Karena ingin melihat putri kembarnya (Agatha & Amanda) segera menikah, Edward menjodohkan mereka dengan pria-pria pengusaha muda tampan yang kaya, putra dari relasi-relasinya.
Agatha di jodohkan dengan Jonathan.
Amanda dijodohkan dengan Vincent.
Pertentanganpun terjadi. Agatha dan Amanda juga Jonathan dan Vincent menolak dijodohkan.
Apa yang terjadi jika Agatha bertemu dengan Vincent (jodoh buat Amanda) dan Amanda bertemu dengan Jonathan (jodoh buat Agatha).
Apakah mereka akan jatuh cinta dengan pria yang dijodohkan untuk saudara kembarnya?
*****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR Maesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH-30 Kembali ke London
Agatha masih berjalan jalan mengelilingi pabrik teh dengan pamannya juga Vincent, mereka ada di area produksi pengolahan teh.
Terdengar handphonenya Vincent berbunyi nyaring. Diapun mengambilnya dari sakunya.
“Aku terima telpon dulu,” ucap Vincent sambil keluar dari ruangan prabrik itu. Agatha tidak merespon apa-apa. Syukurlah Vincent mendapat telpon jadi pria itu melepaskan genggaman tangannya. Pria itu benar-benar tidak inging melepaskan tangannya sedetikpun.
Tapi tidak berapa lama Pamannya mengajak mereka keluar.
“Uncle akan ke kantor, kau mau ikut atau masih mau lihat-lihat?” tanya pamannya.
“Aku mau lihat-lihat sebentar lagi, nanti aku menyusul ke kantor,” jawab Agatha.
“Baiklah,” ucap Ryan, lalu berjalan meninggalkan Agatha diluar pabrik sendirian.
Agatha melihat Vincent sedang menelpon sambil berteduh di bawah pohon. Agatha menghampirinya. Terdengar Vincent sedang bicara dengan seseorang.
“Tidak bisa Mommy, aku tidak akan pulang jika Agatha juga tidak pulang bersamaku,” ucap Vincent, ternyata dia bicara dengan Mommynya.
Agatha menghentikan langkahnya di belakang Vincent.
“Makanya kata Mommy juga jangan bertingkah jangan banyak gaya. Sok sok mau tukar pasangan. Sekarang kau repot sendiri kan? Bagaimana mau mengurus ini dan itu jika pengantinnya tidak ada? Ini pernikahan mewah, jangan membuat malu! Sudah pengantin wanitanya diganti, sekarang kalian menghilang, bagaimana ini?” ibunya Vincent mengomelinya dari sebrang.
“Ya Mommy aku memang salah bersikeras ingin menikah dengan Agatha. Itu karena aku memang hanya ingin menikah dengannya Mommy, aku sangat mencintainya, Mommy,” ucap Vincent.
“Tapi setidaknya Amanda tidak bertingkah macam-macam, dia tidak kabur kemana-mana. Kalau kondisinya seperti sekarang? Pengantin wanita tidak ada, kau juga ikut-ikutan tidak ada, bagaimana ini? Bagaimana kalau Agatha tidak datang dihari pernikahannya? Kita akan malu dua kali,” ucap Mommynya semakin merasa kesal.
“Bersabarlah Mommy, aku yakin Agatha akan mau pulang bersamaku sebelum hari H,” ucap Vincent.
Mommynya terus menggerutu entah apa yang dikatakannya lagi, Agatha tidak mendengar perkataan Mommynya Vincent. Hanya saja dia bisa menebak Mommynya pasti marah karena para pengantinnya pergi dari London.
Akhirnya Vincent menutup telponnya, dia tampak pusing, diapun membalikkan badannya dan terkejut mendapati Agatha ada di belakangnya.
“Mommymu menelponmu?” tanya Agatha.
“Iya, banyak yang harus kita persiapkan, karena kita tidak ada di London, WO kesulitan bekerja,” jawab Vincent, menatap Agatha.
