NovelToon NovelToon
Saya Jokernya

Saya Jokernya

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Sepuluh tahun lalu, keluarga Arlan hancur dalam semalam karena konspirasi korporasi besar "Vanguard Group". Orang tuanya dijebak sebagai pengkhianat negara dan tewas dalam kecelakaan yang diatur. Arlan kembali dengan identitas baru, "Joker"—seorang manipulator bayangan yang tidak membunuh dengan peluru, melainkan dengan menghancurkan reputasi dan mental musuhnya.
Di sisi lain, Elara, putri dari CEO Vanguard Group, adalah seorang detektif cerdas yang mencoba membersihkan nama kepolisian. Dia mulai mengejar Joker, tanpa menyadari bahwa pria yang dia cintai di kehidupan normal adalah sosok di balik topeng yang ingin menghancurkan ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Membangkang Perintah

​Jarum pendek pada jam dinding berdebu di ruko tua ini bergerak mendekati angka sembilan pagi.

​Aku duduk membeku di atas sofa kulit yang dingin, mencengkeram cangkir kopi keramik hingga buku-buku jariku memutih kaku. Mataku tak berkedip menatap layar televisi tabung di sudut ruangan yang volumenya telah dinaikkan hingga maksimal. Di sampingku, Arlan berdiri bersandar pada dinding, kedua tangannya terlipat di depan dada. Wajahnya datar, namun matanya memancarkan antisipasi seorang pemangsa yang menunggu jebakannya menjerat leher mangsa.

​Layar kaca itu menyiarkan liputan langsung dari aula utama Markas Besar Kepolisian. Ruangan itu disesaki oleh ratusan wartawan, kamera televisi, dan kilatan lampu blitz yang menyilaukan.

​Di atas mimbar, diapit oleh Kepala Kepolisian Daerah dan Dokter Kusnadi dari divisi forensik, berdirilah ayahku. Darmawan Salim.

​Pria yang biasanya tampil dengan setelan jas bespoke yang licin dan aura kekuasaan yang mengintimidasi itu, pagi ini merias dirinya sebagai korban yang sempurna. Kemeja putihnya dibiarkan tanpa dasi. Wajahnya terlihat luar biasa kuyu, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang entah bagaimana berhasil ia palsukan. Postur tubuhnya yang biasa tegap kini sedikit membungkuk, menanggung beban kesedihan seorang ayah yang kehilangan putri tunggalnya.

​"Hari ini... adalah hari tergelap dalam hidup saya," suara Darmawan mengalun melalui pelantang suara, memecah keheningan aula. Suaranya bergetar di suku kata yang tepat, sebuah teknik manipulasi vokal yang pantas diganjar piala aktor terbaik. "Putri saya, Elara, mendedikasikan hidupnya untuk keadilan. Dan monster yang berlindung di balik topeng badut itu... telah merenggutnya dari saya dengan cara yang paling keji."

​Rasa mual yang pekat mengaduk lambungku. Mendengar pria yang memerintahkan regu pembunuh bayaran untuk memanggangku hidup-hidup kini meratapi 'kematianku' di televisi nasional membuatku ingin meludahkan kopi yang baru saja kuminum.

​"Pihak kepolisian telah bekerja keras sepanjang malam. Saya meminta... dengan sangat berat hati... agar Dokter Kusnadi menjelaskan hasil temuannya dari lokasi kejadian, agar tidak ada lagi spekulasi liar di masyarakat," Darmawan menoleh ke arah ahli forensik yang telah disuapnya itu, memberikan isyarat anggukan yang sangat halus.

​Dokter Kusnadi maju ke mimbar. Wajahnya terlihat pucat dan gugup. Ia meremas kertas di tangannya, mendeham pelan, lalu memberi isyarat kepada operator di sudut ruangan.

​"Kami akan menampilkan slide dari dokumen laporan otopsi resmi kami di layar proyektor," ucap Kusnadi terbata-bata.

​Di dalam ruko tua kami, aku menahan napas. Arlan sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. Detik yang kami tunggu akhirnya tiba.

​Operator komputer di aula kepolisian mengeklik file PDF laporan tersebut dan menekan tombol layar penuh (fullscreen).

​Namun, bukan gambar serpihan tulang hangus atau grafik DNA yang muncul di layar proyektor raksasa di belakang mimbar.

