Setelah patah hati dimanfaatkan teman sendiri, Alana Aisyah Kartika dikejutkan dengan tawaran yang datang dari presdir tempatnya bekerja, Hawari. Pria itu menawari Lana menikah dengan anak satu-satunya, Alfian Abdul Razman yang lumpuh akibat kecelakaan. Masalahnya, Fian yang tampan itu sudah menikah dengan Lynda La Lune yang lebih memilih sibuk berkarier sebagai model internasional ketimbang mengurus suaminya.
Hawari menawari Lana nikah kontrak selama 1 tahun dengan imbalan uang 1 milyar agar bisa mengurus Fian. Fian awalnya menolak, tapi ketika mengetahui istrinya selingkuh, pria itu menjadikan Lana sebagai alat balas dendam. Lana pun terpaksa menikah karena selain takut kehilangan pekerjaan, adiknya butuh biaya untuk kuliah.
Namun, kenyataan lain datang menghadang. Fian ternyata bukan anak kandung Hawari melainkan anak seorang mafia Itali yang menghilang sejak bayi.
Mampukah Lana bertahan dengan pria galak, angkuh, dan selalu otoriter ini? Lalu, bagaimana nasib mereka ketika kelu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Tiga Hati
Lana mencondongkan tubuhnya ke depan. Kedua matanya membola. "Hamil, dok?"
"Selamat ya. Kamu jadi ibu sekarang."
Lana malah bingung harus bersikap apa. Dokter itu sampai meraih tangannya memberi selamat. Lana tentu saja bingung karena kembali ia ingat posisinya, hanya sebagai istri kontrak. Ia tak pernah memikirkan bila suatu saat akan hamil. Jadi, apa Fian akan senang mendengar hal ini?
Dengan pelan ia melangkah ke luar ruangan. Kertas resep obat berada di tangan. Ia bimbang. Sejauh ini Fian memang baik padanya tapi sejauh ia patuh. Hubungan mereka sejauh ini malah mirip dengan teman dibanding dengan pasangan suami istri pada umumnya. Haruskah ia mengatakan ini pada Fian? Apakah pria itu akan senang atau tak peduli? Tanpa sadar Lana telah meremmas kertas resep di tangannya.
"Tidak, dia pasti senang. Dia pasti ...." Lana kemudian ragu. Bagaimana kalau Fian marah dan minta menggugurkan kandungan ini karena sesungguhnya dirinya hanyalah istri kontrak? Pernikahan kontrak mereka tinggal beberapa bulan lagi tersisa. "Tidak, Fian bukan pria seperti itu walaupun aku tidak pernah tahu yang dipikirkannya. Dia memang gampang marah dan suka memerintah, tapi dia bakal senang kalau aku hamil 'kan?" Lana berusaha menghibur dirinya.
Terdengar ponselnya berbunyi. Ternyata dari Fian. "Lana, kamu gak papa?"
"Ngak papa, Mas."
"Aku nunggu di rumah, aku gak jadi ke kantor. Ayo, pulang."
"Iya, Mas." Lana menutup teleponnya. Ia berusaha menguatkan tekad bahwa ia akan baik-baik saja. Bahwa Fian pasti mau menerima bayi ini karena dialah ayah dari bayi yang dikandungnya. Ia pun bergegas ke apotik.
Pulangnya, ia bergegas masuk ke dalam rumah. Ini mungkin kejutan yang mungkin tidak disangka-sangka. Ia tak sabar ingin melihat wajah suaminya saat mengatakan ini. "Mas ...."
"Halo ...."
Wajah Lana terkejut seketika. Wanita itu telah kembali. Lynda telah kembali. Lynda duduk di ruang tengah bersama Fian.
"Bagaimana?" Fian menoleh pada Lana.
"Eh, tidak apa-apa, kata dokter. Sudah dikasih obat," ucap Lana sambil menunjuk tas sandangnya. Ia berusaha tersenyum walau sudah terlanjur kecewa.
"Syukurlah."
"Mas ...." Lynda berusaha mencuri perhatian Fian. "Maaf ya, aku telat pulang. Soalnya ada penambahan sesi foto lagi sampai-sampai jadwalnya padat dan susah pulang. Kontrakku memang setahun tapi aku rindu kamu ...," sahutnya manja pada Fian. "Aku seneng banget karena kamu ternyata sudah sembuh."
Sekilas ia melirik Lana yang masih terpaku berdiri di sana. Kemudian ia pindah tempat duduk dan duduk di sebelah Fian. Ia merangkul lengan suaminya dengan mesra. "Aku rindu kamu, Mas. Bagaimana kalau kita membangkitkan lagi semangat kebersamaan kita di kamar. Aku sudah tak sabar ingin merasakan tangan kekarmu menjelajahi tubuhku ini, Mas," ucapnya genit. "Pasti kali ini kamu sanggup memuaskanku di ranjang," ucapnya sambil mendekatkan mulutnya ke telinga Fian dan melirik Lana.
Lana terpaku tak bergerak. Ia seketika tak tahu harus berbuat apa.
"Ayo, Mas, kita main di kamarku saja, lebih seru." Lynda berdiri dan menggandeng Fian.
Pria itu melirik Lana. "Kalau kurang sehat, kamu istirahat di kamar saja." Fian pun mengikuti Lynda menaiki tangga.
