"Aku butuh istri untuk mendapatkan warisan Kakek, dan kamu butuh uang untuk pengobatan ibumu. Adil, kan?" — Aksara Danendra.
Bagi Aylin, pernikahan ini hanyalah transaksi pahit. Ia rela membuang harga dirinya dan menjadi 'Istri Bayaran' demi pengobatan sang ibu. Ia berjanji tidak akan melibatkan hati, apalagi pada pria dingin dan penuh rahasia seperti Aksara. Bagi Aylin, semua lelaki sama saja brengsek.
Namun, bagaimana jika di atas kertas kontrak yang dingin itu, benih cinta justru tumbuh secara perlahan? Dan bagaimana jika saat cinta itu mulai mekar, Aylin menyadari bahwa dirinya hanyalah tameng untuk rahasia gelap suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.27 -Mengukir Kenangan Manis
Emilia mengetuk-ngetuk meja kafe dengan kuku cantiknya. Setelah kepergian Kirana, ia langsung menghubungi seseorang untuk mencari tahu segala informasi tentang Aylin.
"Aksara, tunggu aku," bisiknya dengan tatapan ambisius. "Aku akan merebut mu kembali dari gadis aneh itu."
Sementara itu, suasana di dalam mobil Aksara terasa jauh lebih hangat. Hari ini Aksara mengambil jatah liburnya khusus untuk membawa Aylin keluar dari penatnya Jakarta.
"Kita mau ke mana, Mas?" tanya Aylin penasaran.
"Rahasia," balas Aksara singkat namun tersenyum misterius.
"Jangan bilang mau ke taman lagi?" tebak Aylin sambil tertawa kecil.
"Enggak, pokoknya kamu akan suka, Ay," ucap Aksara lembut.
Aylin terdiam, memilih menikmati pemandangan padatnya ibu kota yang perlahan berganti menjadi deretan pepohonan hijau saat mobil mereka memasuki tol arah Bandung.
Berpuluh menit menempuh perjalanan, mobil Aksara akhirnya sampai di salah satu wahana permainan yang sedang viral di daerah Sumedang, Jans Park. Bangunan kastel warna-warni menyambut kedatangan mereka di tengah keramaian pengunjung.
"Ini kan taman lagi, Mas?" tanya Aylin sambil menatap gerbang masuk yang megah.
"Bukan, ini taman bermain. Ayo turun," ajak Aksara. Ia menatap Aylin sejenak sebelum menyambung kalimatnya, "Walau kita menikah hanya sebentar, tapi kita harus tetap membuat kenangan, kan?"
Kalimat itu seperti hantaman keras bagi Aylin. Gerakannya yang hendak turun dari mobil terhenti seketika. Senyum yang sempat terbit di wajahnya luntur dalam sekejap.
"I-iya," balas Aylin pelan, suaranya nyaris tercekat.
'Sadar, Aylin. Apa yang kamu harapkan? Kekasihnya saja sudah kembali,' batinnya mengingatkan diri sendiri agar tidak terlalu terbawa perasaan.
Aksara yang seolah tak menyadari perubahan raut wajah Aylin, segera menarik tangan istrinya menuju pintu masuk. Ia meminta seorang juru kamera di sana untuk mengambil foto mereka berdua.
Aksara berpose dengan senyum lebar yang tampak tulus, seolah ia benar-benar bahagia. Sebaliknya, Aylin hanya menatap Aksara dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara sayang dan sedih yang mendalam.
"Bagus... tahan sebentar, Bu, Pak," instruksi juru kamera.
Cekrek!
"Sudah selesai. Bagus sekali hasilnya, pasangan serasi!" puji sang fotografer.
Aylin hanya mampu tersenyum tipis, sementara Aksara tampak puas melihat hasil bidikan di layar kamera. Foto itu akan mereka ambil nanti setelah puas menikmati semua wahana.
Di tempat lain, Arvano sedang bersantai di ruangannya yang dingin. Sesekali matanya tertuju pada laptop, menatap laporan penjualan kemarin yang stabil. Namun, rasa rindu dan obsesinya pada Aksara mulai mengusik. Ia meraih ponselnya untuk menghubungi pria itu.
Kening Arvano berkerut saat panggilannya tidak dijawab. Ia kemudian beralih membuka media sosial dan melihat pembaruan status Aksara. Detik itu juga, rahangnya mengeras.
Di layar ponselnya, terlihat foto Aksara dan Aylin yang tampak mesra di depan kastel Jans Park.
"Oh, sedang kencan ternyata? Sudah berani sekarang, Aksa?" desis Arvano dengan nada bicara yang berubah gelap.
Ia melempar ponselnya ke atas meja, lalu tersenyum menyeringai—sebuah senyum yang menandakan bahaya.
"Awas saja. Gue nggak akan pernah membiarkan kalian bahagia."
*
*
Hampir seharian Aksara dan Aylin menikmati permainan di wahana Jans Park tersebut. Aksara seolah tak ingin melewatkan satu detik pun; ia mengabadikan setiap momen dalam jepretan kamera ponselnya. Sementara itu, Aylin hanya mampu menyimpan semuanya dalam memori ingatan dan sudut terdalam hatinya. Baginya, setiap tawa Aksara hari ini adalah kado yang sebentar lagi akan kadaluwarsa.
