Luka pengkhianatan ibu membuat hati Anandara membeku. Sinta adalah satu-satunya "rumah" baginya. Namun, kehadiran mahasiswa baru bernama Angga memicu badai. Anandara rela memendam cinta demi Sinta, menciptakan kebohongan dan permusuhan yang menyayat hati. Mampukah persahabatan mereka bertahan saat rahasia terkuak, dan dapatkah Dimas menyembuhkan luka Sinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Kantin yang Terasa di Pinggir Jurang
Pagi di kota Bandung menyapa dengan sapuan kabut tipis sisa udara pegunungan yang terbawa angin, memeluk jalanan aspal yang masih basah oleh embun. Di kursi belakang mobil sedan Eropa berwarna hitam mengkilap, Anandara Arunika duduk mematung. Matanya menatap lurus ke luar jendela kaca yang sedikit berembun, menyaksikan deretan pepohonan dan gedung-gedung yang berlari mundur seiring dengan laju kendaraan yang dikemudikan oleh Pak Yanto.
"Non Nanda, AC-nya apa kurang hangat? Tangan Non kelihatan pucat sekali pagi ini," tegur Pak Yanto dari balik kemudi, matanya melirik khawatir melalui kaca spion tengah. Sopir paruh baya itu bisa melihat dengan jelas gurat kelelahan yang sangat pekat di wajah majikan mudanya, meski plester di pelipis gadis itu sudah diganti dengan yang lebih kecil dan samar.
Anandara tersentak pelan dari lamunan kelamnya. Ia buru-buru menarik kedua tangannya yang sedari tadi bertaut dingin di atas pangkuan, lalu memaksakan sebuah senyum tipis.
"Nggak apa-apa, Pak Yanto. Suhunya pas kok. Nanda cuma agak kurang tidur aja semalam ngerjain tugas," jawab Anandara dengan suara yang diatur sedatar mungkin. Sebuah kebohongan kecil yang sudah menjadi sarapan paginya. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia kurang tidur karena menangisi pria yang tidak akan pernah bisa ia miliki.
Pak Yanto hanya mengangguk pelan, memutar kemudi memasuki gerbang utama Universitas Pelita Bangsa. Sedan mewah itu berhenti tepat di lobi Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Anandara menyambar tas jinjingnya, mengucapkan terima kasih dengan sopan, lalu melangkah keluar.
Begitu kakinya menginjak lantai marmer fakultas, Anandara menarik napas panjang, sangat panjang, seolah ia sedang mengisi paru-parunya dengan cadangan oksigen untuk menyelam ke dasar palung yang paling gelap. Ia menegakkan bahunya, mengeraskan rahangnya, dan menyetel wajah pualamnya ke dalam mode 'Nyonya Es' yang absolut. Ia telah siap untuk kembali ke medan perang teater kebohongannya.
Ruang kelas pagi itu diisi oleh mata kuliah Pengantar Manajemen. Anandara mengambil tempat duduk di barisan tengah, tepat di sebelah Sinta.
Sejak dosen mulai menjelaskan materi di depan, telinga Anandara sama sekali tidak menangkap teori hierarki kebutuhan Maslow yang sedang dijabarkan. Fokus pendengarannya justru dibajak habis-habisan oleh bisikan-bisikan konstan dari gadis berlesung pipi di sebelahnya.
Sinta mencondongkan tubuhnya, menyembunyikan wajahnya di balik buku paket tebal agar tidak terlihat oleh dosen. Jarak mereka sangat dekat sehingga hanya Anandara yang bisa mendengar ocehan tersebut.
"Nan, lo tahu nggak? Tadi pagi pas gue baru melek, handphone gue udah nyala," bisik Sinta dengan nada yang luar biasa excited, matanya berbinar-binar seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan impiannya. "Angga nge-chat gue duluan, Nan! Dia ngucapin selamat pagi, terus ngingetin gue jangan lupa sarapan sebelum ngampus karena ada kuis jam pertama!"
Mendengar rentetan kalimat itu, dada Anandara seketika bergemuruh hebat. Jantungnya seolah diremas oleh sebuah tangan raksasa berduri.
"Oh ya?" balas Anandara lirih, memaksakan ujung bibirnya melengkung ke atas. Tangannya di bawah meja meremas pulpennya erat-erat.
