NovelToon NovelToon
Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:660
Nilai: 5
Nama Author: muhammad rivaldi

Chapter 1 - 20 = Prologue Arc ( Arc Pembuka )

Chapter 21 - 30 = Daily Life in Thunder Division ( Arc Kehidupan Sehari-hari di Divisi Petir )

Chapter 30 - ? = Seven Divisi Tournament Arc ( Arc Turnamen Tujuh Divisi )

Di masa lalu yang jauh, dua sahabat—Dongfang dan Yuwen Feng—berdiri di puncak dunia kultivasi sebagai yang terkuat. Namun takdir memisahkan mereka. Dikhianati oleh jalan yang berbeda, Yuwen Feng jatuh ke dalam kegelapan dan bersumpah menghancurkan dunia, sementara Dongfang terpaksa menyegelnya demi menghentikan kehancuran—dengan harapan suatu hari sahabatnya akan bertobat.

Bertahun-tahun kemudian, seorang anak bernama Long Chen terus dihantui mimpi tentang masa lalu yang tidak ia pahami. Hidup damainya di Desa Daun Maple berubah menjadi tragedi ketika desanya dihancurkan oleh sosok misterius dari aliran kegelapan. Dalam sekejap, ia kehilangan segalanya—keluarga, rumah, dan masa kecilnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32 - Demi Sebuah Janji

Han Li menyapu pandangan ke seluruh pelataran yang dipenuhi para kultivator muda dengan aura kuat, alisnya sedikit terangkat melihat begitu banyak wajah asing yang berdiri dengan penuh percaya diri. “Kira-kira ada berapa banyak peserta di sini?” tanyanya penasaran.

Xiao Yan menjawab dengan tenang, seolah sudah mengetahui informasi itu sejak awal. “Totalnya tiga puluh dua orang yang akan bersaing di turnamen ini,” ucapnya. “Setiap divisi mengirim beberapa perwakilannya.”

Long Chen langsung menambahkan dengan santai, “Kalau Divisi Pedang Petir sih cuma tiga.”

Di sampingnya, Ye Fan mengangguk sambil melipat tangan. “Divisi Bayangan kirim lima orang.”

Han Li ikut menyahut, “Divisi Gunung ada empat.”

Xiao Yan melanjutkan tanpa ragu, “Divisi Matahari mengirim enam perwakilan.”

Ye Fan berpikir sejenak sebelum kembali berbicara, mencoba mengingat informasi yang ia dengar sebelumnya. “Kalau tidak salah, Divisi Angin kirim lima orang, Divisi Es enam orang, dan Divisi Ruang tiga orang,” jelasnya. “Jadi totalnya memang tiga puluh dua.”

Han Li mengangguk pelan, kembali menatap ke sekeliling dengan ekspresi yang sedikit berubah, kali ini lebih serius. “Lumayan banyak juga…” katanya.

Han Li tersenyum sambil menatap ketiga sahabatnya, matanya dipenuhi semangat yang tidak disembunyikan. “Semoga kita tidak bertemu satu sama lain terlalu cepat,” ucapnya santai, lalu menambahkan dengan nada setengah bercanda namun penuh antusias, “bayangkan kalau kita semua bisa masuk empat besar… itu pasti akan seru.”

Xiao Yan tertawa kecil mendengar itu, lalu menggeleng pelan. “Kau terlalu optimis, Han Li,” katanya. “Masuk empat besar saja sudah sangat sulit.”

Tatapannya menjadi lebih serius saat ia melanjutkan, “Kita tidak hanya menghadapi peserta biasa, tapi juga para senior kuat dari berbagai divisi yang sudah berlatih lebih lama dari kita. Tidak gugur di awal saja sudah termasuk hasil yang bagus, apalagi ini pertama kalinya kita mengikuti turnamen antar divisi seperti ini.”

Di sampingnya, Ye Fan mengangguk setuju. “Iya, benar. Kita tetap harus realistis,” ujarnya dengan nada tenang.

Suasana di antara mereka tetap santai, namun kata-kata itu membawa kesadaran yang jelas.

Namun Long Chen hanya diam, tidak ikut tertawa atau menanggapi percakapan mereka, tatapannya justru sedikit menunduk sementara tangannya perlahan mengepal di samping tubuhnya, menahan sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar semangat biasa.

Di dalam hatinya, bayangan pagi tadi kembali muncul dengan jelas—wajah Mei Ling, senyumnya, dan permintaan sederhana yang terasa begitu berarti. Suara lembut itu kembali terngiang di benaknya, membuat tekadnya semakin menguat. “Senior Mei Ling… aku pasti akan masuk empat besar.”

