"Semua orang bilang dia dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tapi hanya aku yang tahu — di balik tatapan dingin itu, tersembunyi hati yang paling lembut dan paling setia."
Su Yi, gadis sederhana yang tiba-tiba dijodohkan dengan pria paling ditakuti, paling kaya, dan paling dingin di kota — Mo Han, CEO Grup Mo yang kekuasaannya merentang ke seluruh negeri. Semua orang kasihan padanya, mengira dia hanya akan menjadi istri piala yang dibuang kapan saja. Namun tak ada yang tahu... Mo Han sudah menunggunya selama sepuluh tahun.
Di balik perjodohan yang dipaksakan itu, tersembunyi cinta yang tak pernah terucap, rahasia masa lalu, dan bahaya yang perlahan mendekat. Saat Su Yi perlahan melihat sisi lain pria itu, hatinya mulai bergetar. Tapi saat dia mulai jatuh cinta... rahasia besar itu mulai terungkap.
Apakah perjodohan ini akan menjadi neraka selamanya? Atau justru menjadi awal dari cinta yang paling indah dan paling abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 — PERJODOHAN TAK DIINGINKAN
📖 BAB 1 — PERJODOHAN TAK DIINGINKAN
Hujan turun deras memukul jendela ruang tamu yang luas dan mewah itu. Su Yi berdiri diam di dekat jendela, tangannya meremas ujung gaun putih sederhana yang ia kenakan, jantungnya berdebar kencang seakan ingin melompat keluar dari dadanya. Di ruangan itu, udara terasa berat dan dingin, meskipun pemanas ruangan menyala dengan suhu yang cukup tinggi.
"Su Yi, duduklah. Jangan berjalan mondar-mandir seperti itu, membuatku pusing."
Suara ibunya terdengar tegas dan sedikit tidak sabar dari sofa besar di tengah ruangan. Su Yi menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya, lalu berjalan perlahan dan duduk di kursi paling pinggir — seakan ia tak berhak duduk di ruangan yang semewah ini.
"Ibu... apakah ini benar-benar harus terjadi?" Su Yi bertanya pelan, matanya menatap kedua orang tuanya yang duduk di seberangnya. "Aku belum pernah bertemu dengannya. Aku tidak tahu siapa dia. Bagaimana aku bisa menikah dengan orang asing?"
Ayahnya, Tuan Su, menghela napas panjang dan menatap putrinya dengan tatapan yang sulit diartikan — campuran antara rasa bersalah dan tekad yang tak tergoyahkan. "Ayah tahu ini berat untukmu, Yi. Tapi keluarga kita sedang dalam kesulitan besar. Hanya Keluarga Mo yang bisa membantu kita keluar dari masalah ini. Dan Mo Han... dia memintamu secara khusus."
"Memintaku?" Su Yi terkejut, matanya melebar tak percaya. "Tapi aku tidak pernah bertemu dengannya. Mengapa dia memilihku?"
"Kau tidak perlu tahu alasannya." Ibunya memotong dengan cepat. "Yang perlu kau tahu — dia pria paling kaya, paling berkuasa di kota ini. Menikah dengannya berarti kau akan hidup mewah seumur hidup. Banyak gadis yang bermimpi berada di posisimu ini. Jangan bersikap tidak tahu berterima kasih."
Su Yi menunduk, air mata hampir jatuh dari matanya. Ia tahu tidak ada yang akan mendengarkannya. Semua keputusan sudah diambil. Ia hanyalah sebuah benda yang dipertukarkan demi keuntungan keluarga. Ia menutup matanya rapat-rapat, berusaha menahan rasa sakit di dadanya. Baiklah... jika ini yang kalian inginkan... aku akan melakukannya. Tapi aku tidak akan pernah mencintainya.
Belum lama kemudian, suara mobil mewah berhenti di depan rumah. Pelayan segera membuka pintu besar, dan suasana ruangan yang tadinya sudah hening menjadi semakin sunyi. Dari luar masuk seorang pria yang membuat seluruh ruangan seakan menjadi lebih dingin — Mo Han.
Ia mengenakan setelan jas hitam yang sempurna, menonjolkan tubuh tegap dan tinggi yang memesona. Wajahnya tampan namun dingin seperti patung batu yang diukir oleh tangan dewa — rahang tegas, hidung mancung, dan sepasang mata hitam pekat yang begitu dalam dan tajam seakan bisa menembus hati setiap orang yang ditatapnya. Saat ia berjalan masuk, tidak ada suara langkah kakinya, namun setiap orang yang ada di ruangan itu merasa sesak napas. Aura kekuatan dan kekuasaan yang memancar dari dirinya begitu kuat hingga seakan ia adalah raja yang baru saja memasuki kerajaannya sendiri.
