NovelToon NovelToon
MATA SAKTI

MATA SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

"Dulu aku hanyalah sampah yang diinjak-injak, kurir miskin yang tak punya masa depan. Namun, satu tetes darah dewa mengubah segalanya. Dengan Mata Sakti ini, tidak ada rahasia yang tersembunyi, tidak ada musuh yang tak punya celah, dan tidak ada harta yang tak bisa kuraih. Dunia modern ini akan bertekuk lutut di bawah tatapanku!"

#urban_fantasi
#harem #romance#cultivasion

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JATUHNYA SANG PANGERAN KLAN MAHESA

Hujan di Jakarta Utara belum juga reda, malah makin jadi. Aspal jalanan seolah mendidih, uap tipis naik beradu dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Di dalam mansion Tuan Yan, bau besi dari darah tujuh pembunuh tadi masih menyengat, bercampur dengan aroma disinfektan ruang medis yang steril.

Arka berdiri diam di depan jendela besar. Bayangannya di kaca tampak mengerikan—wajahnya pucat, tapi matanya yang merah-emas menyala seperti bara api di tengah kegelapan. Di belakangnya, Tuan Yan gemetar hebat, tangannya yang memegang tablet digital bergetar sampai suara ketukan jarinya terdengar jelas di ruangan yang sunyi itu.

"S-sudah dapat, Tuan Arka..." suara Yan serak. "Nomor itu terlacak ke sebuah penthouse di Tower Regalia. Lantai 66. Itu milik Gideon Mahesa, putra mahkota dari Klan Mahesa—salah satu pilar utama Konsorsium Tujuh Klan."

Arka tidak menjawab. Dia hanya menatap rintik hujan yang menghantam kaca.

"Gideon dikenal sebagai 'Si Kolektor'. Dia yang mengelola Pasar Hantu dan... aset-aset manusia di sana. Dia punya hobi yang sakit, Tuan. Ghost Chain itu adalah ciptaan pribadinya," lanjut Yan dengan nada ketakutan yang makin menjadi.

"Tower Regalia," gumam Arka. Suaranya tidak keras, tapi cukup untuk membuat bulu kuduk Yan berdiri. "Tempat yang tinggi buat orang yang sebentar lagi bakal jatuh ke neraka."

Arka berbalik. Dia berjalan melewati tumpukan mayat Shadow Seven tanpa melirik sedikit pun. Langkah kakinya meninggalkan jejak darah di lantai marmer putih yang mahal itu. Sebelum keluar, dia berhenti tepat di depan Tuan Yan.

"Jaga ibuku. Satu helai rambutnya jatuh karena orang asing, kepalamu yang pertama aku lepas dari leher."

"S-siap, Tuan! Nyawa saya jaminannya!" Yan membungkuk hampir sembilan puluh derajat, tidak berani menatap mata Arka.

Lexus hitam itu melesat membelah kemacetan Jakarta. Arka tidak butuh GPS. Matanya, meski masih terasa panas dan berdenyut seperti ditusuk jarum, mampu melihat garis-garis energi di udara—jejak frekuensi sinyal telepon yang tadi masuk ke ponselnya. Di mata Arka, dunia bukan lagi susunan beton dan lampu kota, melainkan jaring-jaring energi yang kompleks.

Dia menarik napas dalam-dalam. Setiap tarikan napas membawa energi murni dari sisa batu Nadi Naga di genggamannya. Energi itu mengalir, memperbaiki pembuluh darah di matanya yang pecah karena evolusi paksa tadi.

"Evolusi Tahap Dua..." batin Arka.

Dulu, dia hanya bisa melihat menembus benda. Sekarang, dia bisa melihat titik lemah—struktur energi pada sebuah bangunan maupun tubuh manusia. Dia bisa melihat di mana sendi-sendi gedung Tower Regalia yang paling rapuh, dan dia tahu persis di mana titik saraf yang akan membuat manusia mati dalam sekejap tanpa sempat berteriak.

