"Arman itu sekarang makin tidak perhatian sama Ibu," tulis pesan dari Ibu Lestari dalam tangkapan layar tersebut. "Setiap bulan uang belanja selalu berkurang. Pasti uangnya dipakai untuk hal-hal yang tidak jelas. Beda sekali sama Yoga. Tapi Yoga juga sama saja, makin ke sini makin tunduk sama Isma. Apa-apa selalu Isma yang didahulukan, sampai-sampai ibunya sendiri sering dilupakan."
Pesan berikutnya memperlihatkan balasan dari Aini yang terkesan memprovokasi, "Sabar ya, Bu. Aini sama Mas Arman selalu usahakan yang terbaik buat Ibu. Kalau Mas Yoga mungkin repot karena harus mengurus Kak Isma juga."
Dan balasan terakhir dari Ibu Lestari membuat napas Isma tertahan: "Repot bagaimana? Anak saja belum punya sampai sekarang. Sudah lima tahun menikah tapi belum ada tanda-tanda. Ibu ini makin tua, ingin menimang cucu dari anak sulung. Tapi kalau rahimnya memang mandul, mau bagaimana lagi. Kasihan Yoga, hidupnya habis cuma buat membiayai perempuan yang tidak bisa memberikan keturunan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KUNCI DAN GERBANG KEBEBASAN
Waktu menunjukkan pukul tiga sore. Cahaya matahari mulai bergeser ke arah barat, memancarkan sinar keemasan yang menembus celah jendela kamar. Isma berdiri di depan cermin, memoleskan lipstik tipis untuk menyempurnakan penampilannya. Hari ini ia mengenakan kemeja katun elegan dipadu dengan celana kain berpotongan rapi—pakaian yang memancarkan aura mandiri dan profesional.
Dari dalam tas bahu kulitnya, Isma memastikan semua dokumen pribadi, kartu identitas, serta ponsel sekunder yang memuat bukti-bukti perselingkuhan Yoga tersimpan rapi. Ia meraih kunci motor matic hitamnya di atas meja rias.
Saat melangkah keluar kamar dan melintasi ruang tamu, langkah kaki Isma yang mantap seketika menarik perhatian Ibu Lestari dan Aini yang sedang bersantai di depan televisi.
"Mau ke mana lagi kamu, Isma? Kemarin sudah keluar, sekarang mau keluyuran sore-sore begini?" sergah Ibu Lestari dengan dahi berkerut tajam. "Urusan rumah sudah beres belum? Nanti kalau Yoga pulang capek, kamu malah tidak ada di rumah!"
Aini ikut melirik sinis dari balik ponselnya. "Iya, Kak. Gaya banget tiap sore keluar pakai motor. Dipikir bensin motor itu gratis apa?"
Isma menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu depan. Ia memutar badan perlahan, menatap ibu mertua dan adik iparnya dengan raut wajah yang sangat tenang, tanpa sedikit pun riak kejengkelan.
"Saya ada urusan penting sebentar, Bu. Tidak akan lama," sahut Isma dengan intonasi datar namun penuh penekanan.
Tanpa memberikan kesempatan bagi Ibu Lestari untuk melontarkan omelan susulan, Isma berbalik, melangkah keluar menembus teras, lalu mendekati motor matic-nya. Ia menyalakan mesin, mengenakan helm, dan melaju meninggalkan halaman rumah tanpa menoleh lagi ke belakang.
Di sepanjang jalan menuju kawasan Cluster Green Valley, angin sore menyapa wajahnya dengan lembut. Di benaknya, Isma sudah membayangkan kunci rumah baru yang sebentar lagi akan berada di genggamannya. Di saat suaminya sibuk menyembunyikan kebohongan di kantor demi wanita lain, Isma justru sedang melangkah menuju gerbang kebebasannya yang hakiki.
Motor matic hitam Isma berhenti dengan mulus di pelataran salah satu unit rumah di kawasan Cluster Green Valley. Suasana perumahan itu sangat tenang, jauh dari hiruk-pikuk kebisingan jalan raya dan sangat kontras dengan atmosfer rumah mertuanya yang selalu dipenuhi omelan.
Sebuah bangunan dua lantai berarsitektur minimalis modern berdiri megah di hadapannya. Dindingnya didominasi warna putih bersih dengan aksen kayu hangat, serta jendela-jendela kaca besar yang memantulkan sinar matahari sore.
Seorang pria berseragam rapi yang berdiri di depan gerbang bersama seorang wanita membawa map tebal langsung menyambut Isma begitu ia melepas helmnya.
"Selamat sore, Mbak Isma ?" tanya pria itu ramah sembari mengulurkan tangan.
"Selamat sore, Pak. Iya, saya Isma," balas Isma anggun dengan senyum profesional.
"Saya Danu, agen properti yang menghubungi Mbak tadi pagi. Dan ini Ibu Siska dari pihak legal/notaris yang membantu pengurusan berkas," jelas agen properti itu. "Mari Mbak, silakan masuk dan lihat-lihat dulu interior dalamnya."
Isma melangkah melewati pintu utama yang kokoh. Udara sejuk di dalam rumah langsung menyambutnya. Ia menelusuri lantai bawah yang lapang, dapur bersih berkonsep terbuka, hingga naik ke lantai dua di mana terdapat kamar utama yang memiliki balkon pribadi menghadap ke taman kecil belakang. Di sudut lantai dua itu, ada sebuah ruangan terang yang sangat ideal untuk dijadikan ruang kerjanya kelak—tempat tenang untuk terus melahirkan karya-karya terbaiknya.
"Bagaimana, Mbak Isma? Sesuai dengan ekspetasi?" tanya Pak Danu saat mereka kembali ke area ruang tamu.
Isma mematutkan pandangan ke sekeliling ruangan sekali lagi. Hatinya membisikkan kepastian. Rumah ini bukan sekadar bangunan, melainkan simbol kedaulatan dan kemerdekaannya.
"Sangat sesuai, Pak. Saya ambil unit ini," jawab Isma tanpa ragu sedikit pun.
Bu Siska menyunggingkan senyum kagum. "Luar biasa, Mbak Isma. Karena Mbak memilih pembayaran tunai penuh, draf Akta Jual Beli dan berkas balik nama sudah bisa kita tanda tangani sore ini juga setelah proses verifikasi dana selesai."
Isma membuka ponsel pribadinya, melakukan transaksi pemindahbukuan dana pelunasan dari rekening penampung royaltinya secara online. Hanya dalam hitungan detik, notifikasi transaksi berhasil muncul di layar. Bu Siska memeriksa dokumen pembayarannya dan segera menyerahkan map dokumen beserta setumpuk kunci rumah di atas meja.
"Selamat, Mbak Isma. Rumah ini resmi menjadi milik Mbak Isma Zetri secara sah menurut hukum," ucap Bu Siska ramah.
Isma menggenggam dinginnya kunci besi di telapak tangannya. Tatapannya lurus dan penuh tekad. Di saat Yoga sibuk bersembunyi dengan selingkuhannya dan keluarga mertuanya sibuk menghujatnya sebagai istri tak berguna, Isma telah resmi berdiri di atas kerajaannya sendiri—siap meninggalkan masa lalunya yang kelam kapan saja.