​Layar itu berkedip sesaat, memunculkan garis-garis statis hijau, sebelum akhirnya menampilkan sebuah video beresolusi tinggi. Video diriku, dengan wajah kotor oleh jelaga, memar di pelipis, dan tatapan tajam yang menembus lensa kamera.

​Suaraku yang jernih dan tegas langsung menggema di seluruh penjuru aula kepolisian, ditransmisikan secara langsung ke jutaan televisi di seluruh negeri.

​"Halo, Ayah. Aku tahu kau sedang menangis di depan kamera sekarang... Pria yang berdiri di podium itu, Darmawan Salim... bukanlah seorang ayah yang berduka. Dia adalah monster yang mengirim enam orang pembunuh bayaran untuk membakarku hidup-hidup..."

​Aula yang tadinya hening seketika meledak.

​Kamera-kamera yang menyorot mimbar kini bergerak liar. Ratusan jurnalis berteriak secara bersamaan, saling dorong untuk mendekati podium, melontarkan pertanyaan yang tak terdengar jelas. Suara kilatan lampu blitz berpadu menjadi badai cahaya putih yang menyilaukan. Para perwira polisi tinggi di barisan depan berdiri dengan wajah pucat pasi, menatap layar dengan mulut terbuka lebar.

​Dokter Kusnadi menjatuhkan mikrofonnya, tubuhnya gemetar hebat menyadari bahwa ia baru saja menggali kuburannya sendiri.

​Aku memusatkan pandanganku pada wajah ayahku di layar. Aku ingin melihat ketakutannya. Aku ingin melihat topeng arogansinya hancur lebur saat seluruh dunia mengetahui bahwa ia adalah seorang pembunuh anak kandungnya sendiri.

​Darmawan membeku. Otot rahangnya menegang keras. Selama dua detik penuh, ia mematung di atas podium, menatap video diriku yang terus membeberkan dosa-dosanya di latar belakang.

​Namun, apa yang terjadi pada detik ketiga membuat darah di nadiku terasa berubah menjadi serpihan es.

​Alih-alih melarikan diri dari podium atau berteriak ketakutan, Darmawan Salim menundukkan wajahnya dan menyembunyikannya di balik kedua telapak tangannya. Bahunya berguncang hebat. Ketika ia mengangkat wajahnya kembali satu detik kemudian, matanya sudah dipenuhi oleh air mata. Bukan air mata ketakutan, melainkan air mata keputusasaan yang luar biasa meyakinkan.

​Ia merebut mikrofon dari lantai dengan kasar.

​"Lihat apa yang dilakukan monster itu!" raung Darmawan ke arah lautan wartawan yang sedang histeris. Suaranya menggelegar, sarat akan kemarahan seorang ayah yang disiksa. "Putriku sudah mati! Polisi telah menemukan jasadnya! Dan sekarang, Joker yang sakit jiwa itu menggunakan teknologi manipulasi wajah... video deepfake... untuk mencemarkan nama baik putriku dan menyiksaku secara mental di depan publik!"

​Kapolda yang berdiri di sebelahnya tampak kebingungan, namun insting birokrasinya segera mengambil alih. Ia memberi isyarat kepada petugas keamanan.

​"Matikan layarnya! Matikan proyektor itu sekarang!" teriak Kapolda, sementara Darmawan Salim terus berteriak di depan mikrofon, menuntut agar polisi segera menangkap teroris siber yang telah menodai memori putrinya.

​Layar televisi di ruko kami kembali menampilkan berita pembawa acara di studio yang kebingungan, mencoba menganalisis apakah video yang baru saja diputar itu adalah pesan nyata dari saksi mata yang masih hidup, ataukah benar sebuah manipulasi kecerdasan buatan dari pelaku teror.

​Aku berdiri dari sofa dengan napas yang memburu liar. Gelas keramik di tanganku terlepas, jatuh menghantam lantai kayu dan pecah berkeping-keping. Kopi hitam tumpah menggenang, namun aku sama sekali tidak memedulikannya.

​"Bajingan licik," desisku, suaraku bergetar oleh amarah yang murni. Tanganku mengepal kuat hingga kuku-kukuku menusuk telapak tangan. "Dia memutarnya. Dia mengubah bukti pengakuan itu menjadi senjata untuk mendapatkan lebih banyak simpati. Dia membuat seluruh ruangan itu percaya bahwa aku hanyalah boneka virtual ciptaanmu."

