Aku sudah mati sekali di hari kiamat.
Sekarang aku kembali—3 hari sebelum semuanya dimulai.
Aku tahu siapa yang akan mati.
Aku tahu monster apa yang akan muncul.
Aku tahu dunia ini tidak bisa diselamatkan.
Jadi kali ini…
aku akan mengubah semuanya.
Atau menghancurkannya dengan caraku sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizqi Handayani Mu'arifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Tim terkuat telah terbentuk
Dua hari telah berlalu pasca pertempuran dengan naga zombie dan zombie penjaga gerbang kematian.
Reina dan yang lainnya masih dalam perawatan dimarkas utama militer. Tubuh mereka benar-benar mengalami luka yang cukup sangat parah.
Perlahan mata reina terbuka karena silau akan cahaya matahari yang masuk kedalam kamar ruang perawatan melalui jendela.
Matanya menangkap sesok pria yang sedang duduk dan tengah menunggu reina sadar.
"santo?." keningnya berkerut.
"iya, sudah dua hari berlalu kalian bertiga tidak sadarkan diri." ucapnya sedih, suaranya sedikit bergetar.
"cukup, pasti selain saya yang belum sadarkan diri andri dan prisma."
"hahaha ternyata kamu sudah memahami tim." meskipun tertawa ada raut sedih yang terpancar diwajahnya.
Reina memalingkan wajahnya dan menatap langit langit ruangan kemudian berfikir bagaimana kelanjutan setelah ini. Apakah dia akan tetap menjadi bagian tim atau sesuai rencana untuk berpetualang.
"dimana dandi?." tanya reina kepada santo. Dia teringat dandi karena hanya dia yang memiliki daya tahan tubuh yang kuat dan serangan mematikan.
"saat jenderal yanto datang membawa bantuan hanya dandi yang masih sadar. Setelah mendapat perawatan dandi pergi, menurut jenderal dia ingin ke pulau lotte."
"apa dia ingin menyerap energi spiritual lagi?." tanya reina.
Seingatnya dikehidupan lalu, ledakan energi spiritual hanya sekali. Namun alam masih menyimpan energi spiritual meski lemah.
"bukan, sepertinya dia ingin bertarung dengan monster yang telah bermutasi disana. Dia sangat terpukul atas kematian dio dan sarah." ucapnya sedih.
Kemudian reina membuka selimut yang membalut tubuhnya. Menurunkan kedua kakinya dan melepas selang infus ditangannya.
"apa yang kamu lakukan.!" cegah santo sambil menahan tangan reina yang hendak mencabut jarum infus.
"saya sudah memutuskan. Mari kita berlatih diruang dimensi surgawi."
"ruang dimensi surgawi?."
"iya, asal kalian mau menjadi anggotaku dan menyelesaikan misi untuk menyelamatkan populasi manusia. Dan juga membantuku untuk mencari informasi tentang keluarga scouth."
Santo terdiam memikirkan ucapan reina. Memang santo telah memutuskan untuk keluar dari militer dan mengikuti langkah reina demi melindunginya.
Santo masih ingat disaat pertarungan melawan zombie bermata ungu. Disaat zombie menggunakan serangan ilusi, dia melihat masa depan. Masa dunia yang telah berubah dan kematian reina. Dimasa kini kematiannya bukan karena sarah dan dio.
"baiklah, mari kita temui jenderal yanto dan minta pendapatnya bagaimana,? Kalau saya..-"
Reina menatap santo seakan paham apa yang akan disampaikannya. "saya tahu, kamu pasti ingin melindungi ku." ucap reina sambil berjalan pergi melewati santo yang masih berdiri terpaku.
"bagaimana kamu tahu?." tanya santo yang menyusul reina dan berjalan dibelakangnya.
"entahlah. Saya tidak tahu apa alasan dan tujuanmu. Tapi yang jelas dikehidupan terakhirku, saya melihatmu berlari memanggil nama saya dengan wajah yang khawatir tapi sayang saya tetap mati."
Deg..!
Jantung santo berdetak, ternyata dikehidupan sebelumnya dia juga mengkhawatirkan reina.
Entah mengapa dia memiliki keinginan untuk melindungi reina bahkan jika nyawanya harus menjadi taruhannya.
Santo merasa tenang jika melihat reina. Entah perasaan seperti apa yang dimiliki santo terhadap reina.
Reina dan santo memasuki ruang utama, disana ada jenderal dan beberapa peneliti termasuk dr isman sedang melihat layar komputer.
Bukan hanya ada satu ataupun dua tapi ada puluhan.
Mereka mengirim robot kamera berukuran serangga untuk mengamati perubahan pada dunia.
Bagian utara, selatan, barat dan timur semua sedang diamati dengan seksama.
"jenderal yanto." sapa reina dan santo.
"kalian datang tepat waktu, coba kalian lihat."
Reina dan santo melihat beberapa hewan dan tumbuhan bermutasi menjadi monster dari layar komputer.
Ada monster yang hanya bisa mengamuk dan ada juga monster yang berakal.
"perubahan ini.-" gumam reina.