"Kita makan siang dulu," ajak Aksara. Mereka memilih duduk di area food court yang teduh, tak jauh dari deretan pedagang makanan.
"Ya," balas Aylin singkat. Rasa lelah mulai menghampiri, tapi hatinya jauh lebih lelah karena terus memikirkan ucapan Aksara tadi.
Aksara langsung memesan dua porsi ayam bakar lengkap dengan tahu, tempe, lalapan, dan sambal yang tampak menggoda. Aroma bakaran ayam yang khas menyeruak, seharusnya bisa membangkitkan selera makan siapa pun yang menciumnya. Tak lupa dengan es teh jumbo.
"Makan yang banyak, Ay. Kamu pucat sekali dari tadi, capek ya?" tanya Aksara sambil menyodorkan sendok pada Aylin.
Aylin menatap ayam bakar di depannya. Ia mencuil sedikit daging ayam dan mencocolnya ke sambal. Rasanya enak, pedasnya pas, tapi entah kenapa tenggorokannya terasa sempit.
Perhatian kecil pria ini selalu berhasil membuatnya goyah. "Terima kasih, Mas."
Mereka makan dalam diam untuk beberapa saat, hanya suara riuh pengunjung lain yang menjadi latar belakang. Namun, ketenangan itu terusik saat ponsel Aksara di atas meja terus bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk terlihat di layar yang menyala.
Aylin tak sengaja melirik. Nama 'Emilia' muncul di sana.
Seketika, selera makan Aylin hilang entah ke mana. Nasi yang baru saja ia kunyah terasa hambar dan sulit ditelan. Ternyata, meski sedang bersamanya, bayang-bayang masa lalu Aksara tetap mengekor di belakang mereka.
Aksara hanya melirik sekilas ponselnya, lalu kembali fokus pada makanan.
"Kalian di sini?" tanya seseorang dengan nada seru yang dibuat-buat.
Aksara dan Aylin menoleh serempak. Di sana, Reynan dan seluruh keluarganya baru saja menginjakkan kaki di area istirahat. Aylin seketika menegang, tangannya mengepal kuat di bawah meja. Di kejauhan, tanpa mereka sadari, Arvano memperhatikan dengan seringai tipis. Baginya, drama ini adalah hiburan terbaik.
"Kalian ngapain ke sini?" tanya Aylin ketus, bahkan sebelum Aksara sempat membuka suara.
"Ternyata benar menantu, kirain Mama salah lihat," kekeh Lusi tanpa rasa bersalah. Tanpa menunggu izin, ia mengajak suami dan anak-anaknya duduk mengerubungi meja Aksara dan Aylin.
Reynan duduk di samping Aksara, berhadapan langsung dengan Aylin. Sementara Azkia dan Abidzar menghimpit posisi duduk Aylin. Suasana yang tadinya hangat karena ayam bakar, kini berubah mencekam.
Azkia, gadis berusia enam belas tahun itu, menoleh ke arah Aylin dengan tatapan sinis yang tersembunyi. "Oh, jadi kamu? Anak Papa yang lain?" tanyanya merendahkan.
"Memang kenapa? Masalah?" balas Aylin tak kalah tajam. Ia mulai merasakan sesak di dadanya—tanda trauma itu ingin bangkit, tapi ia berusaha sekuat tenaga mengendalikan diri.
Lusi asyik mengajak Aksara bicara, meski Aksara hanya menanggapi dengan wajah jengah dan dingin. Di sela kebisingan itu, Azkia mendekatkan wajahnya ke telinga Aylin.
"Nggak sih. Cuma mau bilang saja... sebagai anak, kamu harusnya tahu diri membantu orang tuamu. Jangan jadi anak durhaka yang asyik foya-foya di saat bisnis Papa lagi susah," bisik Azkia penuh racun.
Darah Aylin mendidih. Kalimat 'anak durhaka' itu seperti menyulut api di atas tumpukan jerami dalam hatinya.
BRAK!!
Aylin menggebrak meja dengan sangat keras hingga tangannya memerah. Aksara tersentak kaget.
"Aylin!" seru Aksara tertahan.
"Jangan sembarangan bicara kamu! Kamu nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi!" teriak Aylin penuh emosi. Ia berdiri dan menunjuk tepat ke wajah Azkia.
"Kia, ada apa? Aylin, tenang..." Reynan mencoba menengahi, menatap kedua putrinya bergantian.
"A-aku cuma bilang Kakak cantik, kenapa Kakak marah..." lirih Azkia tiba-tiba, air mata buayanya mulai mengalir.
"Bohong! Kamu bilang aku anak durhaka!" pekik Aylin. Kini, mereka menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung food court.
Azkia menggeleng ketakutan, ia langsung memeluk Abidzar sambil terisak. Melihat itu, harga diri Lusi sebagai ibu merasa terusik. Tanpa peringatan, Lusi berdiri dan...
PLAK!!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Aylin. Kejadian itu begitu cepat, membuat Aksara tak sempat mencegah. Aylin tertegun, pipinya terasa panas dan kebas, sementara Lusi menatapnya dengan api kemarahan.
Bersambung ....
😄😄
🤣
berarti muka'mu tetap datar ya Aks...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