Tiba-tiba suasana di pelataran berubah drastis, seolah udara yang semula penuh percakapan ringan kini ditekan oleh sesuatu yang tak terlihat, membuat banyak peserta secara refleks menahan napas. Aura berat menyelimuti area, tidak meledak atau mencolok, namun cukup dalam untuk membuat siapa pun yang merasakannya menyadari perbedaan tingkat yang sangat jauh.

Dari kejauhan, seorang wanita berjalan perlahan memasuki pelataran.

Setiap langkahnya tenang.

Namun membawa tekanan yang nyata.

Beberapa peserta yang berdiri di dekat jalurnya bahkan tanpa sadar menegang, keringat dingin mulai muncul di dahi mereka meskipun udara pagi masih sejuk.

Han Li berbisik pelan, suaranya jauh lebih rendah dari biasanya, “Apakah dia… peserta juga?” Ia menelan ludah sebelum melanjutkan, “…kalau iya… aku benar-benar tidak ingin bertemu dengannya di awal.”

Xiao Yan menatap sosok itu dengan serius, matanya menyipit sedikit. “Dia bukan peserta,” jawabnya pelan. “Dia adalah salah satu leluhur sekte ini.”

Ia menambahkan dengan nada yang lebih dalam, “Namanya adalah Huang Quan.”

Ye Fan terlihat bingung, alisnya berkerut. “Leluhur maksudmu?” tanyanya.

Xiao Yan mengangguk pelan. “Umurnya… sudah lebih dari lima ratus tahun,” jelasnya. “Bahkan Ketua Sekte pun menghormatinya, karena dia adalah kekasih dari pendiri sekte ini.”

Mendengar itu, Long Chen, Ye Fan, dan Han Li langsung terdiam.

“…Lima ratus tahun?” gumam mereka hampir bersamaan.

Han Li menelan ludah, masih menatap sosok wanita itu dengan tidak percaya. “Tapi… wajahnya masih terlihat muda… masa iya usianya sudah setua itu tapi masih hidup sampai sekarang…” katanya pelan.

Xiao Yan menjawab dengan tenang, seolah itu bukan hal yang aneh baginya. “Di dunia kultivator, itu bukan sesuatu yang mustahil,” ujarnya. “Dia sudah mencapai Ranah bintang suci , dan pada tingkat itu… seseorang bisa hidup hingga ribuan tahun.”

Huang Quan berjalan melewati mereka dengan langkah tenang, aura di sekelilingnya tetap menekan tanpa perlu diperlihatkan secara berlebihan, seolah keberadaannya sendiri sudah cukup membuat ruang di sekitarnya sunyi. Para peserta secara refleks memberi jalan, tidak ada yang berani menghalangi jalurnya saat ia menuju ke arah aula besar.

Namun saat ia melewati Long Chen, langkahnya tiba-tiba terhenti. Perubahan itu begitu halus, namun cukup untuk membuat keempat pemuda itu langsung merasakan sesuatu yang berbeda. Tatapannya yang semula tenang perlahan berubah, menjadi lebih dalam dan lebih tajam, seolah melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain. Ia pun berbalik, lalu berjalan mendekat.

Setiap langkahnya kini terasa lebih berat dari sebelumnya, bukan karena kekuatan yang ia keluarkan, melainkan karena tekanan tak kasat mata yang mulai terfokus pada satu titik—Long Chen. Long Chen sendiri tidak bergerak; tubuhnya terasa kaku, bukan semata karena takut, melainkan karena instingnya mengatakan bahwa sosok di hadapannya berada pada tingkat yang sama sekali berbeda. Huang Quan berhenti tepat di depannya, lalu perlahan mengangkat tangan dan menyentuh pipi Long Chen dengan lembut. Sentuhan itu tidak mengandung niat menyerang, namun entah mengapa justru membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Sejenak, tidak ada suara—hanya angin yang berhembus pelan di antara mereka. Lalu, dengan suara yang sangat pelan, hampir seperti bisikan yang datang dari masa lalu, ia berkata, “Apakah itu kau… Dongfang?”

Long Chen membeku di tempat, pikirannya seolah berhenti sejenak saat mendengar nama itu, Dongfang, nama yang terasa begitu familiar, bukan karena ia mengenalnya, melainkan karena nama itu berulang kali muncul dalam mimpinya, selalu samar namun meninggalkan kesan yang dalam.

Namun ia tetap memaksa dirinya untuk menjawab, suaranya sedikit tertahan namun tetap jelas. “Maaf… namaku Long Chen,” ucapnya pelan. “Bukan Dongfang.”

Huang Quan terdiam sejenak, matanya masih menatap wajah Long Chen dengan dalam, seolah mencoba memastikan sesuatu yang hanya ia sendiri yang bisa rasakan. Beberapa detik berlalu tanpa kata.