Tepat di depan lobi Tower Regalia yang megah, Arka mengerem mendadak. Suara decitan ban mobilnya memekakkan telinga, memecah ketenangan malam para sosialita yang baru saja turun dari mobil-mobil mewah mereka.

Dua petugas keamanan bertubuh besar, lengkap dengan rompi antipeluru dan senjata otomatis tersembunyi, segera mendekat.

"Woi! Parkir yang bener! Ini area privat!" bentak salah satunya sambil menggebrak kap mobil Arka.

Arka keluar dari mobil. Dia tidak memakai jas mahal, hanya kaos hitam yang kini basah kuyup dan celana kargo yang penuh noda darah kering. Penampilannya kontras dengan kemewahan di sekelilingnya.

"Gideon Mahesa. Lantai 66. Bilang sama dia, kurirnya datang buat nganterin nyawa," ucap Arka dingin.

Si satpam tertawa meremehkan. "Hah? Gembel dari mana lo? Cabut sebelum gue pecahin kepala lo!"

Arka tidak bicara lagi. Dia hanya melangkah maju. Si satpam mencoba meraih bahu Arka, tapi tangannya seolah menghantam tembok baja yang sangat panas. Arka hanya menjentikkan jarinya ke udara.

TAK!

Gelombang kejut kasat mata menghantam dada si satpam. Pria seberat 100 kilogram itu terpental lima meter, menghantam pintu kaca lobi sampai hancur berkeping-keping. Satpam satunya lagi panik dan mencoba mencabut pistolnya, tapi sebelum jarinya menyentuh pelatuk, Arka sudah ada di depannya.

Cengkeraman tangan Arka mendarat di tenggorokan satpam itu. "Jangan buang-buang peluru. Simpan buat temen-temen lo di atas."

Arka melempar pria itu ke arah meja resepsionis. Alarm gedung meraung-raung. Lampu merah berputar, menciptakan suasana mencekam di lobi yang biasanya tenang itu. Puluhan personel keamanan bersenjata lengkap mulai turun dari tangga darurat dan lift.

Tapi Arka tidak menggunakan lift. Dia menatap langit-langit gedung. Matanya berpendar emas intens.

"Terlalu lambat kalau pakai lift," gumamnya.

Arka menekuk lututnya sedikit, lalu—BOOM!

Lantai marmer lobi retak hebat. Arka melompat lurus ke atas dengan kekuatan yang tidak masuk akal. Tubuhnya meluncur seperti peluru, menembus plafon lantai satu, lantai dua, terus melesat ke atas melalui celah poros lift. Setiap dia mulai kehilangan momentum, dia menendang dinding poros lift, menciptakan ledakan energi yang mendorongnya lebih tinggi lagi.

Di lantai 66, Gideon Mahesa sedang duduk santai di sofa kulitnya, menyesap wine merah seharga ratusan juta rupiah. Di depannya, monitor besar menampilkan CCTV lobi yang kacau balau.

"Gila... dia benar-benar datang sendiri?" Gideon tertawa kecil, matanya berkilat gila. "Anak itu punya nyali, atau memang sudah bosan hidup."

"Tuan muda, haruskah kita aktifkan sistem pertahanan laser?" tanya seorang ajudan di sampingnya.

"Jangan. Biarkan dia masuk. Aku mau lihat secara langsung mata yang konon katanya bisa melihat segalanya itu. Cabut saja matanya, lalu taruh di toples koleksiku," perintah Gideon santai.

Tiba-tiba, seluruh ruangan bergetar. Guncangannya lebih hebat dari gempa bumi. Suara dentuman logam yang hancur terdengar dari arah pintu lift privat di ruangan itu.

BRAAAKKKK!

Pintu lift baja setebal sepuluh senti itu terlepas dari engselnya, melayang di udara, dan tertanam di dinding tepat di samping kepala Gideon. Angin kencang berhembus masuk, membawa bau hujan dan aura kematian yang begitu kental.

