Arga Ardiansyah baru saja dikhianati setelah tiga tahun berdedikasi saat perusahan tersebut mencapai puncaknya, namun yang membuat dia tetap waras adalah Elina yang sedang berada di Praha.
Arga Ardiansyah kemudian bertekad untuk bangkit kembali dan menyusul cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilham Basri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Cermin Retak Di jantung Rimba
Ruangan kubah kaca itu bergetar hebat. Debu sisa ledakan melayang di udara, diterangi oleh pendar biru dari cairan kriogenik yang mulai terkuras keluar dari tabung sang ayah. Di tengah kekacauan itu, Arga berdiri mematung, menatap sosok yang merupakan refleksi sempurna dari dirinya sendiri.
Arya melangkah maju. Gerakannya bukan seperti manusia yang memiliki keraguan; setiap langkahnya adalah efisiensi algoritma yang diwujudkan dalam daging. Senyumnya tidak sampai ke mata, sebuah lengkungan bibir yang hanya meniru emosi tanpa pernah merasakannya.
"Kau tampak terkejut, Arga," suara Arya terdengar seperti suara Arga sendiri, namun dengan intonasi yang terlalu jernih, terlalu sempurna. "Kakek selalu bilang kau adalah versi yang 'gagal' karena kau terlalu banyak membawa beban perasaan ayah kita. Tapi bagiku, kau adalah komponen yang hilang."
"Aku bukan komponenmu!" raung Arga. Dia menerjang maju, melayangkan pukulan keras ke arah wajah Arya.
Namun, Arya berkelit dengan gerakan yang nyaris mustahil dilakukan manusia biasa. Dia menangkap pergelangan tangan Arga, dan pada saat itu, pola perak di telapak tangan Arga bersinar terang. Arga merasakan aliran listrik statis yang menyakitkan menyengat sarafnya.
"DNA kita identik, tapi frekuensi kita berbeda," Arya membisikkan kata-kata itu tepat di telinga Arga sebelum menghantamkan lututnya ke perut Arga hingga sang arsitek terpental menghantam dinding kaca. "Kau menggunakan kekuatan ini untuk melindungi kenangan. Aku menggunakannya untuk mendikte masa depan."
Di sisi lain ruangan, Nadia mencoba melepaskan tembakan, namun dua drone taktis yang mengikuti Arya segera mengunci posisinya dengan jaring laser. "Jangan bergerak, Mayor Nadia," ucap Arya tanpa menoleh. "Kau telah bekerja dengan baik membawa saudaraku ke sini. Peranmu sudah selesai."
Haris bergegas ke konsol darurat, tangannya gemetar mencoba mempercepat proses kebangunan Adrian. "Hampir selesai... Arga, tahan dia!"
"Tidak akan ada yang bangun hari ini," Arya mengangkat tangannya. Dari pergelangan tangannya, keluar sebuah kabel antarmuka halus yang langsung menancap ke konsol utama fasilitas. "Sistem ini sekarang berada di bawah otoritas Aegis."
"Argh!" Arga bangkit, menyeka darah dari sudut bibirnya. Dia melihat ayahnya di dalam tabung yang kini mulai bergerak pelan, kelopak mata Adrian bergetar. Arga menyadari bahwa dia tidak bisa menang melawan Arya dalam pertarungan fisik. Arya adalah mesin tempur yang dirancang sejak lahir.
Arga menatap telapak tangannya yang berpola perak. Dia teringat kata-kata Elina: Kau adalah biometrik hidup.
"Arya!" teriak Arga, menarik perhatian saudaranya. "Kau ingin darahku? Kau ingin sinkronisasi total? Ambillah!"
Arga tidak lagi menyerang Arya. Sebaliknya, dia berlari menuju tabung ayahnya dan menempelkan telapak tangannya yang terluka langsung ke katup pertukaran data biologis pada mesin kriogenik tersebut.
"Apa yang kau lakukan?!" Arya tampak panik untuk pertama kalinya.
"Aku tidak akan membiarkanmu mengambil alih sistem ini melalui aku," desis Arga. "Aku akan memberikan sistem ini kepada pemilik aslinya!"
Arga memaksa sistem sarafnya untuk melepaskan seluruh cadangan memori dan kode otorisasi yang tertinggal dalam dirinya, bukan ke arah satelit Aegis, melainkan ke dalam otak ayahnya yang baru saja terbangun dari stasis. Arga menjadi jembatan manusia antara masa lalu yang jenius dan masa kini yang rusak.
ZAAAAAPPPPP!
Gelombang energi elektromagnetik murni meledak dari pusat tabung. Arya terlempar ke belakang saat koneksi ilegalnya ke konsol diputus secara paksa oleh lonjakan data biologis tersebut. Seluruh fasilitas bergetar, lampu-lampu berubah menjadi putih menyilaukan.
Di tengah kilatan cahaya itu, mata Adrian Adriansyah terbuka lebar. Dia menarik napas panjang untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, sebuah napas yang membawa kembali otoritas tertinggi atas The Prime Logic.
"Adrian...?" Haris berbisik penuh harap.
Pria di dalam tabung itu menatap Arga dengan tatapan yang sangat dalam, penuh kasih sayang dan duka. Dia mengulurkan tangannya yang gemetar, menyentuh telapak tangan Arga yang kini kehilangan pola peraknya. Kekuatan itu telah berpindah kembali ke pemilik aslinya. Arga kini benar-benar hanya manusia biasa.
Namun, Arya bangkit dari reruntuhan dengan kemarahan yang dingin. Wajahnya yang sempurna kini tergores, menyingkapkan lapisan serat sintetis di bawah kulitnya. Dia bukan sekadar klon; dia adalah cyborg hibrida.
"Kalian pikir satu orang tua yang lemah bisa menghentikan seluruh jaringan Aegis?" Arya menarik sebuah bilah pedang energi dari lengannya. "Elina sudah berada dalam proses pembersihan total di kapal selam. Dalam sepuluh menit, dia tidak akan mengingat namamu, Arga. Dia akan menjadi ratu dari duniaku."
Adrian keluar dari tabung dengan bantuan Haris. Dia menatap Arya dengan tatapan sedih. "Kau bukan putraku. Kau hanyalah gema dari ambisi ayahku yang sakit."
Adrian menekan sebuah tombol tersembunyi di pergelangan tangannya—sebuah sakelar fisik yang tidak bisa diretas oleh digital mana pun.
"Arga, ambilah Nadia dan Haris. Keluar dari sini lewat jalur evakuasi bawah air," perintah Adrian.
"Ayah? Aku baru saja menemukanmu!" Arga memegang lengan ayahnya.
"Kau sudah melakukan bagianmu, Nak. Kau membawa kemanusiaan kembali ke dalam sistem ini. Sekarang, biarkan aku menyelesaikan apa yang seharusnya aku hancurkan sepuluh tahun lalu." Adrian menatap Arya yang mulai menerjang. "Makam Sang Arsitek ini bukan hanya tempat persembunyian... ini adalah bom waktu bagi seluruh jaringan Aegis."