Gadis itu tampak diam beberapa saat.
“Baiklah kita pulang,” ucap Agatha, membuat Vincent terkejut.
“Pulang ke London?” tanya Vincent.
“Iya,” jawab Agatha mengangguk.
“Kau mau pulang bersamaku?” tanya Vincent, masih tidak percaya.
Agatha mengangguk lagi, dia merasa tidak enak dengan keluarganya Vincent karena dia meninggalkan London persiapan pernikahan jadi terganggu. Tapi sebenarnya dia memang ingin sendiri. Dia tidak kuat harus melihat Amanda dan Jonathan juga hilir mudik sibuk mengurus pernikahan mereka.
Seandainya Amanda bukan saudaranya, dia mungkin tidak akan pernah melihat kebersamaan mereka yang akan membuatnya sakit hati setiap saat. Bagaimana dia bisi melupakan gagalnya pernikahannya, jika harus terus menyaksikan kebersamaan mereka.
Vincent mendekati Agatha.
“Kau tidak ingin pulang ke rumah?” tanya Vincent seakan mengerti apa yang difikirkan Agatha.
“Bagaimana kalau kau tinggal dirumahku saja?” tanya Vincent lagi.
Agatha menggeleng.
“Ayo kita pulang,” ajak Agatha, lalu meninggalkan Vincent menuju parkiran mobil. Lagi-lagi Vincent melihat sorot mata yang sedih pada wajah gadis itu. Dia juga mengerti tidak akan mudah melihat calon suami sebelumnya akan menikah dengan saudaranya. Tapi Vincent tidak bicara apa-apa, dia hanya melangkah mengikuti Agatha.
“Agatha, apa kau tidak tahu, bahuku ini dengan sukarela memberikanmu sandaran kapanpun kau membutuhkannya,” ucapnya dalam hati.
Akhirnya hari itu mereka kembali ke London, dan tiba di rumahnya Edward pagi harinya. Dan benar saja apa yang difikirkan oleh Agatha terbukti. Dirumah ada Jonathan yang bertamu akan menjemput Amanda untuk mengurus pernikahan mereka.
Elsa terkejut melihat kedatangan Vincent dan Agatha.
“Sayang, kau pulang?” tanya Elsa pada Agatha yang langsung memeluknya.
“Iya Mommy,” jawab Agatha.
“Terimakasih nak,” ucap Elsa pada Vincent, yang hanya menjawabnya dengan anggukan.
Vincent menoleh pada Jonathan yang sedang duduk di sofa, begitu juga Agatha. Dulu ingin senang sekali jika bertemu dengan pria itu tapi sekarang, terasa sakit hati yang dia rasakan.
“Jo! Aku sudah siap, ayo kita berangkat!” teriak Amanda, dia dengan sumringahnya masuk ke ruangtamu, langkahnya terhenti saat melihat ada Agatha dan Vincent diruangan itu.
“Kau sudah pulang?” tanya Amanda pada Agatha.
Agatha tidak menjawab, dia menoleh pada ibunya.
“Aku ke kamar dulu, Mommy,” ucap Agatha, sambil meninggalkan ruangan itu, tanpa menoleh pada Amanda apalagi pada Jonathan. Pelayan sudah membawakan kopernya terlebih dahulu.
Melihat sikapnya itu Elsa merasa sedih. Semua orang terdiam.
Amanda menatap ibunya. Dia merasa tidak enak dengan sikap Agatha seperti itu.
“Pergilah nak,” ucap Elsa pada Amanda.
“Baiklah Mommy, aku pergi,” kata Amanda. Dia hanya menoleh sebentar pada Vincent, lalu menoleh pada Jonathan yang langsung berdiri dan mengulurkan tangannya pada Amanda yang segera menyambutnya, merekapun keluar rumah.
Vincent menatap kepergian mereka, mereka terlihat bahagia.
Elsa menoleh pada Vincent.
“Nak, duduklah sebentar,” ajaknya,sambil duduk duluan di sofa ruang tamu itu. Vincent mengikutinya.