Arka berdiri di sana, di tengah debu dan reruntuhan. Bajunya robek di beberapa bagian, menonjolkan otot-ototnya yang kini dialiri garis-garis emas redup.

"Gideon Mahesa," Arka menyebut nama itu dengan nada yang membuat suhu ruangan turun drastis.

Gideon berdiri, menjatuhkan gelas wine-nya sampai pecah. "Wah, sambutan yang sangat... energetik. Jadi, kamu ini 'aset' yang lolos itu? Atau cuma anjing penjaga yang marah karena pemiliknya disiksa?"

Arka tidak terprovokasi. Dia berjalan perlahan, setiap langkahnya membuat keramik mahal di bawahnya retak. "Ibu saya bukan aset. Dan kamu... kamu bukan manusia. Kamu cuma limbah yang kebetulan punya nama keluarga."

"Hahaha! Berani juga mulutmu!" Gideon memberi isyarat tangan.

Dari balik pilar-balok mewah, muncul dua orang pria tua dengan jubah abu-abu. Aura mereka berbeda dari pembunuh bayaran tadi. Ini adalah praktisi bela diri tingkat tinggi, mereka yang sudah menyentuh ranah kultivasi dasar.

"Tetua Braja, Tetua Galung... tolong ajari anak muda ini cara bersikap sopan," ujar Gideon sambil duduk kembali.

Kedua tetua itu maju serempak. Kecepatan mereka luar biasa, menciptakan bayangan sisa di udara. Satu menyerang ke arah jantung Arka dengan pukulan telapak tangan yang membawa hawa dingin, satunya lagi menyapu kaki Arka dengan tendangan yang sanggup mematahkan tiang baja.

Arka hanya memejamkan mata sesaat.

Dunia melambat.

Di matanya, dia melihat aliran energi di tubuh kedua tetua itu. Dia melihat titik pusat energi mereka di perut bawah (Dantian). Dia melihat betapa tidak stabilnya energi mereka dibandingkan dengan energi murni dari Nadi Naga miliknya.

Arka bergeser hanya beberapa milimeter. Pukulan Tetua Braja meleset tipis. Arka menangkap pergelangan tangan pria tua itu, lalu dengan gerakan halus namun bertenaga, dia memutar tangan itu ke arah sebaliknya.

KRETEK!

Tulang lengan Tetua Braja hancur menjadi serpihan kecil. Sebelum pria tua itu sempat berteriak, Arka menendang dadanya. Tendangan itu bukan tendangan biasa, tapi ledakan energi Tahap Dua. Tubuh Tetua Braja menghantam kaca penthouse dan terlempar keluar gedung, jatuh bebas dari ketinggian 66 lantai.

Tetua Galung yang melihat rekannya tewas dalam satu gerakan langsung pucat pasi. Dia mencoba mundur, tapi Arka sudah ada di belakangnya.

"Mau ke mana?" bisik Arka di telinganya.

Arka menempelkan telapak tangannya ke punggung Tetua Galung. "Darah dibayar darah, nyawa dibayar nyawa. Kamu yang bantu Gideon memasang Ghost Chain itu, kan? Aku bisa merasakan bau energi busukmu di punggung ibuku."

"T-tunggu! Saya cuma menjalankan perinta—"

BOOM!

Arka melepaskan gelombang energi penghancur langsung ke dalam saraf tulang belakang Tetua Galung—persis seperti yang dilakukan Ghost Chain pada ibunya, tapi seribu kali lebih menyakitkan. Seluruh saraf pria itu hangus dalam sekejap. Dia ambruk, lumpuh total dengan mata yang melotot ngeri sebelum akhirnya nyawanya hilang.

Kini tinggal Gideon. Pria kaya itu tidak lagi tertawa. Wajahnya yang tadi sombong kini pucat pasi seperti mayat. Dia mencoba meraih pistol emas di atas mejanya, tapi tangannya gemetar hebat.

"Jangan, Gideon," kata Arka, sekarang berdiri hanya satu meter di depannya. "Pistol itu nggak bakal sempat meledak sebelum kepalamu aku hancurkan."

