Dave yakin guru tk para keponakannya adalah perempuan yang menjadikannya sebagai sasaran kekalahannya dalam permainan true or dare dua malam yang lalu.
Bisa bisanya perempuan yang suka clubbing jadi guru tk. Bagaimana nanti masa depan keponakan keponakannya?
Semoga suka♡♡♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilamar
Dave tersenyum ketika Rhea menahan dadanya.
"Ya, kita berangkat sekarang," sahut Dave. Dia pun menggandeng lengan Rhea yang kali ini tidak menolaknya.
Dave berusaha menenangkan degup jantungnya.
Tahan, Dave. Tahan. Dia tadi memang spontan saja ingin menc-ium bibir Rhea. Bibir yang belum dia kec-up lagi.
Dave melirik Rhea yang masih diam saja setelah mereka meninggalkan apartemen.
Tapi dia tersenyum melihat gadis itu memegang batu permata yang jadi bandul kalungnya.
Setelah mengantar Rhea pulang, Dave ke toko perhiasan milik keluarga Airlangga dan memilih kalung untuk Rhea.
"Suka kalungnya?"
Rhea reflek melepas pegangannya pada batu permata di kalungnya.
Permatanya tidak terlalu besar, ukuran biasa saja. Tapi sejak berada di lehernya, detak jantungnya semakin ngga menentu hingga sekarang.
Dave tersenyum melihat reaksi Rhea.
"Syukurlah kamu suka." Tadi dia sempat khawatir kalo Rhea tidak menyukai kalung yang diberikannya karena memiliki ukuran permata yang kecil.
"Kirain kamu suka permata yang gede."
"Kadang kadang."
Lho? Dave jadi merasa salah sudah memberikan permata yang ukurannya kecil.
"Besok aku belikan yang permatanya gede."
Rhea tersenyum simpul sambil memalingkan tatapannya dari Dave.
Dia teringat ketika Dave mengganti wangi parfumnya ketika Rhea bilang ngga suka. Padahal bukan begitu maksudnya Laki laki ini selalu saja salah paham dengannya.
*
*
*
Opa Hendy tersenyum saat melihat kedatangan cucu dan calon cucu menantunya.
"Maaf, opa lama menunggu, ya?" tanya Dave sambil menyalim tangan opanya yang membalas jabatan itu sambil menggoyangkannya.
Dave tau, kalo sudah begini berarti hati opanya sedang sangat bahagia.
"Opa barusan juga datang." Sekarang Hendy menyambut uluran tangan Rhea.
"Terimakasih sudah datang, ya, Rhea," ucap Opa Hendy ramah. Tatapan sangat lembut pada gadis yang bisa meluluhkan hati cucunya.
Rhea tersenyum sopan.
"Ya, opa."
Dave memundurkan kursi untuk Rhea membuat Opa Hendy makin sumringah. Di dalam benaknya, dirinya makin yakin kalo cucunya sudah kecintaan dengan Rhea. Tekatnya makin bulat untuk secepatnya melamar Rhea untuk Dave.
"Senang mengajar di TKnya tempat keponakan keponakan Dave belajar?" tanya Opa Hendy setelah memilih menu yang dirinya inginkan.
Rhea yang masih melihat menu, tersenyum pada Opa Hendy.
"Senang, Opa."
"Pengajar pengajarnya baik baik?"
Rhea menatap Opa Hendy ragu.
Opa tau, ya? Rhea teringat dengan pengajar pengajar yang julid dengannya
"Baik, opa."
"Syukurlah."
Dave menatap Rhea. Dia tau, ucapan opanya bukan sekadar berbasa basi. Tapi dia akan menanyakannya nanti saat mengantar Rhea pulang.
"Kamu sudah pilih mau makan apa?" tanya Rhea.
"Sudah."
Dave mengangguk sambil melihat pilihan menu Rhea. Dia pun memesan menu yang sama, karena untungnya Rhea tidak memesan salad.
Opa Hendy masih mengekalkan senyumnya melihat sikap.Dave yang jadi jinak. Biasanya cucu kurang ajarnya hanya akan memesan minuman saja atau tidak sama sekali dengan alasan sudah makan di tempat lain.
"Opa sudah dengar dari Tante Puspa kenapa kamu berada di Jakarta."
Rhea dan Dave saling tatap. Jantung keduanya sama sama berdegup kencang. Pikiran mereka melayang pada foto yang jadi biang masalah.
