Pernikahan kontrak antara Elvano dan Aira awalnya hanya sandiwara. Namun, kebersamaan perlahan mengubah rasa benci menjadi cinta, dan sikap dingin Elvano berubah menjadi posesif serta sangat romantis.
Sayangnya, kebahagiaan mereka terusik saat mantan kekasih Elvano, Natasha, kembali dengan niat merebutnya kembali. Ditambah kedatangan Ardi, mantan gebetan Aira, serta berbagai fitnah yang memicu kesalahpahaman.
Mampukah mereka melewati semua ujian dan membuktikan bahwa cinta mereka adalah yang terkuat? Ikuti kisah manis, sedih, dan romantis abadi mereka! 💖🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Waktu terus berjalan dengan cepat, matahari mulai bergeser naik ke atas kepala menandakan waktu sudah menjelang siang. Aira kembali masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke dapur yang luas, bersih, dan modern itu.
Di sana, bibi Asih sudah sibuk mempersiapkan bahan-bahan segar untuk makan siang nanti.
“Bibi…” panggil Aira pelan dengan wajah yang sangat manis. “Aira boleh bantuin gak?”
Bibi Asih yang sedang memotong sayuran langsung menoleh dan tersenyum lebar melihat kedatangan non mudanya.
“Boleh banget dong non! Asal non Aira jangan capek-capek ya. Tangan non kan halus dan putih, nanti kasihan kena sabun atau panas kompor terus jadi kasar,” jawab bibi Asih penuh perhatian.
“Ah gak apa-apa kok bBi. Aira biasa bantu ibu masak dari kecil kok. Aira juga pengen belajar masak masakan kesukaan mas Elvano biar nanti bisa bikinin sendiri kapan aja,” jawab Aira jujur sambil mengambil celemek dan memakainya.
“Wah sayang banget ya sama suaminya,” goda bibi Asih sambil tertawa renyah. “Iya deh ayo, Bibi ajarin. Hari ini bibi mau masak sop daging sapi sama ayam goreng lengkuas, itu favorit banget tuan muda dari kecil sampai besar.”
“Wah enak banget! Aira suka juga tuh!” seru Aira girang.
Mereka berdua pun mulai sibuk aktif di dapur. Suasana dapur yang luas itu menjadi sangat hidup dan riuh dengan suara tawa dan obrolan mereka yang akrab.
Aira belajar memotong wortel, kentang, dan bumbu-bumbu dapur dengan rapi dan terampil. Gerakannya cekatan dan sangat rapi, tidak kalah dengan ahli dapur profesional. Bibi Asih semakin kagum dan sayang melihat majikannya yang baru ini yang tidak gengsi, tidak sombong, dan tidak manja sama sekali.
“Non Aira ini baik banget ya orangnya,” puji bibi Asih tulus sambil mengaduk kuah sop yang sudah mendidih dan mengeluarkan aroma wangi yang sangat menggugah selera, wanginya semerbak memenuhi seluruh ruangan. “Dulu kan rumah ini sepi banget non, jarang ada suara orang ngobrol atau ketawa. sekarang jadi rame dan ceria banget rasanya, bibi jadi semangat masak terus.”
Aira tersenyum manis sambil mengupas bawang merah dengan cepat dan rapi. “Iya bi, Aira juga senang banget bisa ada di sini. Aira janji bakal jaga rumah ini dengan baik-baik, bakal bikin rumah ini selalu ramai dan bahagia terus sama tawa kita semua.”
“Insyaallah non. Bibi yakin kok sama non aira. Non itu beneran bidadari yang dikirim tuhan khusus buat lembutin hati tuan muda yang dulu keras dan dingin itu.”
Obrolan mereka mengalir sangat lancar dan akrab, membahas banyak hal mulai dari resep masakan rahasia, cerita lucu tentang Elvano kecil, sampai cerita tentang keluarga Aira. Suasana keakraban itu terjalin begitu cepat dan begitu alami, seolah mereka sudah mengenal satu sama lain selama bertahun-tahun lamanya seperti keluarga kandung sendiri.
Sore harinya, setelah selesai membantu di dapur dan membersihkan diri serta mengganti baju menjadi lebih santai namun tetap sopan, Aira kembali naik ke lantai atas menuju kamar utama mereka berdua.
Ia ingin merapikan sedikit barang-barangnya yang masih ada di dalam koper dan tas, dan ingin menata sebagian pakaiannya yang belum selesai ke dalam lemari besar itu agar lebih rapi dan mudah diambil saat dibutuhkan.
“Nah, ini baju buat pergi, ini baju tidur, ini baju buat kondangan…” gumam Aira pelan sambil melipat baju-baju itu dengan rapi dan teliti sesuai kebiasaannya yang rapi dan bersih.
Lemari pakaian yang sangat besar, luas, dan mewah itu kini sudah mulai terisi penuh dan penuh warna. Separuh isinya adalah pakaian-pakaian mahal, rapi, dan berwarna gelap atau netral milik Elvano yang mencerminkan kepribadiannya yang tegas dan maskulin.
Dan separuh lainnya kini mulai terisi oleh baju-baju Aira yang berwarna-warni, lembut, feminim, dan manis, mencerminkan kepribadiannya yang lembut dan ceria.
Pemandangan itu terlihat sangat indah dan sangat mengesankan bagi siapa saja yang melihatnya. Dua dunia yang berbeda kini telah bersatu rapi di dalam satu ruang yang sama, dua lemari pakaian yang kini menjadi satu kesatuan, menandakan bahwa dua jiwa yang berbeda kini telah menyatu menjadi satu ikatan suami istri yang sah dan kekal selamanya.
