Arga Pratama, seorang mekanik tangguh yang hidupnya sederhana namun penuh prinsip, tak sengaja bertemu dengan Clara, wanita cantik pewaris perusahaan besar yang sedang lari dari perjodohan. Karena suatu keadaan terpaksa, mereka harus terikat perjanjian kontrak palsu. Siapa sangka, dari bau oli dan mesin, tumbuhlah benih cinta yang tak pernah disangka-sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olshop sukses Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai Cinta dan Bahaya yang Mengintai
Hari-hari indah dan tenang ternyata tidak selamanya berjalan mulus. Seperti ombak di lautan, setelah tenang, kadang datang gelombang besar yang siap menghantam.
Ketenangan keluarga Pratama mulai teruji ketika sebuah proyek besar di luar kota memaksa Arga dan Clara harus meninggalkan rumah selama beberapa minggu.
"Arfan, Aura, kalian jaga diri baik-baik ya. Ayah dan Bunda pergi dulu urus pembukaan pabrik baru di pulau seberang. Arfan, kamu sebagai kakak, jagain adikmu baik-baik, paham?" pesan Arga serius sebelum berangkat.
"Siap Yah, tenang aja. Arfan janji bakal jaga Aura dan rumah sebaik mungkin," jawab Arga dengan penuh tanggung jawab.
"Hati-hati di jalan ya Yah, Bun," ucap Aura manis sambil memeluk kedua orang tuanya.
Setelah kepergian Arga dan Clara, suasana rumah terasa agak sepi. Namun, justru di sinilah cerita baru dimulai.
Di Kampus dan Lingkungan Pergaulan...
Arfan Pratama, dengan ketampanan dan kekayaannya, tentu saja menjadi idola banyak wanita. Namun, hati pemuda itu baru saja tersentuh oleh seorang gadis sederhana namun sangat pintar dan cantik bernama Saskia.
Saskia adalah teman satu tim proyek Arfan. Berbeda dengan gadis-gadis lain yang mendekati Arfan karena harta, Saskia benar-benar menyukai Arfan karena kecerdasan dan kerendahan hatinya.
Hari itu, mereka sedang melakukan riset di sebuah daerah terpencil untuk proyek teknologi energi terbarukan.
"Fan, data terakhir sudah kita dapat. Besok pagi kita bisa balik ke kota," kata Saskia sambil menyimpan laptopnya dengan wajah lelah namun bahagia.
"Iya, makasih ya Sia. Kamu hebat banget bisa bertahan sampai sini. Padahal jalannya susah dan fasilitasnya minim," puji Arfan tulus.
Mereka berdua duduk di teras rumah warga yang mereka tempati. Angin malam bertiup sejuk, menciptakan suasana yang sangat romantis.
Arfan menatap profil wajah Saskia yang diterangi cahaya lampu remang. Jantungnya berdegup kencang.
"Sia..."
"Iya Fan?"
"Aku... aku suka sama kamu. Bukan cuma sebagai teman kerja, tapi lebih dari itu," kata Arfan memberanikan diri. Wajahnya memerah.
Saskia terkejut, lalu tersenyum manis, matanya berbinar indah. "Aku juga Fan... Aku juga suka sama kamu."
Saat itu juga, seolah dunia milik berdua. Namun, kebahagiaan mereka tidak disukai oleh semua orang.
Di balik semak-semak, seorang pemuda yang diam-diam menyukai Saskia dan iri pada kesuksesan Arfan melihat kejadian itu. Namanya Dito. Dia adalah anak orang kaya juga, tapi sifatnya sombong dan jahat.
"Huh! Dasar munafik! Pikir dia baik banget, ternyata cuma mau manfaatin cewek!" geram Dito cemburu. "Tunggu aja, aku bakal hancurin citra lo di depan semua orang!"
Sementara itu, di sisi lain kota...
Nasib Aura tidak kalah rumit. Sejak kejadian di gala dinner tempo hari, Giovanni, anak konglomerat itu, justru makin tertarik dan mulai mendekati Aura dengan cara yang sangat agresif.
Giovanni tampan, kaya, dan pandai berkata-kata manis. Dia terus mengirim hadiah-hadiah mewah, datang menjemput, dan berusaha mencuri perhatian Aura.