"Kata Tante Puspa, kamu menolak dijodohkan? Benar begitu?"
Dave memberi isyarat dengan anggukan pelan pada Rhea. Perasaannya lega karena Opanya belum tau masalah foto.
"Emm ...... Iya, opa."
Opa Hendy menatap cucunya sebentar.
"Kalo dijodohkan dengan Dave, kamu mau?"
Rhea agak terhenyak kaget. Dia melirik Dave yang malah menatap ke arah lain. Dalam hati Rhea menggerutu.
Kenapa bukan cucunya yang ditanya......?
"Kalo Dave, mau katanya dijodohkan sama kamu," tukas Opa Hendy seakan tau yang dipikirkan Rhea.
Rhea menatap Dave ngga percaya. Tapi lagi lagi si jomblo itu menatap ke arah lain.
Jadi dia minta bantuan opanya? Rhea teringat penolakan yang pernah dia katakan pada Dave.
Rhea tidak menolak Dave, tapi laki laki model Dave menurutnya tidak boleh terlalu gampang mendapatkan yang diinginkannya. Walaupun dirinya sudah beberapa kali kecolongan.
Rhea masih berusaha meyakinkan hatinya kalo Dave serius. Pernikahan bukan untuk satu atau dua minggu saja. Dia juga takut, Dave hanya tertarik sesaat dengannya.
"Kamu tenang saja. Opa yang menjamin Dave. Kalo dia aneh aneh sama kamu, dia akan jadi gembel karena semua harta opa buat kanu semua."
Dave sampe mendelik mendengar kalimat panjang opanya yang di luar nalarnya. Sampai sebegitu besarnya dia harus berkorban dan menderita. Dave menghembuskan nafas panjang tapi perlahan.
Rhea juga kembali terhenyak kaget.
Opanya serius? Sesaat kemudian matanya menatap Dave penuh ancaman. Tapi laki laki itu terlihat tenang saat membalas tatapannya.
"Kamu mau, kan, Rhea?" tanya Opa Hendy lagi, seakan takut kalo Rhea berubah pikiran.
"I iya, Opa....." Padahal Rhea mau minta waktu sehari atau dua hari lagi untuk memikirkannya. Tapi dia jadi ngga tega karena menolak permintaan opanya Dave.
Opa Hendy langsung tertawa senang. Hatinya sudah dipenuhi dengan banyaknya rencana untuk melamar Rhea di Surabaya.
Untungnya makanan mereka disajikan para pegawai restoran jadi Opa Hendy menjeda pertanyaannya.
Dave melirik opanya gemas.
Opa, kamu lebih sayang calon istriku, ya, dibandingkan cucumu sendiri, cela Dave membatin.
Suasana makan terasa hening. Tidak ada percakapan serius lagi, tapi n@fsu makan Rhea hampir hilang.
Bayangan pernikahan menari nari di kepalanya. Dia melirik Dave yang ternyata sedang menatapnya dengan tatapan tajamnya. Kali ini Rhea ngga mau nampak lemah dan mengalah.
Ingat, Dave, semua hartamu ada di tanganku. Setelah mengatakan itu, netra Rhea juga menyorot tajam.
Sekarang malah bermunculan banyak ide untuk dia realisasikan setelah mereka menikah nanti. Dia akan membuat laki laki ini membuat kesalahan hingga jadi jatuh miskin.
Seakan tau yang dipikirkan Rhea, kedua sudut bibir Dave melengkung tipis.
*
*
*
Di dalam mobil yang sedang melaju kencang, Toni melapor pada Nazar, bosnya.
"Pak, keluarga nona Puspa punya beberapa sekolah elit. Dari TK sampai SMA. Saya akan memeriksanya besok."
Nazar menghela nafas panjang. Dai mulai kesal. Setiap.sudut perusahaan Airlangga bahkan sampai ke perusahaan Merapi Steels sudah dia dan pengawalnya selidiki. Tapi hasilnya nihil. Mereka masih belum berhasil menemukan keberadaan Rhea.
Nazar mengambil nafas dalam dalam lagi. Tiba tiba dia teringat kalo putrinya pernah mengajar di salah satu TK waktu tinggal di Inggris.
"Besok, cari putriku di TK milik Puspa." Semangatnya untuk membawa pulang putri bungsunya bangkit lagi.
"Siap, pak."
salahkan papamu Rhe, coba ide konyol perjodohan itu ga ada pasti ga akan ada perpisahan yg tertunda begini, kesian ibu dan anak terpisah...