Di pedalaman hutan belantara, sebuah kuil kuno yang lama terkubur ternyata menyimpan rahasia mematikan incaran sindikat teroris internasional. Kolonel Rayyan Aksara, Komandan elit Black Ops yang dingin, kaku, dan tak kenal kompromi, ditugaskan memimpin misi infiltrasi untuk menetralkan ancaman tersebut. Baginya, misi ini hanyalah tugas mematikan biasa—sampai pihak intelijen memaksanya membawa seorang “beban”. Dr. Lyra Andini adalah arkeolog jenius bertubuh mungil yang kemampuannya memecahkan sandi kuno hanya bisa ditandingi oleh kecerobohannya. Lyra lebih sering menjatuhkan barang, tersandung kakinya sendiri, dan membuat kacamata tebalnya melorot daripada berdiri tegak. Kehadirannya menguji batas kesabaran Rayyan hingga ke titik maksimal. Namun, di dalam labirin kuil yang dipenuhi jebakan mematikan dan desingan peluru musuh, kecerdasan Lyra menjadi satu-satunya kunci keselamatan mereka. Rayyan segera menyadari bahwa melindungi Lyra dari peluru musuh adalah satu hal, tetapi melindungi hatinya sendiri dari pesona kekacauan gadis itu adalah misi yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peluru di Balik Kabut dan Jatuhnya Taring Siwa
Desingan peluru membelah kabut beku Dieng bagaikan raungan iblis yang kelaparan.
Dalam hitungan detik, ketenangan purba dataran tinggi itu hancur berkeping-keping. Kolonel Rayyan Aksara melesat dari balik bayangan berkabut, senapan serbunya memuntahkan api dengan presisi yang mematikan. Tiga tembakan beruntun. Tiga penjaga bayaran yang berpatroli di perimeter luar kaldera tumbang sebelum mereka bahkan sempat menyadari dari arah mana kematian itu datang.
“Kontak! Kontak dari arah jam enam!” Jerit salah satu tentara bayaran di dekat tenda, panik mengangkat senapannya.
Namun Letnan Jati dan Kopral Dito sudah berada di posisi flanking (menyamping). Rentetan tembakan pelindung dari kedua sisi menyapu pelataran candi, memaksa sisa musuh berlindung di balik peti-peti perbekalan dan generator bor mereka. Bau mesiu yang tajam seketika bercampur dengan pekatnya aroma belerang.
Lyra berkerut di balik batu andesit raksasa, menutupi kedua telinganya yang berdenging hebat. Jantungnya memukul-mukul tulang rusuknya. Ia mengintip dari celah batu.
Di tengah kekacauan itu, Rayyan bergerak bukan seperti manusia, melainkan seperti bayangan yang mematikan. Pria itu berguling ke balik pilar candi yang runtuh, menghindari sapuan peluru musuh yang menghancurkan batu di tempatnya berdiri sedetik yang lalu. Wajah Rayyan di balik balaclava hitamnya sedingin es, matanya menghitung lintasan peluru, dan setiap kali ia menarik pelatuk, satu ancaman berkurang. Ia adalah definisi mutlak dari efisiensi brutal.
Namun, di depan gerbang candi utama, sang operator bor hidrolik panik. Alih-alih berlindung, pria besar itu justru menekan tuas bornya secara maksimal ke arah relief kepala Kala (raksasa penjaga pintu) di atas ambang gerbang. Ia berpikir jika ia bisa membobol pintu itu sekarang, ia bisa berlindung di dalam.
KRAAAKK!
Mata bor baja bermata intan itu menghantam tepat di tengah dahi relief Kala.
Bukan suara batu pecah yang terdengar, melainkan suara dentuman masif yang bergema dari dasar bumi, menggetarkan sol sepatu Lyra hingga ke lututnya.
“Tidak! Hentikan bor itu!” Jerit Lyra, suaranya nyaris tenggelam oleh suara tembakan.
