NovelToon NovelToon
Algojo Dari Bukit Wengker

Algojo Dari Bukit Wengker

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Iblis / Perperangan
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Di sebuah wilayah terpencil di kaki Bukit Wengker, hidup seorang anak bernama Gandraka—anak dari Ki Bagaskara, penjaga ilmu lama yang nyaris dilupakan. Sejak kecil, Gandraka menunjukkan tanda-tanda yang tak biasa: ia memahami lambang-lambang kuno, mampu meredam sesuatu yang bersemayam di dasar sumur tua, dan menjalankan ritual yang bahkan orang dewasa tak berani sentuh.
Namun Wengker bukan tanah biasa.
Di balik perbukitan dan sunyinya desa, tersegel kekuatan gelap yang perlahan mulai bangkit. Sesuatu yang tak hanya membawa kegelapan… tetapi juga kehampaan yang menelan segala.
Saat segel mulai melemah, Gandraka dihadapkan pada takdir yang tak bisa ia hindari—menjadi penjaga… atau berubah menjadi algojo bagi dunia yang tak pernah benar-benar memahami dirinya.
Di tanah Majapahit yang tampak damai, bara itu diam-diam menyala.
Dan ketika waktunya tiba… tidak semua yang hidup akan tetap menjadi manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Sementara Jayantaka dan kedua jagal Anggrek Hitam melesat membelah kabut menuju dapur umum, balai desa Mojorejo mendadak menjadi sunyi yang mencekam. Udara di sekitar tempat itu terasa berat, seolah-olah seluruh oksigen telah dihisap habis oleh kemarahan Eyang Jagad Ireng yang pasaknya baru saja dihancurkan.

​Patih Gajah Mada berdiri sendirian di tengah halaman. Angin badai ilusi memainkan ujung jubah kebesarannya, namun tubuh tegapnya tetap bergeming laksana karang di tepi samudera.

Di tangan kanannya, bilah keris Kyai Gajah berkilat tenang, memancarkan pendar keemasan yang terus memotong setiap uap hitam yang mencoba mendekat.

​Ssssshhh...

​Suara desisan yang sangat panjang dan berat terdengar dari balik bayang-bayang beringin tua di pojok halaman. Perlahan, sesosok makhluk mengerikan melangkah maju. Lurah Sekit. Tangan kanan Eyang Jagad Ireng itu kini tidak lagi menyembunyikan wujud aslinya.

Tubuhnya yang setinggi tiga meter tampak berkilau oleh sisik hitam legam layaknya ular kadut, dengan sepasang tangan kekar yang menyeret sebuah gada besi berduri yang meneteskan racun hijau.

​Di belakang Lurah Sekit, puluhan warga desa yang masih berada di bawah pengaruh Benang Sukma merangksek maju dengan gerakan patah-patah. Mata putih mereka menatap Gajah Mada dengan rasa lapar yang murni.

​"Manusia rendahan... berani sekali kau menginjakkan kaki di tanah kutukan ini," Lurah Sekit mendesis, suaranya berlapis seperti bisikan ribuan ular. "Keris kecilmu tidak akan bisa menyelamatkan lehermu dari gadaku!"

​Tanpa menunggu jawaban, Lurah Sekit menggeram dahsyat. Ia mengayunkan gada raksasanya secara ganas. menciptakan angin puyuh kecil yang merontokkan pagar-pagar kayu di sekitarnya.

​Gajah Mada tidak menghindar dengan melompat jauh. Dengan ketenangan seorang panglima tertinggi, ia hanya menggeser kaki kirinya ke belakang satu tapak, membiarkan ujung gada berduri itu melintas hanya beberapa senti di depan dadanya. Kecepatan gerakannya luar biasa.

​Tepat saat gada itu lewat, Gajah Mada merangsek maju ke dalam ruang kosong pertahanan Lurah Sekit. Tangan kirinya bergerak secepat kilat, menghantam dada bersisik makhluk itu dengan pukulan Tenaga Inti Bumi.

​DUAAMMM!

​Lurah Sekit terbatuk, tubuh raksasanya terdorong mundur tiga langkah hingga tanah yang diinjaknya ambles. Sisik di dadanya retak, mengeluarkan cairan kental berwarna hijau tua.

​"Kurang ajar!!" raung makhluk itu kesakitan.

