Kenzo Arkana adalah definisi hidup dari kekejaman. Sebagai raja penyelundup barang terlarang, ia memerintah dunianya dengan tangan besi dan hati yang membeku. Baginya, wanita hanyalah gangguan tak berguna hingga malam itu, di sudut remang kelab eksklusifnya, seorang wanita lancang bernama Aara datang mengusik ketenangannya.
Aara bukan wanita biasa. Di balik gaun merah yang menggoda dan sikap centilnya, ia adalah agen rahasia elit yang sedang menjalankan misi mustahil: menjatuhkan kekaisaran Kenzo. Ia harus memikat sang "Monster" untuk mencuri rahasia terdalamnya.
Namun, di dunia di mana pengkhianatan dibayar dengan nyawa, siapa yang akan terjatuh lebih dulu? Apakah Aara berhasil menuntaskan misinya, atau justru ia yang terjerat dalam kegelapan Kenzo yang mematikan?
Satu rayuan. Satu misi. Satu taruhan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Palung Kegelapan
Gema dari kehancuran satelit induk Ouroboros masih menyisakan getaran di atmosfer, namun perhatian keluarga Arkana kini teralun ke bawah, menuju titik terdalam di muka bumi. Koordinat yang mereka terima mengarah tepat ke dasar Palung Mariana sebuah tempat di mana tekanan air mampu meremukkan baja biasa seperti kaleng minuman, dan kegelapan adalah penguasa mutlak.
"Kita tidak bisa menggunakan kapal selam konvensional," ucap Aara di dalam ruang perencanaan Saraswati. Di depannya, hologram struktur geologi bawah laut berputar pelan. "Tekanan di kedalaman sebelas kilometer akan menghancurkan sistem elektronik kita sebelum kita sempat melihat apa yang ada di sana."
Kenzo berdiri di depan peta digital, matanya tajam memindai anomali termal yang terdeteksi di dasar palung. "Kakekmu, Kusuma Pratama, tidak hanya membangun Saraswati di gunung. Dia juga mendanai 'Proyek Poseidon'. Sebuah pangkalan riset bawah laut yang dibangun menggunakan teknologi integritas struktural berbasis resonansi frekuensi."
"Resonansi?" Aara mengangkat alis. "Maksudmu, bangunan itu menahan tekanan air dengan getaran?"
"Tepat," jawab Kenzo. "Dan kunci untuk masuk ke sana sama dengan kunci Saraswati. Frekuensi Adrian."
Perjalanan kali ini adalah misi paling berbahaya yang pernah mereka jalani. Mereka berangkat menuju Guam menggunakan kapal logistik Nusantara yang menyamar sebagai kapal riset kelautan. Di dalam perut kapal tersebut, tersimpan sebuah wahana selam berbentuk bola kristal gelap yang disebut 'The Nautilus'.
Adrian tampak lebih diam dari biasanya. Ia terus menatap permukaan laut yang biru pekat. "Di bawah sana... suaranya sangat berat, Papa. Seperti jantung bumi yang sedang berdetak sangat lambat."
"Itu adalah detak jantung Ouroboros, Adrian," ucap Kenzo sambil memasangkan pakaian selam khusus berbahan polimer cair pada putranya. "Kita akan turun ke sana untuk menghentikannya."
Aara memeriksa sistem navigasi kuantum Nautilus. "Leo sudah mengunci posisi. Kita akan terjun bebas sejauh sembilan kilometer sebelum mengaktifkan mesin resonansi. Jika mesin itu gagal menyala dalam tiga detik, kita akan hancur."
Peluncuran dilakukan tepat tengah malam. Nautilus meluncur jatuh ke dalam air, ditelan oleh kegelapan Samudra Pasifik. Cahaya matahari memudar dengan cepat, digantikan oleh kegelapan abadi zona batial, lalu zona hadal.
Lampu indikator di dalam kabin mulai berkedip merah saat mereka melewati kedalaman tujuh kilometer. Suara gesekan air pada dinding kristal terdengar seperti jeritan logam.
"Sembilan kilometer!" teriak Aara. "Adrian, sekarang!"
Adrian menutup matanya, meletakkan tangannya pada inti kristal di tengah wahana. Pendaran perak muncul, bukan keluar dari tubuhnya, melainkan meresap ke dalam dinding Nautilus. Seketika, getaran halus yang menenangkan menyelimuti kabin. Suara jeritan air hilang, digantikan oleh dengungan harmonis yang stabil.
"Tekanan luar dinetralkan," lapor Aara dengan napas lega. "Kita stabil di sepuluh kilometer."
Saat mereka mencapai dasar palung, lampu sorot Nautilus menampakkan sesuatu yang mustahil. Di sana, di antara parit-parit gelap, berdiri sebuah struktur megah yang terbuat dari bahan yang menyerupai obsidian. Bangunan itu bercahaya dengan garis-garis ungu warna yang sama dengan yang Adrian lihat di langit.
Itulah pusat komando Ouroboros: 'The Leviathan'
"Ini bukan pangkalan manusia," bisik Aara. "Arsitekturnya... ini lebih mirip organ tubuh yang dibekukan menjadi bangunan."
Mereka mendarat di docking bay yang secara otomatis menyesuaikan tekanan air. Saat pintu Nautilus terbuka, mereka disambut oleh udara yang terasa sangat dingin dan berbau ozon.