“Bagaimana caranya kau bisa membuat Agatha pulang?” tanya Elsa setelah Vincent duduk.
“Dia hanya ingin pulang sendiri,” jawab Vincent.
Elsa terdiam tidak bicara lagi, sebenarnya hatinya gelisah melihat kesedihan di wajah putrinya.
“Mrs,” panggil Vincent, Elsa menoleh pada calon menantunya itu.
“Setelah kami menikah, aku berencana tidak tinggal di London, aku rasa itu akan lebih baik supaya Agatha bisa melupakan Jonathan,” ucap Vincent.
Elsa menatap Vincent.
“Setelah menikah, kau bertanggungjawab atas kebahagiaannya, terserah kalian akan tinggal dimana,” jawab Elsa.
“Baiklah, sekarang aku akan pulang, supirku sudah menunggu,” ucap Vincent, yang kali ini membawa supir karena diminta menjemputnya di bandara tadi.
“Baiklah. Terimakasih nak,” ucap Elsa.
Vincent hanya mengangguk. Diapun berdiri, matanya melirik kearah dalam rumah, dia inginnya Agatha mengantar kepulangannya, tapi dia tahu Agatha tidak ingin melakukan itu untuknya. Akhirnya diapun keluar sendiri hanya Elsa yang mengantar kepergiannya.
Setelah Vincent pulang, Elsa menuju kamarnya Agatha. Dia mengetuk pintunya.
Sekali tidak ada jawaban, kedua kali masih tidak ada jawaban, ketiga barulah ada jawaban.
“Masuklah,” jawab Agatha. Elsa pun membuka pintu kamar perlahan. Dilihatnya gadisnya itu duduk dipinggir tempat tidur menghadap ke jendela, membelakangi dirinya.
“Sayang,” panggilnya. Agatha tidak menjawab, putrinya itu hanya menunduk. Hati Elsa semakin terasa tersayat melihatnya, dia tahu putrinya sedang menangis. Diapun buru-buru duduk disampingnya dan memeluknya. Tangis itupun pecah.
“Sayang,” panggil Elsa sambil mengusap usap rambut putrinya, Agatha menangis dipelukannya membuatnya merasa sedih, diapun ikut berkaca-kaca. Dia tidak tahu bagaimana caranya membuat putrinya bahagia. Jonathan sudah menentukan pilihannya untuk menikah dengan Amanda.
Dibiarkannya putrinya menangis seperti itu. Setelah cukup lama, barulah tangis itu mulai reda.
Agatha melepas pelukannya, mengusap airmatanya. Elsa menatap putrinya dia ikut mengusap airmata putrinya.
“Sayang, Mommy tahu ini tidak mudah,” ucap Elsa. Kedua tangannya memegang wajahnya Agatha supaya melihat ke arahnya.
“Seharusnya dari awal aku tidak dijodohkan dengan Jonathan kalau akhirnya harus seperti ini,” ucapnya.
Elsa diam, dilihatnya airmata itu keluar lagi dari sudut mata putrinya, dia menghapusnya dengan jari-jarinya.
“Seharusnya aku tidak dijodohkan dengan Jonathan kalau memang dia menyukai wanita lain,” ucapnya lagi.
Elsa masih diam , kembali menghapus airmata putrinya.
“Aku terlanjur menyukainya Mommy, aku terlanjur merasa dia adalah milikku, aku merasa sakit hati,” ucap Agatha lagi, dia kembali menangis. Elsa kembali memeluknya. Diciumnya kepala putrinya.
“Sayang, kau harus bisa menghadapi kenyataaan, kau juga tidak akan bahagia menikah dengan pria yang menyukai wanita lain,” ucap Elsa.
“Aku menyesal bertemu dengannya,” ucap Agatha.
“Semua sudah terjadi sayang, kau harus melupakan apa yang pernah terjadi,” kata Elsa.