​Melihat pemimpin mereka terluka, puluhan warga desa yang kerasukan langsung menerjang Gajah Mada dari segala arah seperti serigala kelaparan. Mereka mencoba mencakar, menggigit, dan merobohkan sang Patih.

​Di sinilah kehebatan legendaris Gajah Mada terlihat. Ia tidak menggunakan bilah tajam keris Kyai Gajah untuk membantai rakyat yang tak berdosa ini. Ia membalik genggaman kerisnya, menggunakan hulu senjatanya yang tumpul serta sapuan kakinya yang berat.

​Bugh! Plak! Khrak!

​Setiap gerakan Gajah Mada sangat efisien. Satu totokan di pangkal leher, dua hantaman di ulu hati, dan sapuan rendah yang mematahkan keseimbangan.

Dalam hitungan detik, belasan warga desa bertumbangan di atas tanah—pingsan, namun nyawa mereka tetap selamat. Hukum Majapahit yang ia pegang teguh melarangnya membunuh rakyat yang sedang menjadi korban ilmu hitam.

​Melihat pasukannya dilumpuhkan dengan begitu mudah, Lurah Sekit menjadi kalap. Ia mengangkat gadanya tinggi-tinggi, mengalirkan seluruh energi hitam dari Eyang Jagad Ireng hingga gada itu diselimuti api kegelapan. Ia melompat, menghantamkan gada itu lurus ke kepala Gajah Mada.

​"MATILAH KAU, PATIH!!!"

​Gajah Mada mengangkat wajahnya. Matanya berkilat tajam. Ia tidak menghindar kali ini. Ia menyilangkan tangan kirinya di depan dada, sementara tangan kanannya memegang Kyai Gajah yang kini memancarkan cahaya keemasan setinggi satu depa.

Aura Wahyu Keprabon, perlindungan suci bagi para pelindung kerajaan meledak dari tubuhnya.

​BOOOMMMM!!!

​Benturan antara gada iblis dan keris suci itu menciptakan gelombang kejut yang merontokkan genteng-genteng balai desa. Tanah di sekitar kaki Gajah Mada retak membentuk lingkaran sempurna. Namun, raga Gajah Mada tidak bergeser satu senti pun. Gada besar itu tertahan mutlak oleh bilah kecil Kyai Gajah.

​"Kekuatan yang lahir dari menumbalkan anak-anak..." Gajah Mada berbisik dingin, menatap langsung ke mata merah Lurah Sekit yang kini membelalak ngeri. "...tidak akan pernah bisa meruntuhkan kewibawaan tanah ini."

​Dengan satu sentakan kuat, Gajah Mada memutar pergelangan tangannya, mengalirkan energi murninya melewati bilah keris.

​CRASSHH!

​Gada besi berduri itu belah menjadi dua. Tak berhenti di situ, Gajah Mada bergerak memutar dengan kecepatan yang tak kasat mata, menyabetkan kerisnya secara kilat.

​JRAASSHH!

​Ekor ular raksasa milik Lurah Sekit putus terbasang. Makhluk itu melolong sangat nyaring, sebuah jeritan kesakitan yang gaibnya hingga menggetarkan ilusi Surya Pralaya di seluruh desa.

Raga raksasanya ambruk ke tanah, menggelepar dalam kubangan darah hijaunya sendiri sebelum akhirnya berubah menjadi asap hitam dan tersedot kembali ke dalam tanah—melarikan diri menuju majikannya.

​Gajah Mada menyeka keringat tipis di pelipisnya dengan punggung tangan. Ia memasukkan kembali keris Kyai Gajah ke dalam warangkanya dengan bunyi klik yang tegas. Halaman balai desa kini bersih dari ancaman langsung, meninggalkan puluhan warga yang pingsan terhampar di tanah.

​Namun, Gajah Mada tidak mengendurkan waspadanya. Ia menoleh ke arah dapur umum, tempat di mana asap hijau masih membubung tinggi.

​"Cepatlah, Bocah," gumam Gajah Mada pelan, beralih menatap langit yang retakannya semakin melebar. "Waktumu tidak banyak."

Sementara Gajah Mada berhasil membersihkan halaman balai desa dari amukan Lurah Sekit, di area dapur umum, pertarungan hidup dan mati yang berbeda sedang berlangsung.