Lalu ia tersenyum tipis, senyum yang lembut namun juga menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan, seolah ada makna tersembunyi di balik ketenangan itu.

“Maaf…” ucapnya pelan. “Kau sangat mirip dengan seseorang yang pernah aku kenal… kekasihku dulu.”

Tanpa menunggu jawaban, ia menarik tangannya perlahan, lalu berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju aula besar, aura berat yang menyertainya perlahan menjauh dari mereka.

Namun di balik ketenangan langkahnya, pikirannya tidak benar-benar tenang. Di dalam hatinya, sebuah bisikan muncul—aura itu… tidak mungkin aku salah… Langkahnya tetap stabil, namun sorot matanya sedikit berubah, menyiratkan keraguan yang perlahan tumbuh. Apakah… anak itu reinkarnasi Dongfang?

Setelah Huang Quan benar-benar menjauh dan aura menekan itu perlahan menghilang, suasana di sekitar mereka kembali terasa normal, meskipun ketegangan yang tersisa masih belum sepenuhnya hilang.

Han Li langsung melangkah mendekat ke arah Long Chen, wajahnya dipenuhi rasa penasaran. “Chen… kau kenal dia sebelumnya?” tanyanya tanpa basa-basi.

Long Chen menggeleng pelan, masih terlihat sedikit terpaku. “Tidak,” jawabnya singkat. “Aku juga baru pertama kali melihatnya.”

Di samping mereka, Ye Fan mengangkat bahu dengan santai, mencoba mencairkan suasana. “Mungkin saja dia kangen sama kekasihnya dulu,” katanya ringan. “Dan kebetulan wajah kalian mirip, jadi dia merasa seperti dejavu.”

Ia menambahkan sambil tersenyum kecil, “Ya… bisa jadi cuma kebetulan saja.”

Namun Long Chen tidak menjawab; tatapannya kosong sejenak sementara pikirannya masih berputar. Nama itu—Dongfang—dan cara Huang Quan menatapnya tadi bukan seperti melihat orang asing, melainkan seolah memandang seseorang yang pernah ia kenal.

Tiba-tiba kerumunan kembali riuh, suara percakapan yang semula terpisah-pisah kini menyatu menjadi satu arah perhatian, membuat hampir semua peserta menoleh ke sisi pelataran. Aura dingin perlahan menyebar, bukan sekadar hawa biasa, melainkan tekanan halus yang membuat udara terasa lebih berat dan suhu seakan turun beberapa derajat.

Perwakilan Divisi Pedang Es telah tiba.

Langkah mereka teratur, setiap orang membawa aura dingin yang khas, namun di antara mereka, satu sosok langsung menarik perhatian semua orang.

Seorang wanita berjalan di depan.

Wajahnya cantik dengan garis yang tegas namun elegan, dan aura dingin yang menyelimutinya tidak terasa kasar, melainkan tenang dan berkelas, seperti es yang membeku di bawah cahaya bulan.

Long Chen memperhatikannya tanpa sadar, matanya sedikit menyipit mencoba merasakan kekuatan di balik ketenangan itu.

Di sampingnya, Han Li berbisik pelan, “Cantik sekali dia…”

Xiao Yan langsung menjawab dengan nada serius, matanya tetap mengamati wanita itu. “Dari informasi yang kudapat, namanya adalah Lin Xiyue,” ujarnya. “Ini adalah turnamen keduanya.”

Ia melanjutkan dengan suara yang sedikit lebih rendah, seolah menyampaikan sesuatu yang penting. “Di turnamen sebelumnya, dia berhasil menembus delapan besar, meskipun akhirnya kalah dari senior di divisiku, yaitu Su Zimo yang kemudian menjadi juara pertama.”

Tatapannya semakin tajam. “Namun bahkan senior Su Zimo sendiri mengakui bahwa dia cukup kesulitan saat melawannya.”

Ye Fan bersiul pelan, ekspresinya berubah dari santai menjadi sedikit lebih serius. “Berarti dia salah satu kandidat kuat, ya…”

Xiao Yan mengangguk pelan. “Bisa dibilang begitu.”

Beberapa saat kemudian, suasana di pelataran yang semula dipenuhi bisikan dan pengamatan diam tiba-tiba terpotong oleh satu suara yang menggema kuat ke seluruh penjuru.

GONGGGG!!!

Dentangan itu berat dan dalam, seperti berasal dari jantung sekte itu sendiri, mengguncang udara dan membuat semua percakapan terhenti seketika. Gelombang suara menyebar ke seluruh arena, menandakan bahwa momen yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba.

Seluruh peserta langsung memfokuskan perhatian mereka ke depan.

Dan dengan ini, Turnamen antar divisi akhirnya pun dimulai.

End Chapter 32

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!