"Iya! Sumpah, Nan, gue sampai cubit pipi gue sendiri takutnya gue masih mimpi," Sinta terkikik pelan, pipinya merona merah jambu. "Terus tadi pas gue masuk kelas, kita papasan di pintu. Dia senyum ke gue, Nan. Senyum tipis sih, tapi matanya tuh teduh banget. Gue ngerasa usaha gue ngedeketin dia selama ini nggak sia-sia. Tembok esnya udah bener-bener runtuh buat gue."
Tembok esnya udah bener-bener runtuh buat gue. Kata-kata Sinta bergema di dalam kepala Anandara, berulang-ulang, menghantam kewarasannya tanpa ampun. Di satu sisi, ada sebuah perasaan lega dan kebahagiaan yang tulus menyelimuti relung hatinya. Ia bahagia melihat Sinta tersenyum selebar ini. Ia bahagia karena sahabat yang telah menukar masa depannya dan rela mempertaruhkan nyawa di atap sekolah itu kini mendapatkan pria yang sangat ia idam-idamkan. Tujuan pengorbanannya tercapai dengan sangat sempurna.
Namun, di sisi lain, yang merajai rongga dadanya adalah sebuah penderitaan yang tak terlukiskan oleh kosakata mana pun. Hatinya terasa seperti diiris perlahan-lahan oleh pisau yang teramat tajam. Luka sayatannya tipis, tak berdarah secara kasat mata, namun perihnya menembus hingga ke sumsum tulang.
Anandara harus mendengarkan detail bagaimana pria yang ia cintai setengah mati mulai memberikan perhatiannya pada perempuan lain. Ia harus mendengar bagaimana suara bariton itu, yang malam di tebing memohon padanya untuk tidak melepaskan tangan, kini mengetik pesan manis untuk sahabatnya.
"Gue ikut seneng dengarnya, Sin," ucap Anandara pada akhirnya, menoleh ke arah Sinta dengan senyum lebar yang sangat menyayat hati. "Dia cowok yang baik. Lo pantas dapetin dia. Pertahanin terus ya."
"Pasti dong, Nan! Lo adalah support system terbaik gue!" balas Sinta memeluk lengan Anandara sejenak dengan penuh kasih sayang.
Anandara kembali menatap ke arah papan tulis. Ia menelan sisa-sisa isakannya yang kembali mengancam akan naik ke kerongkongan. Nyonya Es itu membiarkan hatinya berdarah dalam kebisuan, tersenyum di atas bangkai perasaannya sendiri.
Dua jam berlalu dengan penyiksaan batin yang intens. Ketika bel tanda istirahat berbunyi melengking membelah udara kampus, ratusan mahasiswa berhamburan keluar kelas seperti semut yang sarangnya dibongkar.
Geng Akuntansi melangkah bersama menuju kantin fakultas yang sudah dipadati lautan manusia. Hiruk-pikuk suara piring, dentingan sendok, dan teriakan pesanan makanan menciptakan atmosfer yang menyesakkan bagi orang yang sedang menanggung beban emosional.
Mereka menemukan sebuah meja panjang di sudut kantin. Sinta dengan gerakan yang sangat natural dan penuh percaya diri langsung mengambil posisi duduk tepat di sebelah Angga Raditya. Pemuda itu tidak bergeser menghindar, ia justru membiarkan Sinta duduk di dekatnya. Sinta bahkan meletakkan botol minum tumbler-nya di dekat piring makan Angga, sebuah gestur kecil yang menandakan klaim teritori asmara yang mulai diakui.
Anandara mengambil tempat duduk di seberang mereka, sedikit menyamping. Ia merasa seperti sedang didudukkan di kursi pesakitan, dipaksa menonton eksekusi hatinya sendiri secara live tanpa boleh memalingkan wajah.
Pemandangan di depannya benar-benar menguras habis oksigen di sekitarnya. Angga dan Sinta terlihat begitu dekat. Sinta dengan luwes menceritakan kembali kejadian konyol saat makrab, dan Angga menimpalinya dengan anggukan, sesekali melontarkan kalimat pendek yang membuat Sinta tertawa lepas.
Di ujung meja, Dimas duduk dengan semangkuk mi ayam yang tak kunjung ia sentuh. Pemuda berkacamata itu menopang dagunya dengan tangan kiri, matanya yang tajam di balik lensa frame hitam menatap lurus ke arah interaksi Angga dan Sinta.
Rahang Dimas mengeras tipis. Otak analitis pemuda itu bekerja dengan kecepatan maksimal membedah situasi di depannya.
Semalam, di depan api unggun, Dimas melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Angga menatap Anandara dengan intensitas keputusasaan dan amarah yang meledak-ledak karena frustrasi. Semalam, Angga masih menjadi pria yang hatinya terkunci rapat untuk Nyonya Es yang memusuhinya.