Getaran itu semakin kuat. Permukaan tanah di sekitar candi mulai retak. Dari atas tebing yang mengapit candi tersebut—batu-batu tajam yang bentuknya menyerupai taring dewa yang melengkung—mulai berjatuhan kerikil dan debu vulkanik tebal.
Otak jenius Lyra langsung membaca pola arsitekturnya. Itu bukan sekedar pahatan estetika.
“Itu mekanisme runtuhan!” Lyra menekan tombol radio di kerah rompinya dengan tangan bergetar, berbicara dengan panik ke saluran internal tim. “Rayyan! Jati! Candi itu dibangun terintegrasi dengan struktur tebing! Relief dahi Kala adalah sakelar seismiknya. Jika dibor lebih dalam, pasak batunya akan patah dan seluruh tebing taring itu akan runtuh mengubur candi… dan mengubur kalian semua!”
Di pelataran, Rayyan mendengar peringatan itu melalui earpiece-nya. Ia mendongak ke atas menembus kabut, melihat retakan besar mulai menjalar di tebing batu yang menggantung tepat di atas kepala mereka. Ratusan ton andesit siap menimpa pelataran.
“Jati, Dito, alihkan tembakan ke generator bor! Hancurkan mesinnya!” Raung Rayyan.
Rayyan melompat dari tempat persembunyiannya, berlari zig-zag menembus hujan peluru menuju pintu gerbang candi. Seorang tentara bayaran menghadangnya dengan pisau, namun Rayyan menangkisnya dengan laras senapan, memutar tubuh pria itu, menariknya paksa dari tuas kendali, dan membantingnya ke lantai batu berlumut.
Dengan gerakan cepat, Rayyan mencabut kabel hidrolik utama dari mesin bor raksasa itu. Mata bornya berhenti berputar seketika.
Namun, suara gemuruh dari dalam dinding candi tidak berhenti.
Krrrkkk… Krrrkkk…
Pasak seismik di dalam dinding sudah terlanjur bergeser akibat tekanan bor. Tebing taring di atas mereka bergetar semakin hebat.
“Mekanismenya sudah terpicu!” Teriak Rayyan melalui radio, menatap sisa pasukannya yang berhasil melumpuhkan musuh terakhir. “Mundur dari pelataran! Semuanya mundur ke batas Kaldera!”
Di balik batunya, Lyra menatap ngeri ke arah pintu gerbang candi. Jika tebing itu runtuh, sejarah tak ternilai abad ke-8 akan hilang selamanya, bersama dengan apa pun misteri yang dijaganya. Dan Rayyan… pria itu masih berdiri terlalu dekat dengan zona reruntuhan.
Logika Lyra berteriak untuk tetap bersembunyi. Namun instingnya—dan hatinya—mengambil alih kemudian.
Mengabaikan perintah mutlak sang Kolonel, Lyra melesat keluar dari balik batu pelindungnya.
“Lyra! Apa yang kau lakukan?! Kembali!” Raungan Rayyan menggelegar mengalahkan suara gemuruh bumi saat ia melihat tubuh mungil itu berlari menembus pelataran yang dipenuhi debu batu.
“Ada cara untuk mereset pasaknya!” Balas Lyra terengah-engah, terus berlari menghampiri Rayyan di ambang pintu candi. Sepatu botnya tergelincir di atas kerikil, namun ia memaksa tubuhnya bangkit dan meluncur hingga lututnya menghantam undakan batu tepat di bawah relief Kala yang separuh hancur oleh bor,
Batu seukuran bola sepak jatuh dari tebing, menghantam lantai hanya satu meter dari posisi Lyra.
Rayyan langsung menjatuhkan dirinya di atas Lyra, melindungi punggung dan kepala gadis itu dengan tubuh besarnya, menjadikan rompi kevlarnya sebagai perisai dari hujan serpihan andesit.
“Kau gila?!” Desis Rayyan tepat di telinga Lyra, amarah dan kepanikan bercampur menjadi satu. “Aku menyuruhmu tetap di belakang!”