"semua telah bermutasi. Kami telah meneliti energi spiritual yang pecah telah diserap oleh bumi dan menyebar ke seluruh penjuru membuat dibeberapa daerah mengalami mutasi. Ini bisa menjadi serangan besar." ucap dr isman khawatir.
Tiba-tiba dibeberapa layar gambar bergetar seakan sedang mengalami gempa bumi.
Namun tiba-tiba tanah terbelah dan keluarlah sebuah bangunan.
"bangunan apa yang keluar dari bumi." ucap jenderal yanto terkejut dan tanpa sadar kakinya mundur beberapa langkah.
"reruntuhan kuno." gumam reina pelan.
"ya. itu reruntuhan kuno." ucap reina kembali.
semua orang terkejut, "apa?"
"dunia benar-benar telah berubah dan mengalami krisis. Di Setiap reruntuhan kuno disana ada monster atau iblis yang akan membuat kerusuhan." sambung reina
"jika begini bukankah populasi manusia akan turun secara drastis?." tanya santo.
Reina menarik nafasnya dalam-dalam. "benar. Itu tujuan para iblis. Membasmi manusia. Dunia kiamat, perang para dewa." suaranya bergetar, tangannya mengepal keras.
Semua terdiam dan kembali menatap layar, detik demi detik perubahan selalu terjadi. Mereka memahami akan situasinya yang sangat genting. Masa depan yang gelap dan suram penuh dengan darah, ketakutan dan tangisan.
"yang lemah hanya akan ditindas oleh yang kuat. Senjata modern tidak akan lagi berguna. Jadi lebih baik jenderal juga menyerap energi spiritual untuk melindungi diri." sambung reina.
Setelah jenderal yanto menyerap energi spiritual yang dibagi oleh reina, beliau bergegas mengumpulkan seluruh anggotanya dan memberitahukan keadaan dengan jujur.
Andri dan prisma juga sudah sadar, mereka bukan kritis, bukan pingsan. Hanya tertidur untuk memulihkan energi.
*****
"apa? sudah separah ini?."
"dunia benar-benar akan kiamat?."
"tenang semuanya, karena kalian telah memiliki kekuatan untuk membasmi para monster mulai sekarang misi militer adalah melindungi warga yang lemah." ucap jenderal yanto.
"karena barak utara sudah tidak memiliki ketua, maka-" belum sempat jenderal berbicara ada yang memotong.
"tunggu jenderal, dimana dio? Kenapa barak utara sudah tidak memiliki ketua?." tanya ketua barak timur.
Pria tersebut benama kael. Dia dan dio memiliki sifat yang sama sehingga tidak pernah akur jika bertemu.
Semua terdiam, tidak tahu cara menyampaikannya.
"dio telah gugur saat menjalankan misi didesa candipuro." ucap jenderal yanto menahan air matanya supaya tidak tumpah.
"apa??!" serempak.
"meskipun begitu dia tidak gagal untuk melindungi anggotanya." lanjut jenderal.
Tangan kael mengepal sangat keras, tanpa disadari energi spiritual terkumpul di kepalan tangan nya.
Reina melihat kekuatan itu, "dia punya potensi." batin reina tersenyum.
Kemudian kael memukul tanah hingga bergetar dan terbelah menjadi empat retakan hampir sepanjang 300 meter.
"hebat.!"
"luar biasa"
"kekuatan yang sungguh luar biasa."
Kata demi kata diucapkan para anggota.
"baiklah kita lanjutkan, karena ketua dio telah gugur saya akan menjadikan reina sebagai ketua."
"tunggu dulu jenderal. Anda tidak meminta pendapat saya. Saya tidak setuju." bantah reina karena dirinya tidak ingin terikat. Karena menurutnya akan sangat sulit jika terikat dengan militer apalagi pemerintahan.
"kenapa anda menolak? Apakah menurutmu kami tidak pantas menjadi anggotamu?." tanya Andri dengan rasa kecewa.
"huuh." menghela nafas.
"bukan seperti itu." lanjut reina
"saya tahu kamu tidak ingin terikat. Tapi ini permintaan mereka yang menginginkanmu untuk menggantikan dio sebagai ketua" sambung jenderal yanto.
"ini.." reina merasa terharu dan menatap wajah mereka satu persatu.
Reina terdiam dan bingung harus bagaimana. Kemudian santo menjelaskan kepada mereka tentang situasi reina yang ingin menjadi pengembara tanpa terikat dengan militer maupun pemerintah.
"bagaimana kalau kamu bawa mereka berpetualang? Terikat maupun tidak sama saja. kalian akan bertarung demi perdamaian dan menolong yang lemah."
"jadi kalian terbebas dan tidak terikat, tapi saya minta satu syarat." lanjut jenderal yanto.
Reina menatap jenderal dengan seksama, seakan menerka apa yang sedang dipikirkannya.
"syarat seperti apa?." tanya reina
"saya hanya menginginkan kalian tetap ada dibawah naungan militer meskipun tidak terikat. Jelasnya jika kami benar-benar membutuhkan bantuan kamu tidak bisa menolak."
Reina terdiam dan memikirkannya dengan serius. "baiklah saya terima."
Semuanya bersyukur lega, kemudian reina memberikan beberapa saran untuk melatih fisik dan energi mereka sebelum pergi.