NovelToon NovelToon
Dendam Maharani

Dendam Maharani

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Dendam Kesumat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

Maharani, gadis manis tapi pemalu yang menyukai seorang laki-laki anak kepala desa yang tampan bernama Andrean.

cinta yang tulus tapi dibalas oleh sebuah kejahatan.

maharani hanya menuntut tanggung jawab, tapi dia dijebak, lalu di rud*p*ksa oleh Andrean bersama dua rekannya.

maharani di tolong oleh seroang nenek yang kemudian memberinya ilmu kanuragan untuk balas dendam pada orang-orang yang menyakitinya.

akankah para pelaku ditangkap atau berakhir tragis, yuk simak kisahnya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

gubuk jadi saksi

Warning.....!!!

Area 21+...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Selang seminggu kemudian...

Rani menggenggam sebuah benda ditangannya.

Matanya panas karena desakan air mata.

Dia kembali menghela nafas kasar entah keberapa kalinya.

Hatinya gundah dan takut.

Rani berjongkok dan menelusupkan wajahnya diantara kedua lututnya.

Berharap ini mimpi dan kesalahan dari alat tes kehamilan yang masih digenggamnya.

Puas menangis, Rani mencuci wajahnya dan merapikan daster tidurnya. Dia tidak ingin larut dalam kesedihan yang masih belum bisa dipastikan kebenarannya. Satu-satunya cara adalah, dia harus bicara pada Andre dan memeriksakannya bersama-sama dikota.

"Loh Ran... kamu kok masih pakai daster? Belum mandi, nggak kerja?" tanya bu Sukma heran saat putrinya keluar dari kamar mandi karena Rani masih berpakaian rumahan.

"Belum bu... Hari ini Rani izin libur. Badan Rani nggak enak rasanya..." ringis Rani yang memang pucat.

"Oh ya sudah... kirim pesan pada atasanmu, bu Lusi, bilang kalau kamu sakit. Toh besok juga hari minggu dan ini juga kerja setengah hari..." nasehat bu Sukma yang diangguki oleh Rani.

Usai mengirim pesan izin tidak masuk kepada Lusi, Rani kembali melanjutkan tidurnya. Matanya sangat berat dan kepalanya juga sakit.

Selain karena hasil tes pack, Rani juga memikirkan hal yang lebih mengusik hatinya perihal Andre yang akan menikah beberapa hari lagi dengan Meri.

Yup, dia sudah tahu jika berita yang awalnya gosip ternyata adalah benar. Terbukti karena keluarganya mendapat undangan dari juragan Kardi.

Keesokan paginya, karena dirasa badannya sudah mulai membaik, Rani segera mengirim pesan kepada Andre yang meminta untuk bertemu.

Dia tidak ingin ini hanya dirinya yang menanggung akibat perbuatan mereka, Andre harus bertanggung jawab atas ini semua.

Pesannya dibalas, Andre menyetujuinya dan meminta menunggu di tempat biasa yaitu pondok kecil yang berada di pinggir danau.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Bergegas Rani mengayuh sepedanya. Menempuh perjalanan 20 menit, Rani telah dulu sampai.

Dia duduk di tepi danau dengan mata memandang jauh air danau yang tenang sembari menunggu Andrean.

"Sayang..." Andre datang dan langsung memeluk Rani dari belakang dan mengecup puncak kepala Rani.

"Mas... jangan peluk-peluk... Aku lagi kesal sama mas Andre" tukas Rani menepis tangan Andre.

Andre mengernyit dan duduk disisi Rani.

Sebelah tangannya merangkul pundak Rani.

"Lepas mas...! Aku nggak mau dekat-dekat dengan kamu... kamu jahat!" lagi Rani menepis lengan Andre.

"Hai... hai kamu kenapa...? Lihat mas..." Andre menangkup pipi Rani agar gadis itu menatap padanya.

Lagi, Rani menepis kedua tangan Andre yang memegang pipinya. Dia lalu berdiri dan hendak beranjak dari tepi danau.

"Rani... tunggu!"