Lalu hari ini? Hanya dalam hitungan jam, Angga berubah menjadi pria yang merespons pesan Sinta dan membiarkan gadis itu masuk ke dalam zona pribadinya?
Sandiwara apalagi Ngga yang lo lakuin, batin Dimas mengutuk dalam kesunyiannya. Ia memicingkan mata, menatap raut wajah Angga yang datar namun sesekali merespons Sinta. Mata gue itu gak bakal bisa ditipu. Lo nggak tiba-tiba jatuh cinta sama Sinta semalaman. Lo lagi mainin sebuah bidak catur yang sangat berbahaya.
Dimas tahu betul apa yang sedang dicoba oleh sahabat barunya itu. Angga sedang membalas rasa sakitnya. Angga sedang mencoba menguji Anandara. Dengan merespons Sinta dan membiarkan Sinta mendekat, Angga sedang menekan Anandara hingga ke batas maksimal kewarasannya, menunggu momen di mana Nyonya Es itu tidak lagi sanggup menahan rasa cemburunya dan akhirnya mengakui kebohongannya.
Namun, strategi Angga itu adalah sebuah strategi yang sangat egois di mata Dimas.
Dimas mengalihkan pandangannya pada wajah Sinta. Bidadari ceria itu sedang tertawa bahagia. Mata Sinta memancarkan ketulusan yang sangat murni, sebuah euforia karena merasa cintanya mulai berbalas.
Melihat senyum Sinta yang begitu tulus untuk Angga, dada Dimas terasa luar biasa sesak. Ia mencintai gadis itu. Ia rela memendam perasaannya dan membiarkan Sinta mengejar Angga asalkan Sinta bahagia. Tapi jika kebahagiaan Sinta saat ini hanyalah sebuah ilusi, sebuah alat percobaan yang digunakan Angga untuk memprovokasi Anandara... Dimas merasa ingin meninju wajah Angga saat ini juga.
Lo jahat, Ngga, desis Dimas dalam hatinya yang berdarah. Lo manfaatin ketulusan Sinta buat ngebongkar kebohongan Nanda. Kalau suatu hari nanti Sinta tahu bahwa senyum yang lo kasih ke dia cuma buat mancing reaksi sahabatnya... Sinta bakal hancur lebur. Dan gue nggak akan pernah maafin lo kalau lo bikin dia nangis.
Dimas menelan ludah yang terasa sepahit empedu. Ia terjebak dalam posisi pengamat yang paling menyiksa. Ia tidak bisa membongkar sandiwara Angga karena ia tidak punya bukti absolut, dan jika ia bicara, ia akan menghancurkan hati Sinta secara instan.
Di sisi lain meja, sebuah observasi konyol namun tajam juga sedang berlangsung.
Rehan dan Reza duduk berdampingan. Di atas meja, mereka terlihat sangat sibuk mengunyah batagor dan siomay dengan rakus, seolah mereka tidak makan tiga hari. Namun pada kenyataannya, mata kedua anggota duo beban negara itu sedang bergerak liar, memantau atmosfer di meja kantin seperti radar militer.
Reza mengunyah siomaynya dengan gerakan pelan, matanya melirik dari ujung meja ke ujung meja lainnya. Ia melihat bagaimana Anandara duduk membeku, menusuk-nusuk siomay di piringnya tanpa memakannya sepotong pun. Lalu mata Reza beralih pada Angga yang sedang mendengarkan Sinta, namun sedetik kemudian, Reza menangkap arah tatapan Angga yang sesungguhnya.
Mata elang Angga, meski kepalanya condong ke arah Sinta, sesekali mencuri pandang yang sangat tajam dan mengintimidasi langsung ke arah Anandara yang duduk di seberangnya. Tatapan itu menuntut, menyelidiki, dan menantang.
Reza segera menyikut pinggang Rehan pelan di bawah meja. Rehan yang sedang meminum es jeruknya melirik ke arah Reza. Reza memberikan isyarat melalui gerakan matanya yang menunjuk ke arah Anandara dan Angga.
Rehan mengangguk kecil, sama sekali tidak terkejut. Sejak kejadian di bus kemarin, Rehan sudah menyimpulkan bahwa ada ketegangan romantis yang sangat dark di antara kedua manusia dingin itu. Rehan terus mengunyah makanannya dengan wajah tanpa dosa, namun otaknya mulai khawatir. Ia tahu Sinta mencintai Angga, dan jika Nanda ternyata juga terlibat pusaran asmara dengan Angga, persahabatan mereka akan meledak seperti bom atom.