​Asap hijau pekat berbau belerang mengepung bangunan bambu tersebut. Jayantaka membaringkan raga Gandraka yang kian melemah di bawah pohon mangga, tak jauh dari pintu dapur. Ki Bagaskara dan Nyai Lodra langsung memasang kuda-kuda kokoh, membentengi putra mereka dari lidah-lidah api gaib yang menjulur keluar dari celah dinding.

​"Gandraka! Waktumu tidak banyak, raga anak-anak ini mulai mencapai batasnya!" seru Jayantaka sembari menempelkan telapak tangannya ke punggung Gandraka, menyalurkan sisa hawa murninya.

​Gandraka tidak menjawab dengan kata-kata. Kesadarannya sudah melesat jauh, menembus kabut hitam untuk mencabut tiga pasak terakhir sekaligus: Gendis (pasak 4), serta si kembar Tirta dan Asri (pasak 5 & 6).

Dalam pandangan sukmanya, Gandraka mendapati dirinya berdiri di dalam ruang dapur yang berubah menjadi gua berapi. Di tengah gua itu, terdapat sebuah kuali perunggu raksasa yang mendidih dengan cairan hitam. Di dalamnya, Gendis tampak menangis hantam, tubuh kecilnya perlahan mulai melepuh oleh ilusi api Banaspati.

​"Gandraka... sakit, Gandraka...!" rintih Gendis.

​Tiba-tiba, dari dalam cairan mendidih itu muncul sesosok lelembut berkepala babi hutan dengan taring mencuat—wujud penjaga pasak keempat pilihan Eyang Jagad Ireng. Makhluk itu menggeram, menerjang Gandraka dengan kuku-kukunya yang beracun.

​Di dunia nyata, raga Gandraka mendadak kejang. Kulit lengannya mulai memerah dan mengeluarkan uap panas, seolah-olah ikut terbakar.

​"Lodra! Alirkan hawa dingin Anggrek Hitam ke nadinya!" teriak Ki Bagaskara panik.

​Nyai Lodra segera melepaskan rantai peraknya, melilitkannya perlahan ke pergelangan tangan Gandraka sembari merapalkan mantra es. Hawa dingin murni dari ilmu pamungkas klan Anggrek Hitam meredam panas di tubuh Gandraka, memberinya kekuatan tambahan di alam sukma.

​Merasakan pasokan energi dari ibunya, sukma Gandraka berkilat perak. Ia menghindar dari terkamam lelembut babi itu, lalu melesat cepat ke arah kuali. Dengan kedua tangan sukmanya yang dilapisi cahaya perak, ia mencengkeram pinggiran kuali dan membaliknya dengan satu sentakan dahsyat!

​BYURRR!

​Cairan hitam itu tumpah, melenyapkan si lelembut penjaga. Gandraka menarik raga sukma Gendis keluar dari sana.

​"Pasak keempat... PUTUS!"

​Di dunia nyata, api hijau yang membakar dapur umum mendadak padam menyisakan abu, bersamaan dengan tubuh Gendis yang ambruk pingsan di dalam ruangan.

1
🆓🇵🇸 Jenahara
up🔥
saniscara patriawuha.
hancurrrr leburrrkannn sudahhhhh.....
Semoli Ginon
waduh lawan makin berat nih kayanha
saniscara patriawuha.
ratakannnnn dannn salinggg hancurrrrkannnn......
Semoli Ginon
wah dua eyang rebutan
saniscara patriawuha.
sikatttty sudahhhh manggg jigurrr ojooo kendorrrr....
saniscara patriawuha.
lanjuttttkannnnnn manggg jigurrrrrr....
Semoli Ginon
ayo balaskan dendam 👍
saniscara patriawuha.
gassssd manehhhhh manggg jigurrrr... ojo kondorrrrr....
saniscara patriawuha.
gassddd....
🆓🇵🇸 Jenahara
mantap...🔥
Protocetus: jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
total 1 replies
Semoli Ginon
mantul. lanjut 👍
🆓🇵🇸 Jenahara
up🔥
saniscara patriawuha.
gassdd pollll manggg jigurrrr...
Semoli Ginon
lanjur bos 👍
saniscara patriawuha.
gassss pollllll
Semoli Ginon
mantap👍
saniscara patriawuha.
lqnjutttttt kannnn manggg jigurrrr....
🆓🇵🇸 Jenahara
up
Semoli Ginon
woke. 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!