Pernikahan Liana dan Abi hanyalah kesepakatan pahit di atas kertas untuk menyambung keturunan.
Liana terjepit di antara rasa hormat kepada Genata dan status barunya sebagai istri kedua. Namun, seiring berjalannya waktu, batas antara "paman" dan "suami" mulai mengabur. Abi terjebak dalam dilema besar saat ia menyadari bahwa Liana bukan sekadar pelanjut nasab, melainkan pemilik kunci hatinya yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Tok.... tok... tok...
Liana menghapus air matanya saat mendengar suara ketukan pintu rumahnya.
Ia segera membuka pintu dan melihat Tante Rani yang baru saja sampai di rumahnya.
"Tante..."
Liana kembali menangis di pelukan tantenya yang masih berdiri di hadapannya.
Tante Rani membalas pelukan Liana dengan erat, mengusap punggung keponakannya itu dengan penuh kasih sayang.
Ia bisa merasakan tubuh Liana yang bergetar hebat.
Sebagai adik dari Mama Prameswari, Rani tahu betul betapa berat beban yang kini dipikul Liana.
"Menangislah, Sayang. Tumpahkan semuanya," bisik Tante Rani lembut.
"Kenapa harus Liana, Tante? Liana nggak mau jadi istri kedua. Liana nggak mau hidup dengan wanita lain." ucap Liana.
Rani menghela nafas panjang dan ia sangat tahu kalau dari dulu memang Liana menyukai Abi.
Tante Rani menuntun Liana masuk dan mendudukkannya di sofa.
Ia menyeka air mata di pipi Liana dengan lembut, namun tatapannya menyiratkan pengertian yang mendalam.
"Liana, dengarkan Tante. Tante tahu kamu merasa dikhianati oleh keadaan. Tapi, bukankah dulu kamu sendiri yang selalu bilang ingin menikah dengan Abi?"
"Itu dulu, Tante! Waktu aku masih kecil, waktu aku belum tahu kalau Paman Abi sudah punya istri sesempurna Tante Genata. Aku tidak mau menghancurkan kebahagiaan wanita lain. Aku tidak mau dianggap sebagai 'pencuri' atau hanya sekadar alat."
"Tante tahu. Tapi kondisi Papa-mu..."
Rani menggantung kalimatnya, membiarkan keheningan ruang tamu itu mengingatkan Liana pada mesin EKG yang berbunyi lemah di rumah sakit tadi.
Malam itu berlalu dengan penuh kesenduan. Liana tidak bisa tidur
Ia mengambil ponselnya dan menghubungi sahabatnya Angela.
Angela yang sudah tertidur pulas sedikit mendengar suara ponselnya yang sedang berdering.
"Hallo, Liana. Ada apa?" tanya Angela dengan suara seraknya.
"Ang, kamu bisa ke rumah sekarang nggak? Besok aku menikah." jawab Liana.
"APA?!"
Angela langsung menutup ponselnya dan segera melajukan mobilnya menuju ke rumah Liana.
Hanya dalam waktu dua puluh menit, suara decit ban mobil terdengar di depan pagar rumah Liana.
Angela muncul dengan napas terengah-engah, masih mengenakan piyama yang dibalut jaket denim kebesaran.
Tanpa mengetuk pintu, Angela langsung menghambur masuk ke kamar Liana yang pintunya memang tidak terkunci.
Ia menemukan sahabatnya itu sedang duduk meringkuk di sudut ranjang, dikelilingi oleh koper liburan yang bahkan belum sempat dibongkar.
"Li! Kamu bercanda kan? Menikah? Sama siapa? Kenapa mendadak begini?"
Angela memberondong dengan pertanyaan, namun suaranya langsung melambat saat melihat mata Liana yang sembab dan wajahnya yang pucat.
"Paman Abi, Ang."
Angela langsung terkejut ketika mendengar jawaban dari sahabatnya.
Ia tahu betul siapa Paman Abi, sosok pria yang merupakan cinta monyet Liana sejak kecil, sosok yang selalu diceritakan Liana dengan mata berbinar. Tapi Angela juga tahu satu fakta krusial yang membuat hatinya ikut mencelos.
"Tapi Li, bukankah dia sudah punya istri. Kamu mau jadi istri kedua?"
"Aku nggak punya pilihan, Ang. Papa terkena serangan jantung tadi malam. Papa bilang ini tentang balas budi, tentang janji masa lalu, dan satu-satunya cara supaya dia bisa tenang adalah melihatku menikah dengan Paman Abi."
Angela duduk di tepi ranjang, merangkul bahu Liana.
"Ini gila, Li. Ini tahun 2025, bukan zaman Siti Nurbaya. Masa depanmu masih panjang. Kamu baru saja mau mulai menata karier setelah lulus."
"Apa artinya Karir kalau Papa nggak ada?"
Liana menangis sesenggukan di bahu sahabatnya.
Malam itu, Angela memutuskan untuk menemani Liana melewati jam-jam paling lambat dalam hidupnya.
Mereka tidak banyak bicara, hanya keheningan yang menyesakkan hingga cahaya fajar perlahan menyeruak masuk melalui celah gorden.
Detik detik demi berganti sampai jam sudah menunjukkan pukul lima pagi.