Andre berusaha mengejar Rani dan akhirnya bisa kembali menangkap tangannya.

"Kamu kenapa sih? aku kira kamu ngajak ketemu karena kamu kangen sama aku. Kamu beda akhir-akhir ini Rani. Di kantor juga kamu selalu hindarin aku dan berlagak nggak kenal... Kamu marah karena berita itu?"

Rani menatap sengit pada Andre.

"Jelas marah mas... Mas Andre pikir saja, siapa perempuan yang tidak marah ketika mendengar kekasihnya akan menikahi perempuan lain dan gosipnya karena perempuan itu hamil... Aku kesal mas... mas Andre bohong! Katanya nggak pernah tidur dengan Meri, tapi nyatanya dia ham*l.. Mas Andre jahat...!" katanya sambil memukul dada Andre.

"Rani stop! Sakit Rani!" Andre menahan kedua tangan Rani agar berhenti memukulinya.

"Maafkan aku.... aku juga nggak tahu akan jadi seperti ini. Ini semua salah paham. Aku dijebak Rani... Meri menjebakku sewaktu menghadiri pestanya Ruth bersama Bimo... minumanku dicampur obat dan paginya ketika aku bangun, Meri sudah dalam keadaan polos tidur disampingku... Tapi percayalah padaku Ran... aku tidak mencintainya. Aku akan menceraikan dia ketika anak itu lahir dan meminta tes DNA..." tutur Andre membujuk Rani.

"Kamu nggak bohong kan? Kamu nggak lagi mainin perasaan aku kan mas...?" tanya Rani meminta kepastian.

"Iya.. aku jujur Rani... cuma kamu, dan hanya kamu yang aku cintai..." Andre membawa Ran kedalam pelukannya.

Rani luluh dan membalas pelukan tersebut. Keduanya saling tatap, dan entah siapa yang memulai, keduanya kini tengah berciuman mesra. Andre mendapat angin segar kala Rani membuka mulutnya. Lidahnya mengobrak-abrik isi mulut Rani. Sebelah tangannya tak tinggal diam dan bermain diatas dada Rani yang tertutup dress selututnya.

"Ahkkkk...." Rani melenguh karena sensasi cubitan tangan Andre.

"Aku rindu kamu Rani..." bisik Andre merayu.

"Aku juga mas..." sahut Rani mendayu.

Keduanya kemudian berpindah kedalam pondok tak jauh dari tepi danau. Pondok yang jadi saksi bisu betapa bergairahnya hubungan mereka.

Pondok yang awalnya dipenuhi semak yang telah dibersihkan kini jadi tempat keduanya memadu kasih, saling berbagi saliva dan keringat.

Kepala Andre telah berada disela paha Rani. Lidahnya bermain pada inti tubuh Rani. Gadis itu mengejang. Punggungnya melengkung.

Kali ini permainan Andre akan sedikit lebih lama. Otaknya membandingkan antara Meri dan Rani.

Meri cantik tapi dia gadis yang l*ar. Dan hal yang cukup wajar karena Meri banyak menghabiskan waktunya di kota dengan semua fasilitas hiburan malam yang lengkap. Sedangkan Rani adalah gambaran gadis desa yang polos, bahkan saat pertama kali mereka melakukannya, Rani benar-benar kaku seperti gedebok pisang.

Andre harus hati-hati mengajarinya. Lelaki itu bukan kali pertama menyet*b*hi perempuan dan Rani adalah gadis keempat yang ia gauli dengan janji cinta manis yang ditawarkannya.

Rani menahan suaranya agar tidak menjerit kala lidah Andre memasuki mulut rahimnya. Entah karena efek hormon kehamilan atau sebab lain, Rani kali ini sungguh menikmati permainan lidah Andrean.

Dia menahan kepala Andre dan tak sengaja menjepitnya dengan kedua pahanya kala gelombang itu datang.

"Uhhhkkkk mas Andre...." desis Rani.

Andre tersenyum puas. Dia menyeka sudut bibirnya yang kecipratan cairan milik Rani

"Kali ini biar aku memuaskanmu" bisik Andre mendayu ditelinga Rani.