Di dalam Leviathan, mereka tidak menemukan tentara berseragam. Mereka menemukan sosok-sosok yang menyerupai manusia, namun kulit mereka transparan, memperlihatkan jaringan saraf yang bercahaya ungu. Mereka adalah 'The Echoes' manusia yang telah sepenuhnya diubah oleh frekuensi Ouroboros hingga kehilangan kemanusiaan mereka.
"Jangan menyerang kecuali mereka bergerak," bisik Kenzo, senapan denyut frekuensinya sudah siap di tangan.
Mereka berjalan menuju aula tengah. Di sana, di atas sebuah panggung kristal, duduk seorang pria tua dengan jubah perak. Wajahnya sangat mirip dengan lukisan Kusuma Pratama, namun matanya adalah lubang hitam yang tak berdasar.
"Selamat datang, cucuku," suara pria itu bergema langsung di dalam pikiran mereka. "Aku adalah Kusuma yang Asli. Yang kalian kenal di bumi hanyalah replika biologis yang aku kirim untuk membangun pondasi bagi kepulanganku."
Aara tertegun. "Jadi... kakek Adrian adalah pemimpin Ouroboros?"
"Aku bukan pemimpin, Nyonya Aara. Aku adalah pelayan dari frekuensi yang lebih besar," ucap Kusuma. "Bumi hanyalah rahim. Dan sekarang, bayi itu sudah siap dilahirkan. Adrian adalah katalisnya."
Kusuma berdiri, dan seketika ruangan itu dipenuhi dengan tekanan mental yang luar biasa. Kenzo dan Aara jatuh berlutut, merasakan memori mereka seolah-olah sedang disedot keluar secara paksa.
"Hentikan!" teriak Adrian.
Adrian melangkah maju, melepaskan gelombang frekuensi perak yang menghantam perisai ungu Kusuma. Benturan itu menciptakan ledakan energi yang menggetarkan seluruh dasar palung.
"Kau menggunakan kekuatan yang aku berikan padamu untuk melawanku?" tanya Kusuma dengan nada kecewa.
"Papa dan Mama memberiku kekuatan ini! Bukan kau!" balas Adrian.
Pertarungan frekuensi terjadi dengan skala yang tidak pernah dibayangkan. Ruangan itu berubah menjadi badai cahaya perak dan ungu. Kenzo, meskipun dalam tekanan hebat, berhasil bangkit. Ia melihat inti energi di belakang Kusuma—sebuah bola raksasa yang berdenyut dengan cairan ungu.
"Aara! Inti itu! Itu sumber tenaganya!" teriak Kenzo.
Aara memahami kode itu. Sambil menahan rasa sakit di kepalanya, ia merayap menuju panel kontrol manual Leviathan. Ia menggunakan kemampuan peretasannya untuk membalikkan polaritas resonansi bangunan tersebut.
"Jika tempat ini berdiri karena resonansi, maka dia akan hancur karena disonansi!" Aara menekan tombol eksekusi terakhir.
Seketika, dengungan stabil di dalam pangkalan berubah menjadi jeritan frekuensi yang memecahkan kristal-kristal di sekeliling mereka. Leviathan mulai bergetar hebat. Retakan mulai muncul di dinding-dinding obsidian.
Kusuma berteriak, tubuh transparannya mulai memudar. "Kalian tidak mengerti! Tanpa aku, bumi tidak akan punya pelindung saat *Mereka* datang!"
"Kami akan menjadi pelindung kami sendiri!" sahut Kenzo sambil menarik Aara dan Adrian kembali menuju Nautilus.
Mereka melompat ke dalam wahana tepat saat pangkalan itu mulai runtuh. Inti energi ungu meledak, menciptakan pusaran air raksasa di dasar palung yang menelan seluruh struktur Ouroboros ke dalam kerak bumi.
Nautilus melesat ke atas, didorong oleh gelombang ledakan di bawahnya. Perjalanan naik yang biasanya memakan waktu berjam-jam kini hanya memakan waktu beberapa menit. Saat mereka muncul ke permukaan laut, matahari pagi baru saja terbit di ufuk Pasifik.
Kenzo membuka penutup kabin, menghirup udara laut yang segar. Di sampingnya, Aara tampak lemas namun tersenyum kemenangan. Adrian duduk tenang, menatap matahari dengan mata perak yang kini benar-benar murni, tanpa ada sisa warna ungu.
"Kakek... apakah dia benar-benar sudah pergi?" tanya Adrian pelan.
Kenzo memeluk putranya. "Yang ada di bawah sana bukan kakekmu, Adrian. Kakekmu adalah orang yang membangun Saraswati untuk melindungimu. Yang di bawah sana hanyalah bayangan dari masa lalu yang haus kekuasaan."
Aara menggenggam tangan mereka berdua. "Kita sudah menghancurkan pusatnya. Ouroboros sudah benar-benar tamat."
Di atas kapal logistik Nusantara yang mendekat untuk menjemput mereka, Baskara melambaikan tangan dengan lega. Dunia di atas sana tetap berputar, tidak menyadari bahwa di kedalaman yang paling gelap, sebuah keluarga telah menyelamatkan masa depan mereka sekali lagi.
Perjalanan mereka mungkin telah mencapai puncak dari konflik global, namun bagi Kenzo, Aara, dan Adrian, ini adalah awal dari kedamaian yang sesungguhnya. Tidak ada lagi rahasia dari luar angkasa, tidak ada lagi konspirasi dari dasar laut. Yang tersisa hanyalah mereka bertiga, dan sebuah janji untuk menjaga simfoni kehidupan tetap harmonis di tanah Nusantara.