Di seberang meja, pertahanan Anandara benar-benar sudah mencapai titik nadir.
Kantin ini sangat bising, namun bagi Anandara, kantin ini terasa seperti berdiri di pinggir jurang yang sangat curam, sama mengerikannya dengan tebing Lembang, bedanya tidak akan ada tangan Angga yang menariknya kali ini.
Ia merasakan tatapan Angga. Meski pemuda itu terlihat sedang menanggapi Sinta, Anandara bisa merasakan mata elang itu mengawasinya. Angga sedang menunggunya hancur. Angga sedang memaksanya untuk melihat bagaimana pria yang ia buang kini mulai dijamah oleh sahabatnya sendiri.
Bau parfum Sinta dan suara tawa sahabatnya itu, dikombinasikan dengan keheningan Angga yang mematikan, membuat perut Anandara bergejolak hebat. Rasa mual yang murni akibat stres psikologis menyerangnya seketika. Oksigen di kantin ini seolah digantikan oleh beling-beling kaca yang mengiris saluran pernapasannya setiap kali ia menarik napas.
Ia tidak sanggup lagi. Ia tidak bisa menonton eksekusi ini sedetik pun lebih lama. Jika ia tetap duduk di sini, ia akan meledak. Ia akan menjerit dan meruntuhkan meja ini.
Dengan gerakan mendadak yang sedikit mengagetkan seisi meja, Anandara meletakkan garpunya dengan bunyi dentingan keras di atas piring kaca.
Semua percakapan di meja itu seketika terhenti. Sinta, Angga, Dimas, Kiera, Ami, Rehan, dan Reza menoleh menatapnya secara bersamaan.
Anandara bangkit berdiri. Wajahnya pias seperti selembar kertas putih, namun rahangnya mengeras, mempertahankan sisa-sisa topeng Nyonya Es yang mulai retak di sudut-sudutnya.
"Gue... gue ke toilet bentar," ucap Anandara dengan suara yang sangat cepat, datar, dan sedikit bergetar di ujung kalimatnya. Ia memalingkan wajahnya, menghindari kontak mata dengan siapa pun, terutama dengan pemuda bermata tajam yang sedang menatapnya menuntut penjelasan.
"Nan? Lo sakit lagi? Muka lo pucet banget," Sinta langsung berdiri dengan panik, bersiap untuk menyusul sahabatnya.
"Nggak usah, Sin! Gue cuma mau ke belakang bentar, mules," tolak Anandara dengan nada sedikit tinggi dan kasar, menepis udara di depannya seolah melarang Sinta untuk mendekat. "Kalian lanjut aja makannya."
Tanpa menunggu balasan apa pun, Anandara langsung berbalik dan berjalan dengan langkah setengah berlari membelah keramaian kantin. Posturnya kaku, langkahnya tergesa-gesa seolah sedang dikejar oleh setan.
Di meja makan, Rehan dan Reza saling memandang dalam diam. Keduanya meletakkan sendok mereka. Lewat satu kontak mata itu, dua pemuda kocak itu saling mentransfer kesimpulan yang sama: Gawat. Nyonya Es kita lagi hancur dari dalam. Di ujung meja, Dimas hanya membuang muka, kembali menatap mi ayamnya yang sudah dingin dengan perasaan muak pada skenario kejam ini. Sementara Angga menatap kepergian Anandara dengan rahang yang semakin mengeras, sebuah kepuasan yang pahit sekaligus rasa bersalah mulai merayap di dadanya. Pemuda itu tahu, strateginya mulai berhasil meruntuhkan dinding gadis itu, namun ia juga sadar bahwa ia sedang menyakiti Anandara secara brutal.
Langkah kaki Anandara menggema cepat di lorong gedung fakultas yang sepi karena sebagian besar mahasiswa sedang berada di kantin. Ia tidak benar-benar menuju ke toilet. Kakinya terus melangkah, membawanya menaiki anak tangga menuju lantai paling atas gedung FEB, menuju balkon atap yang tidak pernah dikunci dan jarang dikunjungi orang.
Begitu ia mendorong pintu besi berat yang menuju ke atap, angin siang yang kencang langsung menyambar wajahnya.
Anandara berjalan gontai menuju pagar pembatas atap. Ia mencengkeram besi pembatas itu dengan kedua tangannya, sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih, seolah besi itu adalah satu-satunya hal yang menahannya agar tidak terbang terbawa badai keputusasaannya.