Ia berhenti tepat di depan Su Yi yang masih duduk tertunduk. Ia tidak duduk, tidak juga menyapa kedua orang tuanya. Ia hanya menatap gadis di depannya dengan tatapan yang sulit dibaca — dingin, tajam, namun ada sesuatu yang lain di sana, sesuatu yang tersembunyi di balik kedalaman matanya.
"Jadi kau itu." Suara Mo Han terdengar rendah, berat, dan begitu mendominasi hingga membuat Su Yi gemetar pelan.
Su Yi perlahan mengangkat kepalanya, menatap pria itu. Hatinya berhenti berdetak sejenak. Ia sudah mendengar banyak hal tentang Mo Han — pria yang kejam, dingin, tak kenal ampun, yang bisa menghancurkan seseorang hanya dengan satu kata. Namun saat menatap matanya secara langsung, ia merasa bukan ketakutan yang ia rasakan — melainkan rasa familiaritas yang aneh. Seakan ia pernah melihat pria ini di suatu tempat, waktu yang sangat lama dulu.
"Namaku Su Yi." Ia menjawab pelan, berusaha sekuat tenaga agar suaranya tidak bergetar. "Dan aku... aku akan menikah denganmu. Tapi aku ingin kau tahu — aku tidak melakukan ini karena mencintaimu."
Mo Han diam saja, tidak marah, tidak juga tersenyum. Ia hanya menatapnya lama, begitu lama hingga Su Yi merasa jantungnya akan meledak. Lalu, perlahan, ia mengulurkan tangannya — jari-jarinya yang panjang dan kuat terulur ke arahnya.
"Aku tahu." Kata-kata itu keluar pelan dari bibirnya, hampir tak terdengar. "Dan itu tidak masalah bagiku."
Su Yi menatap tangannya, lalu perlahan meletakkan tangannya di atas telapak tangan pria itu. Tangan Mo Han terasa hangat dan kuat, begitu hangat hingga membuatnya terkejut — ia kira tangan pria sedingin itu akan sedingin es. Saat tangannya digenggam erat oleh tangan pria itu, ia merasakan getaran yang aneh di seluruh tubuhnya.
"Kalau begitu, mulai hari ini..." Mo Han berkata, matanya tak pernah lepas dari wajahnya. "...kau adalah istriku. Dan apa pun yang terjadi, tidak ada yang boleh menyakitimu. Termasuk dirimu sendiri."
Su Yi tertegun. Kata-kata itu... bukan kata-kata suami yang tak peduli. Tapi sebelum ia sempat bertanya, Mo Han menarik tangannya dan berbalik menatap kedua orang tuanya dengan tatapan yang kembali dingin dan tajam.
"Pernikahan akan dilaksanakan tiga hari lagi. Setelah itu, Su Yi akan tinggal di kediaman utama Keluarga Mo. Jangan pernah mencoba menghubunginya kecuali hal yang sangat penting. Dan ingat — dia milikku sekarang."
Tanpa menunggu jawaban, ia menggenggam tangan Su Yi kembali dan membimbingnya keluar dari rumah itu. Mobil mewah berwarna hitam pekat berhenti di depan pintu, dan saat Mo Han membukakan pintu untuknya, Su Yi melihat sekilas wajah pria itu — dan untuk sekejap, ia melihat sesuatu yang membuat hatinya berdebar tak menentu. Di balik tatapan dingin itu... ada kesedihan yang dalam, dan cinta yang tak terucap.
Mobil melaju perlahan membelah hujan, meninggalkan rumah masa kecilnya, membawa Su Yi menuju kehidupan baru yang sama sekali tidak ia ketahui. Di sebelahnya, Mo Han duduk diam menatap ke luar jendela, wajahnya kembali dingin tanpa ekspresi. Namun tangannya yang menggenggam tangan Su Yi sejak tadi... tidak pernah melepaskannya.
"Tunggu aku sedikit lagi, Yi." Mo Han berbisik pelan, begitu pelan hingga hanya dirinya sendiri yang bisa mendengar. "Sepuluh tahun aku menunggu. Kali ini... aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
salam interaksi thor😉