​Arlan tidak terlihat terkejut. Ia berjalan pelan menghampiriku, menatap layar televisi yang kini memutar ulang kepanikan di aula tersebut.

​"Kau meremehkan insting bertahan hidup seorang predator puncak, Elara," ucap Arlan dengan nada datar yang dingin. "Bagi seseorang yang terbiasa membeli hukum, memanipulasi kebenaran di depan media hanyalah masalah memilih kata yang tepat dengan emosi yang pas. Darmawan Salim adalah raja pembohong. Sebuah video di layar proyektor tidak akan cukup untuk memasangkan borgol di tangannya."

​"Dokter Kusnadi," gumamku, pikiranku berputar cepat menyusun langkah taktis. Aku menoleh ke arah Arlan. "Kusnadi adalah kelemahannya. Dia yang memalsukan data DNA di laporan itu. Ayahku mungkin bisa membodohi wartawan dengan alasan deepfake, tapi dia tidak akan bisa membodohi tim investigasi jika Kusnadi bernyanyi."

​"Kusnadi tidak akan pernah bernyanyi," potong Arlan cepat. "Darmawan pasti sudah menyewa regu pembersih baru untuk memastikan mulut dokter itu tertutup permanen sebelum matahari terbenam hari ini."

​"Maka kita harus menemukannya lebih dulu! Kita harus mengamankan Kusnadi sebelum orang-orang ayahku mencapainya. Jika kita mendapatkan pengakuan tertulisnya bahwa laporan DNA itu palsu, ayahku tidak akan bisa lagi bersembunyi di balik alasan manipulasi siber."

​Aku berjalan cepat menuju meja kayu di sudut ruangan, mengambil sebuah ponsel sekali pakai (burner phone) yang tergeletak di sana.

​"Apa yang sedang kau lakukan?" Arlan melangkah maju, meraih pergelangan tanganku dengan cengkeraman yang cukup kuat untuk menghentikan gerakanku. Matanya menyipit tajam menatap ponsel di tanganku.

​"Aku harus menghubungi Inspektur Bramantyo," balasku, berusaha menarik tanganku namun tenaganya jauh lebih besar. "Bram ada di dalam sana. Aku bisa memintanya untuk mengamankan Kusnadi secara diam-diam. Dia satu-satunya orang di kepolisian yang tahu aku masih hidup."

​"Tidak," tolak Arlan mutlak, suaranya memberat. "Begitu kau melakukan panggilan keluar, kau membuka jalur komunikasi. Kau melepaskan keuntungan terbesar yang kita miliki saat ini: ketidakpastian. Jangan libatkan polisimu, Elara."

​"Bram adalah mentorku! Dia menyelamatkan nyawaku di Blok M kemarin!" aku meninggikan suaraku, menatap matanya dengan penuh tantangan. "Dia tidak akan menjualku pada ayahku!"

​"Kau tidak mengerti bagaimana kekuasaan Vanguard bekerja!" Arlan balas membentak, melepaskan pergelangan tanganku dengan sentakan pelan. "Darmawan tidak perlu menyuap Bramantyo untuk mendapatkan lokasimu. Dia hanya perlu menyadap telepon divisi pembunuhan, atau melacak pergerakan Bram setelah kau menghubunginya. Jika kau menemui polisimu itu, kau bukan hanya mempertaruhkan nyawamu sendiri, kau juga membahayakan lokasiku!"

​"Kita tidak bisa memenangkan perang ini hanya dengan menyembunyikan diri dan menyabotase server!" aku tidak mundur. Dadaku naik turun menahan emosi. "Kau mungkin terbiasa bekerja di dalam bayangan, membakar segalanya lalu pergi. Tapi aku seorang detektif. Aku tahu bagaimana cara hukum mengikat seorang pembunuh. Tanpa saksi mata seperti Kusnadi, ayahku akan lolos lagi. Aku harus mengamankan dokter itu, dan aku tidak bisa melakukannya sendirian tanpa akses kepolisian."