Hati Lana serasa teriris. Ia bergegas masuk ke dalam kamar. Saat itu sebenarnya Fian tampak begitu khawatir, padahal Lynda merasa senang telah membuat Lana terbakar cemburu. Lynda tersenyum melihat Lana bergegas ke kamarnya.
Sebenarnya Fian masih bingung. Kenapa ia mengikuti Lynda sementara pikirannya hanya pada Lana. Tapi ia ingin membuktikan pada Lynda kalau ia masih perkasa, bukan? Kenapa ketika ingin balas dendam akan pengkhianatan Lynda, ia tidak bahagia? Kenapa hati dan pikirannya kini malah tertuju pada Lana?
Di kamar, Lana menghempas bokkongnya dengan kesal ke atas ranjang diikuti dengan tas sandangnya di samping. Betapa boddoh dirinya. Pria itu pasti kembali dengan istrinya. Istri pertamanya. Bukankah dari awal ia ada untuk membantu Fian untuk kembali sehat? Sekarang setelah Lynda kembali, tak ada gunanya lagi dirinya di sini. Bukankah memang itu komitmen awal mereka?
Satu tahun. Rasanya tak perlu menunggu selama itu karena Fian tak perlu tahu tentang kehamilan dirinya. Bisa saja 'kan pria itu minta ia menggugurkan kandungannya karena kontrak pernikahan mereka hanya setahun. Sebelum sakit hati lebih dalam, ia harus mengundurkan diri lebih dulu.
Lana menunduk. Dirinya memang tak ada apa-apanya dibanding Lynda. Cantik, model, dan wanita yang Fian cinta. Sudah saatnya ia mengembalikan Fian pada istri pertamanya karena memang itulah yang seharusnya. Toh, Fian sejak awal hanya mencintai Lynda bukan dirinya.
Seketika air matanya mulai jatuh. "Kalau aku jadi Lynda juga pasti sakit. Suaminya menikah lagi. Jadi, aku harus tahu diri. Aku harus mengembalikan suaminya ke tempat yang seharusnya."
Lana mendatangi meja nakas. Lacinya ditarik pelan. Dengan tangan gemetar ia menarik keluar selembar kertas yang sudah lama ia persiapkan. Kertas itu adalah surat cerai. Ia kemudian mengeluarkan pulpen dan menandatangani kertas itu.
"Mas. Kalau kamu menemukan kertas ini, aku telah pergi. Tak seperti dugaanku, aku tak kuat menjadi istri keduamu. Tolong, tandatangani saja surat ini." Lana meletakkan surat itu di atas meja.
Fian menatap langit-langit ruangan. Ia tengah bingung. Saat ia menoleh ke samping, Lynda telah tidur karena kelelahan. Rasanya ada yang aneh dengan perasaannya kali ini. Saat ia berhubungan intim dengan Lynda, ia malah mengingat Lana. Ada apa dengan dirinya? Apa ia khawatir dengan keadaan istri keduanya itu? Tapi kenapa? Lana bukankah hadir demi membantu usahanya untuk balas dendam?
Ia juga kini tak begitu bergaiirah berada bersama Lynda dan dengan sendirinya dendam itu seperti kehilangan rumah. Untuk apa dendam sedang rasanya pada wanita ini tidak lagi sama? Sepertinya, tidak ada perlunya untuk mendendam. Ada apa dengan dirinya kini? Sungguh, ia benar-benar bingung. Bahkan ia hanya mengikuti permainan Lynda saja supaya wanita itu senang.
Setiap kali pikirannya beralih pada Lana, semuanya seperti berubah. Cara wanita berkerudung itu merengut, tertawa dan wajah seriusnya, selalu saja bisa membuatnya tersenyum. Santun dan lembut. Polos tapi menyejukkan. Apa perasaannya kini berubah? Apa bisa seseorang kehilangan rasa cinta dengan begitu cepat?
Fian bangkit dari ranjang dan melangkah ke kamar mandi sambil memungut pakaiannya satu-satu di lantai. Setelah membersihkan diri ia pun ke luar diam-diam agar Lynda tak terbangun. Ia menatap lagi ke lantai bawah. Apa Lana sudah tidur?
Karena penasaran dengan hasil dokter, pria itu melangkah cepat di tangga dan masuk ke kamarnya. Namun, tak terlihat siapa pun di sana. Ia pun mencari sampai ke kamar mandi. "Ke mana Lana? Kenapa dia tidak ada di sini?" Fian berpikir sebentar. "Apa dia ada di taman belakang?" Kembali ia ke luar, tapi di taman belakang pun wujud istrinya tak terlihat. Ia kemudian bertanya pada para pembantu yang kebetulan lewat tapi tak satu pun dari mereka yang tahu keberadaannya.
Fian bingung. Firasat mengajaknya kembali ke kamar. Di sanalah ia baru sadar ada yang berkilau di atas meja nakas. Ternyata ada selembar kertas yang ditindih oleh kalung berberlian pink yang pernah ia berikan pada Lana. Dahinya berkerut saat melihat kalung itu dari dekat. Lebih terkejut lagi saat membaca judul kertas itu. "Surat cerai?" Dengan cepat ia meraih kertas itu. Surat itu ternyata telah ditandatangani Lana. "Apa-apaan ini!? Siapa yang mengizinkannya untuk bercerai!?" Fian meremmas kertas itu dengan geram dan mengeluarkan ponsel dari saku celana. Ia mencoba menghubungi Lana, tapi tak bisa. Ponselnya telah dimatikan!
Bersambung ....
mau pakai baju terruutp