"Tolong terima ini ya Aura, cuma bunga kecil," kata Giovanni sambil menyodorkan buket bunga mawar raksasa.
"Maaf Kak Giovanni, aku nggak bisa terima. Ayah sama Abang aku nggak bolehin aku terima hadiah sembarangan," tolak Aura halus namun tegas.
"Ah masa sih? Aku kan tulus. Aura, aku sayang kamu. Aku mau kita jalanin hubungan serius. Aku bisa kasih kamu dunia Aura, apa aja yang kamu mau," bujuk Giovanni dengan nada memaksa.
Aura mulai merasa tidak nyaman. Giovanni terlihat baik di depan orang banyak, tapi ada sesuatu yang licik dan menekan di matanya.
"Aku minta maaf Kak Giovanni. Aku belum mau pacaran. Fokusku masih belajar. Dan tolong jangan datang ke sini lagi kalau Abang aku nggak ada," jawab Aura lalu masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.
Wajah Giovanni berubah masam. Senyum manisnya hilang digantikan tatapan kesal.
"Oke... kalau kamu main keras, aku juga bisa main keras. Belum ada cewek yang nolak aku, Aura. Lo bakal jadi milik gue, satu cara atau cara lain," gumamnya sinis.
Konflik Mulai Memanas!
Beberapa hari kemudian, berita heboh menghiasi media sosial dan koran kampus.
BOCOR! SKANDAL ARFAN PRATAMA! MENYALAHGUNAKAN PROYEK UNTUK MENGGAETI WANITA!
Foto-foto yang diedit dan rekaman suara yang dipotong-potong menyebar luas. Arfan difitnah seolah-olah dia memanfaatkan proyek untuk kencan dan korupsi dana.
"BRUKKK!!!"
Arfan membanting tangannya ke meja saat melihat berita itu. Wajahnya merah padam menahan marah.
"Ini fitnah! Ini semua bohong! Siapa yang berani lakukan ini?!"
"Fan, tenang... Kita tahu kebenarannya. Jangan panik," kata Saskia mencoba menenangkan, tapi dia juga ikut sedih karena namanya juga diseret-seret.
Di rumah, Aura juga panik bukan main. Dia melihat berita itu dan langsung percaya 100% itu bohong, tapi dia takut Ayah dan Bundanya marah atau kecewa.
Belum selesai masalah itu, masalah lain datang.
Tiba-tiba HP Aura berdering. Nomor tidak dikenal.
"Halo..."
"Halo Putri cantik... Senang bisa ngobrol sama kamu lagi," suara Giovanni terdengar dari seberang. Tapi suaranya tidak lagi manis, melainkan dingin dan mengancam.
"Kak Giovanni? Apa mau lagi?"
"Kamu mau tahu nasib Abang kamu? Atau kamu mau tahu siapa yang bikin berita jelek soal Arfan?" tanya Giovanni tertawa kecil.
Aura terbelalak. "Kau?! Kau yang lakukan itu?!"
"Iya sayangku. Dito itu cuma boneka yang aku bayar. Aku lakukan semua ini biar Arfan hancur reputasinya, dan biar kamu sadar... cuma aku yang bisa selamatin kalian," bisik Giovanni jahat. "Sekarang, kalau kamu mau Abang kamu selamat dan namanya bersih... kamu datang sendiri ke tempatku. Jangan bilang siapa-siapa. Atau... lihat aja keluarga Pratama hancur lebur hari ini juga."
TUT TUT TUT...
Telepon dimatikan.
Aura gemetar hebat. Air matanya mengalir. Dia takut, sangat takut. Tapi dia tidak bisa membiarkan Abangnya dan nama baik keluarganya dihancurkan begitu saja.
"Maafkan Aura ya Bang... Aura harus lakukan ini. Demi keluarga..." isak Aura pelan.
Dengan hati hancur dan tangan gemetar, Aura mengambil jaketnya. Dia memutuskan pergi menemui Giovanni sendirian untuk menyelamatkan Abangnya dan nama besar Ayahnya.
Petualangan berbahaya dan ujian cinta yang sesungguhnya baru saja dimulai.