​"Elara, jangan lakukan ini. Ini adalah perintah," ucap Arlan. Tatapan matanya yang gelap kini memancarkan peringatan yang mematikan. Ia tidak sedang memintaku; ia sedang menetapkan batasan wilayah. "Tetap di sini. Aku yang akan mencari cara untuk membereskan Darmawan dengan caraku sendiri."

​Aku menatap pria di hadapanku ini. Pria yang telah menghancurkan batas antara benar dan salah di dalam hidupku. Ia telah membuktikan bahwa metodenya berhasil meruntuhkan pilar-pilar Vanguard, namun metodenya tidak pernah dirancang untuk memborgol seseorang secara hukum; metodenya dirancang untuk membunuh.

​Dan meskipun aku sangat membenci ayahku saat ini, meskipun aku ingin melihatnya hancur, instingku sebagai penegak hukum berteriak bahwa membiarkan Arlan membunuhnya tanpa pengadilan akan membuatku tak lebih dari sekadar pembunuh yang sama.

​Aku harus memasukkan Darmawan Salim ke dalam jeruji besi, bukan ke dalam kantong mayat.

​Aku menekan tombol daya pada ponsel di tanganku, menatap Arlan dengan ketegasan yang tak bisa ditawar.

​"Aku mungkin membuang lencanaku ke tempat sampah, Arlan," bisikku tajam. "Tapi aku tidak pernah mengambil sumpah untuk menjadi pionmu. Aku harus membangkang perintahmu kali ini."

​Tanpa menunggunya menjawab, aku berbalik, mengambil jaket kulitku, dan melangkah keluar dari ruko tua itu, membiarkan pintu berdebam menutup di belakangku.

​Basement parkir Stadion Utama Senayan pada siang hari selalu sepi, apalagi dengan cuaca gerimis yang tak kunjung berhenti. Tempat ini berbau pesing, lembap, dan dipenuhi oleh coretan grafiti di dinding betonnya yang kusam.

​Aku berdiri menyandar di balik sebuah pilar tebal, memastikan tubuhku sepenuhnya tertelan bayangan. Tudung jaketku kutarik ke depan, menutupi sebagian wajahku. Tanganku berada di dalam saku, mencengkeram erat gagang pistol Glock-19.

​Sekitar sepuluh menit kemudian, suara mesin mobil yang agak kasar bergema di dalam basement. Sebuah sedan Jepang keluaran lama berwarna perak kusam melaju pelan, lalu berhenti sekitar sepuluh meter dari posisiku. Lampu depannya dimatikan.

​Pintu pengemudi terbuka. Inspektur Bramantyo melangkah keluar. Ia masih mengenakan kemeja dan dasi yang sama dengan yang ia pakai di konferensi pers tadi pagi. Wajahnya terlihat jauh lebih tua dari biasanya, seolah seluruh energi hidupnya telah terkuras habis dalam empat jam terakhir.

​Aku melangkah keluar dari bayangan pilar.

​Bram tersentak. Tangannya secara refleks melayang ke pinggang, namun ia menahannya saat mengenali siluetku. Ia berjalan setengah berlari menghampiriku. Saat jarak kami tersisa satu meter, ia berhenti, menatapku seolah aku adalah penampakan roh penasaran yang bangkit dari kubur.

​"El," suaranya bergetar. "Kau benar-benar melakukan kegilaan itu. Video di aula tadi... itu benar-benar dirimu. Kau menyusup ke markas kita sendiri semalam."

​"Itu satu-satunya cara untuk membongkar kebohongannya di depan publik, Bram," jawabku cepat, tidak membuang waktu untuk basa-basi. "Di mana Dokter Kusnadi? Apakah kau sudah mengamankannya? Kita butuh pengakuannya untuk memvalidasi video itu dan membuktikan bahwa ayahku memalsukan kematianku."

​Bram tidak menjawab. Ia mengalihkan pandangannya dariku, menatap genangan air di lantai beton. Rahangnya mengeras keras. Ia merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sebatang rokok, mematahkannya menjadi dua, lalu membuangnya ke lantai. Sebuah pelampiasan frustrasi yang sia-sia.

​"Bram? Ada apa?" tanyaku, merasakan firasat buruk mulai merayapi lambungku. "Di mana Kusnadi?"