"K-kamu... kamu nggak tahu siapa yang kamu lawan! Konsorsium bakal memburu kamu sampai ke lubang cacing! Mahesa nggak akan diam!" teriak Gideon histeris.

Arka mencengkeram kerah baju Gideon, mengangkat pria itu sampai kakinya menggantung. Matanya yang merah-emas menatap langsung ke dalam mata Gideon, menembus jiwanya.

"Konsorsium? Biarkan mereka datang," bisik Arka. "Aku butuh banyak orang buat dikirim ke neraka, dan kamu... kamu adalah orang pertama yang bakal kasih testimoni di sana kalau Arka sudah datang."

Arka tidak membunuhnya dengan cepat. Dia mengaktifkan Mata Dewanya, mencari titik saraf paling sensitif di tubuh Gideon. Dengan satu tekanan jari di lehernya, Arka membuat setiap saraf di tubuh Gideon merasa seperti dibakar api abadi.

Gideon menjerit, suara teriakan yang begitu memilukan sampai-sampai siapa pun yang mendengarnya akan merasa mual. Jeritan itu bergema di seluruh lantai 66, mengalahkan suara badai di luar sana.

Malam itu, Jakarta menyaksikan runtuhnya salah satu pangeran kota. Arka berdiri di balkon penthouse yang kini hancur berantakan, menatap kerlap-kerlip lampu kota di bawahnya.

Dendamnya belum tuntas. Ini baru satu klan. Arka mengepalkan tangannya, dan energi emas meledak dari tubuhnya, membentuk bayangan naga yang seolah mengaum ke arah langit malam.

"Baru satu," gumam Arka. "Siapa selanjutnya?"

Hujan perlahan reda, tapi bagi para penguasa kota, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di tangan Arka, nasib Jakarta tidak akan pernah sama lagi.

1
SANG
Berlanjut terus💪👍
SANG
Semangat👍
SANG
Lanjut terus
SANG
like👍
Tang xu
terlalu terbuka soal kekuatannya
the misterius author 🐐: buka dikit aja bg belum semua
total 1 replies
the misterius author 🐐
arc 1 tamat lanjut ke Arc 2
SANG
Like, suka
SANG
menarik
SANG
Mampir Thor
the misterius author 🐐: ok bg
total 7 replies
Sules Tiyanto
👍👍,, lanjut Thor,,
the misterius author 🐐: nanti lanjut kan bg
total 1 replies
Gege
dahlah otor menyembah AI buat generate kata..
the misterius author 🐐: bg bukan nyembah itu di gantung cerita nya soal nanti Abraham bakal mati sabr aja
total 1 replies
Gege
yaaah ga dapat duit jadinya si MC.. gass teroos bang 10k kata sekali update...jangan nanggung keluarkan semua...🤭
the misterius author 🐐: fokus perbaiki plot nya sistem si mulut pedas dulu bg
total 1 replies
Manusia Biasa
jadi MC🤣
Manusia Biasa
yakin?? kwk
Manusia Biasa
lanjutt 😂 ditunggu next Thor semangat
the misterius author 🐐: sudah tu thor
total 1 replies
Manusia Biasa
ngakak gw sekilas mikir santet😂
the misterius author 🐐: jangan bg itu paru paru ada gumpalan darah hitam bg 🤣
total 1 replies
Manusia Biasa
Menarik, novelnya berpotensi masuk jajaran Rekomendasi NT dan halaman beranda

semangat kak👍
the misterius author 🐐: ARKA cocok jadi Sigma 🤣 kak
total 6 replies
Manusia Biasa
potensi menjadi sigma ini mc🗿
the misterius author 🐐: tenang bg nanti bab tertentu ada saingan Clarissa bg 🤣
total 1 replies
Manusia Biasa
seperti biasa🗿
Manusia Biasa
iyalah boss, untuk rakyat jelata kaya kita kita bisa buat generasi beberapa keluarga itu😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!