“Bagaimana aku bisa melupakannya Mommy, wanita yang merebut Jonathan dariku saudara kandungku sendiri, aku tiap hari melihatnya, menatap wajahnya mengingatkanku kalau aku kehilangan calon suamiku,membuat rencana pernikahanku gagal,” ucap Agatha.
“Tidak sayang, kau tidak kehilangan calon suamimu, ada Vincent yang menggantikannya, Mommy lihat dia pria yang baik dan bertanggungjawab,” kata Elsa.
“Dia itu hanya seorang playboy yang tidak mau ditolak Mommy, aku tidak menyukainya,” ucap Agatha.
“Tapi Mommy lihat, dia baik,” ucap Elsa, sambil mengenyitkan keningnya, memberikan penilaiannya terhadap Vincent.
“Dia tampan, pekerjaannya juga bagus, sama dengan Jonathan, tidak kalah oleh Jonahan, dia malah type pria yang sangat bersemangat, kau hanya perlu mengenalnya saja,” kata Elsa.
“Aku sudah mengenalnya Mommy, di mall wanita-wanitanya bertemu dan bertengkar, dia juga mengajak janjian denganku. Bertemu di mall dia mengejar-ngejarku, di tempat magang juga begitu, dia sangat agresif, dia selalu mengejar -ngejarku. Mommy lihat sendirikan, karena ulahnya jadinya akhirnya aku tidak menikah dengan Jonathan, dia yang ngotot ingin bertukar pasangan,” keluh Agatha.
“Apa benar begitu?” tanya Elsa.
Agatha mengangguk.
“Sayang semua orang mempunyai masalalu, yang penting dia mau berubah menjadi lebih baik, tidak semua orang sepanjang hidupnya lurus terus kadang ada belokan ada tikungan, segala macam. Dan Mommy lihat Vincent itu sangat mencintaimu, Sayang. Coba kau lihat perjuangannya untuk menikah denganmu. Dia ambil resiko tinggi loh, Mr. Arthur itu memiliki penyakit jantung, kalau terjadi apa-apa mungkin dia akan kehilangan ayahnya, tapi dia terus berusaha untuk mendapatkan cintamu. Dia juga berani melamarmu pada Daddymu, dia sangat gentlemen bukan?” papar Elsa mencoba menghibur putrinya.
“Padahal dia sering kau tolak kan?” lanjut Elsa lagi menatap putrinya. Agatha mengangguk dan tersenyum. Melihat senyum itu membuat hati Esa sedikit terhibur. Dia tidak tega melihat putrinya yang manapun menangis, dia tidak tega.
“Aku bahkan menolaknya tinggal diperkebunan,” ucap Agatha sambil tertawa.
“Benarkah?” tanya Elsa, diapun tersenyum, melihat putrinya bisa tertawa.
Agatha mengangguk.
“Dia tidur di sofa,” jawabnya lagi masih dengan senyumnya.
“Kasihan sekali dia, diperkebunan kan sangat dingin,“ ucap Elsa.
Agatha mengangguk.
Elsa mengusap lagi airamata yang tersisa dipipinya Agatha.
“Tersenyumlah sayang, itu lebih baik, percayalah pada Mommy, Vincent pria yang baik, dia sangat mencintaimu, seharusnya kau senang karena kau beruntung mendapatkan pria seperti itu,” ucap Elsa.
Agatha menatap ibunya lalu memeluknya.
“Kau harus melupakan Jonathan, sayang. Kau harus menata pernikahanmu dengan bahagia,” lanjut Elsa, balas memeluk putrinya. Agatha memeluk ibunya semakin erat.
Mommynya benar, meskipun sulit melupakan Jonathan, tapi dia harus menjalani takdirnya untuk menikah dengan Vincent.
********************
Semangat terus berkarya Kakak author 🔥😘
daripada mencintai..
karena cinta akan tumbuh seiring waktu..
karena kasih yang diberikan setiap hari akan mengikis kebekuan hati..
❤❤❤❤❤❤