“Berhenti mengomel dan sorotkan sentermu ke arah mulut Kala itu!” Balas Lyra, mengabaikan rasa takutnya. Tangan kirinya mencengkeram erat lengan kemeja Rayyan, mencari kekuatan, sementara tangan kanannya meraba dinding batu berdebu di bawah pahatan hidung monster raksasa tersebut.
Rayyan menggertakan rahangnya, namun ia menurut. Sinar senter taktisnya menyorot tajam ke arah ukiran mulut Kala yang mengangga.
“Arsitek kuno tidak pernah membuat jebakan tanpa sistem penawar bagi pendeta tinggi mereka,” Lyra bergumam cepat, mengabaikan debu vulkanik yang menghujani helmnya. “Jika dahi adalah pemicu kehancuran… maka lidah… lidah adalah penawarnya.”
Jari-jari Lyra yang kecil menelusup ke dalam rongga mulut relief batu yang gelap gulita. Ia meraba pahatan lidah Kala yang menjulur ke bawah. Di bagian dasarnya, ia merasakan sebuah tuas batu berbentuk silinder kecil yang sangat tersembunyi.
“Dapat!” Seru Lyra.
Ia menekan tuas itu dengan seluruh sisa tenaga dilengannya, lalu memutar sembilan puluh derajat ke arah berlawanan jarum jam.
Sebuah bunyi KLIK logam yang sangat berat bergema dari kedalaman dinding candi.
Seketika itu juga, suara gemuruh berhenti. Retakan di tebing atas tidak lagi melebar. Kerikil terakhir jatuh berdebum ke tanah, dan setelah itu, keheningan yang mencekam kembali menyelimuti kaldera Dieng, hanya disela oleh napas yang terengah-engah dari Rayyan dan Lyra.
Mekanisme runtuhan berhasil dihentikan.
Lyra menghela napas panjang, merosot lemas di pelukan Rayyan. Debu tebal menutupi kacamata dan seragamnya.
Namun kelegaan itu hanya bertahan sedetik. Tangan Rayyan yang besar tiba-tiba mencengkeram kedua bahu Lyra, memutar tubuh gadis itu dengan kasar hingga menghadapnya.
Mata obsidian Rayyan menyala oleh kemarahan yang absolut. Dadanya naik-turun dengan cepat. Pria itu melepaskan balaclava yang menutupi wajahnya, memperlihatkan rahangnya yang menegang keras.
“Apa kalimat terakhir yang kuucapkan padamu sebelum aku menembak, Dr. Andini?” Suara Rayyan sangat rendah, dingin, dan mematikan.
Lyra menelan ludah, nyalinya menciut melihat kemarahan murni sang Kolonel. “B-berlindung di balik batu. Jangan keluar apa pun yang terjadi.”
“Lalu apa yang baru saja kau lakukan?!” Bentak Rayyan, suaranya menggelegar di pelataran candi. “Kau berlari melintasi pelataran terbuka, tanpa senjata, di tengah hujan batu seberat ratusan kilogram! Jika tuas sialan itu terlambat kau temukan setengah detik saja, kau sudah menjadi daging lumat di bawah tebing itu!”
“Saya harus menyelamatkan candinya, Rayyan!” Balas Lyra, suaranya ikut meninggi karena adrenalin, walau matanya mulai berkaca-kaca menahan emosi. “Jika saya diam saja, kita semua yang akan mati terkubur! Sejarahnya akan hancur!”
“Persetan dengan batu-batu tua ini!” Geram Rayyan. Ia menarik Lyra mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga wajah mereka nyaris bersentuhan. Kedua tangannya kini menangkup rahang Lyra dengan erat, mengusap debu dari pipi gadis itu dengan ibu jarinya yang gemetar.
“Persetan dengan misinya, Lyra,” bisik Rayyan parau, kemarahannya mendadak menguap, digantikan oleh keputusasaan yang telanjang. “Kau pikir aku peduli dengan bangunan purba ini jika bayarannya adalah nyawamu? Aku melihatmu berlari menembus hujan batu, dan separuh nyawaku rasanya ikut tercabut. Jangan. Pernah. Lakukan itu lagi. Kau mengerti?”