Napasnya memburu, tersengal-sengal mencari pasokan udara.
Di atas atap gedung fakultas ini, jauh dari keramaian dan tatapan menghakimi, Nyonya Es itu akhirnya meluruh. Topengnya hancur berkeping-keping. Air mata yang sejak tadi ia bendung di pelupuk matanya tumpah dengan sangat deras, membanjiri wajah pualamnya. Ia menangis tergugu, isakannya bersahutan dengan deru angin siang.
Sakit... Tuhan, rasanya sakit sekali... batin Anandara merintih, menjerit meraung-raung dalam kesunyian yang memekakkan telinga. Kenapa Kau harus menciptakanku dengan hati yang bisa merasakan cinta, jika pada akhirnya cinta itu harus kuiris-iris dengan tanganku sendiri?
Bayangan di kantin tadi berputar kembali di otaknya bagai proyektor neraka. Angga yang menatapnya dengan tajam. Sinta yang tersenyum bahagia. Jarak di antara mereka yang begitu dekat.
Dia melakukannya dengan sengaja, batin Anandara menangis darah, menyadari taktik kejam pemuda itu. Angga sengaja merespons Sinta di depanku. Dia sengaja menatapku untuk memaksaku mengaku. Dia menyiksaku untuk melihat apakah aku akan menyerah dan berlari padanya.
Anandara memukul pagar besi itu dengan kepalan tangannya, sekali, dua kali, tak memedulikan rasa perih di kulitnya.
Aku tidak akan pernah menyerah! jeritnya dalam diam, sebuah tekad keputusasaan yang lahir dari rasa bersalah yang mengakar kuat. Aku sudah berjanji! Sinta menyelamatkan nyawaku di atap sekolah waktu itu! Saat aku ingin mati karena ibuku, Sinta yang menarikku kembali. Nyawa dibayar nyawa! Kebahagiaan dibayar kebahagiaan!
Namun, setiap kali ia mengikrarkan janji itu, hatinya justru semakin berontak.
Tapi mengapa harus seperti ini? Mengapa aku harus melihat pria yang kucintai tersenyum untuk sahabatku? Aku mencintainya... Aku sangat mencintainya sampai rasanya aku tidak bisa bernapas saat melihatnya bersama orang lain. Aku mencintai aroma peppermint-nya. Aku mencintai suaranya. Aku mencintai saat dia menarikku dari dasar jurang.
Anandara menundukkan kepalanya, menenggelamkan wajahnya di antara lengannya yang bertumpu pada pagar pembatas. Ia menangis sejadi-jadinya, meluapkan seluruh racun emosi yang selama ini ia pendam.
Aku adalah monster, rintih Anandara menghukum dirinya sendiri, mengutuk silsilah darahnya. Aku memiliki perasaan kotor ini. Aku ingin merebut apa yang menjadi milik sahabatku. Darah wanita pengkhianat itu benar-benar mengalir di tubuhku. Aku menjijikkan.
Di atas atap gedung fakultas ini, Anandara merasa dirinya sedang berdiri di pinggir jurang yang sesungguhnya. Bukan jurang tebing Lembang yang berbatu, melainkan jurang pengorbanan yang tak memiliki dasar.
Setiap hari yang akan ia jalani di kampus ini, melihat kemesraan Angga dan Sinta yang akan semakin bertumbuh, akan menjadi siksaan yang menguliti jiwanya secara perlahan. Ia harus terus memakai topeng bahagianya. Ia harus terus mendukung Sinta. Ia harus membiarkan hatinya mati perlahan-lahan kehabisan darah.
"Tuhan," bisik Anandara di sela isakannya yang menyayat hati, menengadah menatap langit siang yang cerah namun terasa sangat kelam baginya. "Jika ini adalah harga yang harus aku bayar untuk menebus hutang nyawaku pada Sinta... aku akan membayarnya sampai lunas. Tapi tolong... tolong cabut saja kemampuanku untuk merasa. Bunuh jantung ini. Karena jika ia terus berdetak untuknya, aku takut aku akan benar-benar gila."
Hanya deru angin yang menjawab doa keputusasaan gadis itu. Abunya yang beterbangan dari surat yang ia bakar semalam ternyata tidak membawa pergi perasaannya, melainkan menyebar dan meracuni seluruh sistem kehidupannya. Anandara Arunika, mahasiswi jenius pewaris tahta properti, kini terperangkap dalam penjara kesunyiannya sendiri, menangis meratapi cinta yang harus ia bunuh dengan kedua tangannya sendiri.
pengamat Senja_