengan mata hampa. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Wiliam membiarkan kesadarannya tenggelam pasrah ke dalam kegelapan samudra darah, menyerahkan kontrol tubuh fisiknya secara mutlak kepada sang entitas kegelapan.
Kembali ke Dunia Nyata...
Duke Malphas melangkah pelan mendekati Wiliam yang masih berlutut membisu di samping jasad ibunya. Julius Pendragon yang terkapar terluka parah di kejauhan merangkak dengan siku tangannya yang patah, berteriak histeris dengan suara serak:
"Wiliam! LARI! WILIAMMMM!"
"Adik... Lari...!" jerit Julius Jr. dan Hector dari balik batuk darah mereka.
Malphas mengangkat pedang kristal darahnya, membidikan ujungnya ke punggung kepala Wiliam. "Pengiring jenazah yang sempurna untuk ibumu adalah dirimu sendiri—"
Namun, sebelum ucapan Malphas selesai—
RUMBLEEEEEEEEEEEEEE!
Sebuah tekanan aura yang begitu masif, begitu pekat, dan begitu sangat amat mengerikan mendadak meletus dari dalam tubuh telanjang Wiliam!
Pilar cahaya merah kehitaman setinggi ribuan meter meledak menembus awan langit malam, meruntuhkan seluruh atmosfer ibu kota! Tekanan aura itu begitu berat hingga tanah di radius lima kilometer ambles sedalam tiga meter secara serentak!
Duke Malphas terperanjat hebat, terlempar mundur sepuluh langkah saat merasakan tekanan aura yang terasa begitu familier di dalam memori rasnya.
"I-Ini...?! Tekanan aura ini...?!" Malphas membelalak kaget, lalu mendadak tertawa terbahak-bahak secara histeris dengan wajah penuh ketakutan bercampur takjub! "HAHAHAHAHA! LUAR BIASA! TAK DISANGKA! Ternyata di dalam darah mortalmu... tersimpan warisan genetik dan kehendak dari Kaisar Iblis Primordial (Demon Emperor)?!"
CRACKLE-KRRRACK!
Di punggung tangan kanan Wiliam, Segel Wadah Demigod mendadak terbakar berubah menjadi warna merah darah murni!
Dari balik punggung telanjang Wiliam yang berurat hitam, dua tanduk iblis berwarna hitam keemasan meluncur tumbuh menembus dahi dan pelipisnya. Tak berhenti di sana, Empat Sayap Iblis Kehampaan (Four Void Demon Wings) bertatahkan api merah-hitam mekar sempurna dari tulang belikatnya!
Wiliam kini berdiri di persimpangan takdir paling ekstrem: Ia menapaki Jalur Demigod dan Jalur Iblis Absolut secara bersamaan!
Wiliam—yang kini dikendalikan oleh entitas bayangan jiwanya—berdiri tegak secara perlahan. Wajahnya yang tampan dan bersimbah darah kini sepenuhnya hampa dari ekspresi manusia. Matanya menyala merah darah tanpa pupil, dan garis-garis tato iblis kuno merayap di sepanjang dada dan lengannya.
Ia tidak menangis, tidak berteriak, dan tidak memancarkan amarah kasar. Ia hanya berdiri seraya memegang gagang Void Eclipse yang kini menyala oleh api hitam pembakar jiwa dan kilatan petir darah.
WUSH!
Pertarungan yang tadinya berat sebelah kini berubah total!
Wiliam melesat tanpa memicu gelombang suara sedikit pun! Dalam kurun waktu kurang dari 0,001 detik, ia telah muncul di belakang Duke Malphas!
SRET-BOOOOMMM!
Tebasan Void Eclipse dalam wujud iblis Wiliam begitu cepat dan agresif hingga merobek dua sayap kehitaman milik Duke Malphas dalam sekali ayunan!
"GHAARGH!" Malphas menjerit kesakitan saat darah emasnya menyembur deras. Ia memutar tubuhnya, melepaskan badai sihir pembusuk jiwa tingkat maksimum!
Namun Wiliam yang bertarung tanpa ekspresi tidak sedikit pun berusaha menghindar atau bertahan. Ia menerobos badai sihir itu dengan ketahanan Tubuh Demigod-Iblisnya, membiarkan kulitnya tergores demi mendaratkan cengkeraman tangan kanannya langsung ke rahang Malphas!
BAMMM!
Wiliam menyeret tubuh Duke Malphas melintasi tanah granit sejauh satu kilometer, menghantamkan kepala sang Bangsawan Iblis ke setiap dinding batu yang mereka lewati dengan kecepatan membenturkan meteor!
"Iblis gila...!" raung Malphas dalam kepanikannya. Ia memicu Sihir Kompresi Ruang untuk meledakkan tangan Wiliam.
Namun Wiliam tidak meringis. Wajahnya tetap datar sempurna. Dengan empat sayap iblisnya yang mengepak kencang, Wiliam melompat melayang ke udara seraya menarik Malphas, lalu melempar Bangsawan Iblis Level 18 itu melesat ke atas langit!
Wiliam menyilangkan kedua tangannya, memicu seluruh gabungan kekuatan Pernapasan Pedang Kegelapan, Void Inferno, Petir Purba, dan Aura Kaisar Iblis ke dalam satu tebasan pemungkas!
"Teknik Larangan Iblis: Pembantaian Jiwa Kehampaan Absolut!"
WUSH-BOOOOOOOOOOOOOOOOOOMMMMMMMMMMM!
Sebuah gelombang tebasan berbentuk siluet naga api hitam-merah berukuran raksasa meluncur menembus awan langit malam, menelan tubuh Duke Malphas secara mutlak!
"TIDAKKKKKK! INI MUSTAHIL! AKU ADALAH DUKE MALPHAS—"
Jeritan Malphas terputus seketika saat nyala api hitam pembakar jiwa meremukkan inti mana, sel fisik, dan esensi jiwanya hingga hancur berkeping-keping tanpa menyisa satu atom pun di udara!
Bangsawan Iblis Level 18 itu musnah total dari muka bumi.
Flap... flap...
Langit malam kembali hening. Asap hitam dan percikan api merah perlahan-lahan mengendap.
Tubuh Wiliam turun melayang dari udara, mendarat perlahan di atas altar batu yang hancur. Sayap iblis dan tanduk di tubuhnya meredup secara perlahan, menyerap kembali ke dalam kulitnya saat kesadaran entitas iblis itu mengendur.
Wiliam melangkah kaku dengan wajah yang tetap pucat dan datar. Ia bertekuk lutut di samping jasad ibunya yang sudah dingin, menyelimuti tubuh ibunya dengan sisa kain jubahnya.
Julius Pendragon, Julius Jr., dan Hector menatap Wiliam dari kejauhan dengan perasaan campur aduk yang tak terlukiskan—rasa takut akan kekuatan iblis anaknya, rasa bersalah yang teramat dalam, dan duka cita atas gugurnya Eleanor Pendragon di malam pesta ulang tahun kota yang berdarah.