Aira duduk santai di tepi ranjang besar itu, menatap sekeliling kamar itu lagi dengan perasaan yang sangat tenang, damai, dan bahagia.
“Rumah ini… sekarang jadi rumah kita ya, mas…” bisik Aira pelan ke udara, seolah berbicara pada suaminya yang sedang bekerja keras di kantor saat itu. “Aira janji bakal selalu bikin kamar ini dan rumah ini hangat, penuh dengan cinta, dan penuh dengan kebahagiaan buat kita berdua selamanya.”
Waktu terus berjalan tanpa terasa, matahari mulai perlahan bergeser ke arah barat, warnanya berubah menjadi keemasan yang indah, menandakan sore hari telah tiba dan malam pun akan segera menyapa dengan cepat.
Aira duduk santai di ruang tamu depan, sesekali ia melirik ke arah jam dinding besar yang berdetak sangat pelan namun pasti. Jantungnya mulai berdebar-debar tidak sabar, ada perasaan rindu yang tiba-tiba saja muncul dan menggelitik di dalam hatinya.
“Jam setengah enam nih… mas Elvano pasti sebentar lagi pulang…” gumamnya pelan, tangannya saling mencengkeram di pangkuan karena rasa rindu yang tiba-tiba saja muncul meski mereka baru berpisah beberapa jam yang lalu "Rasanya aneh ya, baru beberapa jam tidak bertemu tapi rasanya sudah lama sekali tidak bertemu."
Tiba-tiba terdengar suara mesin mobil memasuki halaman rumah.
brummm...
Suara mesin mobil yang sangat dikenali dan dihafal oleh telinganya itu terdengar jelas memasuki gerbang. Wajah Aira langsung berseri-seri dan ia langsung berdiri dengan sigap dan antusias.
"Pulang! Mas Elvano pulang!" serunya pelan pada dirinya sendiri dengan wajah yang sangat bahagia.
Aira berjalan dengan cepat namun tetap sopan dan anggun menuju pintu utama. belum sempat ia membukakan pintu, pintu itu sudah terbuka perlahan dari luar.
Elvano Praditya berdiri di ambang pintu. Wajahnya tampak sedikit lelah dan penat setelah seharian bekerja keras memimpin perusahaan besar yang membutuhkan tenaga dan pikiran ekstra. Kacamata yang biasa ia pakai kini tergantung di kerah kemejanya, dan rambutnya sedikit berantakan tertiup angin sore.
Namun, begitu matanya menangkap sosok Aira yang berdiri manis dan cantik menunggunya di sana dengan senyuman termanis di dunia, seketika rasa lelah dan penat itu seolah hilang terbawa angin begitu saja. Berganti dengan rasa hangat dan damai yang luar biasa.
"Mas Elvano!" sapa Aira ceria, senyumnya mengembang lebar sekali, sangat lebar, matanya berbinar-binar penuh kasih sayang.
Elvano meletakkan tas kerja dan jaketnya di sofa terdekat, lalu ia menatap istrinya dengan tatapan yang sangat lembut dan teduh, tatapan yang hanya ada untuk Aira seorang.
"Aku pulang, Ra..." ucapnya pelan, suaranya berat namun penuh rasa sayang yang meluap-luap.
"Selamat sore, mas. Capek ya kerjanya seharian?" tanya Aira dengan penuh perhatian sambil membantu mengambil tas di tangan suaminya. "Yuk masuk, mandi dulu biar seger, terus kita makan malam ya. Aira sama bibi masak sop daging sapi lho hari ini, kesukaan mas kan?"
Elvano tersenyum lebar, sangat lebar, senyum yang tulus dan hangat, lalu ia melangkah masuk ke dalam rumahnya sendiri dengan perasaan yang sangat berbeda dari biasanya.
Ia menatap sekeliling ruangan itu, lalu menatap wajah istrinya yang penuh dengan cinta dan ketulusan itu.
Dan di dalam hati Elvano, ia pun merasakan hal yang sama persis seperti apa yang dirasakan oleh bibi Asih dan Aira sejak pagi tadi.
Rumah ini besar, mewah, dan megah. Semua orang bilang ini rumah impian. Tapi dulu... dulu rumah ini terasa dingin, kaku, dan sangat sepi baginya.
Namun sekarang...
Rumah ini menjadi hangat.
Sangat hangat. hangat karena ada kamu, Aira. hangat karena ada cinta kita yang tumbuh di sini. Hangat karena ini benar-benar rumah sekarang, bukan cuma tempat tidur.
"Makasih ya..." bisik Elvano pelan tiba-tiba, suaranya terdengar sangat lembut.
Aira mengerjap bingung, kepalanya sedikit miring menatap suaminya. "Buat apa mas?"
"Karena udah ada di sini. Udah bikin rumah ini jadi tempat paling nyaman di dunia buat aku balik dan pulang."
Aira tersenyum bahagia luar biasa, pipinya merona merah manis bak buah apel yang ranum. Ia merasa menjadi wanita yang paling beruntung di dunia saat ini.
"Sama-sama, mas. Rumah kita akan selalu hangat selamanya, apapun yang terjadi."
Malam itu, di kediaman praditya, makan malam berjalan dengan sangat nikmat, penuh dengan tawa, dan penuh dengan kehangatan yang tak tergantikan. Hidup mereka berdua kini benar-benar telah berubah menjadi kisah cinta yang indah, manis, dan penuh dengan warna.