​"Kusnadi tidak ada di markas, El," jawab Bram akhirnya, suaranya terdengar berat dan sangat lelah. "Setengah jam setelah konferensi pers itu bubar secara kacau balau, Kusnadi ditemukan tewas di dalam mobil dinasnya di lantai parkir basement markas. Mesin menyala, selang knalpot dialirkan ke dalam kabin yang tertutup rapat. Bunuh diri akibat keracunan karbon monoksida. Mereka menemukan catatan permintaan maaf di kursi sebelah, mengatakan bahwa ia merasa bersalah karena tidak teliti menganalisis DNA korban kebakaran."

​Napas di tenggorokanku tercekat.

​"Bunuh diri? Di basement markas?!" aku menggeleng histeris. "Itu pembunuhan, Bram! Ayahku mengirim orang untuk mencekiknya dan merancang panggung bunuh diri itu! Dia memotong mata rantainya!"

​"Aku tahu itu, kau tahu itu," Bram menatapku dengan sorot mata yang penuh dengan kepasrahan pahit. "Tapi Kapolda tidak mau tahu. Bagi mereka, kasus ini sudah sangat jelas dan dibungkus rapi. Darmawan Salim baru saja melakukan pertemuan tertutup dengan Kapolda. Hasilnya? Perintah resmi turun dari atas sepuluh menit yang lalu."

​Bram menelan ludah, menatap lurus ke mataku.

​"Video di aula tadi secara resmi diklasifikasikan sebagai serangan siber tingkat tinggi. Sejenis manipulasi kecerdasan buatan (deepfake) yang dibuat oleh organisasi teroris. Divisi kita dilarang keras untuk menyelidiki Vanguard Group atau menyinggung nama Darmawan Salim. Semua unit investigasi dialihkan fokusnya hanya untuk satu tujuan."

​"Memburu Joker," tebakku, darahku terasa mendidih.

​"Memburu Joker, dan siapa pun yang dicurigai menjadi kaki tangannya," Bram mengangguk muram. "Statusnya bukan lagi penangkapan, El. Statusnya adalah tembak di tempat. Jika kau tertangkap kamera pengawas di mana pun di kota ini, mereka akan menganggapmu sebagai penipu yang menyamar menggunakan identitas detektif yang sudah mati, atau lebih buruk lagi, menganggapmu sebagai ancaman teroris."

​Aku mundur selangkah hingga punggungku menabrak pilar beton.

​Darmawan Salim benar-benar licin layaknya belut yang dilumuri oli. Ia tidak hanya membalikkan serangan video kami, ia menggunakan momentum itu untuk membersihkan sisa bukti (Kusnadi) dan mengerahkan seluruh kekuatan bersenjata negara ini untuk menjadi anjing pemburunya.

​"Elara," Bram melangkah maju, meletakkan tangannya di bahuku dengan lembut. "Mundurlah. Biarkan ini berlalu. Ayahmu terlalu kuat. Sistem ini sudah busuk dari akar hingga ke daunnya. Jika kau terus menggali, kau tidak akan menemukan keadilan. Kau hanya akan menemukan kuburanmu sendiri."

​Kata-kata Bram adalah nasihat dari seorang pria yang telah menyerah pada realitas. Nasihat yang secara logis harus kuikuti jika aku ingin hidup tenang.

​Aku menatap mata mentorku itu. Aku memikirkan ayahku yang saat ini pasti sedang duduk santai di ruangannya, tersenyum memandangi kota yang berhasil ia bodohi. Aku memikirkan arwah mentorku, Detektif Arya, yang namanya dikotori.

​Dan aku memikirkan Arlan, yang saat ini sendirian di ruko tua itu, memikul dosa balas dendam karena sistem hukum yang diwakili pria di depanku ini terlalu pengecut untuk melindunginya.

​Aku melepaskan tangan Bram dari bahuku dengan perlahan namun sangat tegas. Mataku menyipit, mengunci setiap keraguan di dalam diriku.

​"Aku tidak akan menghentikan kasus ini."

1
Emi Widyawati
bagus bangeeetttt. cerita beda dengan yang lainnya. baca novel tapi serasa liat film. bagus banget Thor. lup u sak kebon 😘
Misterios_Man: banyakin likesnya dong biar popularitasnya naik, gratis kok hehehe.
total 2 replies
Ainun masruroh
semangat 💪
Misterios_Man: Ok kak nice dream ya,, jangan lupa ikuti novelnya heheh.
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!