Mata cokelat Lyra membelalak dari balik kacamatanya yang kotor. Kemarahan pria ini bukan karena Lyra melanggar perintah komando militer, melainkan karena pria ini terlampau ketakutan kehilangannya.
“Maafkan aku,” bisik Lyra pelan, air mata akhirnya lolos membasahi pipinya yang kotor oleh debu andesit. Tangan mungilnya naik, membalas sentuhan tangan Rayyan di rahangnya. “Maafkan aku, Rayyan. Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku berjanji.”
Rayyan memejamkan matanya, menghembuskan napas kasar. Ia menarik tubuh mungil Lyra ke dalam pelukannya yang erat, menyembunyikan wajah gadis itu di lekuk lehernya. Rayyan memeluknya seolah Lyra adalah jangkar kewarasannya yang terakhir, mencium puncak kepala Lyra yang tertutup helm taktis berulang kali.
“Kolonel. Area steril. Musuh berhasil dilumpuhkan,” suara deheman Letnan Jati dari arah belakang memecah momen intim mereka. Jati berdiri beberapa meter jauhnya, sengaja membuang pandangan ke arah kabut demi menjaga privasi komandannya.
Rayyan melepaskan pelukannya perlahan, meski satu tangannya tetap berada di pinggang Lyra dengan posesif. Ia kembali memasang wajah komandan militernya yang tak tertembus.
“Periksa tawanan yang masih hidup, Jati. Cari tahu siapa yang membiayai operasi paramiliter skala ini,” perintah Rayyan datar.
Tiba-tiba, dari arah belakang mereka, sebuah suara desisan halus terdengar dari pintu depan candi.
Rayyan dan Lyra berbalik secara bersamaan.
Batu ganjal pada pintu candi utama yang sebelumnya terkunci rapat berabad-abad, perlahan bergeser mundur. Debu tebal mengepul keluar. Pintu batu setebal satu meter itu bergeser membuka dengan sendirinya, membelah ke tengah dengan suara gerusan pelan, diaktifkan oleh tuas yang baru saja direset Lyra.
Namun, alih-alih bau pengap dan kegelapan gulita yang menyambut mereka, sebuah pendaran cahaya aneh keluar dari perut candi.
Cahaya itu berwarna biru cyan, berpendar lembut dan berdenyut seperti detak jantung. Udara yang berembus keluar dari dalam ruangan itu sama sekali tidak berbau belerang, melainkan dingin, steril, dan berbau seperti udara murni setelah badai petir—aroma ozon.
Mata Lyra membelalak lebar. Ia tanpa sadar melangkah maju, melepaskan diri dari pegangan Rayyan, terhipnotis oleh pendaran cahaya yang seharusnya tidak mungkin ada di dalam candi Hindu abad ke-8.
“Lyra, tunggu,” peringat Rayyan, meraih senapannya kembali dan melangkah menghalangi separuh tubuh Lyra.
Namun Lrya menatap lurus ke dalam ruang utama candi (garbhagriha). Di tengah ruangan, tempat arca Dewa Siwa biasanya bertahta, terdapat sebuah lingga-yoni (simbol suci batu) yang dipahat sempurna.
Di atas batu lingga itu, melayang—benar-benar melayang sekitar sepuluh sentimeter di udara tanpa penopang apa pun—sebuah pecahan batu kristal metalik seukuran kepalan tangan orang dewasa. Kristal itulah yang memancarkan cahaya biru dan gelombang anomali magnetik yang merusak semua peralatan navigasi modern mereka.
“Astaga…” bisik Lyra, napasnya seolah membeku di tenggorokan. Kakinya lemas seketika. “Rayyan… itu bukan artefak buatan manusia. Benda itu… melayang karena medan levitasi magnetik murni.”
Kolonel Rayyan Aksara menatap benda bercahaya biru itu dengan rahang mengeras. Satgas Sandi Kala baru saja menemukan sesuatu yang tidak berasal dari sejarah peradaban bumi.