Liana yang tidak tidur semalaman mendengar suara langkah kaki yang menuju ke kamarnya.
"Liana, ayo kamu mandi dulu. Setelah itu Tante akan mendadani kamu." pinta Rani.
Angela menggenggam tangan Rani dan membantunya untuk ke kamar mandi.
"Aku akan menemani kamu sampai acara selesai," ucap Angela.
Liana melangkah ke kamar mandi dengan tubuh yang terasa sangat ringan, seolah jiwanya sudah melayang pergi meninggalkan raga yang terpaksa tunduk pada keadaan.
Di bawah kucuran air dingin, ia mencoba menghapus sisa-sisa pasir pantai yang masih terselip di sudut hatinya tentang kenangan liburan yang kini terasa seperti terjadi di kehidupan yang berbeda.
Pukul enam pagi, suasana rumah sudah mulai sibuk.
Tante Rani dan tim penata rias mulai merias wajah Liana yang sembab.
Gaun kebaya putih bersih yang telah disiapkan semalam oleh Tante Rani kini melekat di tubuhnya, terasa sangat berat meski kainnya halus.
"Kamu cantik sekali, Li," bisik Angela, mencoba menguatkan Liana meski matanya sendiri berkaca-kaca melihat sahabatnya itu seperti boneka porselen yang siap pecah kapan saja.
Pukul tujuh pagi, suasana rumah yang biasanya tenang kini berubah menjadi sunyi yang menyesakkan.
Sebuah mobil sedan mewah berhenti di depan pagar, disusul oleh mobil hitam milik Abi.
Liana yang sudah selesai dirias duduk mematung di depan cermin besar.
Kebaya putih panjang itu membalut tubuhnya dengan sempurna, namun wajahnya tetap pucat di balik sapuan makeup yang tebal.
Angela berdiri di sampingnya, menggenggam erat tangan Liana yang sedingin es.
"Liana, mereka sudah sampai," bisik Tante Rani dari ambang pintu.
Liana menarik napas panjang, mencoba menahan air mata agar tidak merusak riasan wajahnya.
Saat ia melangkah keluar kamar menuju ruang tengah yang telah disulap menjadi tempat akad nikah sederhana, matanya tertuju pada pintu depan.
Di sana, Abi melangkah masuk dengan setelan jas gelap yang membuatnya tampak begitu gagah namun berwibawa.
Di sampingnya, berjalan seorang wanita yang auranya begitu tenang namun memancarkan kesedihan yang mendalam: Genata.
Genata mengenakan gamis berwarna abu-abu muda dengan kerudung senada. Matanya sempat bertemu dengan mata Liana.
Tidak ada kemarahan di sana, hanya ada kegetiran dan ketulusan yang membuat hati Liana semakin teriris.
Genata tersenyum tipis, sebuah senyum yang seolah mengatakan, "Mari kita hadapi luka ini bersama."
Tak lama kemudian, suara sirine ambulans terdengar berhenti di depan rumah. Petugas medis turun dengan sigap, menurunkan tandu lipat.
Papa Habibie dibawa masuk dengan pengawasan ketat, masker oksigen masih terpasang, namun matanya terbuka.
Di sampingnya, Mama Prameswari berjalan dengan langkah gontai, menggenggam botol air mineral dengan tangan gemetar.
Papa Habibie ditempatkan di sebuah ranjang medis khusus yang diletakkan tepat di sebelah meja akad.
Abi duduk di hadapan penghulu, sementara Papa Habibie memberikan isyarat bahwa ia akan tetap menikahkan putrinya meski dengan suara yang terbata-bata.
"Abi..." suara Papa Habibie terdengar lemah di balik masker.
"Jaga Liana, seperti aku menjaganya."
Abi mengangguk mantap. "Saya janji, Pa."
Liana duduk di kursi di samping Abi, namun jarak di antara mereka terasa seperti jurang yang dalam.
Ia bisa merasakan tatapan Genata yang duduk hanya beberapa meter di belakang mereka, menyaksikan suaminya akan mengucapkan janji suci kepada wanita lain.
"Saudara Abi bin Abdullah," ucap penghulu memulai prosesi.
Suasana menjadi sangat hening. Hanya terdengar detak jam dinding dan isak tangis tertahan dari Mama Prameswari dan Angela di sudut ruangan.
"Saya terima nikah dan kawinnya Liana Az Zahra binti Habibie dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Sah?"
"Sah."
Liana memejamkan matanya saat mendengar perkataan yang bagaikan palu hakim yang mengetok takdir Liana.
Ia kini bukan lagi gadis bebas yang baru pulang dari pantai, melainkan istri kedua Paman Abi.
Setelah doa selesai dipanjatkan, Abi berpaling pada Liana.
Ia mencium kening Liana dengan lembut, sebuah sentuhan yang dulu sangat Liana dambakan, namun kini terasa begitu asing dan berat.
Namun, momen yang paling memilukan adalah ketika Genata bangkit dari duduknya.
Ia melangkah mendekat ke arah pengantin baru itu. Liana menunduk, tak sanggup menatap wajah wanita yang posisinya baru saja ia bagi.
Tiba-tiba, sepasang lengan hangat memeluk Liana. Genata memeluknya erat, membisikkan sesuatu di telinga Liana yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.