Mereka berdua telah polos. Andre memposisikan dirinya diatas Rani.

Tidak buru-buru memasukkan 'sosisnya' kedalam 'lembah' milik Rani.

Lagi lidah Andre bermain diatas coco chips Rani yang menantang.

Decapan keras dan sedikit gigitan Andre berikan.

Dia juga menangkup dan mer*m*s bukit ranum yang dirasanya semakin besar dari terakhir dia mainkan.

"Ran.. ini kenapa semakin diperhatikan semakin besar dan padat?" tanya Andre disela cecapannya.

Rani tak lagi bisa menyimak apa yang Andre katakan. Dia sibuk menarik udara agar masuk kedalam paru-parunya.

Andre tersenyum melihat betapa Rani menikmati setiap sentuhannya.

Laki-laki itu kemudian menciumnya rakus dan menuntut.

Keduanya hanyut dalam ciuman, dan tangan Rani kemudian menyentuh 'sosis' milik Andre hingga lelaki itu mengelinjang dan melenguh disela ciuman mereka.

Lagi, Andre memainkan salah satu bukit Rani hingga dia pun ikut melenguh.

"Ughhhh...."

Setelah dirasa Rani siap menerimanya, Andre mengarahkan miliknya kedalam lembah Rani yang lembab.

Kepala Rani menengadah menikmati penyatuan tersebut.

Jari-jari lentiknya menekan punggung Andre.

"Akhhhh... Andre..." desis Rani mendayu ditelinga Andre.

"Yesss baby.... call my name again...."

"ohhhh... Andre.... lebih kuat...." tanpa disangka, Rani meminta Andre lebih kuat lagi menghujamnya.

Andre menyunggingkan senyum tipis. Merasa bangga karena Rani selalu bisa membuatnya liar dan kasar.

Andre mengangkat kedua kaki Rani dan meletakkannya di atas bahunya, menghujamnya lebih dalam lagi.

Gerakannya konsisten dan teratur sesuai tempo, mendorong semakin dalam, semakin cepat, menabrak dinding rahim Rani.

Gubuk lusuh itu bergoyang seiring gerakan dua insan didalamnya.

Kepala Rani terangkat menengadah. Andre menahan kedua tangan Rani diatas kepalanya dan kembali memberi ciuman yang menuntut.

Andre menurunkan temponya.

Dan kesempatan itu digunakan oleh Rani untuk berganti posisi menjadi dirinya yang berada diatas Andre.

"Boleh aku yang memimpin sekarang?"

"Yess baby..." ucap Andre akhirnya. Kedua tangannya berada dibelakang kepalanya, matanya memperhatikan gerakan Rani yang mulai mengarahkan 'sosis' Andre kembali masuk kedalam lembah miliknya.

"Hmmmm.... ahhhhkkkk...."

Rani mulai bergerak, naik turun. Dia juga memainkan rambut panjangnya, berayun bak penunggang kuda profesional. Kedua bukitnya juga berayun seiring gerakan Rani.

Andre memejamkan kedua matanya.

"Ohhh... baby... kamu semakin pintar sayang...." racau Andre. Tangannya tak bisa diam. Dia ikut membantu Rani bergerak.

Rani kembali mencapai puncaknya untuk yang kedua kalinya.

Nafasnya tergesa dan memburu.

Setelah dirasa cukup, Andre kembali membalik keadaaan menjadi dia yang memimpin.

Kali ini tak ada ampun.

Dia menghujam, menekan dan gerakannya semakin liar dan cepat. Rani berguncang. Kukunya menekan punggung Andre dan kedua kakinya melingkar di pinggang lelaki itu.

"Isssss...... Aku hampir sampai...." desis Andre semakin mempercepat temponya.

Detik selanjutnya, Andre telah ambruk diatas Rani.

Keduanya sama-sama mencapai puncak. Cairan hangat milik Andre kembali membasahi lembah Rani.

bersambung....

1
Astuti Puspitasari
Mbahe iku jahat apa ngga ya kok makan janin /Grimace/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!